Tentang Fany

Tentang Fany
Part 25 : Rahasia


__ADS_3

Fany membuka matanya perlahan. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah tampan Juna yang sedang tertidur menghadap ke arahnya.



'Wow... Ganteng banget Tuhan ciptaan-Mu yang satu ini,' batinnya terkagum dalam hati, 'beruntung banget sih gue punya suami setampan ini.'


Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya agar pikirannya kembali sadar.


'Sadar anjir, bukan lo yang ada di hatinya.'


Kemudian, ia segera bangkit dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Setelah mandi, ia pun menuju balkon untuk melihat pemandangan kota di pagi hari. Senyum manis terpatri di wajahnya saat angin semilir berhembus mengenai tubuhnya, pikirannya benar-benar terasa rileks sekarang.


"Udah bangun kamu?"


Fany menoleh ke belakang dan mendapati Juna yang duduk di atas ranjang dengan wajah khas bangun tidurnya.


"Ya menurut lo?!" ketus Fany.


"Santai aja kali jawabnya, orang cuma nanya doang," cibir Juna, kemudian berlalu ke kamar mandi.


"Ih, ngeselin banget deh, kenapa mukanya harus ganteng banget gitu sih?!" gerutu Fany saat pintu kamar mandi sudah tertutup.


Biarkan Fany bergumul dengan pikiran anehnya itu. Dulu sebelum nikah, ia takut kalau mendapatkan suami jelek. Giliran sekarang sudah mendapatkan suami yang super tampan, dia malah marah-marah sendiri.


...----------------...


Sekarang Juna dan Fany sedang makan di restoran sushi yang dulu pernah dikunjungi oleh Fany dan teman-temannya. Sebenarnya, pihak hotel sudah menawarkan untuk mengantar makanan ke dalam kamar, tetapi Fany menolaknya. Ia lebih suka makan sembari menikmati suasana restoran yang menurutnya sangat estetik.


"Kok bisa ada sushi seenak ini sih?" kata Fany, "bentar deh, jangan-jangan restoran ini punya keluarga Kak Juna juga?"


Juna menggelengkan kepalanya, "keluarga aku yang punya gedungnya, tapi kalau restoran dan fasilitas lainnya itu punya mereka sendiri, bisa dibilang sewa."


Fany hanya menganggukkan kepalanya paham. Ia tidak terlalu tahu mengenai bisnis real estate seperti ini.


"Kalau makannya udah selesai, kita langsung berangkat aja. Udah ditunggu sama sopir," ucap Juna.


Pagi ini, mereka akan berangkat menuju apartemen hadiah pernikahan mereka dari Alex yang terletak di Jakarta. Apartemen itu dibeli dengan pertimbangan karena dekat dengan Universitas Garuda Emas. Selain itu, Juna bisa memegang cabang perusahaan Bagaskara yang ada di Jakarta. Ngomong-ngomong, rumah utama keluarga David serta pusat perusahaannya juga ada di Jakarta.


Setelah selesai makan, mereka langsung menuju mobil yang akan mengantar mereka ke apartemen baru. Mobil itu sudah dihias dengan bunga-bunga yang cantik. Ingatlah bahwa mereka ini pengantin baru. Setelah menempuh waktu selama 1,5 jam, akhirnya mereka memasuki kawasan apartemen yang sangat luas dan megah. Apartemen itu termasuk ke dalam jajaran apartemen mahal di Jakarta.


"Kamu mau kamar yang mana?" tanya Juna.

__ADS_1


Fany yang sudah selesai melihat-lihat ruangan, langsung antusias menunjuk kamar yang ada di lantai atas, "kamar yang paling pinggir. Jendelanya lebar banget loh, puas banget kalau mau lihat pemandangan."


Juna hanya menganggukkan kepala, lalu mereka berdua mengangkat koper yang berisi pakaian masing-masing untuk dibawa masuk ke kamar yang dipilih oleh Fany.


"Loh, lo juga tidur di kamar ini, Kak?" tanya Fany melihat Juna yang ikut masuk ke kamarnya, "gue kira kita tidurnya bakalan pisah."


"Kita emang tidur terpisah, kamarku ada di sebelah," jawab Juna, "tapi baju dan sebagian barangku biar di sini aja, jaga-jaga kalau tiba-tiba ada keluarga yang datang, terus lihat ke kamar. Aku gak mau mereka tahu kalau kita gak tidur sekamar."


'Cerdik juga ternyata,' batin Fany.


Mereka berdua pun mulai menata pakaian di dalam walk-in-closet. Fany melirik ke arah gantungan pakaian Juna. Ia bisa melihat bahwa suaminya itu memiliki selera pakaian yang konsisten, yaitu pakaian dengan warna hitam dan putih. Berbeda dengannya yang tidak memiliki style khusus, kadang ia berpakaian gelap seperti tomboi, kadang ia juga berpakaian feminin dengan warna cerah.


Fany menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, "huhh... Empuk banget kasurnya, jadi pengen tidur lagi deh."


"Dasar aneh, kalau malam aja suka begadang, sekarang udah siang malah mau tidur," cibir Juna.


"Apa sih?! Julid banget jadi orang," sinis Fany.


Juna menghela napas lelah, lalu melenggang pergi ke kamarnya yang berada di sebelah kamar Fany.


Fany masih memejamkan mata sambil menikmati ranjangnya yang terasa sangat nyaman. Tetapi hanya beberapa menit saja, lalu gadis itu bangkit dan membuka laptopnya. Fany hanya asal bicara tentang 'ingin tidur lagi', nyatanya ia tidak terbiasa tidur siang.


Tanpa ada yang mengetahui, termasuk ayahnya, gadis itu telah membeli banyak saham dari berbagai perusahaan. Ia ingin memiliki kekayaan sendiri, tanpa harus terus-terusan meminta kepada ayah ataupun suaminya. Jika ditanya darimana ia mendapatkan banyak uang untuk membeli saham, maka jawabannya adalah uang saku dari ayahnya dan pendapatannya sendiri.


Saat masih sekolah dulu, ia diberi uang saku sebanyak 5 juta per minggu. Jumlah yang cukup fantastis untuk ukuran anak SMA, sehingga ia bisa menyisihkan sebagian besar uang sakunya untuk membeli saham.


Sedangkan dari segi pendapatan, ia diam-diam bekerja menjadi seorang hacker lepas. Gadis itu masuk jurusan cyber security karena ia ingin mempelajari mengenai sistem keamanan teknologi, yang akan mendukung profesinya sebagai hacker. Ngomong-ngomong, ia masih tergolong amatir. Selama ini, ia hanya menyelesaikan kasus klien yang ringan, seperti melacak lokasi, meretas CCTV pribadi, dan meretas akun media sosial. Meskipun begitu, ia masih memiliki etika untuk tidak hacking sembarangan.


"Agensi model 'Highstar'?" gumam Fany saat melihat daftar saham perusahaan yang sedang dalam krisis.


Jari jemarinya mulai mengetik keyboard dengan lihai. Ia ingin memeriksa sesuatu.


"Oh, jadi Kak Aliesha, pacarnya Kak Juna, bekerja di bawah agensi ini?" monolognya, "kayaknya ini agensi lagi ada masalah deh, sampai semua modelnya gagal kontrak iklan."


Fany terkekeh pelan, "padahal agensi besar, tempatnya para supermodel, tapi kok bisa sahamnya turun drastis sih," ia menjeda kalimatnya, "potensi yang bagus nih."


Perlahan senyum miring terukir di wajahnya, lalu tanpa menunggu lama lagi, ia langsung membeli saham perusahaan itu dengan total 25 juta rupiah. Fany suka mengambil risiko seperti ini. Di saat investor lain enggan untuk membeli saham penuh risiko, di situlah terdapat peluang untuk meraup keuntungan besar.


Triring!


Ia mengambil ponsel yang ada di dalam tas. Ngomong-ngomong, ia punya 2 ponsel yang berbeda. Satu yang berwarna putih untuk kesehariannya, satunya lagi berwarna hitam untuk pekerjaannya sebagai hacker. Ia melihat ponsel hitam itu, tampak di layar ada nomor tak dikenal yang mengiriminya sebuah pesan.

__ADS_1


****08xxxxxxx****


/*Ini benar dengan ****Aphrodite*****?


^^^Aphrodite^^^


^^^Haiiii.... Tepat sekali. Ada yang bisa Aphrodite\ bantu???^^^


08xxxxxxx


/Aku mau kamu melacak seseorang untukku.


/Bukan, lebih tepatnya menyelidiki.


^^^Aphrodite^^^


^^^Menyelidiki? Oke, siapa dia?\^^^


08xxxxxxx


/suamiku


^^^Aphrodite^^^


^^^Baiklah\^^^


^^^Apa yang kamu minta untuk kuselidiki?\^^^


08xxxxxxx


/Akhir-akhir ini, aku melihatnya bertingkah mencurigakan. Dan kemarin, ada yang bilang padaku bahwa suamiku memesan kamar hotel dengan seorang perempuan. Tapi, sampai sekarang aku tidak bisa menuduhnya karena tidak ada bukti.


/Aku mau kamu mencari tahu siapa perempuan itu, dan kumpulkan bukti tentangnya.


"Woah, kasus perselingkuhan?" gumam Fany.


^^^Aphrodite^^^


^^^Oke. Kirimkan data tentang suamimu, serta\ informasi apapun yang kamu ketahui terkait perselingkuhannya.^^^


Fany meregangkan badannya sebelum mulai bekerja. Selama ini, ia tidak pernah bertemu dengan kliennya secara langsung, hanya memeriksa identitas untuk memastikan bahwa mereka bukan penipu. Namun, sepertinya kasus kali ini akan sedikit berbeda.

__ADS_1


__ADS_2