Tentang Fany

Tentang Fany
57 : Pantai


__ADS_3

Waktu liburan yang ditunggu-tunggu, akhirnya tiba juga. Juna dan Fany baru saja mendarat di Bandara I Gusti Ngurah Rai. Mereka tampak bersemangat untuk menghabiskan waktu liburan berdua di Bali.


“Yeay! Akhirnya nyampe Bali juga,” seru Fany setelah keluar dari bandara.


Juna hanya tersenyum kecil melihat istrinya senang. Setelah itu, ada sebuah mobil yang menghampiri mereka. Itu adalah mobil berwarna putih milik Juna. Ia sengaja mengirim mobil itu ke Bali agar mereka bisa jalan-jalan dengan bebas.


Setelah itu, sopir yang membawakan mobil Juna menyerahkan kunci mobil kepada si pemilik mobil dan berlalu pergi dari sana. Juna dan Fany segera memasuki mobil.


“Mau jalan-jalan dulu apa langsung ke hotel?” tanya Juna kepada sang istri.


“Ke hotel lah. Ya kali jalan-jalan masih bawa koper,” balas Fany.


Juna hanya bisa menghela napas panjang. Padahal ditanya baik-baik, jawaban Fany tetap tidak bisa santai. Tapi Juna maklum saja, toh memang begitu sifat Fany. Kemudian, Juna mulai menjalankan mobil menuju hotel bintang 5 yang sudah ia pesan.


Fany memasuki hotel dengan pandangan kagum. Pemandangan pantai terlihat begitu jelas dari kamar hotelnya.


“Waah~ kalo disuruh diem di kamar hotel sehari semalam juga betah ini,” celetuk Fany.


Juna terkekeh pelan, “apa kita stay aja di kamar? Gak usah pergi kemana-mana, kita cuddle terus di ranjang.”


Fany melirik suaminya yang sudah senyum-senyum sambil menaik turunkan alisnya. Hmm… Juna sudah seperti om-om mesum ya.


“Itu mah enak di kamu aja,” ucap Fany dengan nada enggan.


“Lah, emangnya kamu gak keenakan juga?” goda Juna.


“Ssst diem!” seru Fany.


Emang kebiasaan si Juna ini, omongannya jarang difilter. Fany kan jadi malu dan salting.


“Enaknya kita ngapain nih?” tanya Fany sambil merebahkan tubuhnya di atas Kasur hotel.


“Mau main? Main siang-siang boleh juga,” celetuk Juna.


Bruk!


Fany yang tidak tahan dengan pembicaraan itu langsung melempar Juna dengan sebuah bantal. Sedangkan Juna hanya bisa tertawa karena berhasil membuat istrinya kesal.


“Bisa gak sih jangan ngomongin gituan terus?! Ngeselin banget deh!” dumal Fany.


“Haha… makanya biar aku gak ngomong terus, ayok kita main aja,” ucap Juna yang masih belum berhenti menggoda istrinya.


“Kak Juna!”

__ADS_1


“Haha… iya iya, Sayang.”


Juna pun ikut berbaring dan memeluk Fany agar istri cerewetnya itu tidak marah-marah lagi. Kekesalan Fany langsung mereda setelah mendapat pelukan hangat dari Juna.


“Mending kita tidur dulu sekarang, kamu juga pasti masih capek kan abis perjalanan jauh naik pesawat,” tawar Juna.


Fany hanya mengangguk setuju. Kemudian, mereka pun menyamankan posisi dan tidur sambil berpelukan.


...----------------...


Sore harinya, Juna dan Fany berjalan-jalan di pasar ikan. Malam ini, mereka berencana untuk wisata kuliner seafood.


“Sayang, kamu mau makan apa?” tanya Juna sambil berjalan menggandeng tangan istrinya.


Fany melihat-lihat kios makanan di sekitar mereka, “eum… apa, ya? Makanan laut enak-enak semua sih, jadi bingung milih.”


“Kalau gitu, beli aja semuanya satu-satu,” celetuk Juna.


Fany mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia tidak mungkin menuruti saran suaminya untuk membeli semua menu makanan, bisa-bisa perutnya bisa meledak karena terlalu banyak makan.


“Ada tuna gak, ya?” gumam Fany.


“Ada. Tadi aku liat di sana. Kamu mau tuna?” tawar Juna.


Fany mengangguk semangat. Kemudian, Juna menarik pelan tangannya menuju kios yang menjual menu ikan tuna. Mereka pun duduk dan memesan beberapa menu makanan di sana.


Juna melihat Fany mengeluarkan ponsel berwarna hitamnya. Laki-laki itu sudah tahu bahwa ponsel hitam milik istrinya itu khusus digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan cyber.


“Kamu lagi ada kerjaan?” tanya Juna.


Fany yang masih sibuk mengetikkan sesuatu di ponselnya langsung menoleh, “hah?”


Juna mendengus kesal, “aku tanya, kamu masih ada pekerjaan kah?”


“Oh, enggak kok,” jawab Fany sembari memasukkan ponsel ke kantongnya, “ini cuma notif dari bursa saham aja.”


Juna hanya manggut-manggut. Beberapa hari ini, ia sudah tidak melihat Fany bekerja sebagai hacker lagi. Ketika ditanya pasti jawabannya adalah fokus kuliah. Semoga saja memang begitu, Juna tidak mau jika Fany terus bekerja sebagai hacker tanpa lisensi seperti itu.


Tidak lama kemudian, makanan yang mereka pesan pun telah tiba. Juna dan Fany langsung makan dengan lahap. Selain karena masakan di kios itu enak, mereka berdua juga sudah kelaparan sejak tadi.


“Kamu udah berhenti kerja sama Blackjoy, kan?” tanya Juna tiba-tiba.


Uhuk uhuk!

__ADS_1


Fany tidak sengaja tersedak makanannya. Juna langsung sigap menyodorkan minuman untuk istrinya itu.


“Haah~ kenapa Kak Juna tanya itu?” tanya Fany setelah meminum air putih yang diberikan oleh Juna sampai habis.


“Yaa… aku khawatir aja kalau kamu masih kerja sama Billy. Kamu bisa dalam bahaya,” jawab Juna.


“Kak Juna,” panggil Fany lembut, “aku udah mutus kontak sama perusahaan Blackjoy, sekarang semuanya udah diurus sama Jevo dan timnya.”


Juna mengangguk paham dengan penjelasan Fany.


“Kak Juna percaya sama aku, kan?” tanya Fany.


Juna menganggukkan kepalanya, “iya, aku percaya sama kamu.”


“Bagus,” ucap Fany, “apapun yang terjadi, Kak Juna harus selalu percaya sama aku. Aku sayang sama Kak Juna dan gak akan biarin siapapun nyakitin kakak.”


Juna tersenyum sambil mengernyitkan dahi, antara senang dan bingung. Senang karena Fany bisa mengatakan hal romantis seperti itu, dan bingung kenapa tiba-tiba Fany berkata seperti itu.


“Tumben kamu ngomong romantis kayak gitu. Pasti ada maunya, ya?” goda Juna dengan tatapan penuh selidik.


Fany terkekeh pelan, “masa gak boleh sih romantis sama suami sendiri?”


“Ya boleh sih. Tapi gak biasanya kamu romantis kayak gini,” jawab Juna.


“Emang biasanya aku gimana?” tanya Fany sok tidak tahu.


Juna membuat pose seperti sedang berpikir, “hmm… biasanya kamu bakal teriak-teriak, ngomong kasar, terus kalo gak diturutin, bakalan ngambek. Gitu aja terus siklusnya.”


‘Punya suami emang suka nyelekit mulutnya,’ batin Fany miris.


“Oh, jadi kamu lebih suka aku yang uring-uringan gitu? Iya?” tanya Fany dengan nada santai.


“Eh, nggak gitu, Sayang,” sahut Juna, “aku lebih suka kalo kamu romantis kayak gini kok.”


“Sering-sering ngomong manis ke aku ya,” imbuh Juna dengan nada manja.


Fany tertawa pelan. Lalu, mereka pun melanjutkan makan malam dengan hikmat dan nikmat. Sesekali Fany akan mencuri pandang kea rah Juna. Bukan, ini bukan curi-curi pandang jatuh cinta. Tatapannya seperti tatapan… sendu?


...----------------...


Hai... Para pembaca novel 'Tentang Fany' 😊😊


Sorry banget ya, author baru update setelah sekian purnama huhu...

__ADS_1


Jadi, novel ini kan novel pertama author, dan author bikin kesalahan dengan gak bikin outline sebelum nulis novel ini, jadinya kena writer block deh T_T


Tapi, author akan usahain buat rajin up lagi ♥♥


__ADS_2