Tentang Fany

Tentang Fany
Part 8 : Ayah


__ADS_3

Rangga dan Berly memakan makanan mereka perlahan sambil terus melirik ke arah meja yang ada di sebelah mereka, tempat dimana Fany dan pria yang baru pertama kali mereka lihat sedang duduk berhadapan.


Sedangkan Fany sendiri, gadis itu memilih untuk memandangi makanan di depannya tanpa minat. Ia masih sibuk mencerna apa yang terjadi. Ia masih tidak percaya bahwa orang yang selama ini ia cari, ayahnya, detik ini juga sedang duduk di hadapannya.


David Enggar Permana



Fany bisa langsung mengenali ayahnya yang bernama David itu karena setiap hari ia melihat foto ayahnya ketika membuka dompet. Dengan penuh kebencian tentunya. Ayahnya memiliki tubuh tegap dan rahang yang tegas. Ia akui ayahnya ini cukup tampan, persis seperti yang ada di foto, hanya saja sudah muncul keriput yang terlihat samar di wajahnya.


"Fany," panggil David pelan.


Fany langsung menoleh dan menatap mata David. Ia hampir menangis saat melihat mata David yang memiliki warna hitam kelam seperti matanya, tapi ia tahan sekuat mungkin. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan ayahnya itu.


"Makan dulu makananmu," kata David.


"Kenapa baru sekarang?" cicit Fany.


"Apa?" tanya David yang tidak mendengar dengan jelas ucapan Fany.


"Kenapa baru sekarang nyari aku?" ulang Fany dengan suara pelan tapi tajam.


"Nak-"


"Asal ayah tau ya, hidup aku sama ibu jadi menderita gara-gara ayah!" sungut Fany.


Rangga dan Berly cukup terkejut dengan suara Fany yang meninggi. Beberapa pengunjung juga menoleh karena mendengar suaranya.


"Aku sekarang hidup sendiri, yah. Ibu udah gak ada," setetes air mata meluncur membasahi pipi Fany, tapi langsung ia usap dengan kasar.


Tidak seperti yang Fany duga, David tidak menunjukkan ekspresi terkejut, hanya ada raut wajah yang sedih.


"Oh, udah tau ternyata," sinis Fany.


"Ayah minta maaf."


"Harus!" seru Fany, "ayah harus minta maaf. Tapi bukan berarti aku bakal maafin ayah."


David menatap Fany memohon, "ayah bakal lakuin apapun sampai kamu maafin ayah."



Fany tertawa pelan, "silahkan saja. Aku pengen lihat sejauh mana usaha orang kayak ayah buat minta maaf ke aku."


Setelah mengatakan hal itu, Fany langsung beranjak pergi meninggalkan David yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, bahkan makanan Fany belum ia sentuh sama sekali. Rangga dan Berly yang ditinggal begitu saja langsung berlari menyusul Fany.


...----------------...


Rangga melirik Fany yang duduk di kursi penumpang di sebelahnya. Suasana mobil saat ini sangat sunyi. Rangga yang fokus menyetir, Berly yang duduk diam di kursi belakang, dan Fany yang melamun memandang luar jendela.


"Sorry ya," lirih Fany, " gara-gara gue, hari ini jadi kacau."


"Gapapa Fan, lo gak salah kok," kata Berly.

__ADS_1


"Lagian ini kejadian yang gak terduga buat lo," Rangga menoleh ke arah Fany, "gapapa kalau lo mau nangis."


Fany hanya menggeleng, ia tidak suka menangis di depan orang lain, walaupun saat ini dadanya sangat sesak.


"Tolong anterin gue ke Redfox aja ya," pinta Fany kepada Rangga.


Redfox adalah club tinju milik Yudha.


"Gak," tegas Rangga, "bahaya kalau lo kesana."


"Apanya yang bahaya sih?" tanya Fany tidak terima.


"Yang dibilang Rangga bener, Fan," ucap Berly, "lo lagi gak stabil sekarang. Bahaya kalau sampai lo gak terkendali pas lagi tinju."


Fany menatap Rangga dengan mata memelas, "tapi hari ini jadwal gue latihan, Ngga. Tolong anterin ke sana."


Rangga yang ditatap seperti itu hanya menghela nafas kasar. Ia langsung mengarahkan kemudinya menuju club tinju itu. Ia tidak bisa menolak keinginan Fany karena mungkin itu adalah caranya untuk menenangkan diri.


...----------------...


*Bugh! Bugh! Duak*!


Pukulan dan tendangan ia layangkan secara bertubi-tubi kepada samsak di depannya. Peluh membasahi sekujur tubuh Fany, tapi ia tidak memiliki keinginan untuk berhenti meninju samsak tersebut.


Bugh!


"Akh!"


Fany tersentak saat buku-buku jari tangannya terasa perih setelah tinjuan itu. Ia melihat buku-buku jari kedua tangannya sudah mengeluarkan banyak darah. Bagaimana tidak, sudah 3 jam ia berlatih di ruangan dengan pencahayaan remang-remang itu. Bahkan, semua anggota club sudah meninggalkan tempat itu, menyisakan dua orang penjaga yang bertugas malam.


"Gapapa, pak," balas Fany sambil tersenyum.


"Tanganmu luka parah itu, cepat obati dulu," perintah penjaga itu.


"Iya pak, nanti saya obati sendiri," kata Fany.


"Fany?"


Terdengar suara yang begitu familiar di pendengaran mereka.


"Om Yudha?" Fany terkejut ketika Yudha datang di saat hampir tengah malam begini.


Penjaga tersebut berpamitan kepada Yudha untuk pergi, Yudha pun mengangguk.


"Kamu masih disini?" tanya Yudha kepada Fany, "ini udah hampir tengah malam, lho."


"Hehe... Iya, om."


"Tangan kamu," Yudha mengernyit melihat tangan Fany yang terluka cukup parah.


"Biasa om, namanya juga tinju, hahaha," Fany tertawa hambar.


Yudha hanya menggeleng-gelengkan kepala, lalu menarik lengan Fany. Ia membawa Fany ke ruang sehat. Ruang sehat adalah ruang khusus obat-obatan dan alat kesehatan lainnya. Biasanya ruangan itu untuk mengobati anggota yang terluka parah saat bertarung di ring.

__ADS_1


Yudha meminta Fany untuk duduk, lalu ia mengambil kotak obat. Setelah itu, Yudha mulai membersihkan terlebih dahulu luka di tangan Fany.


"Sssh..." desis Fany saat cairan pembersih luka itu menyentuh lukanya, sangat perih.


Yudha melirik Fany yang tampak kesakitan, "tahan sebentar."


Fany menggigit bibir bawahnya untuk melampiaskan rasa perih.


Setelah membalut tangan Fany menggunakan perban, Yudha membereskan kotak obat dan meletakkannya kembali di lemari.


"Ada apa?" tanya Yudha setelah duduk kembali di sebelah Fany.


"Huh?" bingung Fany.


"Biasanya kamu kayak gini kalau lagi ada masalah," tebak Yudha.


Fany hanya menggeleng. Yudha sangat tahu kebiasaan Fany. Jika gadis itu punya beban pikiran, ia akan memukul samsak dengan membabi buta untuk melampiaskan emosi.


"Om tahu kamu lagi gak baik-baik aja," imbuh Yudha, "ada apa?"


Fany menatap mata Yudha, entah mengapa ia merasa sangat lemah sekarang. Ia menunduk dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Air mata yang sedari tadi ia tahan langsung mengalir deras begitu saja.


Yudha yang melihat Fany terisak dengan suara cukup keras langsung memeluknya. Selama ini Yudha tidak pernah melihat Fany menangis, sekalipun ada banyak alasan yang seharusnya bisa membuat gadis itu mengeluarkan air matanya.


"Keluarin aja semuanya," ucap Yudha sambil mengelus rambut Fany perlahan.


Fany hanya bisa menangis di dekapan Yudha sampai ia sesenggukan. Kurang lebih 15 menit Fany menangis, kini ia sudah lebih tenang. Kemudian, ia bergerak perlahan untuk melepaskan pelukan Yudha.


"Maaf," lirih Fany sambil mengusap air matanya.


"Kenapa kamu minta maaf? Nangis itu bukan hal yang buruk," kata Yudha.


Yudha paham bahwa Fany merasa menangis itu hal yang memalukan. Oleh karena itu, Fany meminta maaf padanya.


"Jadi," Yudha menjeda kalimatnya memastikan Fany menyimak apa yang akan ia ucapkan, "apa yang terjadi sama kamu? Om akan dengerin. Tapi, kalau kamu gak mau cerita sama om juga gapapa."


Fany terdiam sejenak, "hari ini semuanya lancar, aku pergi main sama temen-temenku."


Yudha menyimak cerita Fany dengan tenang.


"Sampai akhirnya ada orang yang datang dan bikin aku down," Fany menghela nafas sebelum melanjutkan ceritanya, "ayahku."


Yudha menunjukkan ekspresi agak terkejut, "ayahmu? Ayah yang pernah kamu ceritain ke om itu?"


Fany mengangguk, "ini semua sangat tiba-tiba. Orang yang pergi ninggalin ibuku pas lagi hamil seolah dia gak mengharapkan aku, sekarang tiba-tiba muncul dan minta maaf ke aku."


"Harusnya ia datang sejak dulu, sejak ibu masih ada," lanjut Fany, "yang lebih pantes dapat permintaan maaf dari dia itu ibu."


"Kita gak bisa ngatur orang lain harus bertindak apa," kata Yudha, "mungkin ayahmu baru sadar dengan kesalahannya dan pengen nebus kesalahannya ke kamu."


Fany menggeleng lemah, "aku gak tahu harus gimana, om. Aku benci banget sama dia, tapi di sisi lain aku juga kangen sama kehadiran sosok ayah yang belum pernah aku rasain sebelumnya."


"Kamu bisa terima dia perlahan-lahan," ucap Yudha.

__ADS_1


"Gak semudah itu, om," Fany menatap Yudha masih dengan mata yang masih berkaca-kaca, "gak semudah itu."


__ADS_2