Tentang Fany

Tentang Fany
Part 38 : Pameran Seni


__ADS_3

Setelah makan siang bersama di kantor, Juna dan Fany pulang bersama. Maksudnya, pulang dalam waktu bersamaan, tetapi mengendarai mobil masing-masing. Sebelum pulang, mereka mampir dulu ke pameran lukisan yang baru saja dibuka di dekat sana. Sesampainya di tempat pameran, mereka langsung memarkir mobil masing-masing.


"Woah... Rame banget," gumam Fany setelah keluar dari mobil.


"Pamerannya aja dibuka untuk umum, ya pasti rame lah," sahut Juna yang sudah berdiri di sampingnya, "tapi katanya di dalam luas banget, jadi kita gak akan terlalu berdesakan sama pengunjung lain."


Fany hanya menganggukkan kepalanya paham, lalu mereka berdua berjalan memasuki area pameran. Di dalam ruangan itu, ada banyak sekali lukisan karya seniman terkenal Indonesia. Ruangannya juga didesain senyaman mungkin agar pengunjung tidak merasa bosan.


"Wah... Pelukis karya-karya ini hebat banget ya, kreatif banget mereka, bisa bikin karya seindah ini," ujar Fany kagum melihat lukisan-lukisan di sana.


Kemudian, mereka berdua berhenti di depan sebuah lukisan berukuran besar. Lukisan itu menggambarkan seorang anak kecil dengan sorot mata sedih yang menyayat hati.


Fany menatap dalam lukisan di hadapannya, "gila sih, gue seolah bisa ngerasain kepedihan anak di dalam lukisan itu."


Juna mengangguk pelan, "itu artinya pelukis karya ini sudah berhasil dalam berkarya. Dia bisa menyampaikan emosi yang ada di lukisan kepada pengunjung."


Seolah tersihir, Fany tidak bisa melepaskan tatapannya pada mata anak kecil dalam lukisan itu. Sorot mata sedih milik anak dalam lukisan itu membuatnya teringat pada masa kecilnya yang suram dulu. Saat dimana ia harus hidup susah bersama ibunya, serta saat dimana ibunya meninggalkannya seorang diri di dunia ini. Rasa sakit mendalam yang kini hampir dilupakan oleh Fany.


Tes... Tes...


Fany tidak bisa membendung air matanya lagi. Ia menangis dalam diam. Juna tidak sengaja menoleh dan mendapati istrinya menangis.


"Hei... Kok nangis?" ucap Juna sambil menyentuh bahu Fany.


Fany buru-buru mengusap air matanya, "ugh! Lukisannya terlalu bagus, gue jadi kebawa emosi kan."


Juna tersenyum kecil, "Fany, seseorang gak akan menangis hanya dengan melihat sebuah lukisan, kecuali jika lukisan itu mengingatkannya pada sebuah memori di masa lalu."


Fany menoleh untuk menatap Juna, ia memproses kata-kata Juna barusan yang cukup puitis, tapi memang benar adanya.


"Aku gak tau masa kecil kamu seperti apa, tapi aku tau kalau hidup yang kamu jalani selama ini cukup berat," kata Juna.


Runtuhlah pertahanan Fany. Air matanya kembali jatuh, bahkan lebih deras dari sebelumnya. Perkataan Juna mampu membuat Fany mengeluarkan emosi sedihnya. Walaupun kehidupannya bisa dibilang membaik sekarang, tetapi luka di masa lalu tidak akan pernah hilang. Luka itu memiliki tempatnya sendiri di hati Fany.


Grepp!


Juna merengkuh Fany ke dalam pelukannya. Ia bisa merasakan tubuh Fany bergetar karena menangis, walaupun suara tangisannya sangat lirih.


"Keluarkan saja semuanya, Fany," lirih Juna, "jangan ditahan. Selama ini, kamu selalu mengubah kesedihanmu menjadi amarah. Kamu perlu sesekali menerima kenyataan bahwa kamu sedang bersedih, menangis bukanlah sesuatu yang salah."


"Hiks... Kenapa Kak Juna jadi kayak psikolog sih?" ucap Fany dengan suara pelan.

__ADS_1


Ia semakin menenggelamkan wajahnya di dada Juna.


Juna tertawa kecil, "aku emang suka mempelajari ilmu psikologi."


Cukup lama mereka berpelukan, kemudian Fany menarik diri untuk melepas pelukan itu. Ia mengusap air mata dan ingusnya. Juna terkekeh melihat Fany yang sibuk mengusap air mata dan ingus yang ada di wajahnya.


"Hiiih~ Ngeselin banget sih, hidungku kok gak bersih-bersih," kesal Fany sambil terus mengusap lubang hidungnya.


"Udah udah," Juna memegang tangan Fany, "jangan digosok terus, nanti perih. Udah gak keliatan kok ingus kamu."


Fany terdiam melihat Juna dari jarak dekat. Pipinya mulai memanas. Ia baru menyadari bahwa sejak tadi ia sudah melakukan hal-hal romantis dengan suaminya itu.


"Lho kok malah bengong, udah yuk, kita lanjut jalan aja," ucap Juna, lalu menarik tangan Fany untuk melanjutkan berjalan mengelilingi ruangan.


Fany terus menatap tangannya yang digenggam oleh Juna. Ia tersenyum, ingin sekali rasanya menautkan jari-jari miliknya dengan jari-jari milik suaminya. Namun, ia masih belum memiliki keberanian untuk melakukan hal itu.


Sret!


Jantung Fany serasa merosot ke tanah. Ia sangat terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Juna.


'Demi apa sih?! Jari kita bertaut!! Aaarghh!!' jerit Fany dalam hati.


Bahkan, Fany sempat mengira kalau Juna adalah cenayang. Bagaimana tidak? Baru saja ia membatin ingin menautkan jari dengan Juna, tapi sekarang malah pria itu yang melakukannya. Juna menautkan jarinya dengan jari Fany!


Fany menganggukkan kepala dengan semangat sambil mengulum senyum. Hal itu membuat Juna terkekeh.


'Gak apa-apa banget anjir!' batin Fany.


...----------------...


Hari mulai gelap, sepasang suami istri itu baru saja menyelesaikan makan malam di apartemen mereka, dan kini mereka sudah duduk santai di depan TV.


"Eh, gimana kabarnya teman-teman kamu, si Rangga sama si Berly?" tanya Juna dengan mata yang masih fokus melihat tayangan di TV.


"Mereka baik-baik aja. Mereka kuliah di kota ini juga, di kampus negeri, sama-sama ambil jurusan kedokteran," jawab Fany.


"Wiih... Keren banget masuk kedokteran," ucap Juna, "mereka tinggal di mana? Kos apa sewa apartemen?"


"Kalau Rangga sih sewa apartemen, kalau Berly tinggal di asrama kampus," kata Fany.


Juna menganggukkan kepalanya, "ngomong-ngomong, kapan kamu mulai masuk kuliah?"

__ADS_1


Fany terlihat berpikir sejenak, "emm... Minggu depan udah ospek."


"Semua perlengkapannya udah disiapin?" tanya Juna kembali.


"Udah beres semua," jawab Fany.


"Beneran? Gak ada yang kurang?" cecar Juna.


Fany menoleh dengan alis terangkat sebelah, "dih, kok Kak Juna jadi mirip sama bunda sih, cerewet banget."


Juna berdecak sebal, "tck, ini tuh bukan cerewet, ini namanya antisipasi. Kamu kan ceroboh, takutnya nanti ada yang kurang pas ospek, terus kena hukum."


Fany mendengus kesal, "siapa sih yang ceroboh?! Huh, nyebelin!"


Juna menoleh, lalu tertawa kecil, "tapi bener kan, kalau kamu itu ceroboh. Udah ceroboh, ngambekan lagi."


"Nyenyenye~" cibir Fany.


Ting tong!


"Ada tamu tuh. Bukain pintu dong, Kak," celetuk Fany.


"Dih, kok seenaknya ya kamu nyuruh-nyuruh suami," sahut Juna tidak terima.


"Lah, kan Kak Juna yang lebih dekat sama pintu," balas Fany tidak mau kalah.


"Jarak kita berdua ke pintu sama aja kok, orang kita aja duduknya sebelahan," balas Juna.


Ting tong!


"Udah cepetan bukain, kasian tuh tamunya," kata Fany sambil mendorong-dorong tubuh Juna.


"Huh! Iya iya," kesal Juna, lalu berjalan menuju pintu apartemennya.


Sedangkan Fany sudah terkikik senang setelah memenangkan perdebatan kecil dengan suaminya.


Cklek


"Loh, Papa? Mama?" ucap Juna saat melihat Alex dan Diana berdiri di depan pintu, lalu pandangannya tertuju kepada wanita di belakang mereka, "loh, Aliesha?"


Bugh!!

__ADS_1


"Kurang ajar kamu, Arjuna!!"


__ADS_2