Tentang Fany

Tentang Fany
Part 33 : Istri vs Pacar


__ADS_3

Fany sudah sampai di apartemennya di antar oleh mobil ayahnya. Tadi sepulang dari acara wisuda, ia dan keluarganya pergi ke makam ibunya yang ada di luar kota. Dan sekarang, hari sudah mulai malam. Ia berjalan ke arah unit apartemennya sambil membawa beberapa buket yang tadi ia dapatkan di acara wisuda.


Ceklek


Fany bisa melihat sepatu milik Juna ada di rak sepatu yang artinya suaminya itu sudah berada di apartemen. Namun, dahinya mengernyit ketika melihat ada high heels berwarna putih di samping sepatu suaminya, dan itu Fany yakin bahwa itu bukan miliknya.


Merasa ada yang tidak beres, ia buru-buru masuk untuk melihat siapa tamu pemilik high heels itu. Betapa terkejutnya ia saat melihat Aliesha sedang duduk bersantai di depan TV sambil menyemil snack.


"Eh, Fany," seru Aliesha dengan senyum manis yang menurut Fany sangat menyebalkan, "udah pulang, ya? Gimana tadi acara wisudanya?"


Fany hanya diam tak bergeming. Alisnya semakin menukik tajam saat mendengar suara Juna yang berada di dapur.


"Fany?" yang dipanggil pun menoleh ke arah Juna, "kamu udah pulang?"


"Maaf ya aku tadi gak bisa datang. Tapi tadi aku udah kirimin buket sesuai permintaan kamu kok," imbuh Juna sambil berjalan menghampiri Fany yang masih berdiri diam di ruang tamu, pria itu melirik ke arah beberapa buket yang ada di genggaman Fany, "loh, buket dari aku mana? Kok gak ada? Gak dikirim ya sama kurirnya?"


"Gue tinggal di kuburan ibu gue," jawab Fany dingin.


"Loh? Kok dibuang sih, Fany? Kamu gak ngehargai pemberian dari suami kamu, ya," kata Aliesha dengan nada dibuat-buat.


Fany menoleh dengan tatapan tajam, "dibuang? Kenapa harus gue buang? Gue cuma mau ngasih buket pemberian suami gue ke ibu, emangnya salah?"


Kemudian, gadis itu kembali menatap tajam Juna, "awalnya sih gue mau ajak suami gue ini buat ketemu ibu, ternyata cuma buketnya aja yang datang. Ya udah, buketnya aja yang gue tinggal di sana."


Juna terdiam, ia menangkap nada kecewa dalam perkataan Fany.


"Lo bilang jam 11 udah selesai meeting, kenapa gak bisa datang? Ada urusan apa lagi lo di kantor?" cecar Fany kepada Juna.


Juna melirik Aliesha sebentar, "aku minta maaf banget, ya, Fany. Tadi Aliesha pingsan pas lagi pemotretan, bersamaan sama acara wisuda kamu. Jadi, aku harus buru-buru ke rumah sakit."


Fany menatap Juna dengan tatapan tidak percaya. Tadi siang, ia berusaha memaklumi ketidakhadiran Juna karena mengira memang ada urusan pekerjaan. Tapi ternyata, suaminya itu tidak datang karena mengurusi kekasihnya.


Aliesha bangkit dari duduknya, lalu melingkarkan tangannya ke lengan Juna, "ayolah, Fany. Aku lagi sakit, lho. Juna lebih milih datang ke rumah sakit karena emang urusanku lebih mendesak daripada wisudamu. Harusnya kamu paham dong."

__ADS_1


Fany jengkel dengan kekasih suaminya itu. Walaupun nada bicaranya sangat lembut, Fany bisa melihat ekspresi wajah Aliesha yang terlihat sedang mengejeknya.


Fany menghela napas panjang, "ini udah malam, Kak Aliesha. Mending lo pulang sekarang."


"Loh, kamu ngusir aku, Fan?" protes Aliesha.


Fany memutar bola matanya malas, "terus lo maunya gimana? Nginep di sini? Di rumah sepasang suami istri yang udah nikah? Gak punya malu apa gimana, sih?"


Wajah Aliesha berubah menjadi marah, lalu menoleh ke arah Juna meminta pembelaan.


"Emm... Kamu pulang sekarang aja ya, Sayang. Biar aku antar," kata Juna kepada Aliesha.


"Gak usah!"


Juna dan Aliesha menoleh kepada Fany.


"Naik taksi online aja, gak perlu dianterin segala," ketus Fany.


"Apa-apaan sih kamu, Fan?!" bentak Aliesha, "jangan lupa ya kamu, Juna itu pacar aku. Kamu tuh orang yang udah rebut dia dari aku, jangan berlagak gak tau diri kamu, ya."


Aliesha menggeram kesal, "Hiihh... Ngeselin! Juna! Anterin aku pulang!"


Juna menghela napas lelah, "iya, Sayang," lalu melirik sekilas dengan tajam kepada Fany. Pada saat itu, Aliesha melihat Fany dengan senyum kemenangannya, lalu pergi bersama Juna menuju pintu.


"Arjuna!" teriakan Fany membuat Juna dan Aliesha menghentikan langkah, "berani lo keluar dari pintu, gue bakal laporin ke papa kalau lo masih berhubungan sama dia."


Juna dan Aliesha menoleh dengan tatapan tidak terima. "Kamu apa-apaan sih, Fany?!" protes Juna.


Fany tersenyum miring, "pilihan ada di tangan lo, Kak Juna. Tetap di sini atau semua aset lo bakal dicabut sama papa."


Juna menggeram marah, kemudian menoleh kepada Aliesha dengan tatapan memohon, "aku minta maaf ya, Sayang. Kali ini aku gak bisa anterin kamu pulang."


Aliesha berdecak kesal, lalu menatap tajam Fany, "awas aja ya kamu, akan aku buat kamu nyesel. Dasar bocah kurang ajar!"

__ADS_1


Setelah itu, Aliesha keluar dari apartemen dengan kaki yang menhentak kesal. Fany yang melihatnya hanya tersenyum penuh kemenangan. Tidak lama kemudian, wajahnya kembali datar saat matanya bersitatap dengan mata Juna. Suaminya itu berjalan ke arahnya dengan langkah kesal.


"Maksud kamu apa kayak gitu, hah?! Kamu itu gak punya hak buat misahin aku sama Aliesha. Dari awal, orang ketiga di hubungan ini adalah kamu, bukan dia," ucap Juna tepat di hadapan Fany.


Fany menatap balik suaminya dengan tajam, "gak ada hak? Gue istri lo! Kita emang nikah gara-gara terpaksa, tapi bukan berarti lo bisa seenaknya kayak gini. Sampai kapan lo mau mertahanin hubungan terlarang lo sama pacar lo itu, hah? Inget kak, lo udah nikah sama gue sekarang."


Juna berdecih, "cih, pernikahan ini gak mengubah apapun, Fany. Aku masih cinta sama Aliesha. Dan aku cuma pengen hidup bersama dia selamanya."


Fany menggertakkan giginya menahan amarah, "terserah. Tapi inget satu hal, walaupun kita nikah karena perjodohan, gue cuma mau nikah sekali seumur hidup. Jadi, jangan harap gue bakal lepasin lo, Kak."


Setelah itu, Fany langsung pergi menuju kamarnya. Ia tidak peduli dengan teriakan dan umpatan dari mulut Juna atas pernyataannya barusan. Ia sangat lelah dan ingin segera mengistirahatkan tubuhnya.


...----------------...


Setelah menghabiskan waktu 1 jam untuk mandi, Fany pergi ke tempat tidur dan membuka laptopnya. Ngomong-ngomong, ia tadi menangis saat di kamar mandi. Hatinya sakit saat melihat sosok suami yang mulai ia cintai malah membela wanita lain. Maka dari itu, ia akan melakukan apapun untuk membuat rasa sakit hatinya terbalas.


Fany membuka laman pasar saham di laptopnya. Ia sudah membeli banyak saham di beberapa perusahaan hingga setiap hari uang mengalir begitu saja ke rekeningnya, tetapi kali ini sepertinya ia akan mengeluarkan lagi uangnya dalam jumlah yang banyak.


"High... Star... Agency," gumam Fany sambil mengetik di laptopnya.


Ia mengecek kembali saham Highstar Agency, agensi tempat Aliesha bekerja sebagai model, yang dulu pernah ia beli sahamnya.


"Cih, emang bodoh nih agensi," cibir Fany, "udah dikasih suntikan dana jutaan, bukannya bangkit, malah nilai saham makin anjlok."


Berbeda dengan mulutnya yang mencibir, dalam hati ia bersorak saat agensi tersebut semakin terpuruk. Bukan karena ia ingin karier Aliesha ikut hancur, tetapi karena ia ingin membeli lebih banyak saham dari sana. Dan dengan nilai saham yang turun drastis, maka akan lebih sedikit investor yang berminat, jadi ia bisa menguasai saham-saham tersebut.


"Okey, mari kita lihat, berapa saham yang bakal aku beli hari ini," monolog Fany.


Kemudian, ia mulai berpikir sebentar sambil melihat saldo di rekening pribadinya. Tak tanggung-tanggung, ia lalu membeli saham dari Highstar agency sebanyak setengah dari isi rekening pribadinya, yaitu 1,3 miliar rupiah. Hal itu membuatnya menjadi investor terbesar di Highstar agency.


"11% udah bisa bikin gue jadi pemegang saham terbesar di Highstar," Fany tersenyum miring, "gue yakin abis ini tuh agensi bakal bangkit, apalagi kabarnya ada model yang mau ikut kompetisi internasional."


Fany tersenyum miring, "gue punya kunci yang bisa bikin lo gak bakal berani nyenggol gue, Kak Aliesha. Dan gue bakal cari sebanyak-banyaknya kelemahan lo, kalau perlu sampai keluarga lo juga."

__ADS_1


Nyatanya, Fany adalah seorang gadis yang ambisius. Sebenarnya, ia bukan tipe orang yang suka melakukan suatu hal yang licik untuk mendapatkan atau mempertahankan apa yang ia mau. Namun, sekali ada orang yang mengganggu hidupnya, ia akan menyiapkan 'senjata' balasan agar orang itu tidak bisa menjatuhkannya. Dan Aliesha, hari ini, wanita itu telah mengibarkan bendera perang kepadanya.


__ADS_2