
"Ugh!! Ngapain pakai acara nangis segala sih?! Makin sakit kan mata gue," gerutu Fany.
Ia mengusap air mata yang turun dari matanya dengan perlahan. Ia menangis karena merasa sangat bersalah telah meninggikan suara kepada ayahnya, serta membuat bundanya menangis. Matanya yang mengalami pembengkakan setelah ia mendapatkan jahitan di dahi terasa semakin nyeri ketika ia menangis.
Tok tok tok
Fany mendengar pintu kamarnya diketuk. Mau membukakan pintu, tapi kakinya sangat nyeri. Apalagi tadi ia sempat berlari menaiki tangga, sehingga memperparah rasa sakit di kakinya. Hal itu membuatnya tidak sanggup berjalan.
"Masuk aja!" teriak Fany dari dalam kamar.
Cklek
Juna membuka pintu kamar Fany perlahan. Laki-laki itu meringis ngilu saat melihat wajah istrinya yang penuh lebam dan membengkak itu.
"Ayah sama yang lain udah pulang?" tanya Fany.
Juna hanya mengangguk, kemudian ia berjalan menghampiri Fany yang duduk sambil menyandarkan tubuhnya di headboard. Lalu, Juna duduk di tepi ranjang milik Fany.
"Kenapa bisa sampai begini sih, Fan?" lirih Juna.
Fany menatap malas Juna, "tadi kan gue udah bilang kalau gue abis berantem sama preman gang."
"Kok bisa kamu berantem sama mereka? Mereka nyerang kamu?" tanya Juna.
Fany menggeleng pelan, "gue yang nyerang mereka."
"Lah? Kok gitu?" bingung Juna.
"Mereka duluan yang nyerang Rangga. Ya gue gak terima lah temen gue dibikin masuk rumah sakit, akhirnya gue pukulin aja mereka," seru Fany berapi-api.
Juna menghela napas lelah, "Aku tau kalau kamu sering latihan tinju, tapi gak untuk dipakai kayak begini juga dong, Fany."
"Tck, gak usah ngomel-ngomel terus deh, lo sama aja kayak ayah, tau gak?! Lagian, udah biasa kok gue kayak gini," gerutu Fany.
"Kita marahin kamu gara-gara khawatir sama kamu. Gak ada orang tua yang suka ngelihat anaknya berantem. Aku juga gak suka lihat kamu pulang-pulang udah babak belur kayak gini," ujar Juna menasihati.
"Iya iya, gue tau kok," balas Fany dengan kesal.
Juna menghela napas panjang, lalu matanya melirik ke arah perban di dahi Fany.
__ADS_1
"Itu kenapa diperban? Mata kamu juga bengkak. Gak ada luka dalam, kan?"
'Aduh, kok jantung gue deg-degan ya,' batin Fany, 'gak, ini bukan apa-apa. Wajar dia nanya kayak gitu, pasti cuma penasaran.'
"Oh, tadi kepala gue kena pukul pake batu, terus dahi gue bocor. Sama temen-temen gue, gue dibawa ke rumah sakit, terus dijahit deh. Mata gue bengkak gara-gara lokasi jahitannya deket sama area mata, jadi ada pembengkakan pasca jahitan," jelas Fany.
Membayangkan betapa sakitnya luka-luka yang ada di wajah Fany, membuat Juna bergidik ngeri. Istrinya ini memang ajaib. Selain memiliki emosi yang tidak terkendali dan ucapan yang membuat emosi lawan bicara, ia juga memiliki bakat untuk membuat orang jantungan dengan pulang dalam kondisi penuh luka.
...----------------...
Fany membuka matanya perlahan. Semalam, tidurnya tidak nyenyak karena rasa sakit di tubuhnya. Dan sekarang, matanya terasa sangat berat karena bengkaknya semakin parah. Meskipun begitu, ia tetap berusaha bangun untuk membuat sarapan.
Dengan berpegangan pada tembok pembatas, ia berjalan tertatih menuruni tangga. Namun, dahinya mengernyit saat hidungnya mulai mencium aroma masakan. Sesampainya di dapur, ia cukup terkejut melihat Juna yang sedang berkutat dengan kompor.
"Kak Juna?" panggil Fany.
Juna pun menoleh, "eh, Fany? Udah bangun? Duduk dulu sana, bentar lagi makanan siap."
"Kak Juna bisa masak?" tanya Fany.
Juna tersenyum kecil sambil tetap fokus dengan masakannya, "bisa sedikit-sedikit. Hari ini makan nasi goreng telur aja, gak apa-apa, kan?"
'Duhh... Kapan lagi gue bisa dimasakin sama suami tercinta,' batin Fany berbunga-bunga.
Beberapa menit kemudian, Juna datang dan menyiapkan makanan di meja makan. Lalu, mereka mulai makan.
"Hmm~ Enak juga masakan Kak Juna," puji Fany setelah menyuapkan nasi ke mulutnya.
Juna yang mendengarnya pun tersenyum lebar, "oh ya? Syukurlah kalau enak. Harus dihabisin loh ya."
Fany hanya menganggukkan kepala. Ia sangat senang karena bisa melihat Juna yang tersenyum kepadanya, hal itu membuat ketampanan suaminya meningkat berkali-kali lipat. Setelah menyelesaikan sarapan, Juna langsung membawa piring-piring kotor itu dan mencucinya.
"Kamu udah ganti perban?" tanya Juna.
Fany menggeleng, "belum, gue gak berani."
"Astaga, Fany, kalau gak diganti bisa infeksi," omel Juna.
__ADS_1
Setelah itu, Juna langsung pergi mengambil kotak obat dan kembali duduk di sebelah Fany. Jangan salah, Juna cukup ahli dalam hal seperti ini karena dulu ia pernah menjadi ketua PMR di SMA.
"Berantem sama preman sampai berdarah-darah aja gak takut, giliran disuruh ganti perban aja gak berani, gimana sih kamu ini?" cibir Juna.
Fany mengerucutkan bibirnya, "serem kalau lihat luka sendiri tuh."
Juna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu, ia mulai mengambil semua yang diperlukan untuk mengganti perban Fany. Tapi tiba-tiba, ponsel Juna berdering.
"Halo, Sayang."
'Dih, pasti si Aliesha,' cibir Fany dalam hati.
"Halo, Sayang. Anterin aku ke tempat pemotretan dong," ucap Aliesha di seberang sana.
Karena posisi Juna dan Fany yang cukup dekat, Fany pun samar-samar bisa mendengar suara Aliesha.
"Emm...," Juna melirik Fany sebentar, "maaf, Sayang. Aku gak bisa anterin kamu sekarang."
'Hah?! Demi apa sih?! Kak Juna nolak permintaan ceweknya demi gue,' teriak Fany dalam hati.
"Kenapa?! Biasanya kamu selalu luangin waktu buat aku loh," balas Aliesha dengan suara meninggi.
"Lain kali aja ya, sekarang aku benar-benar gak bisa," jawab Juna.
"Kamu kenapa sih, Juna?! Apa gara-gara bocah ingusan yang kamu nikahi itu?!"
'Anjir, gue dikatain bocah ingusan.'
"Cukup, Aliesha. Aku bilang gak bisa, ya gak bisa," tegas Juna yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
Fany yang melihat hal itu pun hanya bisa membelalakkan matanya terkejut. Baru kali ini ia melihat Juna bersikap seperti itu kepada kekasihnya.
"Emm... Kak Juna sama Kak Aliesha emang lagi berantem, ya?" tanya Fany hati-hati.
Juna menggelengkan kepalanya, "nggak. Dia akhir-akhir ini emang posesif dan suka marah-marah gitu."
Fany hanya menganggukkan kepalanya paham.
"Udah, gak usah dipikirin," lanjut Juna, "aku ganti ya perban kamu. Kalau sakit, bilang aja ya. Nanti aku obatinnya pelan-pelan."
__ADS_1
Kemudian, Juna mulai membuka perban di dahi Fany. Sedangkan Fany hanya bisa mengedarkan pandangannya ke segala arah agar tidak melihat wajah Juna yang hanya berjarak beberapa cm dari wajahnya. Bisa-bisa jantungnya copot saat ini juga.
'Ya Tuhan, kalau Kak Juna bisa jadi orang yang se-soft ini, aku rela kok kalau harus babak belur setiap hari.'