
Beberapa hari setelah kejadian Fany pulang dengan babak belur, hubungannya dengan Juna kembali membaik. Ralat! Bahkan menjadi semakin akrab. Terbukti dengan Fany yang berkutat di dapur siang hari ini. Rencananya ia akan memasak makan siang dan makan bersama dengan Juna di kantor.
"Nasi udah, lauk udah, sayur udah," gumam Fany sambil menata kotak bekal untuk sang suami.
"Duuhh~~ istri idaman banget sih gue," gemas Fany terhadap dirinya sendiri.
Biasa... Sifat narsisnya sedang kambuh.
Selesai menata kotak bekal itu, ia pun segera mengambil kunci mobil dan ponselnya, kemudian pergi menuju tempat parkir apartemen. Ngomong-ngomong, kakinya sudah bisa berjalan dengan normal. Hanya luka di wajah yang belum sepenuhnya sembuh, masih ada sedikit lebam dan plester di dahinya.
Fany bersenandung ria selama perjalanan ke kantor Juna, suasana hatinya begitu gembira membayangkan adegan romantis saat makan bersama suaminya nanti. Beberapa menit kemudian, ia sudah sampai di kantor Juna. Gedung yang cukup besar, meskipun tidak sebesar kantor pusat Bagaskara Group. Setelah memarkirkan mobilnya, ia pun membuka ponsel dan menelepon Juna.
"Halo, Kak Juna," panggil Fany.
"Halo, Fany?" jawab Juna di seberang telepon.
"Gue udah di depan nih," balas Fany.
"Oke, naik aja. Nanti tunggu dulu di depan ruangan aku aja, ya. Sekarang masih ada tamu," kata Juna.
"Oke deh," ucap Fany dengan ceria.
Setelah mengakhiri panggilannya, Fany langsung masuk ke dalam gedung itu. Semua karyawan membungkuk hormat kepadanya. Dan karena Fany adalah gadis yang baik hati, maka ia juga melemparkan senyuman kepada orang-orang yang menyapanya.
Ting!
Pintu lift terbuka. Ia sudah ada di depan ruangan Juna. Namun, kehadiran seseorang di sofa ruang tunggu membuat suasana hatinya memburuk.
"Kak Aliesha?"
Aliesha yang merasa terpanggil langsung menoleh. Wanita itu pun bangkit dari duduknya dan berjalan pelan menghampiri Fany.
"Apa yang sedang dilakukan oleh adik kecil ini di sini?" tanya Aliesha dengan nada merendahkan, lalu pandangannya turun ke kotak bekal yang di bawa Fany, "oh, mau menjadi istri yang berbakti, ya?"
Fany hanya diam sambil menatap datar wanita di depannya.
"Mending kamu pulang aja deh. Aku udah janjian mau makan siang sama Juna," ucap Aliesha dengan tersenyum angkuh.
Fany tersenyum miring, "oh ya? Kayaknya baru beberapa menit yang lalu deh, Kak Juna telepon gue buat nungguin dia karena dia mau makan masakan gue."
Senyum Aliesha memudar, "gak usah bohong kamu ya!"
Fany tertawa remeh, "ngeliat lo yang marah kayak gini, kayaknya bener deh, kalau lo gak janjian dulu sama Kak Juna, suami gue."
Wajah Aliesha semakin suram. Memang benar apa yang dikatakan Fany, ia datang ke sini tanpa memberi tahu Juna. Akhir-akhir ini, lelaki itu sangat susah dihubungi.
Fany berjalan semakin mendekati Aliesha, lalu berbisik di telinganya, "mending lo aja yang pulang. Kehadiran lo gak diharapkan di sini. Lo tau sendiri kan, Kak Juna lebih milih gue."
__ADS_1
Aliesha menggertakkan giginya karena marah, lalu kedua tangannya terangkat berniat mendorong Fany. Tetapi refleks Fany lebih cepat, ia berhasil menangkis dorongan dari Aliesha. Entah karena Fany yang terlalu kuat, atau Aliesha yang terlalu lemah, tangkisan Fany membuat Aliesha jatuh tersungkur.
Brukk
"Ah!!"
Fany meringis melihat Aliesha yang jatuh tersungkur dan terlihat kesakitan.
'Lah, perasaan gak kenceng gue dorongnya, emang sesakit itu ya?' batin Fany.
"Ada apa ini?"
Suara dingin Juna membuat mereka berdua menoleh. Di sana juga ada seorang pria yang merupakan tamu Juna.
"Juna~~" rengek Aliesha, kemudian berdiri dan berlari kecil menuju kekasihnya, "kayaknya Fany benar-benar benci sama aku. Dia dorong aku sampai aku jatuh, kamu lihat sendiri, kan?"
Mata Fany melotot terkejut dengan pernyataan Aliesha. Ia tahu bahwa Aliesha bukan perempuan baik-baik, tetapi ia tidak tahu bahwa Aliesha selicik ini.
"Ekhmm... Lebih baik saya pergi dulu," pamit tamu Juna.
Setelah tamu itu pergi diantar oleh sekretaris Juna, suami dari Fany sekaligus kekasih dari Aliesha itu kembali fokus kepada dua perempuan yang saling menatap tidak suka itu.
"Ada apa sih sebenarnya?" geram Juna.
"Aku udah bilang kan, dia dorong aku!" seru Aliesha sambil menunjuk Fany.
"Aku gak dorong kamu kok, buktinya aku yang jatuh di lantai," balas Aliesha tidak mau kalah.
"Dih, ya itu lo nya aja yang lemah," cibir Fany.
"Udah udah!" kata Juna melerai, "Aliesha, kamu kok gak bilang kalau kamu mau ke sini?"
"Emangnya aku harus izin dulu kalau mau ketemu kamu?!" sungut Aliesha tidak terima.
"Ini jam kerja, Aliesha, kamu gak bisa seenaknya ketemu sama aku," Juna memejamkan matanya pusing, "dan kamu Fany, kalau kamu gak dorong Aliesha, kenapa dia bisa jatuh?"
Fany mengernyitkan dahinya tidak suka, "udah gue bilang kan, dia yang dorong gue. Tapi karena emang dasarnya dia lemah, malah dia yang jatuh."
Juna menghela napas panjang, lalu berkata kepada Fany, "ya udah, kamu masuk aja dulu ke dalam."
Fany pun menurut dan masuk ke ruangan Juna, walaupun sambil menggerutu kesal.
"Sayang, ayo temenin aku makan siang," ucap Aliesha manja.
"Gak bisa, Sayang. Aku udah janji duluan sama Fany," balas Juna pelan.
"Ih, kamu kok lebih milih anak itu sih?!" marah Aliesha, "aku ini pacar kamu loh."
__ADS_1
"Please, Aliesha. Aku gak bisa ingkar janji, lain kali aja ya, kita makan siang bareng," ucap Juna menenangkan kekasihnya.
"Huh!! Nyebelin!"
Setelah itu, Aliesha pergi dari sana dengan perasaan jengkel.
Wanita itu berjalan menuju lift sambil menghentak-hentakkan kaki, ia masih berharap Juna akan mengejarnya. Tapi saat berbalik, ia malah mendapati Juna beranjak masuk ke dalam ruangannya. Hal itu membuat amarahnya semakin memuncak.
'Awas aja kamu, Fany. Aku bakal rebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku.'
...----------------...
Cklek
Fany menoleh saat Juna memasuki ruangan. Dalam hati, ia merasa lega karena Juna memilih untuk bersamanya, daripada pergi bersama Aliesha.
"Gue beneran gak dorong Kak Aliesha," lirih Fany.
Juna mendudukkan diri di single sofa berhadapan dengan Fany, "iya, aku percaya. Aku tahu, kamu bukan tipe perempuan yang akan menyakiti perempuan lain secara fisik."
Fany tersenyum kecil, "makasih udah percaya sama gue."
Juna juga ikut tersenyum, "oh iya, mana makanan buat aku? Udah laper banget nih."
Mendengar hal itu, Fany langsung membuka kotak bekal yang ia bawa, lalu menyiapkannya untuk Juna dan dirinya sendiri.
"Hmm... Dari baunya sih, kayaknya enak," celetuk Juna.
Pipi Fany bersemu mendengarnya. Akhir-akhir ini, ia menjadi sering tersipu malu karena ucapan dan perlakuan dari suaminya itu.
"Selamat makan~" ucap Fany.
Fany dan Juna pun mulai memakan makanan mereka masing-masing. Acara makan siang mereka diselingi dengan obrolan dan candaan ringan. Fany semakin jatuh cinta dengan sosok Juna yang lembut, sedangkan Juna semakin terkesan dengan Fany yang selalu berusaha menjadi istri yang baik untuknya. Mereka saling mengagumi satu sama lain.
'Tuhan, semoga tidak ada masalah dalam hubungan kami dan semoga kami memang ditakdirkan untuk berjodoh.'
'Tuhan, kenapa aku baru menyadari kalau gadis ini sangat cantik ketika tersenyum.'
...----------------...
...πΈπΈπΈ...
...Haloo para pembaca budiman π...
...Numpang promosi ya, mampir ke book kedua aku yuk, judulnya 'Mama Untuk Bhara'. Masih baru nih......
...Ceritanya tentang mahasiswa hukum yang gak sengaja ketemu sama balita. Gak bakal bosenin deh, karena ada banyak hal yang berkaitan dengan hukum, khususnya hukum/aturan tentang adopsi....
__ADS_1