Tentang Fany

Tentang Fany
Part 35 : Emosi yang Tidak Terkendali


__ADS_3

Ting tong!


Juna yang baru saja selesai online meeting di ruang tamu, langsung bergegas membuka pintu apartemen saat mendengar bel berbunyi.


Cklek


"Ayah?" ucap Juna saat melihat David berada di depan pintu.


"Loh, Juna? Kamu gak ke kantor?" tanya David.


"Nggak, Yah. Hari ini lagi gak ada kerjaan, tadi cuma ada online meeting sama klien dari luar negeri aja," jawab Juna, "mari masuk."


Setelah itu, Juna pun mempersilahkan David masuk ke dalam apartemen. Tidak hanya David, ada Zara dan Radit yang juga ikut bertamu di sana. Lalu, mereka pun duduk di ruang tamu.


"Aku ambilin minum dulu, ya," ucap Juna, lalu pergi ke dapur untuk mengambil minum.


"Loh, Fany mana? Kok gak kelihatan," tanya Zara.


"Tadi dia keluar, katanya sih temennya ada yang masuk rumah sakit," jawab Juna dari dapur.


"Hah? Masuk rumah sakit? Siapa?" imbuh Zara.


Juna kembali sambil membawa 3 gelas berisi jus jeruk, "itu loh, Bun, si Rangga."


"Rangga? Emang dia sakit apa?" tanya David.


"Aku juga gak tau, Yah. Tadi Fany buru-buru pergi, jadi aku gak sempat tanya," jawab Juna.


"Emang tadi si Fany pergi ke rumah sakit jam berapa?" giliran Radit yang bertanya.


"Pas lagi sarapan, sekitar jam 7 pagi," kata Juna.


"Hah? Jam 7? Ini udah jam 3 sore loh, tapi belum pulang juga dia," seru Radit, "udah lo telpon?"


Juna menggeleng, "dia kan emang gitu, kalau ketemu temennya emang suka lupa waktu."


"Ya meskipun begitu, tapi lo sebagai suaminya harus lebih merhatiin dia dong. Paling nggak ditanyai posisinya dimana, pulangnya kapan. Gimana sih?" cibir Radit.

__ADS_1


Zara memukul pelan lengan anaknya, "udah ah, gak usah ngomel-ngomel gitu."


"Tapi ini udah terlalu lama loh," ucap David, "Juna, coba kamu telpon Fany, takutnya dia ada apa-apa sampai terlambat pulang."


Juna pun mengangguk, lalu meraih ponselnya yang ada di saku. Namun, belum sempat ia menelepon Fany, tiba-tiba ada yang membuka pintu apartemen.


Cklek


Semua orang menoleh ke arah pintu apartemen yang terbuka. Mereka sudah tau kalau itu adalah Fany. Memang siapa lagi yang akan membuka pintu begitu saja selain pemilik apartemen?


"Nah, udah pulang tuh anaknya," ucap Zara.


Namun, alangkah terkejutnya mereka saat melihat Fany dalam kondisi yang bisa dibilang tidak baik-baik saja.



Lihat saja gadis itu, cara berjalannya yang agak pincang, luka lebam berwarna ungu di pipi hingga dagunya, dan yang paling parah adalah sebuah perban yang menutup dahi kirinya serta mata kirinya yang membengkak.


"Astaga! Fany!!"


"Ya ampun, Fany. Kamu kenapa, Nak? Kok bisa begini sih?" ucap Zara sambil memegangi wajah Fany dengan hati-hati.


"Aku gak apa-apa, Bun," lirih Fany.


Tidak apa-apa? Sangat bohong. Fany seharusnya mengatakan dengan jujur jika sekujur tubuhnya saat ini terasa nyeri.


"Gak apa-apa bagaimana?!" teriak David marah, "kamu ngapain aja sampai kayak gini?! Ayah udah berkali-kali bilang sama kamu, gak usah ikut-ikutan tanding yang gak jelas kalau ke Redfox! Kamu ini kenapa susah dibilangin sih?!"


"Tanding apaan sih, Yah? Lagian, ngapain aku jauh-jauh ke Redfox segala," ucap Fany malas.


Ia merasa kesal saat ayahnya tiba-tiba membentaknya seperti itu. Ia sangat tidak suka dibentak.


"Terus kenapa?! Jelasin ke ayah, gimana kamu bisa sampai babak belur kayak gini?!" bentak David.


Zara mendekati David dan meraih lengannya, "jangan marah-marah dong, kasihan Fany."


"Gimana aku gak marah? Dibilangin berkali-kali gak usah main kayak gini, tetep aja bandel," ujar David.

__ADS_1


"Siapa sih yang main-main?! Aku tadi berantem sama preman di gang sana!" seru Fany.


Ia tidak terima dimarahi oleh ayahnya seperti itu.


"Oh, preman, ya? bagus ya kamu," cibir David sambil tertawa remeh, "udah mulai liar sekarang. Setelah jauh dari Redfox, sekarang mulai ngajak berantem preman gang. Mau jadi apa kamu nanti, hah?!"


"Ayah apa-apaan sih?!" balas Fany dengan suara tidak kalah keras, "aku tuh belain Rangga sama Berly tadi. Aku gak terima Berly dilecehin sama mereka dan Rangga dibikin babak belur sampai masuk rumah sakit."


"Kamu belain teman-teman kamu dengan cara seperti ini?! Kamu bisa lebih pintar sedikit gak sih, Fany?!" seru ayahnya.


Fany semakin emosi dengan perkataan ayahnya, "aku ini lagi kesakitan loh. Ayah bukannya nanyain keadaan aku, malah marah-marah gak jelas."


"Justru ayah kayak gini karena ayah khawatir sama kamu!" bentak David.


Lalu, tatapan David mulai melunak, "kamu tuh bisa gak sih, Nak, jangan bikin ayah khawatir dengan pulang dalam kondisi babak belur kayak gini. Kalau kamu gak terima teman kamu dibikin babak belur, bayangin gimana perasaan ayah setiap kali ayah lihat kamu yang babak belur."


Amarah Fany mulai mereda saat mendengar nada bicara ayahnya yang mulai melemah. Sekarang, bukan raut wajah marah ayahnya yang ia lihat, tetapi tatapan memohon yang dilayangkan untuknya. Sekarang, emosinya mulai mereda dan pikirannya mulai jernih, kink ia sadar bahwa ayahnya marah-marah seperti itu bukan tanpa alasan.


Fany memandang satu per satu anggota keluarga yang ada di depannya. Ayahnya yang terlihat marah dan khawatir secara bersamaan hingga hampir meneteskan air mata. Lalu, suaminya yang saat ini sedang memandangnya penuh tanya. Serta kakaknya yang menatapnya sedih sambil memeluk bundanya yang sedari tadi sudah menangis melihat pertengkarannya dengan sang ayah.


"Nak, jangan begini lagi, ya," lirih David.


Fany hanya bisa menggertakkan giginya geram. Tidak, ia tidak marah dengan David. Ia marah dengan dirinya sendiri. Emosinya yang tak terkendali membuatnya meledak-ledak dan membuat semua orang khawatir. Bahkan, bundanya sampai menangis karena dirinya.


Merasa air matanya akan segera meluncur, Fany pun langsung berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Tidak peduli dengan kakinya yang sangat sakit karena sempat ditendang tadi, yang penting ia tidak ingin semua orang melihatnya menangis.


"Fany! Nak!" panggil David.


"Fany...," lirih Zara yang masih terisak.


"Gara-gara kamu," seru Zara sambil memukuli lengan suaminya, "kenapa kamu tadi marahin Fany?! Dia sedang kesakitan, kenapa kamu buat dia lebih sakit lagi dengan membentaknya?!"


David hanya diam, ia merasa bersalah karena telah membentak Fany. Ia melampiaskan rasa khawatirnya kepada Fany dalam bentuk kemarahan.


Juna hanya bisa diam melihat apa yang terjadi. Ia bisa melihat bahwa David dan Fany tanpa sengaja saling menyakiti satu sama lain. Mereka sama-sama tidak bisa mengendalikan emosi masing-masing, sehingga menimbulkan pertengkaran dan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Tapi ada satu hal yang mengganggu pikiran Juna saat ini.


'Apa yang sebenarnya terjadi dengan Fany? Apakah dia benar-benar baik-baik saja?'

__ADS_1


__ADS_2