
Akhirnya, hari ini adalah terakhir ospek. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, Fany terlihat sangat bersemangat hari ini. Tentu saja, karena setelah ini ia bisa memulai kuliah dengan tenang, tidak ada acara berkumpul ramai-ramai seperti ini lagi.
Tapi yang namanya hari terakhir, pasti lebih seru dari biasanya. Semua orang menyebutnya 'seru', tapi bagi Fany hanya ada kata 'melelahkan'. Sejak pagi tadi, para mahasiswa dikelompokkan sesuai dengan jurusan masing-masing, lalu dicekoki dengan berbagai materi dan tugas kelompok. Jangan lupa dengan acara presentasi yang sangat menguras energi.
Belum berhenti sampai di sana. Saat menjelang sore hari, seluruh mahasiswa baru dikumpulkan lagi menjadi satu untuk melakukan apel penutupan ospek. Fany sudah merasa lega dan senang karena rangkaian acara telah berakhir. Ia ingin pulang ke apartemen dan menghabiskan waktu untuk bercerita dengan suaminya.
Namun, bayangan indah Fany seketika buyar saat panitia mengumumkan bahwa setelah ini akan diadakan acara yang disebut malam keakraban.
"Malam keakraban ini nanti berlangsung sampai pukul 9 malam. Jadi untuk maba yang diantar-jemput, bisa menghubungi orang tuanya terlebih dahulu," ucap panitia ospek di depan sana.
Beberapa mahasiswa berseru lelah, termasuk Fany. Tapi tidak sedikit juga, mahasiswa baru yang bersorak gembira karena bisa berkumpul dengan teman-teman lebih lama.
"Dih, mereka kok bisa seneng banget gitu sih, hmm... Gue sebagai introvert, can't relate," gerutu Fany.
Setelah itu, seluruh mahasiswa diberi waktu istirahat selama 30 menit untuk makan malam dan menghubungi orang tua masing-masing. Khusus untuk Fany, ia akan menghubungi sang suami tercinta.
Fany mengambil roti yang ia bawa di dalam tas, lalu membukanya sembari berusaha menelepon Juna.
"Halo, Kak Juna," sapa Fany saat telepon sudah tersambung.
"Halo, Fany. Gimana? Dijemput sekarang?" tanya Juna.
"Jangan jemput gue dulu, Kak. Sekarang masih ada acara malam keakraban, selesainya nanti jam 9," jawab Fany sambil memakan roti tersebut.
"Ooh gitu, malem banget ya," ucap Juna, "kamu udah makan?"
"Ini lagi makan roti," balas Fany.
"Gak makan nasi?"
"Nggak."
"Loh, kok gitu sih, Fan? Nanti kamu kurang gizi, makin kurus kerempeng lho," omel Juna.
Fany terkikik geli, "ih, bawel banget sih lo, Kak. Gue makan roti aja udah cukup. Lagian, males juga kalau harus beli nasi dulu. Cuma dikasih waktu makan 30 menit, gak puas ntar makannya."
"Astaga, kamu ini, susah sekali dibilangi," cibir Juna, "ya udah, lanjutin dulu makannya."
"Loh, Kak Juna udah mau tutup teleponnya? Bentar dong, Kak. Temenin gue dulu," rengek Fany.
Terdengar kekehan Juna di seberang telepon, "teman kamu kan banyak di sana. Banyak-banyakin bersosial dong, Fan, biar gak bosen sendiri."
__ADS_1
Fany mendengus kesal, "huh! Iya iya, gue juga punya banyak temen di sini, tapi lagi males bergaul aja sekarang."
"Ya sudah, tutup dulu ya teleponnya, nikmati waktu ospek kamu," ucap Juna.
"Iya, Kak, bye~" balas Fany dengan nada malas.
Setelah itu, ia pun mengakhiri sambungan telepon. Sebenarnya, ia masih ingin berbincang dengan Juna. Asal kalian tahu ya, Fany sedang merindukan Juna saat ini, tapi ia gengsi untuk mengatakannya kepada Juna secara langsung.
Fany punya banyak teman dari seluruh jurusan, tapi ia memilih untuk tidak bergabung dengan teman-temannya sekarang. Social energy-nya sudah habis, sehingga ia harus mengisinya dengan merenung sendiri. Namun, ketenangannya itu tidak berlangsung lama. Saat masih fokus memakan rotinya dalam kesendirian, tiba-tiba ada yang menghampirinya.
"Fany?"
Fany pun menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya, dan ternyata itu adalah Farel.
"Eh, Kak Farel, eum... Duduk sini, Kak," balas Fany.
Sebenarnya, ia masih ingin menghabiskan waktu sendiri. Tetapi ia merasa tidak enak jika harus mengusir Farel. Maka dari itu, ia mempersilahkan kakak tingkatnya itu untuk duduk di sampingnya. Farel pun menurut dan duduk di sebelah Fany.
"Kok lo sendirian aja? Gak gabung sama temen-temen lo?" tanya Farel.
Farel tertawa kecil, "tipe introvert, ya?"
Fany menganggukkan kepalanya sambil tetap menyengir. Memang benar dia adalah introvert, tapi tidak terlalu parah. Ia masih bisa bersosial, tapi kadang memilih untuk tidak melakukannya.
"Kenapa milih cyber security?" tanya Farel tiba-tiba.
"Hah?" bingung Fany, "kenapa... Apanya?"
"Yaa... Motivasi lo buat masuk jurusan ini apa?" tanya Farel, "mau nerusin perusahaan Permana, mungkin?"
"Nggak kok, cuma pengen aja, gak ada alasan lain," jawab Fany seadanya.
Farel hanya manggut-manggut. Kemudian, sebuah ide muncul di kepala Fany.
'Blackjoy kan termasuk perusahaan yang dicurigai sebagai pelaku peretasan, apa mending gue korek informasi dari Kak Farel aja, ya,' batin Fany.
"Eum... Kak Farel," panggil Fany membuat Farel menoleh.
"Blackjoy sama Bagaskara Group emang rival sejak lama, ya?" tanya Fany berusaha memancing pembicaraan.
__ADS_1
Farel tampak berpikir sejenak, "gue gak terlalu paham sih sama yang kayak gitu."
Dahi Fany mengernyit mendengarnya, "loh, kok bisa gak paham? Bukannya Kak Farel bakalan jadi penerus Blackjoy ya, harusnya udah belajar dikit-dikit tentang perusahaan dong."
"Kalau masalah bisnis sih gue udah tau banyak, tapi kalau masalah persaingan, gue gak terlalu peduli sih," jawab Farel.
Fany hanya diam mencerna jawaban dari Farel. Ia agak bingung dengan jawaban yang menurutnya tidak terlalu masuk akal. Bukankah bisnis memang identik dengan persaingan? Bahkan ada yang bilang dunia bisnis itu kotor.
"Gue gak paham kenapa harus ada persaingan kayak gitu? Bukannya kita semua bisa jalanin bisnis bareng-bareng tanpa harus ganggu yang lain?" imbuh Farel mengungkapkan pendapatnya.
"Yaa... Gak salah sih," balas Fany agak ragu, "tapi, bukannya pemikiran kayak gitu termasuk... Naif? Maksud gue, bisnis itu tentang siapa yang bisa mendaki sampai puncak. Bener, kan?"
Farel hanya mengedikkan bahunya acuh, "entah, itu pendapat gue aja sih."
Fany hanya manggut-manggut mendengar pendapat Farel. Menurutnya, Farel bukanlah sosok yang cukup ambisius untuk ukuran penerus perusahaan.
"Btw, kayaknya persaingan bisnis kayak gini lebih cocok buat abang gue," celetuk Farel.
"Hah? Abang lo? Kak Billy?" tanya Fany.
Farel hanya menganggukkan kepalanya.
"Lah, bukannya abang lo gak tertarik sama bisnis, ya? Dia kan udah jadi dokter," kata Fany dengan nada heran.
"Walaupun dia udah sukses sebagai dokter, tapi kayaknya darah pebisnis papa mengalir deras dalam dirinya. Dia sering ikut ngurus masalah perusahaan, bahkan lebih ambisius daripada gue," ungkap Farel.
Ini adalah fakta yang baru saja diketahui oleh Fany. Dan mungkin bisa menjadi petunjuk untuk mencari tahu siapa pelaku yang sudah menyuruhnya untuk menghancurkan sistem keamanan Permana yang ada di Bagaskara Group.
Tiba-tiba, terdengar suara panitia dari pengeras suara yang meminta semua mahasiswa beserta panitia untuk berkumpul dan memulai acara malam keakraban.
"Eh, udah mau mulai tuh, yuk kesana," ajak Farel.
Fany pun mengangguk dan bangkit dari tempat duduknya. Kemudian, mereka berdua pun pergi untuk bergabung dengan teman-teman yang lain.
...----------------...
...PENGUMUMAN...
...Buat kalian yang udah baca sampai episode ini, aku sarankan untuk melihat sekilas mulai dari episode awal, hanya sekilas....
...Aku udah tambahin foto-foto cast di beberapa chapter. Kalau kalian ngerasa gak perlu lihat foto cast-nya juga gak apa-apa, isi ceritanya gak ada yang berubah kok....
__ADS_1