Tentang Fany

Tentang Fany
Part 39 : Terbongkar


__ADS_3

Bugh!!


"Kurang ajar kamu, Arjuna!!"


Juna tersungkur sambil memegangi rahangnya. Matanya membelalak terkejut karena papanya tiba-tiba meninju wajahnya.


"Papa? Ada apa sih, Pa?!" teriak Juna.


Bukannya menjawab, Alex langsung mencengkeram baju Juna dan menariknya agar lelaki itu berdiri.


"Biadab kamu!! Papa gak pernah mengajarkan kamu untuk melakukan hal sehina ini!"


Alex mengepalkan tangannya dan bersiap untuk memukul wajah Juna lagi, tapi Diana buru-buru menghentikannya.


"Papa! Sudah, Pa! Kita bicarakan ini baik-baik," kata Diana sambil memegangi lengan suaminya.


Alex pun menghempaskan Juna begitu saja hingga ia hampir tersungkur kembali. Juna melirik ke arah Aliesha yang hanya diam dengan senyum miring yang samar terlihat di wajahnya.


"Ada apa ini sebenarnya?!" tanya Juna.


Diana langsung menoleh dan menatap sinis anak semata wayangnya itu. Ia maju selangkah dan...


Plak!!


'Loh, katanya tadi dibicarakan baik-baik aja,' batin Alex heran.


Juna memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari sang mama.


"Mama kecewa sama kamu, Juna," lirih Diana dengan mata berkaca-kaca.


Juna mengernyitkan dahinya bingung, "kenapa sih, Ma? Juna salah apa?"


"Salah apa?! Kamu bilang 'salah apa'?!" bentak Diana, "kamu ini sudah menikah Juna, tapi kenapa kamu masih menjalin hubungan dengan Aliesha?!"


Juna menatap Aliesha tidak percaya. Ini tidak sesuai dengan apa yang mereka rencanakan sebelumnya. Mereka sepakat untuk menyembunyikan hubungan mereka dari orang tua Juna hingga nanti saatnya sudah tepat untuk diungkap.


"Dan menghamilinya."


"APA?!!"


Kalimat terakhir sang mama membuatnya shock. Hamil?! Aliesha hamil?! Tapi, kapan mereka--


"Hamil? Kamu hamil anak siapa?" tanya Juna kepada Aliesha.


"Kamu masih berani bertanya seperti itu?! Mana tanggung jawab kamu, Arjuna?! Dia pacar kamu, kan?!" bentak Alex.


"Bukan begitu, Pa," jawab Juna, "kalau itu memang anak aku, aku pasti akan tanggung jawab. Tapi...," Juna memelankan suaranya, "aku sama Aliesha belum pernah melakukan 'itu'."


Alex dan Diana terdiam, mereka bingung dengan situasi ini. Jadi, siapa yang berkata jujur?


"Hiks... Tega kamu, Juna!!"


Semua orang menoleh ke arah Aliesha yang tiba-tiba menangis.

__ADS_1


"Kita sudah pernah melakukannya, kenapa kamu berbohong?!!" suara Aliesha meninggi seiring dengan tangisannya yang semakin kencang.


"Hah? Kapan?!" seru Juna.


Ia berani bersumpah kalau mereka belum pernah berhubungan badan.


"Hiks... Waktu itu," lirih Aliesha, "malam itu... Kamu mabuk. Lalu, kita--"


"Mabuk?!" teriak Alex kepada Juna, "selain berzina, kamu juga minum alkohol?! Gak takut dosa kamu, hah?!"


"Eh, astaga, aku gak pernah mabuk, Pa!" panik Juna, ia hampir dipukul ayahnya lagi.


Prok! Prok! Prok!


Suara tepuk tangan seseorang membuat mereka menoleh. Dan orang itu adalah Fany, gadis itu sejak tadi hanya diam dan memperhatikan drama seru dan menegangkan yang terjadi di hadapannya. Ia berjalan perlahan mendekati mereka.


"Wah... Wah... Drama apa lagi ini, Kak Aliesha?" ucap Fany dengan senyum manisnya.


"Fany?" lirih Diana sambil mendekati Fany, "sejak kapan kamu di situ, Sayang?"


Fany tersenyum menatap Diana, "sejak mama, papa, dan perempuan itu datang."


Alex dan Diana memasang wajah terkejut dan canggung. Mereka merasa tidak enak karena telah mengatakan fakta yang mungkin telah menyakiti hati Fany. Atau mungkin..., tidak?


"Fany," lirih Aliesha, "aku minta maaf sama kamu. Ini mungkin menyakitkan untuk kamu dengar, tapi... Aku hamil anak Juna."


Fany tertawa kecil saat melihat Aliesha berusaha keras untuk memperlihatkan sikap baik kepadanya. Ia sangat yakin bahwa itu hanyalah sandiwara.


"Gue percaya kalau lo hamil," ucap Fany, "tapi gue gak yakin kalau itu anaknya Kak Juna."


"Sayang," ucap Diana sambil menggenggam lengan Fany, "maafin suami kamu ya, maafin mama dan papa juga karena sudah membiarkan ini semua terjadi sama kamu."


Fany balik menggenggam tangan Diana sambil tersenyum lembut, "mama sama papa gak perlu minta maaf, kalian gak salah apa-apa."


Kemudian, ia menatap Aliesha dengan tajam, "dan suamiku juga gak salah. Seharusnya kita semua tau siapa yang salah di sini, kan?"


Wajah Aliesha berubah menjadi geram, "apa maksud kamu, Fany? Aku hamil, dan ayah dari anak ini adalah pacar aku, Juna."


Fany tersenyum miring, "yakin pacar lo cuma Kak Juna? Kayaknya ada yang lain deh."


"Jaga mulut kamu, ya!" bentak Aliesha, "jangan menuduh tanpa bukti!"


"Oh, tentu saja," ucap Fany dengan tenang, "gue gak bakal nuduh lo sembarangan tanpa bukti."


Semua orang terdiam melihat apa yang dilakukan oleh Fany. Gadis itu mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mengetikkan sesuatu. Tidak lama kemudian, ia kembali menatap tajam Aliesha sambil berucap dingin.


"Karena gue punya buktinya."


Ting!


Ting!


Ting!

__ADS_1


Ting!


Suara notifikasi membuat semua orang melihat pesan yang baru saja masuk ke dalam ponsel mereka semua. Mereka semua membelalakkan mata karena terkejut dengan apa yang baru saja dikirimkan oleh Fany.


"Apa maksudnya ini, Aliesha?! Jadi selama ini kamu selingkuh?!" bentak Juna kepada sang kekasih, atau mungkin detik ini juga menjadi mantan kekasih.


"Kamu berbohong sama kami?" ucap Alex tidak percaya.


"Dasar, perempuan ular," geram Diana.


"Gak! Bukan begitu," ucap Aliesha panik, "ini semua gak benar! Ini salah pah-"


"Pegawai pajak, CEO Highstar, model majalah pria, temen-temen pejabat papa lo," sahut Fany, "lo punya banyak 'sugar daddy' juga ternyata."


Aliesha menggeram kesal, "berani-beraninya kamu!!"


"Diam kamu!" bentak Diana kepada Aliesha, "memang seharusnya dari awal saya tidak mempercayai ucapan kamu, dasar pembohong! Pergi kamu!"


"Tapi, tante--"


"Pergi!"


Aliesha menatap tajam semua orang yang ada di sana, "huh!! awas aja kalian, akan aku balas perbuatan kalian semua!"


Setelah itu, ia berbalik ingin keluar dari apartemen itu. Tapi, sebelum ia melangkahkan kaki keluar dari pintu, Fany memanggilnya.


"Tunggu dulu!"


Aliesha menoleh dengan tatapan sinis.


"Sebaiknya lo gak main-main sama keluarga gue lagi, Kak Aliesha," ucap Fany masih dengan senyumannya yang terlihat menyeramkan, "atau lo bakalan dapet akibatnya."


Ting!


Aliesha melihat pesan yang masuk di ponselnya, wajahnya berubah menjadi pucat pasi.


Fany tersenyum miring, "lo gak pengen hidup lo dan keluarga lo menderita, kan?"


Aliesha memandang Fany dengan raut wajah ketakutan, mulutnya tidak sanggup untuk berbicara lagi.



Fany yang melihatnya pun terkekeh, "itu hanya sebagian aja. Masih banyak rahasia lo dan keluarga lo yang ada di genggaman gue. Jadi, jangan berpikir buat macem-macem sama gue."


Aliesha menggelengkan kepalanya ribut, lalu berlari keluar dari apartemen itu.


"Apa itu? Kenapa dia jadi ketakutan?" tanya Juna heran.


Fany hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum manis, "oh iya, kenapa kita masih di sini? Ayo duduk, Pa, Ma! Aku ambilin minum dulu, ya."


Keluarga Bagaskara hanya bisa menatap dengan penuh tanda tanya kepada sang menantu Bagaskara yang sedang berjalan menuju dapur. Mereka masih penasaran apa yang sebenarnya rahasia yang diketahui oleh Fany sehingga Aliesha, yang notabenenya adalah perempuan ular, bisa lari terbirit-birit dengan wajah ketakutan.


Sedangkan Fany, gadis itu tersenyum puas setelah membuat Aliesha kalah telak.

__ADS_1


'Cih, emang dasarnya aja keluarga busuk. Cuma ditunjukkin foto telanjangnya sama bukti penggelapan dana rakyat punya papanya aja udah ketar ketir. Haha, siapa suruh nyari gara-gara sama gue.'


__ADS_2