
Pukul setengah 10 malam, acara ospek Universitas Garuda Emas resmi selesai. Kali ini benar-benar selesai. Seluruh mahasiswa baru sudah dibubarkan dan dipersilahkan untuk pulang ke rumah masing-masing. Fany berjalan ke tempat penjemputan bersama beberapa teman-teman barunya.
"Huuh~ akhirnya, beres juga nih ospek," gumam Fany.
"Capek banget gak sih?" tanya salah satu teman di sampingnya.
"Iya, capek banget, pengen cepet-cepet balik, terus tidur," balas teman yang lainnya.
"Kita besok beneran langsung kuliah ya?" tanya Fany.
"Ya menurut lo aja, Fan," jawab temannya dengan nada malas, "ospek udah selesai, ya pasti langsung kuliah lah."
Fany hanya menyengir mendengar jawaban bernada kesal dari temannya itu.
"Tapi kayaknya masih perkenalan materi deh, belum yang berat-berat amat," sahut temannya yang lain.
Fany dan teman-teman yang lain hanya manggut-manggut. Mereka duduk di gazebo tempat penjemputan. Satu per satu teman Fany sudah dijemput, kini tinggal ia sendiri yang masih duduk di sana.
"Duh! Kak Juna mana sih?" dumal Fany ketika mobil sang suami yang ia tunggu-tunggu sejak tadi belum juga muncul.
"Loh, Fany?"
Fany menoleh untuk melihat siapa yang baru saja memanggilnya. Ternyata itu adalah Farel yang sedang duduk di atas motornya. Laki-laki itu baru saja akan pulang, tapi ia menghentikan motornya saat melihat Fany sedang duduk sendiri.
"Kak Farel? Kok belum pulang, Kak?" tanya Fany.
"Ini gue udah mau pulang, tapi lihat lo sendiri di sini, ya udah gue samperin lo dulu," jawab Farel, "btw, belum dijemput?"
Fany menggeleng lemas, "iya nih, Kak Juna belum jemput."
"Udah lo telpon?" tanya Farel kembali.
Fany menganggukkan kepalanya, "udah, tapi gak diangkat."
Farel berpikir sejenak, kemudian berujar, "bareng gue aja, mau gak? Kampus udah mulai sepi nih, bahaya kalau lo sendirian di sini."
"Eh, gak usah kak. Gue nunggu Kak Juna aja, bentar lagi juga pasti nyampe tuh orang," ucap Fany menolak ajakan Farel.
"Iya kalau bentar lagi nyampe, kalau masih lama gimana? Gue juga gak bisa lama-lama nemenin lo di sini," kata Farel.
"Gak apa-apa, Kak. Kak Farel pulang duluan aja," ucap Fany masih berusaha menolak ajakan Farel.
Bagaimanapun juga, mereka masih belum terlalu mengenal satu sama lain. Dan Fany tidak bisa pergi berdua dengan sembarang orang. Yaa... Kita kan tidak pernah tahu siapa yang memiliki niat jahat, kan?
"Ini udah malam lo, Fan. Gelap banget di sini, mana sepi lagi. Bahaya kalau cewek sendirian di sini," kata Farel berusaha meyakinkan Fany.
Pendirian Fany mulai goyah. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah. Benar kata Farel, area halaman kampus sudah gelap, hanya ada pencahayaan yang remang-remang. Ditambah suasana kampus yang sangat sepi, hanya ada 1 atau 2 mahasiswa yang sedang berada di tempat parkir.
__ADS_1
"Gimana? Bareng gue aja, ya?" ajak Farel.
Fany menganggukkan kepalanya pelan. Ia pun bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati motor Farel. Baru saja ia akan mengangkat kakinya untuk naik ke motor Farel, tiba-tiba ada lampu mobil yang menyorot mereka.
Mobil itu berhenti tepat di depan Farel dan Fany. Fany mengernyitkan dahinya saat melihat mobil yang tidak ia kenal itu. Kemudian, pintu kemudi pun terbuka, dan si pengemudi pun turun. Fany agak terkejut melihat ternyata pengemudi mobil itu adalah suaminya.
"Kak Juna!" seru Fany yang senang karena orang yang ia tunggu-tunggu sudah datang.
Tapi senyum Fany luntur saat melihat raut wajah Juna yang suram. Juna berjalan ke arahnya sambil menatap Farel dengan ekspresi yang terlampau dingin.
"Ayo pulang," ucap Juna kepada Fany dengan nada datar.
Fany bingung kenapa tiba-tiba suaminya ini bersikap dingin, tapi ia tidak berani bertanya dan langsung berlari kecil ke samping Juna.
"Emm... Kak Farel, makasih ya tawarannya, gue pulang duluan," ucap Fany kepada Farel.
Farel tersenyum, "iya, Fany, hati-hati ya. Lain kali kalau jemputan lo telat, bareng gue aja, jadi lo gak perlu nunggu di tempat gelap kayak gini sendirian."
Ucapan Farel membuat rahang Juna mengeras. Suasana menjadi canggung, bahkan Fany juga bisa paham bahwa perkataan Farel barusan lebih mirip sindiran untuk Juna.
"Ekhm... Yuk, Kak Juna, kita pulang," ajak Fany kepada Juna.
Grepp!
Mata Fany membola saat Juna tiba-tiba melingkarkan lengan secara posesif di pinggangnya. Jantungnya berdegup kencang karena tubuh mereka saat ini benar-benar menempel.
Farel tertawa kecil, "santai aja kali, lagian gue juga bukan tipe laki-laki yang tega ninggalin cewek sendiri gitu aja."
Tidak berminat untuk membalas perkataan Farel lagi, Juna langsung menarik pelan Fany menuju mobilnya. Fany hanya tersenyum canggung kepada Farel dan mengikuti Juna. Juna masih tetap memeluk pinggang Fany dan membukakan pintu penumpang mobil. Setelah memastikan Fany sudah duduk dengan nyaman, Juna pun menutup pintu mobil dan berlari kecil menuju pintu pengemudi.
Fany masih terdiam di tempat. Ini pertama kalinya ia diperlakukan seperti tuan putri. Tapi yang menjadi masalah adalah Juna masih tetap mempertahankan ekspresi dinginnya tanpa tersenyum sama sekali.
Kemudian, Juna pun menjalankan mobilnya menjauhi area kampus serta Farel yang masih setia memperhatikan gerak gerik mereka.
Sepanjang perjalanan, mereka dilanda keheningan. Sesekali Fany melirik Juna yang masih fokus menyetir. Ia sangat tidak nyaman jika didiamkan lama-lama seperti ini.
"Eum... Kak Juna," panggil Fany dengan suara pelan.
"Hmm?" gumam Juna tanpa menoleh sama sekali.
"Kak Juna marah ya?" lirih Fany.
"Menurut kamu?" ucap Juna masih dengan nada dingin.
'Haduh, kenapa lagi nih?' batin Fany menjerit.
Fany menggigit bibir bawahnya cemas, "Kak Juna kenapa sih? Gue ada salah apa?"
__ADS_1
Juna hanya diam, sama sekali tidak merespon pertanyaan Fany. Ia memilih untuk fokus menyetir.
"Kak Juna? Jawab dong! Gue ada salah apa sih? Jangan diem aja, gue bukan orang yang peka," ucap Fany tidak tahan.
Juna melirik sinis sebentar ke arah Fany, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke depan.
"Kamu mau pulang bareng Farel kan tadi?" tanya Juna.
Fany mengernyitkan dahinya bingung, "i-iya, emang kenapa?"
Juna menatap Fany dengan pandangan tidak percaya, "kenapa?! Kenapa, kamu bilang?! Aku udah otw jemput kamu, kamu malah mau dibonceng sama laki-laki lain."
Mendengar ucapan Juna, alis Fany pun menukik tajam. Kenapa tiba-tiba ia disalahkan?
"Loh, kok jadi gue sih?! Gue udah nungguin lo dari tadi ya kak, tapi lo gak dateng-dateng. Kampus udah sepi banget, tau gak?!" seru Fany tidak terima.
"Ya tapi gak harus pulang sama Farel juga, kan," ucap Juna.
"Terus gue harus di sana sendiri gelap-gelapan gitu? Lo kira gue gak takut apa?!" ucap Fany meninggikan suaranya.
Juna menghela napas panjang untuk meredam emosinya. Ia sendiri bingung kenapa bersikap seperti ini. Apakah mungkin dia cemburu?
"Maaf."
Fany menoleh saat mendengar suara pelan Juna yang meminta maaf kepadanya. Tidak lama kemudian, Juna pun menepi dan menghentikan mobilnya di depan sebuah ruko.
"Maaf karena udah marah-marah, dan maaf karena terlambat," ucap Juna lembut sambil menatap mata Fany.
Fany juga menatap balik mata Juna. Ia bisa melihat ketulusan di mata suaminya itu.
'Aduh~ jangan natap kayak gitu dong, gak kuat hati adek bang,' teriak Fany dalam hati.
"Eum... Gue juga minta maaf udah mau pergi sama orang lain," lirih Fany.
Di detik selanjutnya, Fany kembali dibuat terkejut dengan perilaku Juna. Tiba-tiba pria itu memajukan tubuhnya dan memeluk Fany. Juna memeluk Fany dengan erat, sedangkan yang dipeluk hanya bisa diam membatu.
"Aku gak suka kamu deket sama laki-laki lain. Aku.... Cemburu."
"HAH?!"
...----------------...
...Hai guysss......
...Duh, kayaknya aku kena writer block deh T_T...
...Doain ya semoga bisa rajin update....
__ADS_1
...Kasih like dan komen kalian dongg biar aku makin semangat. Thank uuuu...