
Sudah dua minggu sejak pernikahan Fany dan Juna. Setiap hari, mereka menjalankan rutinitas masing-masing seperti biasa. Hari ini, Fany akan pergi mengunjungi perusahaan ayahnya. Ia sangat bersemangat karena Permana Group bergerak di bidang keamanan, masih berkaitan dengan jurusan kuliah yang akan ia tempuh.
Fany menghentikan mobilnya di depan pintu masuk perusahaan, lalu menyerahkan kunci mobilnya kepada pegawai di sana untuk diparkirkan. Sementara itu, David dan Radit sudah menunggunya di lobi.
"Ayah!!"
Seru Fany yang langsung berlari menerjang ayahnya.
"Woah! Santai saja, Sayang," ucap David yang menerima pelukan tiba-tiba dari Fany.
"Aku kangen sama ayah hehe...," kata Fany.
"Gak kangen lo sama gue?" tanya Radit.
Fany melepas pelukan ayahnya dan memandang Radit dengan tatapan mengejek, "dih, Anda siapa, ya? Emang kita kenal?"
"Oh... Gitu ya sekarang. Mentang-mentang udah punya suami, abangnya dilupain gitu aja," cibir Radit.
David yang melihatnya pun tertawa, "haha... Udah, ayo kita masuk. Kamu mau lihat-lihat, kan?"
Fany mengangguk dengan penuh antusias. Kemudian, mereka bertiga berjalan untuk melihat-lihat isi perusahaan itu. Fany menjadi pusat perhatian di sana karena memang hari ini adalah pertama kalinya mereka melihat secara langsung anak kandung dari bos mereka.
"Sebenarnya, perusahaan ayah tuh kerjaannya apa aja sih?" tanya Fany.
David menoleh sebentar, "emm... Permana Group itu merupakan perusahaan keamanan dengan sistem yang kompleks. Jadi, kita menyediakan sistem keamanan untuk perusahaan-perusahaan atau instansi yang bekerja sama dengan kita. Selain menyediakan jasa cyber security, kita juga menyuplai pengawal dan juga satpam untuk mereka."
"Wow... Jadi, staff keamanan yang ada di perusahaan-perusahaan partner semuanya berasal dari sini, ya?" balas Fany.
David mengangguk, "iya. Dan lagi, kita juga menyediakan tim khusus apabila ada keadaan darurat."
Fany mengernyit binngung, "keadaan darurat? Maksudnya?"
"Mirip kayak badan intelijen negara yang biasanya nyelesaiin kasus berat," kali ini Radit yang menjawab, "dunia bisnis itu berbahaya, banyak hal kotor di dalamnya. Dulu aja nih ya, pasukan khusus kita pernah dapet tugas nyelametin anggota keluarga dari perusahaan partner yang disandera sama rivalnya."
"Hah? Beneran? Separah itu?" tanya Fany terkejut.
Radit menganggukkan kepalanya, "dan kamu tau gak pemimpin dari pasukan khusus perusahaan ini?"
__ADS_1
"Ya ayah lah," sahut Fany.
David terkekeh, "ayah itu pemimpin perusahaan, bukan pemimpin pasukan. Gimana sih kamu, Nak?"
Fany mendengus kesal, "iih, ya mana aku tau, Yah. Emang siapa sih? Gak mungkin Kak Radit, kan?"
Radit menggeleng, "bukan gue, tapi Om Yudha."
Mata Fany membola terkejut, "Om Yudha?! Wah, gue udah bisa bayangin sih, sekeren apa pasukan khusus itu kalau pemimpinnya aja Om Yudha."
"Kita juga rekrut pengawal dari tempat Yudha. Sebenarnya, orang-orang di Redfox itu sebagian besar pengawal Permana Group, mereka sering latihan di sana," imbuh David.
Fany tidak bisa berkata-kata lagi dengan segala fakta yang baru ia ketahui.
"Kamu mau lihat markas pasukan khusus?" tanya David.
"Mau mau mau!" seru Fany penuh semangat.
Kemudian, mereka memasuki lift yang ada di sudut lorong. Lift itu adalah lift khusus yang menjadi akses menuju markas pasukan khusus yang ada di bawah tanah. Meskipun dari luar tampak sama, tetapi lift ini letaknya berseberangan dengan lift yang digunakan oleh karyawan biasa.
Ting!
'Anjir, dari badannya aja udah keliatan sangar banget,' batin Fany.
Kedua penjaga keamanan itu membukakan pintu untuk bos mereka. Saat Fany memasuki ruangan, ia melihat ada banyak pria berbadan besar di sana. Mereka sedang melakukan berbagai latihan, ada yang sedang latihan bela diri, menembak, berlatih menggunakan pisau lipat, dan latihan berbahaya lainnya.
"Kamu gak takut kan ada di sini?" tanya David cemas. Bagaimanapun juga tempat ini terlalu keras untuk dilihat oleh gadis muda seperti Fany.
Fany hanya menggeleng dan melangkah pelan mendahului ayah dan kakaknya. Ngomong-ngomong, mereka tidak pernah melihat sendiri betapa kerasnya gadis itu saat berlatih tinju, jadi mereka mengira Fany akan merasa ngeri saat melihat ini semua.
Gadis itu melangkah menuju arena menembak jarak dekat. Ia menghampiri seseorang yang terlihat seperti senior di sana. Namun, saat sudah dekat dengan pria itu, Fany cukup terkejut karena ternyata ia mengenal pria itu.
"Loh, Om Tian?"
Pria itu menoleh dan mendapati seorang gadis yang cukup ia kenal sedang tersenyum manis kepadanya. Pria dewasa bernama Tian itu mengenal Fany karena mereka sering bertemu di Redfox. Ia ingin bertanya mengapa Fany ada di sini, tetapi David dan Radit sudah menghampiri mereka. Tian langsung membungkuk hormat kepada David dan juga Radit.
"Selamat datang, Pak David. Apa yang membuat Pak David datang kesini? Apakah ada sesuatu yang mendesak?" tanya pria itu.
__ADS_1
David hanya menggeleng, "tidak ada. Aku hanya ingin memperlihatkan tempat ini kepada putriku."
Pria itu sedikit tersentak, lalu memberi hormat kepada Fany, "maaf karena tidak mengenali anda, Nona."
"Eh eh, gak apa-apa kok," ujar Fany canggung, "jangan kayak gitu dong, Om. Kita kan udah lumayan akrab di Redfox. Lagian aku juga belum pernah ke sini, jadi wajar kalau om gak tau kalau aku anaknya ayah David."
Pria itu tersenyum kepada Fany, "kalau begitu, biar saya memperkenalkan diri secara resmi. Nama saya Tian, ketua tim sniper sekaligus pelatih menembak di sini."
"Wow... Om Tian keren banget," ucap Fany, "aku mau belajar menembak dong, Om."
Tian melirik ke arah David untuk meminta persetujuan. Setelah David mengangguk, Tian pun memberikan sebuah handgun kepada Fany dan mengajari gadis itu cara menggunakannya. Fany mendengarkan penjelasan Tian dengan saksama, kemudian mencoba mempraktikannya.
Dor!
"Yahh... Meleset," keluh Fany.
"Coba kamu pegangnya lebih ke sini," Tian mengarahkan posisi tangan Fany agar lebih tepat.
Dor!
Dan tembakan kedua pun.... Meleset. Fany mencoba menembak berkali-kali, hingga akhirnya di tembakan ke-7, ia berhasil mengenai target. Bukan mengenai juga sih, lebih tepatnya menyerempet.
"Bagus! Kemampuan kamu semakin berkembang," puji Tian.
Fany tersenyum, "kayaknya aku harus sering-sering datang ke sini buat latihan."
"Gak boleh!" ucap David membuat Fany menoleh seketika, "kamu gak boleh sering ke sini. Ini bukan tempat yang cocok buat kamu."
Dahi Fany mengernyit tidak suka, "loh, kenapa? Aku suka kok di sini."
"Dek, semua hal di sini tuh berbahaya. Latihan di sini sama kayak di militer loh, ini bukan tempat buat main-main," imbuh Radit.
"Siapa sih yang main-main?!" kesal Fany, "aku tuh pengen belajar, biar bisa jaga diri. Huh! Gak mau tau, pokoknya aku bakalan tetap sering main ke sini."
Fany menoleh ke arah Tian kembali memasang senyum manisnya, "makasih ya, Om Tian, udah ngajarin aku hari ini. Kapan-kapan aku ke sini lagi, Okey?"
Tian hanya bisa tersenyum canggung. Ia tidak bisa menolak keinginan anak dari bosnya itu, di sisi lain ia tidak bisa meng-iya-kan karena bosnya tidak setuju dengan keputusan Fany.
__ADS_1
Setelah itu, Fany kembali memandang David dan Radit dengan wajah kesal dan pergi mendahului mereka. Sepasang ayah dan anak laki-laki itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lelah menghadapi sikap Fany yang masih saja keras kepala.