
Diana dan Zara sedang berkeliling untuk menyapa para tamu. Saat sedang ingin mengecek stan makanan, mereka melihat Juna dan Fany sedang mengambil makanan di sana. Ralat, bukan mereka, hanya Fany yang sibuk memilih makanan, sedangkan Juna hanya mengikuti dari belakang.
"Loh, kalian kok ada di sini, sih?" tanya Diana.
Fany menoleh, kemudian menunjukkan cengirannya, "hehe... Fany lapar, Ma."
"Lapar? Bukannya satu jam yang lalu kalian udah makan, ya?" ucap Diana.
Satu jam sebelumnya, kedua pengantin itu sempat turun untuk makan malam.
"Tadi kan aku cuma makan sedikit, cuma dikasih nasi sama cap cay aja. Yang bener aja dong, masa cuma makan segitu doang sih di pesta aku sendiri. Kan aku juga pengen nyoba yang lain," gerutu Fany.
"Rakus banget sih jadi cewek," celetuk Juna yang langsung dihadiahi tatapan tajam oleh Fany.
Diana dan Zara terkekeh melihat interaksi mereka.
"Ya udah, sekarang kamu ambil aja apa pun yang kamu pengen, tapi jangan banyak-banyak, nanti kekenyangan malah gak bisa jalan," ucap Zara.
Wajah Fany seketika berubah menjadi ceria lagi. Ia langsung mengambil cheesecake dan es oyen yang sudah diincarnya sejak tadi.
"Oh iya, Juna, nanti kalau tamunya udah pulang semua, kamu sama Fany langsung ke kamar VIP aja, ya. Tadi udah dihias kok buat pengantin baru kita ini," ucap Diana.
Juna hanya mengangguk patuh. Suasana hatinya menjadi buruk mengingat fakta bahwa malam ini ia akan tidur bersama dengan perempuan yang sama sekali tidak ia cinta.
"Ngomong-ngomong, kalian udah ada rencana ngasih kita cucu belum?"
Pertanyaan Diana langsung membuat Juna melotot terkejut, bahkan Fany yang ingin menggigit cheesecake juga langsung terdiam.
'Lah, ngegas amat nih mertua,' batin Fany.
"Apaan sih, Ma? Resepsinya aja belum selesai loh, kok udah bahas cucu aja," jawab Juna agak kesal.
"Bukannya mama minta kalian buru-buru punya momongan, mama cuma pengen tahu, kalian udah ngomongin waktu yang tepat buat punya anak belum? Itu aja kok," kata Diana.
"Kita gak maksa kok, kalau emang kalian mau nunda dulu," lanjut Zara.
"Kita gak kepikiran sampai ke situ," jawab Juna singkat.
"Gak kepikiran? Maksud kamu apa?" tanya Diana dengan dahi mengernyit.
'Anjir, gak pinter banget sih jawabnya,' cibir Fany.
__ADS_1
Gadis itu menyadari raut wajah bunda dan mama mertuanya yang tidak puas dengan jawaban Juna. Suaminya itu berkata seolah-olah ia tidak mau punya anak. Yaa... Walaupun mungkin Fany juga tidak mau, tapi setidaknya mereka harus tetap bersandiwara.
"Eh, maksudnya Kak Juna tuh kita belum kepikiran," sahut Fany menekankan kata 'belum', "kita bakal mikirin hal itu lagi setelah aku lulus kuliah nanti."
"Hah? Lulus kuliah? Bukannya itu terlalu lama, Nak?" protes Zara.
"Bunda, punya anak tuh butuh persiapan matang. Aku ngerasa belum cukup dewasa kalau mau besarin anak di usia sekarang. Apalagi kalau punya anak pas aku lagi sibuk kuliah, bisa-bisa gak keurus nanti. Bunda sama mama gak mau kan punya cucu yang gak bahagia gara-gara orang tuanya belum siap?" jelas Fany.
Ia bersyukur dalam hati karena memiliki kemampuan berbicara yang baik, dan... sedikit manipulatif.
Zara menghela napas panjang, "iya sih, tapi 4 tahun itu masih lama. Bunda udah pengen banget gendong bayi."
"Ya si abang lah suruh nikah, ntar abis nikah suruh langsung buat anak aja," celetuk Fany.
"Enteng banget mulutnya, kamu kira buat anak kayak buat adonan kue," sahut Juna.
"Ih, santai dong, gak bisa diajak bercanda nih orang," sinis Fany.
"Husst, udah udah," ucap Diana melerai mereka, "gak usah berantem terus. Cepetan abisin makanan kamu, terus balik lagi ke pelaminan. Masalah anak gak usah dibahas lagi."
Setelah itu, Fany kembali menikmati makanannya. Sedangkan, Juna berkeliling untuk menghampiri beberapa tamu sembari menunggu Fany selesai makan.
...----------------...
Kamar itu sudah dihias dengan bunga mawar ala pengantin baru. Fany langsung berlari kecil menuju jendela besar yang menghadap langsung ke pemandangan kota. Cahaya dari lampu kota terpantul di matanya.
"Aku mau mandi dulu," kata Juna yang berada di belakangnya.
"Mandi ya mandi aja, ngapain ngomong segala," sahut Fany tanpa mengalihkan pandangan.
Juna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu melenggang masuk ke kamar mandi.
Merasa sudah tidak ada orang di belakangnya, Fany langsung berbalik dan memastikan bahwa pintu kamar mandi sudah tertutup.
"Anjir, gue harus ngapain nih? Gak mau ah kalau mau 'begituan'. Eh, tapi kan Kak Juna gak suka sama gue, gak mungkin lah ya dia mau apa-apain gue. Eh, tapi... gimana kalau dia tiba-tiba nafsu, cinta sama nafsu kan dua hal yang berbeda. Ihh gak mauuuu, ngeri banget," dumal Fany.
Gadis itu sejak tadi mencoba menampakkan raut wajah tenang, walaupun sebenarnya ia overthinking.
"Gak nyaman banget sih ini baju kalau dipakai lama-lama," gumamnya.
Setelah itu, ia mengganti gaun pengantinnya dengan piyama satin lengan panjang berwarna merah yang disediakan di almari hotel.
__ADS_1
"Huhh... Untung aja pihak hotel gak nyediain baju aneh-aneh," monolog Fany sambil melihat pantulan dirinya di cermin.
Tap... Tap...
Fany cukup terkejut dengan Juna yang berjalan di belakangnya. Ia terkejut karena tidak mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Tentu saja, karena pintunya terbuat dari kaca tanpa kunci, hanya ada gagang aluminium, dan untuk membukanya hanya perlu didorong, sehingga tidak menimbulkan suara.
"Lah, cepet amat mandinya," ujar Fany.
Juna menoleh, "kamu gak mandi?"
"Ya mandi lah," sahut Fany.
"Kok udah pakai piyama?" tanya Juna.
"Tck, keburu gatel badan gue pakai gaun tadi," jawab Fany.
Setelah itu, ia langsung buru-buru pergi ke kamar mandi. Juna yang melihatnya hanya mengedikkan bahu, lalu berbaring di ranjang sambil memainkan ponselnya.
Dua puluh menit kemudian, Fany keluar dari kamar mandi sudah berbalut piyama yang ia pakai tadi. Ia melihat Juna yang sedang bersandar di headboard ranjang sambil menelepon seseorang.
"Nggak kok, Sayang, aku nggak ngapa-ngapain, beneran deh," ucap pria itu.
'Pasti lagi telponan sama pacarnya,' batin Fany.
Tanpa mempedulikan Juna yang masih setia bertelepon dengan pacarnya, Fany langsung pergi ke meja rias dan memakai segala macam produk skincare yang sudah menjadi night routine-nya. Ia memakai skincare sambil bersenandung pelan supaya tidak terlalu mendengar percakapan Juna dan pacarnya. Bukannya cemburu, ia hanya geli mendengar kata-kata mesra dari pasangan itu.
"Iya iya, kamu yang paling cantik di dunia," ucap Juna di telepon.
'Idih, si bulol. 'Paling cantik di dunia' katanya. Berarti emak lo bukan yang pertama dong. Kasihan banget mama, udah susah susah lahirin anak, eh pas udah gede dibikin bego sama cewek," cibir Fany dalam hati.
Setelah selesai mengaplikasikan segala produk perawatan wajah dan tubuh, Fany segera mengambil ponsel di nakas dan berbaring di samping Juna dengan posisi miring membelakangi suaminya itu.
"Good night, Cintaku."
Juna pun mengakhiri panggilan dan meletakkan ponsel di nakas.
"Cih, cintaku katanya, jijik banget," gumam Fany pelan.
Juna yang baru saja ingin menutup mata, langsung menoleh melihat Fany yang masih memunggunginya.
"Bilang aja kamu iri."
__ADS_1
Fany langsung memutar kepalanya melihat Juna, "ih, PD banget, ngapain iri sama bulol kayak lo."
Juna hanya diam, tak ingin menanggapi ucapan Fany lagi. Ia memilih untuk memejamkan matanya karena sudah sangat mengantuk. Sementara itu, Fany kembali memunggunginya dan melanjutkan bermain ponsel. Gadis itu memang suka begadang.