Tentang Fany

Tentang Fany
Part 16 : Terima atau Tolak?


__ADS_3

"Kak-


"Batalin perjodohan ini."


"Eh?" Fany langsung menoleh.


Saat itu juga matanya bertatapan dengan mata Juna.


"Maksud kakak?" tanya Fany.


"Aku bilang, batalin perjodohan ini," ucap Juna menekankan kalimatnya.


'Nih orang songong banget, sih,' cibir Fany dalam hati.


"Kalau kakak gak mau dijodohin sama aku ya kakak ngomong sendiri aja sana sama mereka," jawab Fany.


"Gak bisa, kamu yang harus ngomong sama ayah kamu," balas Juna.


Dahi Fany sudah menukik tajam. Jangan lupa bahwa gadis itu bersumbu pendek, emosinya sangat mudah tersulut. Ia sangat kesal dengan nada bicara pria itu yang dengan seenaknya menyuruh-nyuruh dia.


"Loh, yang pengen perjodohan ini batal kan kakak, bukan aku, ya kakak sendiri lah yang ngomong," sungut Fany tidak terima.


"Aku gak bisa jadi orang pertama yang batalin perjodohan ini," kata Juna.


"Loh?! Kok gitu sih?!"


"Papa ngancam bakal nyabut posisi aku sebagai ahli waris perusahaan dan bakal ambil semua aset aku," jelas Juna.


"Ya itu urusan lo lah, bukan urusan gue."


Tampaknya Fany sudah sangat kesal hingga ia menggunakan lo-gue dengan Juna.


"Denger ya, kak. Di sini bukan cuma lo aja yang dirugiin kalau batalin perjodohan ini. Gue juga! Kalau gue yang batalin, gue bakal didepak dari rumah ini."


Huhh, lagi-lagi asumsi bodoh itu.


Juna mengusap wajahnya kasar, "asal kamu tahu ya, aku ini udah punya pacar."


Fany terdiam. Jadi, apakah sekarang dia akan menjadi orang ketiga? Ia segera menggelengkan kepala untuk menghalau pemikiran itu. Lagipula, bukan tanggung jawabnya untuk menjaga hubungan orang lain.


"Terus kenapa?!" sungut Fany, "cuma pacar doang kan, belum jadi istri."


Wajah Juna berubah menjadi sangat marah, "Apa katamu?! Cuma pacar?!"


"Iya, kenapa?! Gak terima?!" balas Fany dengan nada tidak kalah tinggi.


Juna menghela napas panjang untuk meredakan emosi. Bagaimanapun juga, yang dihadapinya ini hanyalah seorang remaja labil, jadi ia harus bisa bersikap lebih dewasa.


"Dengar ya bocah-"

__ADS_1


"Heh?! Sembarangan manggil gue bocah," sahut Fany tidak terima dipanggil 'Bocah'.


"Maksud aku, Fany," kata Juna berusaha tetap tenang, "kamu ini masih seorang remaja naif. Belum tahu dunia pernikahan yang sebenarnya itu kayak gimana. Pernikahan itu bukan sesuatu yang bisa dijadikan mainan. Kamu harus mempertimbangkan dengan matang sebelum memutuskan menikah. Memangnya kamu mau menikah sama aku, orang yang sudah jelas gak cinta sama kamu."


'Anjirrrr, sok bijak banget sih, makin ngeselin aja deh,' batin Fany.


"Oke, gini ya, kakak Juna," ucap Fany geram, "jelas gue belum ngerti dunia pernikahan karena emang gue belum pernah nikah. Tapi, gue udah bener-bener mikirin keputusan gue buat nikah dengan amat sangat matang, karena ini menyangkut kesejahteraan hidup gue. Dan soal cinta...,"


Fany berdecih, "cih, gue juga gak cinta sama lo."


Juna melotot mendengarnya. Ia sangat kesal mendengar ucapan Fany yang menurutnya tidak memiliki sopan santun. Sebelum ia membuka mulut membalas ucapan Fany, gadis itu sudah lebih dulu berbicara.


"Udah deh, Kak. Kalau lo emang mau pertahanin hubungan lo sama pacar lo itu, ya lo ngomong sendiri ke orang-orang kalau lo mau batalin perjodoham ini. Ini masalah lo, bukan masalah gue. Gue sih gak peduli mau nikah sama lo apa nggak."


Setelah mengatakan itu, Fany langsung melenggang masuk ke dalam rumah. Berseteru dengan Juna sangat menguras energinya. Sekarang biar Juna yang memutuskan semuanya sendiri. Toh, jika pada akhirnya Juna adalah orang yang pertama membatalkan perjodohan mereka, Fany tidak akan rugi apa-apa.


...----------------...


"Eh, Fany, gimana? Udah kenal sama Juna?" tanya Diana.


Semua orang kini sudah berpindah posisi ke ruang tamu.


"Udah sedikit, Tan-"


"Panggil 'Mama' aja," sela Diana.


"Eh, iya, Mama," ralat Fany.


"Kamu ngobrolin apa aja sama Juna?" tanya David.


Fany memaksa untuk tersenyum manis, "privasi."


Semua orang tertawa. Mereka mengira bahwa gadis manis itu sedang malu-malu. Tidak lama kemudian, Juna datang dan duduk di sebelah papanya.


"Gimana, Juna?"


Alex bertanya kepada Juna untuk memastikan bagaimana jawaban akhir anaknya itu. Ia tahu bahwa Juna masih belum menerima perjodohan ini.


Semua orang menatap Juna menunggu jawaban dari laki-laki itu, termasuk Fany. Gadis itu diam-diam tersenyum miring menikmati raut wajah Juna yang sarat akan kebingungan. Ia penasaran jawaban apa yang akan diberikan oleh calon suaminya itu, atau mungkin tidak akan menjadi suaminya.


Jika Juna menerima perjodohan ini, maka ia adalah pria yang tidak cukup tangguh mempertahankan cintanya. Tapi jika ia menolak perjodohan ini, maka ia adalah pria bodoh yang memilih hidup susah hanya untuk seorang wanita yang bahkan belum terikat dengannya. Itu yang ada di pikiran Fany.


"Nak?" panggil Diana yang melihat Juna terdiam cukup lama.


"Aku mau menikah sama Fany."


Faktanya, Juna adalah lelaki yang cukup pintar untuk tidak membuang gelar pewaris perusahaan keluarga Bagaskara.


...----------------...

__ADS_1


Keluarga Bagaskara sudah memasuki mobil dan bersiap untuk pulang. Diana menurunkan kaca mobil untuk memberikan sapaan kepada keluarga Permana yang berdiri mengantar kepergian tamu mereka.


"Kapan-kapan main ke rumah ya, Fany," ucap Diana.


"Siap, Ma," kata Fany, tidak lupa dengan senyumnya yang terlihat menawan.


"Ih, manis banget sih calon mantu kita, pa," ucap Diana dengan gemas membuat semua orang tertawa.


"Kami pamit dulu ya, David," kata Alex.


"Iya, Lex. Hati-hati."


Setelah itu, mobil Alex melaju meninggalkan kediaman David. Sebenarnya, rumah keluarga Bagaskara masih berada di kawasan perumahan itu. Yahh namanya juga perumahan elit, meskipun bertetangga, tetapi jarak yang ditempuh lumayan jauh.


"Fany," panggil David.


Fany yang akan melangkah menuju kamarnya pun berhenti dan menoleh.


"Apa?" sahut Fany.


Walaupun singkat, tapi kali ini dengan nada santai, tidak ketus. Gadis itu sudah lumayan jinak terhadap keluarganya.


"Juna gak ngomongin soal mantannya sama kamu?" tanya David.


'Cih, mantan? Sampai sekarang aja mereka masih pacaran,' Fany tertawa dalam hati.


"Gak ada kok," jawab Fany, "dia gak ngomong apa-apa."


David dan Zara menghela napas lega. Mereka mengira Juna sudah memutuskan pacarnya dan berusaha untuk menerima Fany sebagai calon istrinya.


"Ya udah, kamu istirahat aja ya, udah malem ini, kamu pasti capek," kata Zara.


Fany hanya mengangguk, lalu kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya. Ia benar-benar lelah dengan semua drama yang terjadi hari ini. Sesampainya di kamar, ia langsung merebahkan diri di atas kasur.


"Huhh... Abis energi gue," gumamnya pelan.


Tiba-tiba, Fany bangkit dari rebahannya dan mengambil ponselnya yang ada di nakas. Ia membuka aplikasi instagram dan mencari akun milik Juna. Tidak butuh waktu lama, ia pun menemukan akun tersebut.


"Wih, ini pacarnya?"



Akun milik Juna tidak memiliki terlalu banyak postingan, tetapi Fany berhasil menemukan satu foto yang menampakkan Juna sedang merangkul seorang wanita di sebuah kafe.


"Cantik sih," ucapnya sambil mengamati wanita itu, "cocok juga sama si Juna."


Wanita di foto itu terlihat dewasa dan elegan. Terlihat sangat serasi dengan Juna yang memiliki paras sangat tampan.


Fany tersenyum kecil melihat foto itu, "maaf ya kakak cantik, pacarnya kakak ternyata jodohku."

__ADS_1


Fany sedikit merasa bersalah karena akan menikah dengan orang yang sudah memiliki kekasih. Hanya sedikit. Gadis itu memiliki prinsip bahwa tidak ada yang bisa mengikat hubungan asmara dua orang selain pernikahan.


'Kalau memang dia dilahirkan untuk saya, kamu jungkir balik pun saya yang dapat' ~ B.J. Habibie


__ADS_2