
"Hahhh..."
Fany menghela napas panjang. Ia hanya berdiri diam di depan pintu rumahnya. Tadi setelah selesai bertanding di klub, ia segera menelepon sopir untuk menjemputnya.
"Mampus nih," gumam Fany.
Sebelum pergi ke Redfox, ia memang berpamitan kepada ayahnya untuk latihan tinju, tetapi ia tidak mengatakan apapun soal bertanding. Dan sekarang, ia malah pulang dengan lebam di pipi kiri dan sudut bibir, serta plester yang melekat di pelipisnya.
*anggap saja lukanya lebih banyak ya ges ya:)
Drrrt... Drrrt...
Getaran pada ponsel yang ia genggam menunjukkan adanya panggilan masuk dari sang ayah. Ia hanya meringis kecil sambil menggeser ikon merah. Setelah menguatkan diri, ia pun membuka pintu dan melangkah ke dalam rumah. Dapat ia lihat semua anggota keluarganya ada di ruang tamu, seperti telah menunggu kepulangannya.
"Fany, kamu kok baru pul- Loh?! Muka kamu kenapa?!" Zara langsung berlari panik menghampiri Fany setelah menyadari terdapat luka pada wajah anak gadisnya.
David yang melihatnya juga langsung berdiri, "muka kamu kenapa kok bisa babak belur gitu? Siapa yang ngelakuin ini ke kamu?!"
"Udah lah, Yah, namanya juga tinju, wajar kalau dapet sedikit luka," ujar Fany santai.
"Sedikit dari mananya?! Muka kok warnanya jadi dominan ungu," seru Radit tidak santai melihat lebam di wajah adiknya.
"Bukannya kamu udah minta Yudha buat jagain Fany? Kok bisa sampai kayak gini sih," omel Zara kepada David.
"Biar nanti aku panggil Yudha ke sini. Udah dipercaya buat jaga anakku, malah dibiarin kena pukul gini," kata David.
"Eh eh, kok jadi Om Yudha, sih. Om Yudha gak tau apa-apa kok. Dia emang ngelarang aku buat tanding, akunya aja yang bandel," bela Fany dengan suara mengecil di akhir.
David menghela napas kasar, "ayah biarin kamu datang ke klub tinju itu karena ayah gak mau batasin hobi kamu, tapi itu hanya sebatas olahraga. Kalau kamu datang ke sana buat tarung, mending kamu berhenti aja dari klub itu."
Mata Fany melotot, "gak bisa gitu, dong! Ayah apa-apaan sih. Ini cuma luka biasa kok, aku aja gak masalah. Aku gak selemah yang ayah kira, tau gak."
"Ayah gak peduli sekuat apa kamu. Tapi kalau kamu sampai terluka kayak gini, ayah gak akan izinin kamu buat tinju lagi," balas David.
__ADS_1
"Aku gak butuh izin ayah buat ngelakuin apa yang aku suka!"
"FANY!"
Suara bentakan David membuat semua orang terkejut.
Fany yang dibentak pun langsung berlari menaiki tangga menuju kamarnya, tidak menghiraukan sang bunda yang memanggil-manggil namanya. Zara khawatir Fany kecewa dengan David, ia juga takut jika hubungan mereka merenggang lagi.
Blamm!
Pintu kamar Fany tertutup dan ia bersandar sambil memegangi dadanya, jantungnya berdetak tak beraturan. Ia cukup terkejut dengan suara bentakan sang ayah. Apakah ia sakit hati dan kecewa? Hmm... Mungkin tidak.
"Ngeri banget anjir," gumamnya.
Ia hanya melarikan diri dari tatapan mata sang ayah yang menurutnya sangat menakutkan. Ayahnya itu kalau sudah marah ternyata sangat mengerikan dan membuatnya ingin segera menghilang saja dari hadapan pria itu. Kini ia mengerti darimana ia mendapatkan sifat temperamental dalam dirinya itu.
...----------------...
Tok Tok Tok
"Eh, ada apa, Bun?" tanya Fany.
Zara tersenyum sambil melangkah mendekati Fany, "udah jam 11, kamu belum ngantuk?"
Fany hanya menggelengkan kepalanya. Lalu, Zara meletakkan susu coklat itu di meja Fany.
"Bunda buatin kamu susu biar nanti kamu bisa tidur nyenyak," kata Zara.
"Makasih," ucap Fany sambil tersenyum.
"Emm... Fany," panggil Zara, "maafin ayah kamu, ya. Dia gak bermaksud buat bentak kamu, Sayang."
Fany diam sejenak, "gak apa-apa. Lagian bukan salah ayah kalau dia marah. Justru kalau ayah gak marah pas liat aku pulang penuh luka, malah itu artinya dia gak bener-bener sayang sama aku."
Zara tersenyum dan mengelus puncak kepala Fany. Ia senang mengetahui bahwa anaknya ini bisa berpikir cukup dewasa. Sedangkan Fany yang menerima usapan di kepalanya sedikit menegang, ia merasakan kehangatan yang sudah lama tidak ia dapatkan.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu lanjut belajar ya, tapi jangan terlalu malam tidurnya," kata Zara.
Fany hanya mengangguk sambil tersenyum kecil. Kemudian, Zara pun keluar dari kamar Fany. Setelah pintu tertutup, Fany langsung menoleh melihat foto ibunya yang ada di nakas sambil menggigit bibir bawahnya pelan. Ia sangat merindukan sosok ibu.
...----------------...
Akhir pekan ini, Zara mengajak Fany untuk pergi belanja ke mall. Rencananya mereka akan membeli pakaian untuk dipakai ke acara pernikahan Yudha besok. Tapi yang namanya perempuan, pasti akan berakhir membeli lebih dari apa yang direncanakan.
"Bentar bentar, kayaknya yang navy lebih cantik deh buat kamu. Eh, atau yang merah muda aja ya, kelihatan lebih elegan. Tapi yang warna putih lebih cocok di kulit kamu," ucap Zara memilihkan gaun untuk Fany.
Sedangkan Fany sendiri, ia sudah duduk di sofa karena sudah lelah mengikuti bundanya memilih barang. Hei, mereka sudah membeli gaun untuk pernikahan Yudha, tapi Zara masih tetap memilihkan gaun lagi untuk Fany. Biar walk-in-closet di kamar Fany tidak terlalu kosong, katanya.
"Sama aja, Bun," ucap Fany lelah.
Zara hanya melirik Fany sebentar, lalu kembali berbicara kepada pramuniaga yang menemaninya.
"Saya beli tiga-tiganya aja deh, Mbak."
Mata Fany melotot mendengar perkataan Zara, "Hah?! Bunda! Kok dibeli semuanya, sih."
"Abis bunda bingung pilih yang mana, cantik semua sih," gerutu Zara.
Fany hanya bisa melongo melihatnya. Harga gaun-gaun ini tidaklah murah. Ia lebih terkejut lagi saat melihat struk belanjaan. Total 73 juta hanya untuk 3 stel gaun?! Rasanya ia ingin menjual lagi gaun-gaun tersebut.
Setelah itu, mereka pergi meninggalkan toko, diikuti oleh sopir yang bertugas membawakan paper bag belanjaan mereka.
"Bunda, itu sayang banget uangnya," cicit Fany yang miris melihat uang dengan jumlah yang begitu banyak melayang hanya untuk membeli baju.
"Udah, tenang aja, ayah kamu udah ngasih black card buat belanja hari ini, sayang banget kalau gak dimanfaatkan dengan baik," seru Zara sambil menunjukkan kartu berwarna hitam kepada Fany.
Mata Fany langsung berbinar-binar melihatnya. Baru pertama kali ia melihat kartu terbitan American Express itu dengan mata kepala sendiri. Sekali lagi ia tersadarkan oleh fakta bahwa dirinya kini telah menjadi salah satu anggota keluarga konglomerat. Yah... Meskipun kisah hidupnya cukup pedih, tapi setidaknya hal ini bisa menghibur jiwa kemiskinan dalam dirinya.
"Sekarang kamu mau beli apa lagi? Ngomong aja, gak usah sungkan," ucap Zara.
Fany terlihat berpikir sejenak, "emm... Aku mau beli sweater sama celana jeans deh, Bun. Oh iya, sama itu, boleh gak aku beli sepatu Chanel yang collab sama Marvel? Katanya cuma ada puluhan aja yang dijual."
__ADS_1
Zara mengangguk antusias dan langsung menarik tangan Fany menuju toko yang menjual barang-barang yang disebutkan oleh anaknya. Mereka pun berbelanja dengan senang hati. Bahkan, Fany sangat patuh menuruti ucapan bundanya untuk tidak sungkan. Lihat saja sekarang, mereka begitu sumringah saat berjalan menuju parkiran, sedangkan si sopir kewalahan membawakan tas belanja yang begitu banyak.