Tentang Fany

Tentang Fany
Part 52 : Bukti


__ADS_3

Fany mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak sengebut itu sih, ia masih berhati-hati di jalan karena sayang nyawa. Tapi ia harus segera sampai di perusahaan ayahnya. Ia baru saja menghubungi keluarganya dan keluarga suaminya untuk berkumpul di sana. Gadis itu harus segera melaporkan kepada semua orang tentang apa yang baru saja ia dapatkan.


Ia memberhentikan mobilnya di depan pintu utama perusahaan Permana. Fany langsung menyerahkan kunci mobilnya kepada penjaga di sana, lalu segera berjalan cepat menuju lift. Jalan cepat yaa, bukan lari, ia harus tetap tampak berwibawa di hadapan para staf kantor.


Tangannya menekan tombol lantai teratas di perusahaan itu. Kakinya terus mengetuk-ngetuk lantai lift, ia tidak bisa tenang. Fany sudah tidak sabar untuk menyampaikan penemuannya.


Ting!


Begitu lift terbuka dan ia melihat koridor di depannya yang sepi, ia langsung berlari memasuki ruangan tim Alpha, tim para hacker profesional di sana.


Fany menghadapkan wajahnya ke alat sensor yang ada di pintu ruangan itu. Kemudian, pintu pun terbuka. Saat ia masuk ke dalam, ternyata semua orang sudah menunggunya, termasuk Juna.


"Kalian udah pada datang semua?" tanya Fany dengan napas yang terengah-engah.


"Ada apa sebenarnya, Nak? Kenapa kamu minta kita semua untuk berkumpul?" tanya David.


"Aku punya sesuatu yang penting banget, dan kalian harus tahu," ujar Fany.


Kemudian, gadis itu menghampiri salah satu hacker perempuan dan memintanya untuk menyambungkan ponsel hitamnya ke layar monitor besar. Semua orang hanya diam memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh gadis itu.


Saat layar monitor menyala, semua pandangan tertuju kepada layar itu. Mereka bisa melihat isi roomchat Aphrodite a.k.a Fany dengan seseorang yang telah membayar Fany untuk meretas sistem keamanan mereka. Mereka membaca satu per satu isi pesan tersebut.


"Loh, kenapa dia minta kamu buat nyelidikin Juna?!" tanya Diana dengan panik.


"Aku gak begitu yakin apa alasannya, Ma. Tapi, menurutku, dia orang yang bikin Kak Juna kecelakaan kemarin," jawab Fany.


"Astaga! Kurang ajar sekali orang itu," geram Alex.


Fany pun menggulirkan layar ponselnya untuk menampilkan isi chat selanjutnya.


"Kamu minta ketemuan sama dia?!" seru Juna terkejut setelah membaca isi pesan itu.


"Astaga! Itu bahaya sekali Fany!" kata Zara ikut mengomeli Fany.


Gadis itu menghela napas lelah, "astaga... Aku bisa jaga diri sendiri kok. Mending kalian semua fokus sama apa yang bakalan aku tunjukin."


Mereka semua diam dan menyimak pergerakan Fany yang menayangkan sebuah video. Ternyata itu adalah rekaman dashcam mobilnya. Sudah sekitar 2 menit lamanya video itu diputar, tapi mereka masih belum menemukan sesuatu yang aneh.


"Lo mau ngasih tau kita apa sih, Dek?" tanya Radit penasaran.

__ADS_1


Fani berdecak kesal, "tck, sabar dulu napa."


Radit pun menutup mulutnya rapat-rapat. Ia memilih untuk diam daripada nanti kena amuk lagi oleh adik bar-barnya itu.


Klik!


Fany menekan tombol pause di keyboard pengendali monitor itu saat video sudah menampilkan sosok yang ingin ia tunjukkan kepada keluarganya.


"Billy?" gumam Alex menyipitkan matanya agar bisa melihat lebih jelas.


"Itu Billy, kan? Anak sulungnya Jason dari Blackjoy?" tanya Diana.


Fany menganggukkan kepalanya membenarkan pertanyaan papa dan mama mertuanya.


"Jadi, maksud kamu, pelakunya itu... Billy?" tanya David dengan ragu-ragu.


Fany mengangguk pelan, "aku masih belum yakin sepenuhnya, tapi dia satu-satunya orang yang mencurigakan di sana."


"Eum... Bukan satu-satunya sih. Ada Kak Farel juga, tapi ternyata dia tadi ketemuan sama temen-temennya," imbuh Fany.


"Kalau Farel kayaknya gak mungkin," ucap Radit sambil memikirkan sesuatu, "dia kan juga anak jurusan cyber security, pastinya bisa hacking dikit-dikit dong. Kalau emang dia pelakunya, harusnya dia bisa nyari info tentang Juna tanpa harus minta bantuan sama Fany."


"Aneh banget. Billy kan dokter, kenapa dia ikut campur ke dunia bisnis yang kotor?" kata Juna yang dilanda kebingungan.


"Kata Kak Farel, sebenarnya Kak Billy lebih ambisius dalam masalah bisnis. Profesi dokter cuma buat pengalihan isu aja," jawab Fany.


"Kalau begitu, Billy orang yang sangat berbahaya," kata David, "dia rela masuk kedokteran untuk menyembunyikan sifat ambisnya di bidang bisnis, lalu diam-diam menghancurkan musuhnya."


"Jevo," panggil David kepada ketua tim Alpha yang sejak tadi menyimak penjelasan Fany.


"Iya, Tuan David?" jawab Jevo.


"Kamu selidiki lebih lanjut tentang Billy," titah David.


"Siap, Tuan."


"Dan kamu, Fany," ucap David kepada anak perempuannya, "segera akhiri kerja sama kamu dengan orang itu, biar tim Alpha yang mengurus sisanya."


Fany hanya mengangguk mendengar perintah ayahnya. Ayahnya itu terdengar sangat serius sekarang, jadi ia tidak berniat untuk melawan sama sekali. Padahal Fany tidak berniat untuk melepas pelaku itu begitu saja. Masih banyak hal yang masih belum ia ketahui, dan masih banyak yang janggal. Jadi, ia memutuskan untuk melanjutkan penyelidikannya sendiri mulai sekarang.

__ADS_1


"Juna, Fany, kalian pulang saja, ini sudah malam," kata Zara.


Juna dan Fany pun mengangguk, lalu segera pergi keluar dari sana setelah berpamitan. Mereka berjalan berdampingan di lorong lantai tersebut.


Grep!


Juna merengkuh pinggang Fany sehingga mereka berdua berjalan berdekatan. Fany pun menyandarkan kepalanya ke lengan suaminya itu.


"Huuh~ capek banget aku hari ini," ucap Fany sambil menghela napas lelah.


Juna menekan tombol pintu lift, lalu mereka berdua masuk ke dalamnya.


"Mobil kamu mau ditinggal di sini aja? Nanti kamu pulangnya sama aku," tawar Juna.


Fany menggeleng pelan, "gak usah, besok kan masih aku pakai buat ke kampus."


"Apa mobilku aja yang ditinggal di sini?" tanya Juna.


"Jangan, Kak... Ribet nanti, udah ah, gak apa-apa kok," jawab Fany.


Mereka berdua pun keluar dari lift. Beberapa karyawan yang masih ada di kantor menunduk hormat kepada mereka.


Kemudian, Juna dan Fany mengendarai mobil masing-masing menuju ke apartemen. Sepanjang perjalanan, pikiran Fany terus berkecamuk. Ada banyak hal yang membuatnya bingung.


'Apa bener kalau Kak Billy pelaku yang sebenarnya?'


'Bukti yang gue dapet bisa dibilang lumayan kuat, tapi itu semua belum cukup.'


'Terus, kenapa Kak Farel bocorin rahasia kakaknya dengan mudah ke gue?'


'Gue harus cari tahu lebih banyak lagi tentang semua ini.'


'Gue gak bakal biarin Kak Juna terluka.'


...----------------...


Duh... Gimana nih guyss?? Makin rumit aja ya masalahnya.


Jadi, sebenarnya pelakunya itu Billy apa bukan sih? Atau Farel? Atau ada orang lain lagi? Author juga bingung nih xixixi...

__ADS_1


Seperti biasa ya para pembaca yang baik hati... Jangan lupa like dan komen yaa ♥♥


__ADS_2