
Dapur di rumah keluarga David terlihat cukup sibuk. Di rumah itu tidak ada pembantu, semua urusan rumah tangga di dalam rumah diurusi oleh Zara. Hanya ada 2 orang tukang kebun yang mengurusi kebersihan di luar rumah, 2 satpam yang berjaga di pos satpam dekat gerbang rumah, dan 2 sopir yang bertugas mengantar Fany dan Zara jika ingin pergi kemana-mana.
Namun, khusus hari ini, Zara memanggil seorang koki hotel bintang 5 untuk memasak makan malam. Hari ini adalah hari yang spesial karena ada pertemuan dua keluarga, yaitu keluarga David Enggar Permana dan keluarga Alex Bagaskara.
Semenjak pulang dari kantor, David dan Radit sibuk mengatur meja makan agar memberikan layak ditempati oleh tamu. Sedangkan, Zara membantu sang koki, lebih tepatnya hanya mengawasi karena koki itu sudah profesional, jadi tidak perlu bantuan.
Bagaimana dengan Fany? Gadis itu malah sibuk memotong rumput di halaman belakang menggunakan mesin pemotong rumput. Pak Hamdan, tukang kebun rumah itu, sudah was-was takut disalahkan oleh tuan besar jika melihat nona muda ini malah mengerjakan pekerjaannya.
"Neng Fany, sudah ya, sini biar saya saja yang lanjutin kerja," ucap Pak Hamdan.
Fany masih terus mendorong mesin itu, "nanggung, Pak. Dikit lagi bersih ini rumputnya. Bapak istirahat dulu aja."
Pak Hamdan hanya menghela napas pasrah melihat kelakuan ajaib nona muda itu. Bukannya bersiap untuk bertemu calon suami, malah bermain dengan mesin pemotong rumput. Lihatlah wajah berbinar gadis itu yang melihat mesin di tangannya itu adalah mainan.
"Fany, kamu ngapain sih, Nak?" Zara menghampiri Fany yang terlihat masih mendorong mesin itu.
"Pak Hamdan mana?"
Pak Hamdan yang baru saja kembali dari kamar mandi itu berlari tergopoh-gopoh ke arah Zara.
"Maaf, Bu. Saya sudah cegah Neng Fany dari tadi," kata Pak Hamdan, ia sudah berkeringat dingin takut dimarahi oleh majikannya.
"Kenapa sih? Aku kan seneng mainan sama mesin ini," ucap Fany masih tetap fokus pada mesinnya, "Bunda marah ya?"
Zara terkejut mendengar Fany memanggilnya bunda, meskipun sepertinya anak itu tidak sadar karena masih asyik memotong rumput.
"Selesai!"
Seru Fany, lalu mematikan mesin itu, serta menghampiri Zara dan Pak Hamdan.
"Udah tuh, Pak. Udah bersih semuanya," lanjut Fany.
Pak Hamdan tersenyum canggung, "iya, makasih ya, Neng."
Fany memandang bundanya yang sedang terdiam, "Bunda."
"Hah?"
Zara tersadar dengan panggilan Fany, betapa senang hatinya ketika Fany dengan sadar memanggilnya bunda.
"Kenapa bengong?"
"Gak apa-apa. Ayo cepat, kamu harus siap-siap," Zara langsung menarik tangan Fany untuk masuk ke dalam rumah.
Fany tersenyum kecil saat mengetahui bahwa bundanya senang saat ia memanggilnya 'Bunda'. Apakah Fany sudah luluh dengan Zara? Sepertinya iya, mengingat perlakuan Zara yang sangat lembut kepadanya.
"Kamu mandi dulu aja, ya," perintah Zara.
Fany mengangguk, lalu bergegas ke kamar mandi. Namun, tidak lama kemudian ia berbalik dengan wajah tidak santai.
"Aku nanti pakai baju apa? Bajuku cuma hoodie, sweater, sama kaos oblong doang, yang formal cuma seragam sekolah. Kayaknya kurang sopan deh, " kata Fany cemas.
Zara hanya tersenyum, "Bunda udah beliin baju buat kamu, nanti bunda siapin. Udah, sekarang kamu mandi dulu."
Fany tersenyum, "makasih, Bunda."
Fany langsung melenggang pergi ke kamar mandi. Kemudian, Zara pergi keluar dari kamar Fany. Setelah menutup pintu, ia langsung berteriak kegirangan dan berlari turun untuk menghampiri suaminya.
David dan Radit yang mendengar teriakan Zara langsung panik, mengira sesuatu yang buruk telah terjadi, misalnya Zara baru melihat kecoak.
"Ada apa, Sayang?!"
"Kenapa, Bun?!"
"Kyaaaa!!! Fany!!!" Zara masih saja memekik kesenangan, tetapi disalahartikan oleh dua orang lelaki itu.
"Fany kenapa?!" tanya Radit panik.
"Anakku kenapa?! Dia terluka?!" David kalang kabut ingin berlari ke kamar Fany, tapi dicegah oleh Zara.
"Nggak, Fany gak apa-apa," kata Zara.
__ADS_1
Dahi David mengernyit, "terus kamu kenapa teriak-teriak?"
Zara tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya dan tertawa kecil, "tadi dia manggil aku 'Bunda'!"
David dan Radit menghela napas lega, lalu tersenyum.
"Akhirnya dia mulai menerima keluarga barunya," ucap David.
Zara menganggukkan kepalanya, "eh, sampai lupa aku, aku mau ke atas dulu nyiapin bajunya Fany."
Setelah itu, mereka melanjutkan aktivitas masing-masing dengan suasana hati yang gembira.
...----------------...
"Woww..."
Fany memandang kagum pantulan gadis cantik di cermin itu. Iya, dirinya sendiri.
Seumur hidup ia belum pernah berdandan secantik dan seanggun ini. Bahkan, saat acara wisuda SMP, ia memakai kebaya panjang berwarna merah maroon dengan make up tebal yang malah membuat wajahnya terlihat tua.
Namun, lihat dia sekarang. Gaun cantik berwarna biru muda yang sepanjang betis, rambut bergelombang yang tergerai indah hasil karya bundanya, dan make up natural karya bundanya juga.
"Cantik sekali anak bunda," ucap Zara melihat pantulan Fany di cermin.
"Sangat," balas Fany kelewat PD.
"Ayo kita turun, sebentar lagi mereka datang," ajak Zara.
Semuanya sudah siap. David dan Radit sudah menunggu kedatangan tamu mereka di ruang tamu. Zara juga sudah bersiap sebelum mendandani Fany, ia menggunakan gaun panjang berwarna coklat.
Tap... Tap...
Suara sandal dengan heels yang tidak terlalu tinggi milik dua wanita yang sedang berjalan menuruni tangga membuat dua pria yang berada di ruang tamu tersebut menoleh.
"Wah, cantik sekali anak gadis ayah," puji David kepada Fany.
"Aku emang cantik," kata Fany.
"Dih, PD banget," balas Radit.
Fany hanya mencibir kakaknya itu. Tidak lama kemudian, tamu yang mereka tunggu pun tiba.
"Hei, David!"
Sapa kepala keluarga dari keluarga Bagaskara.
Alex Bagaskara
"Alex! Haha, akhirnya kamu bertamu ke rumahku."
Lalu, kedua pria itu berpelukan singkat ala bapak-bapak.
"Hai, Zara," kali ini giliran nyonya besar keluarga Bagaskara yang menyapa.
Diana Dyah Azhari Bagaskara
"Hai, Diana, lama gak ketemu."
Kemudian, kedua nyonya besar itu cipika cipiki.
"Yo, Bro!" sapa Radit kepada anak tunggal keluarga Bagaskara.
Lelaki itu hanya menjawab dengan anggukan singkat dan senyuman.
Fany bisa melihat lelaki yang menurutnya cukup tampan, eh, sangat tampan itu seolah enggan menatap matanya. Mungkin masih canggung, pikirnya.
__ADS_1
...----------------...
Acara makan malam pun dimulai. David duduk di ujung meja makan dan Alex duduk berlawanan dengannya. Sedangkan, keluarga masing-masing ada di sisi meja dan saling berhadapan.
"Silahkan dinikmati, jangan sungkan-sungkan," ucap David mempersilahkan tamunya makan.
'Akhirnya...' batin Fany.
Mereka pun mulai mengambil makanan, lalu mulai memakan hidangan. Gadis itu sudah kelaparan karena melewatkan makan siang. Ia memilih untuk mengerjakan PR untuk besok daripada ke kantin, mengingat malam ini ia tidak akan bisa belajar.
Walupun kelaparan, ia tetap makan pelan-pelan agar terlihat sopan. Selain itu, ia terbiasa bersendawa dengan keras, jadi ia harus berhati-hati agar tidak kelepasan bersendawa di depan para tamu.
"Fany," panggil Alex.
"Eh, iya om," Fany agak terkejut ketika dipanggil saat suasana sedang hening.
"Jangan panggil om, panggil papa aja," balas Alex.
"Hah?" Fany melirik ke arah David, ayahnya itu terlihat menganggukkan kepala, "iya, papa."
'Ngeri banget, baru ketemu langsung disuruh manggil papa,' begitulah isi pikiran Fany.
"Kamu sekolah di mana, Nak?" Alex kembali bertanya.
"Di SMA Bintang om, eh, papa," jawab Fany.
Semua orang yang melihatnya tertawa gemas, kecuali pria di hadapan Fany, lebih tepatnya calon suaminya.
"Kelas 12, ya? Bentar lagi lulus dong," kata Alex.
"Iya, pa. Satu bulan lagi ujian kelulusan. Mungkin wisudanya empat bulan lagi," balas Fany.
"Bagus. Kita bisa nikahkan mereka lebih cepat, David," ucap Alex sambil tersenyum sumringah kepada David.
"HAH?!"
Suara keras Fany membuat semua orang menoleh. Ia merutuki mulutnya yang latah dan berbicara keras hingga menjadi pusat perhatian, sekarang ia jadi malu sendiri.
"Ekhmm," Fany berdeham untuk menetralkan rasa malunya, "bukannya terlalu cepat ya, kalau ngomongin nikah?"
"Loh, kita kan berkumpul memang mau membahas pernikahan kamu sama Juna, Sayang," kali ini Diana, istri Alex, yang berbicara.
'Oh, jadi Juna namanya,' batin Fany.
"Maksud aku, ehmm..., kita belum mengenal satu sama lain, aku aja baru tau kalau namanya Juna," ucap Fany sambil menunjuk pria di depannya menggunakan dagu.
"Oh iya, papa sampai lupa ngenalin calon suami kamu gara-gara udah pengen langsung ngomongin nikah," kata Alex membuat semua orang kecuali orang yang dibicarakan tertawa.
"Jadi, kamu mau mengenal Juna lebih dalam lagi," goda Alex kepada Fany.
Fany hanya diam kebingungan. Ia sudah sangat malu sekarang.
"Sudah selesai makan, kan. Kalau begitu, kamu ajak Juna ke taman belakang," perintah David.
"Loh? Yah?" Fany bingung dengan perintah tiba-tiba ayahnya itu.
Radit yang duduk di sebelahnya itu berdecak dan mendorong lengan adiknya pelan, "tck, udah sana pergi."
Fany langsung mendelik kepada Radit, kemudian berdiri untuk pergi ke taman belakang.
"Juna," panggil Alex, "sana, ikut Fany."
Pria yang dipanggil Juna itu tidak menjawab apapun dan langsung berdiri untuk mengikuti Fany.
Dan di sinilah mereka. Di taman bunga kecil yang tadi sore sudah dibersihkan oleh Pak Hamdan, dengan bantuan Fany yang memotong rumput.
Mereka berdua hanya berdiri bersebelahan sambil memandangi segala arah, asal tidak memandang satu sama lain. Fany benar-benar benci dengan situasi ini.
"Kak-"
"Batalin perjodohan ini."
__ADS_1