Tentang Fany

Tentang Fany
Part 32 : Kecewa


__ADS_3

"Kak Juna, besok bisa datang, kan?"


Tanya Fany kepada Juna. Saat ini, mereka sedang bersantai menonton TV bersama. Hubungan mereka selama ini semakin akrab, tapi hanya sebatas kakak-adik.


"Bisa. Jam 11 siang, kan?" tanya Juna balik, yang dibalas anggukan oleh Fany, "besok aku ada meeting pagi, tapi jam 11 udah selesai, nanti aku langsung nyusul ke sana."


Ngomong-ngomong, besok adalah acara wisuda kelulusan Fany. Rencananya seluruh anggota keluarga Permana dan Bagaskara akan hadir untuk berfoto bersama di lokasi wisuda.


"Jangan lupa bawa buket loh, ntar lo datang gak bawa apa-apa lagi," gurau Fany.


Juna terkekeh pelan, "mau buket apa? Buket bunga? Buket coklat? Atau buket boneka? Oh! Aku tau, kamu pasti lebih suka buket uang, kan?"


"Hehe... Tau aja lo kalo gue suka banget sama duit," ucap Fany, "eh, tapi kayaknya buket bunga lebih bagus sih, biar ada kesan romantisnya gitu."


Dahi Juna mengernyit, "bukannya kamu anti sama hal-hal yang romantis, ya?"


"Dih, kata siapa?" elak Fany, "gue suka kok sama yang romantis-romantis."


Juna mengedikkan bahunya acuh, "kamu kan udah cinta mati sama uang, hal-hal romantis bukan tipe kamu banget deh."


'Dih, ini orang lagi nyindir gue apa gimana sih?' batin Fany.


"Gak gitu juga kali. Gak mau tau, pokoknya besok Kak Juna harus datang sambil bawain buket bunga yang gedeeee banget," seru Fany.


Juna kembali terkekeh, "iya iya, bocil. Bawel banget sih."


Fany mencebik kesal saat mendengar panggilan 'bocil' dari Juna. Hatinya merasa miris karena selama ini Juna hanya menganggapnya sebagai sosok adik kecil, bukan sebagai istri.


...----------------...


Keesokan harinya, Fany datang ke aula hotel yang telah disewa oleh sekolah sebagai tempat wisuda. Ia datang bersama ayah dan bundanya, sedangkan keluarga yang lain akan menyusul saat sesi foto siang nanti.


"Akhirnya, anak bunda udah resmi lulus juga," kata Zara saat acara inti wisuda selesai.


Sekarang mereka bertiga berjalan menuju halaman hotel untuk berfoto bersama seperti siswa-siswi yang lainnya.


"Hehe... Iya dong, Bunda," balas Fany, lalu ia menoleh ke arah David, "emm... Ayah..."


"Kenapa, Sayang?" jawab David.

__ADS_1


Fany terlihat berpikir, "emm... Anu... Itu...."


David mengernyit bingung, "kenapa? Ngomong aja."


"Ayah nanti mau ikut sama aku gak?" Fany terlihat ragu melanjutkan kalimatnya, lalu berujar lirih, "ke makam ibu."


David tertegun, ia bingung harus menjawab apa. Bukannya David tidak mau mengunjungi makam mantan istrinya itu, ia hanya tidak mengira bahwa Fany akan mengajaknya secara langsung seperti ini. Dulu, saat Fany akan menikah, gadis itu pergi ke makam ibunya sendiri tanpa mengajak David. Sehingga, sampai sekarang pun, David masih belum tahu letak makam mantan istrinya.


Zara yang melihat suaminya hanya terdiam langsung berkata, "bunda boleh ikut juga? Nanti kita bertiga pergi ke sana. Oh iya, ajak abangmu juga nanti."


Fany menganggukkan kepalanya dengan semangat, "okey, nanti kalau udah selesai foto-foto, kita ke sana, ya."


"Yo!!! My Family!!!"


Mereka bertiga menoleh dan melihat Radit yang baru saja berteriak dari kejauhan. Mereka merasa malu karena suara keras Radit membuat semua orang menoleh ke arah mereka.


"Kamu kenapa teriak teriak, sih?! Malu tau diliatin orang," kesal Zara kepada anak laki-lakinya itu.


Radit menunjukkan cengiran lebarnya, "hehe... Ngapain malu sih, Bun? Biar semua orang tau kalau Fany punya abang yang keren maksimal kayak aku."


"Dih? Makin malu gue punya abang gesrek kayak lo," cibir Fany.


David tertawa melihat kelakuan anak-anaknya, "udah udah, mending kita foto keluarga dulu sambil nunggu Juna sama keluarganya."


Kemudian, mereka memanggil seorang fotografer yang memang bertugas untuk memfoto para keluarga di sana. Setelah mengambil beberapa foto, mereka melihat Alex dan Diana berjalan menghampiri mereka sambil membawa buket mawar yang besar dan elegan.


"Halo..., Papa, Mama!" sapa Fany kepada mertuanya.


"Halo, Sayang," balas Diana, lalu memberikan buket bunga kepada Fany dan memeluknya, "selamat ya, atas kelulusan kamu."


"Makasih, Ma," ucap Fany, lalu melepas pelukan Diana.


"Selamat ya, menantu papa, sekarang udah resmi bukan anak sekolahan lagi," ucap Alex.


"Makasih, Pa," kata Fany sambil tersenyum malu-malu karena dipanggil 'menantu', "oh iya, Kak Juna mana, Pa?"


"Hmm... Mertua baru datang, udah nyariin suaminya aja," goda Alex.


Semua yang ada di sana tertawa membuat Fany merasa lebih malu lagi.

__ADS_1


"Ih, papa jangan gitu, dong," rengek Fany sambil menahan malu, "aku kan cuma nanya."


Alex tertawa pelan, "iya iya, Papa cuma bercanda kok. Papa sama mama gak berangkat bareng Juna, tadi dia masih ada urusan di kantor, jadi kita duluan. Tunggu aja ya, bentar lagi juga pasti nyampe sini."


Fany hanya mengangguk lemas. Sebenarnya, ia sudah menanti kedatangan Juna sejak tadi. Bayangan tentang Juna yang menghampirinya sambil membawakan buket bunga membuatnya bersemangat. Namun, sampai sekarang, suaminya itu belum datang juga.


"Eh, Papa sama Mama juga mau foto sama kamu dong," pinta Diana.


Kemudian, mereka bertiga mengambil foto bersama.


"Eh, gimana kalau kita semua foto bareng," ajak Diana kepada David, Zara, dan Radit.


"Boleh tuh," balas Zara.


"Loh, kita gak nunggu Kak Juna?" tanya Fany.


"Nanti kalau Juna datang, kita foto lagi," kata Diana, "udah, yuk, ambil posisi."


Setelah itu, keluarga Permana dan keluarga Bagaskara berforo bersama, tanpa Juna.


"Permisi," ucap seseorang membuat mereka semua menoleh.


"Dengan Kak Fany Zahira?" tanya orang itu.


"Iya, saya sendiri."


Dahi Fany mengernyit saat melihat lelaki yang tidak dikenal itu membawa sebuah buket mawar merah yang besar.


"Saya kurir dari 'Lovely Bouquet'. Ini ada kiriman bunga atas nama Kak Arjuna untuk Kak Fany. Kak Arjuna tidak bisa datang untuk memberikan bunga secara langsung karena ada urusan mendadak," ucap kurir itu.


Pupus sudah harapan Fany untuk berbahagia di acara wisudanya. Ia menerima buket itu dengan perasaan yang amat sangat kecewa. Bahkan, hingga kurir itu pergi, ia hanya terdiam sambil menunduk menatap buket bunga itu.


"Apa-apaan Juna?! Bisa-bisanya dia gak datang di acara penting istrinya sendiri?!" ucap Alex marah.


"Udahlah, Lex. Gak apa-apa, mungkin Juna memang ada urusan penting di kantor," kata David yang berusaha menenangkan besannya.


"Fany sayang...," panggil Diana sambil memegang tangan Fany, "maafin suami kamu ya. Dia pasti punya alasan penting sampai gak bisa hadir di sini."


Fany hanya bisa mengangguk lemah. Matanya sudah berkaca-kaca sekarang. Juna orang yang perfeksionis dalam pekerjaannya, Fany paham dengan hal itu. Tetapi ia tetap kecewa karena Juna telah melanggar janji yang dibuat sendiri kemarin.

__ADS_1


'Kenapa bilang sanggup kalau akhirnya bakalan ingkar janji,' batin Fany, 'gue benci jatuh cinta, gue benci kalau akhirnya gue terluka sendiri gara-gara perasaan bodoh ini.'


__ADS_2