
Fany menyiapkan sarapan dengan hati yang berbunga-bunga. Ia memasak makanan sambil bersenandung kecil. Karena suasana hatinya yang gembira, ia memutuskan untuk membuat menu sarapan yang cukup spesial, yaitu opor ayam dan tempe mendoan.
Sesekali ia melirik ke arah suaminya yang sibuk membersihkan debu-debu di perabotan apartemen mereka menggunakan kemoceng. Sebenarnya, ini bukan hari libur, tapi mereka memutuskan untuk melakukan hal-hal yang produktif untuk merepresentasikan kegembiraan mereka. Suka-suka Juna dan Fany saja lah.
"Kak Juna~ sarapan udah siap," seru Fany sambil menghidangkan makanan di meja makan.
"Iya, Sayang~" jawab Juna.
Fany langsung menutup mulutnya dengan tangan kanan untuk menyembunyikan senyumnya. Ia tidak bisa untuk tidak salting sekarang.
"Ciee... Istriku salting yaa," goda Juna sembari duduk di kursi makan.
Fany masih tersipu malu, kemudian mendekat untuk memukul pelan bahu suaminya.
Bugh!
"Kak Juna apaan sih?~" ucap Fany dengan malu-malu.
Sementara Juna sudah meratapi nasib sambil mengusap pelan bahu kanannya yang baru saja dipukul 'pelan' oleh Fany. Pelan menurut Fany, tapi menurut Juna pukulan itu lebih mirip seperti tinjuan. Mau mengeluh tapi takut jika istrinya ngambek. Maka dari itu, ia hanya diam sambil meringis. Juna memutuskan untuk mengambil nasi saja. Tapi saat tangannya terulur untuk mengambil centong nasi, tiba-tiba Fany menggeplak tangannya.
Plak!
"Biar gue ambilin aja, ya," ucap Fany dengan lembut tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Fany langsung mengambilkan nasi dan meletakkannya di piring Juna. Sementara itu, Juna sudah mengusap punggung tangannya yang terasa panas akibat geplakan Fany yang tidak main-main. Perkataan Fany tentang dirinya yang 'anti-romantic' ternyata benar. Gadis itu memang tidak pandai melakukan hal-hal yang romantis.
'Istri gue serem banget kalau lagi salting,' batin Juna.
Fany menyodorkan piring yang sudah berisi nasi beserta lauk pauknya kepada Juna.
"Nih, makan yang banyak ya, Kak. Biar lo gak lemes pas kerja nanti," kata Fany.
Lalu, gadis itu pun duduk di hadapan Juna dan mengambil nasi serta lauk pauk untuk dirinya sendiri. Sedangkan Juna mengernyitkan dahinya tidak terima dengan ucapan Fany.
"Kok masih pakai lo-gue sih, pakai aku-kamu dong," protes Juna.
Fany terdiam, ia masih belum terbiasa untuk memakai aku-kamu dengan Juna. Tapi itu bukanlah hal yang sulit karena Fany mencintai Juna, jadi ia tidak keberatan untuk melakukannya. Duh, bucin!
"Iya, Kak. Mulai sekarang, aku bakal pakai aku-kamu kalau ngomong sama kakak," kata Fany dengan senyum manisnya.
Juna pun tersenyum puas mendengarnya, lalu mereka pun mulai memakan makanannya masing-masing.
__ADS_1
"Oh iya kak, kemarin lo pakai mobil siapa?" tanya Fany di sela-sela makannya.
"Tck! Dibilangin pakai aku-kamu, tetep aja pakai 'lo'," kesal Juna.
Fany tersentak, lalu ia pun terkekeh saat menyadari kesalahannya, "eh, haha, maaf, Kak. Astaga! Kebiasaan sih, maaf ya, Sayang~"
Juna pun luluh dan tidak cemberut lagi mendengar panggilan 'sayang' dari istrinya itu.
"Jadi, kemarin itu mobil kantor, mobilku masih ada di bengkel karena aku kemarin kecelakaan pas otw jemput kamu," ucap Juna dengan tenang.
"APA?! KECELAKAAN?!"
Juna tersentak dengan teriakan Fany yang menggelegar. Bagaimana istrinya itu tidak berteriak, kalau mengetahui bahwa dirinya baru saja kecelakaan kemarin.
"Terus, kamu gak apa-apa? Ada yang luka gak?" tanya Fany dengan panik.
"Aku gak apa-apa kok, tenang aja, cuma memar-memar kecil, sama mobilnya aja yang agak ringsek," jawab Juna mencoba menenangkan istrinya.
"Loh, kok Kak Juna bisa gak luka sih kalau mobilnya sampai ringsek?" tanya Fany dengan nada penasaran.
Juna menatap datar istrinya, "jadi kamu mau aku luka-luka atau gimana?"
Fany berdecak kesal, lalu berucap sebal, "ck, maksud aku gak gitu. Ya kalau mobilnya ringsek kan biasanya orang yang di dalam terluka, minimal berdarah sedikit kek."
Fany hanya menatap datar suaminya itu. Bukannya menjawab, Juna malah menuduhnya yang tidak-tidak. Padahal wajar kan, kalau ia merasa heran dengan fakta bahwa Juna tidak mengalami luka sama sekali padahal mobilnya ringsek.
"Tau ah!" kesal Fany, lalu melanjutkan acara makannya.
Juna tertawa kencang, ternyata ia memang berniat menggoda istrinya. Kadang Juna berpikir kalau Fany sangat lucu ketika merajuk.
"Nggak-nggak, Sayang. Aku cuma bercanda kok, jangan ngambek gitu dong," ucap Juna.
Fany hanya menatapnya sekilas. Dengan wajah yang masih cemberut, ia tetap mengunyah makanannya dalam diam.
"Kamu gak lupa kan mobilku merek apa?" tanya Juna.
Fany menggeleng pelan, lalu berucap dengan yakin, "Volvo S60."
Meskipun tidak semewah mobilnya dan keluarganya yang lain, tetapi Fany sangat mengenal merek mobil yang terkenal akan kekuataannya itu. Apalagi itu adalah mobil suaminya sendiri, akan sangat aneh kalau ia tidak hafal.
"Aku beli mobil itu karena kualitasnya bagus. Terbukti kemarin aku gak luka sama sekali pas kecelakaan, cuma mobilnya aja yang ringsek, itu pun cuma ringsek di bagian ujung depannya aja," jelas Juna.
Fany hanya menganggukkan kepalanya paham. Dalam hati, ia bersyukur karena dulu Juna membeli mobil itu sehingga ia selamat dalam kecelakaan.
__ADS_1
"Tapi ada yang aneh," ucap Juna serius.
Fany mengernyitkan dahinya, "apanya yang aneh?"
"Kemarin aku kecelakaan gara-gara rem mobilku blong," kata Juna.
"Terus?" tanya Fany yang masih belum mengerti letak keanehannya.
"Pas aku bawa ke bengkel, orang bengkelnya bilang kalau kabel remnya putus. Mereka bilang kalau kabel itu seperti sengaja dipotong oleh seseorang," jelas Juna.
Fany membelalakkan matanya terkejut, "hah?! Jadi maksudnya, ada yang berusaha mencelakai kamu gitu?!"
Juna mengangguk mantap, "perusahaanku emang punya banyak musuh, tapi hal kayak gini belum pernah terjadi sebelumnya."
Fany diam dan tampak merenung. Siapa kira-kira yang tega melakukan hal berbahaya seperti itu? Ia khawatir dengan apa yang bisa saja terjadi kepada Juna ke depannya.
"Kamu nanti jangan ke kantor ya, di rumah aja," pinta Fany dengan nada memohon.
Juna tersenyum lembut, ia paham kalau saat ini Fany sedang mengkhawatirkannya.
"Gak bisa gitu dong, Sayang. Aku harus tetap ke kantor, ada rapat penting hari ini," ucap Juna lembut.
"Tapi aku takut kamu kenapa-napa," cicit Fany.
Juna menggenggam tangan kiri Fany yang ada di meja, "kamu gak perlu khawatir, aku bakal baik-baik aja kok, kamu tenang aja ya."
Fany menatap suaminya itu dengan tatapan memohon. Tapi sepertinya itu tidak mempan dan Juna tetap akan pergi ke kantornya hari ini. Bagaimanapun juga, pria itu memiliki tanggung jawab untuk memimpin cabang perusahaan Bagaskara, jadi tidak bisa seenaknya ditinggal begitu saja.
"Tapi kamu hati-hati ya. Sebelum berangkat, semuanya dicek dulu, rem, bagasi, mesin-mesin," titah Fany yang mulai tampak seperti istri cerewet.
"Iya-iya, Sayangku~" jawab Juna patuh, "kamu nanti beneran mau bawa mobil sendiri? Gak bareng sama aku aja?"
Fany menggelengkan kepalanya, "gak ah, aku belum tau pasti nanti pulang jam berapa. Lagian, aku juga gak mau nunggu lama kayak kemarin."
Wajah Juna berubah menjadi muram, ia kembali merasa bersalah, "maafin aku ya, Sayang, karena udah bikin kamu nunggu lama kemarin."
"Iya, gak apa-apa kok, bukan salah kamu juga, kan musibah," jawab Fany sambil tersenyum lembut.
Setelah itu, mereka pun membereskan piring-piring bekas sarapan. Seperti biasa, mereka selalu membagi pekerjaan rumah tangga. Fany nencuci piring, sedangkan Juna mengelap dan merapikan meja makan beserta kursinya.
...----------------...
FYI, tentang kekuatan mobil yang aku sebutin tadi itu berdasarkan fakta ya. Aku ambil dari berita di website otomotif kompas. Jadi, waktu itu Insurance Institute for Highway Safety (IIHS) {lembaga khusus yang meneliti tingkat keselamatan mobil di AS} melakukan tes tabrak 11 mobil mewah. Dan yang paling bagus nilainya itu volvo S60.
__ADS_1