
Jason dan keluarganya selesai bersalaman dengan seluruh anggota keluarga Permana dan Bagaskara.
"Apakah aku dan keluargaku boleh bergabung dengan kalian?" tanya Jason.
Alex tertawa kecil, "menyenangkan sekali jika kita bisa duduk bersama, Jason. Tapi, seperti yang kamu lihat, tidak ada tempat duduk yang tersisa di meja ini untuk kalian."
Wow... Ucapan Alex itu. Walaupun terkesan ramah, tapi ia menyiratkan bahwa ia benar-benar tidak ingin duduk semeja dengan Jason.
Jason pun membalasnya dengan tertawa kecil, "haha... Begitukah, Alex?"
Tiba-tiba, pandangan Jason terarah kepada Fany yang sedang duduk manis sambil menyimak pembicaraan antara papa mertuanya dan rivalnya itu yang menurutnya lumayan seru.
"Oh, bukankah itu putrimu, David?" tanya Jason sambil tetap menatap Fany lekat.
'Astaga! Kenapa gue juga ikutan di-notice segala sih,' batin Fany.
"Iya, dia putriku, namanya Fany," jawab David dengan enggan.
"Hai, Fany," sapa Jason kepada Fany.
Fany pun tersenyum canggung, "eh, hai, eum... Tuan Jason."
"Cantik sekali anakmu, David. Sangat cocok jika bersanding dengan putraku," celetuk Jason.
"Ekhm!"
Pandangan mereka semua seketika teralih kepada Juna yang baru saja berdeham dengan keras.
"Bukankah waktu itu anda datang ke pernikahanku dan istriku, Tuan Jason? Anda tidak lupa, kan?" ucap Juna dingin sambil menekankan kata 'istriku'.
Fany diam-diam mengulum senyumnya saat merasakan sifat posesif suaminya itu atas dirinya.
Jason tertawa kecil, "astaga, tenang saja Juna, aku hanya bercanda."
Juna tidak membalas ucapan Jason, bahkan suami Fany itu sama sekali tidak tersenyum menanggapi candaan Jason.
"Baiklah, sepertinya aku dan keluargaku harus mencari tempat duduk yang lain. Kalau begitu, kami permisi dulu. Nikmati waktu kalian," ucap Jason.
Setelah berpamitan, Jason beserta keluarganya segera pergi dan menempati meja VIP lainnya.
"Huh! Kenapa gak dari tadi aja sih perginya," dumal Diana.
"Benar, mengganggu suasana saja," balas Zara.
"By the way, ada yang cemburu nih barusan," goda Radit sambil melirik Juna.
__ADS_1
Semua orang di meja itu pun ikut menertawakan Juna.
"Wah wah, putraku ternyata adalah tipe yang posesif ya," kata Alex.
Juna hanya tersenyum kecil menanggapi hal itu. Sebenarnya, ia tidak begitu yakin dengan perasaannya, apakah itu benar-benar rasa cemburu atau bukan. Yang jelas, ia tidak suka saat Jason mengatakan bahwa Fany cocok dengan anak laki-laki dari pria itu.
Sedangkan Fany, gadis itu masih memperhatikan gerak gerik Jason dan keluarganya. Ia mengamati seluruh anggota keluarga pemilik dari perusahaan Blackjoy itu. Yang ia lihat, Jason memiliki seorang istri dan dua orang putra.
'Kok kayak gak asing ya gue sama cowok itu, tapi ketemu dimana?' batin Fany sambil berpikir keras.
...----------------...
Cklek
Sekarang sudah hampir tengah malam, Juna dan Fany baru saja sampai di apartemen mereka.
"Kak Juna~" rengek Fany membuat Juna menoleh ke arah Fany yang berada di belakangnya.
"Hmm?"
"Besok jangan ajak gue kemana-mana lagi, ya? Capek tauk tiap hari pulang malem, terus besoknya masih harus ikut ospek," keluh Fany.
Juna terkekeh, "iya iya, Fany. Besok gak ada acara lagi kok."
Fany menghela napas lega, "oke deh, kalau gitu, selamat malam! Gue mau tidur dulu, bye!"
Fany membuka ipad-nya dan berselancar di internet untuk mencari sebuah informasi di sana, yaitu informasi tentang seluk beluk perusahaan Blackjoy. Jadi, kurang lebih seperti inilah informasi yang berhasil didapatkan oleh Fany.
Blackjoy adalah perusahaan yang bergerak di bidang real estate. Didirikan oleh Jason Samuel Wicaksono yang saat ini menjabat sebagai CEO di sana. Selama ini, Blackjoy selalu bersaing dengan Bagaskara Group, karena kedua perusahaan itu merupakan perusahaan real estate terbaik di Indonesia. Kedua perusahaan itu juga menjadi langganan kerja sama dengan perusahaan mancanegara.
Jason Samuel Wicaksono & Andin Noura Wicaksono
Kemudian, mengenai keluarga Wicaksono. Jason memiliki seorang istri bernama Andin Noura Wicaksono, wanita paruh baya itu bekerja sebagai desainer gaun pengantin. Pasangan itu dikarunai dengan 2 orang putra. Putra pertama mereka adalah Billy Eka Wicaksono, berusia 25 tahun, tidak tertarik dengan dunia bisnis dan memilih untuk menjadi dokter.
Lalu, putra kedua mereka bernama Farel Dwi Wicaksono, berusia 20 tahun, digadang-gadang menjadi pewaris Blackjoy, saat ini sedang menempuh pendidikan di....
"Anjir! Tuh kan bener, makanya gue ngerasa gak asing sama tuh cowok," gumam Fany, "ternyata dia kating di jurusan gue yang juga jadi panitia ospek."
Ya, Farel adalah salah seorang mahasiswa di jurusan cyber security di Universitas Garuda Emas. Laki-laki itu adalah mahasiswa semester 5 di universitas tersebut.
__ADS_1
Tok tok tok
Fany sedikit terkejut saat mendengar ketukan pintu di luar kamarnya.
"Masuk aja, Kak Juna!"
Memangnya siapa lagi yang ada di apartemennya selain dirinya dan sang suami.
Cklek
Juna pun berjalan masuk ke kamar Fany, pria itu memakai piyama berwarna abu-abu dan sepertinya sudah siap untuk tidur.
"Ada apa, Kak?" tanya Fany.
"Kamu kok belum tidur?" tanya Juna balik, tanpa menjawab pertanyaan Fany terlebih dahulu.
"Lah, ditanya kok balik nanya," cibir Fany, "gue belum bisa tidur aja sih," jawab Fany.
"Eum...," Juna tampak berpikir sebentar, "malam ini aku tidur sama kamu, ya."
Fany membelalakkan matanya, ia sangat terkejut dengan ucapan Juna barusan.
"Hah? Gak salah denger nih gue?" tanya Fany yang masih terkejut.
"Kalau kamu gak mau sih gak apa-apa--"
"MAU!"
Seru Fany membuat Juna tersentak, lalu sedetik kemudian pria itu terkekeh.
"Eh, m-maksud gue... Kalau Kak Juna mau tidur di sini, ya boleh boleh aja," ucap Fany berusaha tenang, meskipun sebenarnya ia masih salting.
Juna tersenyum kecil, "ya udah, kamu agak geser dong, aku mau tidur."
Fany pun menggeser tubuhnya untuk memberikan Juna tempat. Lalu, Juna pun langsung merebahkan diri di sebelah Fany yang masih duduk diam sambil memperhatikan gerak gerik suaminya itu.
"Ayo tidur! Udah malem ini," ucap Juna.
Fany hanya menganggukkan kepalanya, lalu ikut berbaring di samping Juna. Gadis itu melirik ke arah suaminya yang ternyata sudah memejamkan mata. Suasana kamar menjadi hening, hanya terdengar bunyi jarum jam. Sepertinya, Juna sudah tertidur pulas, tetapi mata Fany masih saja terbuka. Bagaimana ia bisa tidur jika jantungnya saja tidak mau tenang?!
'Aaarghhh! Bisa mati muda nih gue kalau Kak Juna mainnya kayak gini.'
...----------------...
Kalau ada typo kabarin ya guys...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak 😊♥