Tentang Fany

Tentang Fany
Part 42 : Aphrodite


__ADS_3

Sepertinya ada masalah yang cukup serius dalam urusan bisnis antara Permana Group dan Bagaskara Group. Lihat saja sekarang, Fany sudah duduk bersama dengan Juna, Ayah David, Bunda Zara, serta Radit, bahkan ada Papa Alex dan Mama Diana. Mereka berkumpul di ruang pengawas tim hacker perusahaan Permana.


"Bagaimana ini, David?" tanya Alex gelisah.


"Kamu jangan panik dulu, Lex. Tim hacker utama masih berusaha keras untuk mengatasi masalah ini," jawab David.


"Aneh banget, hal ini belum pernah terjadi sebelumnya," gumam Radit.


Fany melirik ke arah para hacker di depan sana. Mereka terlihat sangat sibuk mengutak-atik komputer masing-masing. Tidak jarang mereka berlari kesana kemari untuk menyelesaikan masalah yang sedang menimpa perusahaan tersebut.


"Ada apa sih, Bun?" tanya Fany kepada bundanya dengan suara lirih.


Zara pun menoleh, "sistem keamanan Bagaskara Group yang dikelola perusahaan kita berhasil dirusak oleh orang luar."


Fany mengernyitkan dahinya, "oh ya? Kok bisa sih? Katanya sistem keamanan milik Permana adalah yang terbaik di Indonesia. Halah bohong, nyatanya bisa ditembus juga."


Zara menghela napas lelah, "bunda juga gak tahu, Fany. Sebelumnya gak ada orang yang berhasil merusak sistem keamanan yang dikelola oleh Permana Group."


Atensi semua orang di ruang pengawas teralih kepada Jevo yang datang menghampiri mereka.


"Bagaimana, Jevo? Sudah ada perkembangan?" tanya David.


"Beruntung sistem keamanan kita tidak sepenuhnya rusak, Tuan David. Kami sudah berhasil menghentikan peretasan itu. Kami juga sudah membenahi sistem supaya lebih kuat dan tidak bisa ditembus lagi," jelas Jevo dengan nada tenang.


Semua orang menghela napas lega.


"Kamu sudah menemukan siapa pelaku peretasan ini?" tanya David.


Jevo menganggukkan kepalanya.


"Itu pasti orang dari Blackjoy!" seru Alex, "dari dulu mereka sudah mengincar kita."


"Tapi, bukannya musuh kita ada banyak ya, Pa?" ucap Juna dengan ragu.


Alex manggut-manggut, "hmm... iya juga ya."


"Jadi, siapa pelakunya, Jevo?" imbuh Alex.


"Sebenarnya, kami juga masih belum begitu yakin siapa sebenarnya dalang dibalik peretasan ini," kata Jevo ragu-ragu.


"Loh, gimana sih?! Katanya tadi udah ketemu pelakunya, kok sekarang bilangnya gak yakin?!" sungut Fany.


Plak!


Fany memegangi lengannya yang baru saja digeplak oleh Radit.


"Gak usah pakai emosi dulu, bisa gak sih?! Kebiasaan deh," ucap Radit.


Fany hanya menunjukkan cengiran lebarnya.


"Maksud saya, kami tidak bisa memastikan identitas dari pelaku tersebut. Kami hanya mengetahui nickname-nya saja," jelas Jevo.


"Apa server dari pelaku tersebut tidak bisa dilacak berdasarkan nickname?" tanya Juna.


Jevo menggelengkan kepalanya, "kami sudah mencoba melacak nickname tersebut, tapi itu malah membuat salah satu komputer milik anggota yang melakukan pelacakan terkena virus."


Fany mengernyitkan dahinya, ia merasa ada yang janggal dengan pernyataan Jevo.


"Virus? Virus jenis apa?" tanya Radit.

__ADS_1


"Tim kami sedang melakukan pemeriksaan. Virus itu terkesan dibuat oleh amatir, tapi rangkaiannya sangat kompleks," jawab Jevo.


"Aneh sekali," gumam David, "padahal pelacakan nickname seharusnya tidak sesulit itu."


"Memangnya, apa nickname si pelaku?" tanya Zara.


Jevo melihat ke arah tablet di genggamannya, lalu kembali berujar, "Aphrodite."


"APA?!!"


Krik krik


Suasana terasa hening setelah Fany berteriak begitu kencang. Bahkan, para anggota tim yang sedang bekerja juga menoleh ke arahnya.


"A-Aphrodite?" tanya Fany kepada Jevo.


Sedangkan yang ditanyai hanya bisa menganggukkan kepalanya ragu. Jevo merasa bingung dengan respon Fany.


"Ada apa, Fany?" tanya David.


"Hah?"


Fany membalas tatapan ayahnya dengan perasaan gundah.


'Aduh, ngaku gak ya?? Ntar kalau ngaku, malah disangka pengkhianat keluarga sendiri. Kalau gak ngaku, kasihan mereka semua bingung,' batin Fany gelisah.


"Fany," panggil Juna sambil mengguncang lengan Fany pelan.


Pria itu merasa bingung dengan sikap istrinya yang begitu aneh. Setelah berteriak kencang, tiba-tiba langsung terdiam.


"Haduh... Gimana ya..." gumam Fany.


"Lo kenapa sih, Dek?!" seru Radit yang sudah gemas dengan tingkah aneh adiknya.


"Ngomong aja, lo tuh kenapa sih?! Kebelet berak? Kenapa??" geram Radit.


Fany memandang satu per satu orang-orang yang ada di hadapannya. Mereka semua juga menatap Fany, menantikan jawaban dari gadis itu.


"Sebenarnya...,"


Semua orang memfokuskan pendengaran mereka kepada Fany.


"Sebenarnya tuh....,"


Mereka semakin penasaran dengan ucapan Fany.


"Sebenarnya tuh gue...,"


"Sebenarnya apa anjir?!!" seru Radit.


Plak!


"Heh! Gak boleh ngomong kasar!" marah Zara kepada Radit setelah menggeplak kepala putranya.


"Abis si adek lama banget ngomongnya," ucap Radit kesal.


"Sebenarnya apa, Fany?" tanya Juna dengan suara lembut.


Fany menggigit bibir bawahnya cemas, kenapa tiba-tiba ia berkeringat dingin. Ia menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk mengatakan kebenaran.

__ADS_1


"Sebenarnya Aphrodite itu aku," ucap Fany.


Hening.


Tidak ada jawaban.


"Hello? Kok gak ada yang respon sih?" kesal Fany karena merasa diabaikan.


"Gak usah bohong deh, lo udah bikin emosi ya dari tadi," sinis Radit.


"Dih, lo tuh sensi banget sih, dibilangin gak percaya," cibir Fany.


"Maksud kamu apa, Fany?" tanya David.


"Ya... Maksud aku, Aphrodite itu adalah aku, aku adalah Aphrodite," ujar Fany.


"Hah? Gimana gimana?" ucap Juna yang masih bingung dengan situasi.


Fany memutar bola matanya kesal, "astaga! Kurang jelas apa lagi sih?! Udah gue bilang kalau gue tuh aphrodite!"


"Gak usah ngadi-ngadi ya lo, bocil!" seru Radit yang masih tidak percaya.


Fany hampir saja melempar vas bunga yang ada di meja ke arah Radit, tapi sudah dicegah oleh Juna yang duduk di sampingnya.


"Gak boleh anarkis," bisik Juna.


Fany hanya mendengus kesal, lalu melirik Jevo, "lo juga gak percaya sama gue?!"


Jevo tersentak mendengar nada tinggi Fany. Kenapa dia juga ikut dimarahi, pikirnya. Dengan ragu, ia pun menggelengkan kepalanya.


Fany hanya mendengus kesal, lalu mengeluarkan ipad dari tasnya. Mereka semua hanya menyaksikan dengan diam gerak gerik dari gadis itu. Selama kurang lebih 2 menit, Fany mengutak atik ipad-nya.


[Hello, I'm Aphrodite.]


Mereka semua tersentak dan menoleh ke layar monitor besar di ruang hacker. Monitor yang sebelumnya padam, tiba-tiba menyala dan menampilkan avatar Dewi Aphrodite.


[Still not believing in me?]


Avatar itu kembali mengeluarkan suara. Semua orang menatap Fany dengan tatapan yang sama, yaitu tatapan ragu.


"Hacker pemula pun bisa meretas layar monitor. Itu tidak membuktikan apapun, Nona Fany." celetuk Jevo.


David menatap nyalang Jevo. Meskipun ia juga tidak mempercayai bahwa putrinya telah melakukan hal yang berdampak besar bagi perusahaan, tapi ia tidak suka saat Jevo mengatakan hal tersebut. Bukan karena David tersinggung, tapi ia tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Dan itu bukanlah hal baik.


Benar saja. Setelah mendengar ucapan Jevo yang seperti meremehkannya, mata Fany terlihat berapi-api dengan alis menukik tajam.


"Lo ngeremehin gue?" tanya Fany dengan suara rendah tapi tajam.


Hal itu mampu membuat Jevo terdiam. Padahal Fany hanya seorang gadis muda yang bertubuh kecil dan berwajah cantik, sama sekali tidak ada kesan sangar. Tapi entah mengapa, tiba-tiba aura gadis itu menjadi mengerikan.


Fany mulai berkutat dengan ipad-nya. Semua orang tidak tahu apa yang dilakukan gadis itu. Tapi tidak lama kemudian, beberapa hacker di depan sana mulai berseru panik.


"Astaga! Sistem keamanan kita ditembus lagi!"


"Aphrodite!"


"Dia berhasil merusak rangkaian kedua!"


"Cepat hentikan!"

__ADS_1


Mereka yang berada di ruang pengawas terdiam. Perlahan tapi pasti, mereka menoleh ke arah Fany. Gadis itu masih sibuk dengan ipad-nya. Meskipun menunduk, mereka bisa melihat senyum miring di sudut bibir Fany. Tanpa mengalihkan pandangan dari layar ipad, gadis itu berujar dengan nada dingin.


"Udah percaya sama gue sekarang?"


__ADS_2