Tentang Fany

Tentang Fany
Part 6 : Rangga


__ADS_3

Seperti biasa, kantin selalu ramai di saat jam istirahat. Hal itu membuat Fany yang awalnya ingin pergi membeli makanan memutuskan untuk menghentikan langkahnya. Suasana hatinya sedang kacau dan ia tidak ingin berada di kerumunan orang, terlebih karena hari ini Berly tidak masuk sekolah, ia jadi semakin tidak bersemangat. Lalu, ia pun memutuskan untuk berbelok menuju tangga yang mengarah ke lantai atas.


Fyuhhh....


Fany menghembuskan nafas lega saat sampai di rooftop. Ia menuju ke pagar pembatas untuk menikmati pemandangan kota. Berada di ruang terbuka sendirian seperti ini membuat tubuh dan pikirannya rileks.


"Ngapain lo disini?"


Oh, sepertinya ia tidak sendirian di sini.


Fany menoleh ke belakang dan mendapati rangga berjalan ke arahnya


"Lo yang ngapain disini?" tanya Fany.


"Lah, ini kan emang tempat gue," jawab Rangga sambil berdiri di sebelah kiri Fany.


"Dih, main klaim tempat umum seenaknya," cibir Fany.


Rangga hanya diam dan memilih untuk mengedarkan pandangannya ke depan.


"Lo gak ke kantin?" tanya Rangga.


"Males."


"Emang gak laper?"


"Gak terlalu."


Nampaknya Rangga membawa sesuatu di tangan kanannya, "Nih," ia pun menyodorkan satu kotak susu coklat.


"Buat gue?" tanya Fany.


"Gak, buat mbak kunti sebelah lo," jawab Rangga.


Fany terkejut dan langsung menoleh ke kanan. Tentu saja tidak ada apa-apa. Merasa dibohongi, ia langsung memukuli lengan Rangga.


"Penipu lo!"


Rangga yang mendapat pukulan kecil bertubi-tubi itu hanya tertawa, "ya buat lo lah, bego."


Akhirnya, tanpa merasa sungkan, Fany menerima susu itu dan langsung meminumnya. Memang seperti itu sifat Fany, kalau mau ya ambil, kalau gak mau ya bilang.


"Jadi," Rangga menjeda kalimatnya, "Universitas Garuda Emas, ya?"

__ADS_1


Fany memutar bola mata malas, " iya iya, gue tau itu terlalu mahal buat gue."


"Bukan gitu," balas rangga "Terus, rencana lo apa?"


"Rencana apaan?" bingung Fany.


"Ya rencana buat kuliah di sana lah."


Fany tampak berpikir, "Huft... gatau gue."


Rangga langsung menoleh, "lah, kok gatau?"


Fany menghela nafas kasar, "apa yang dibilang Bu Sri gak salah, gak ada jaminan kalau gue bakal dapet beasiswa di sana. Sekalipun gue masukin sertifikat juara nasional gue, pasti ada banyak camaba lain yang punya kejuaraan lebih bergengsi daripada punya gue."


Rangga terus menyimak sambil memperhatikan air muka Fany yang berubah sendu. Ia bisa melihat raut kebingungan, kesedihan, dan kemarahan dalam wajah gadis itu.


"Selama ini gue belajar, hidup yang mudah itu kalau lo punya uang, dan kalau lo gak punya uang setidaknya lo harus pinter. Sayangnya gue gak punya dua hal itu."


"Tapi lo kan pinter," sela Rangga.


"Belum cukup. Setidaknya gue harus super jenius kalau mau dapet beasiswa dari Garuda Emas," lanjut Fany.


Sebenarnya Rangga tidak mengerti dengan jalan pikiran Fany. Kurang pintar apa lagi si Fany itu, sejauh yang ia tahu Fany adalah salah satu jajaran siswa paling berprestasi di sekolahnya.


"Gak!" seru Fany tegas, "gue udah bermimpi masuk Garuda Emas sejak dulu. Persiapan gue buat masuk ke sana juga udah sejauh ini. Belajar tiap malem biar lolos tes di sana, nabung sertif lomba biar gue diterima. Dan kalau masalah biaya, biar gue pikir sambil jalan aja, pasti nanti ada jalan keluarnya."


Rangga hanya mengangguk-angguk paham. Ia cukup kagum dengan semangat gadis di sampingnya ini.


"Lo sendiri gimana?" giliran Fany yang bertanya.


"Gue gak pengen kuliah," jawab Rangga dengan pandangan menerawang ke depan.


"Terus jawaban BK gimana?"


Rangga berdecih pelan, "cih, kayak biasanya. Awalnya bilang 'saya menghargai keputusan kamu' tapi ujung-ujungnya tetep maksa."


Fany menyimak penjelasan Rangga dengan saksama. Ia cukup tertarik jika membicarakan hal seperti ini.


"Orang tua gue udah minta BK buat ngarahin gue biar masuk jurusan kedokteran. Papa, mama, sama abang gue, mereka semua dokter. Mereka selalu maksa gue biar jadi dokter juga. Bahkan, papa bayar kepsek biar nilai rapor gue dinaikkin," ucap Rangga membuat Fany agak terkejut.


"Keluarga lo pinter semua dong, tapi kok lo nakal banget sih," Fany kembali dengan mulut pedasnya.


"Gue juga pinter tau," balas Rangga tidak terima, "cuma males sama ketutup nakal aja."

__ADS_1


Fany terkekeh pelan, "terus impian lo apa?"


Rangga menggeleng, "gak ada."


"Serius gak ada?" balas Fany sambil menatap Rangga dari samping.


Rangga tetap menggeleng.


"Harus ada dong," kata Fany, "impian gak harus pekerjaan, loh. Bisa aja lo pengen keliling dunia pake duit ortu lo, itu juga impian."


Rangga menjitak dahi Fany membuat gadis itu meringis sambil mengusap dahinya.


"Gue cuma pengen ngejalani hidup gue tanpa tekanan," balas Rangga.



Entah mengapa Fany bisa memahami ucapan Rangga. Menurutnya, Rangga cukup tertekan dengan tuntutan keluarganya yang menginginkannya menjadi dokter, sedangkan anak itu tipe yang sangat tidak bisa diatur. Salah satu faktor yang membuat Rangga tumbuh menjadi pemberontak.


"Hidup itu lucu, ya," Fany diam sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya, "disaat yang paling gue butuhin adalah uang, yang gue miliki justru adalah kebebasan. Sedangkan, disaat lo pengen kebebasan, lo malah punya uang yang melimpah."


Rangga mengangguk, "lo mau tukeran hidup sama gue gak?" celetuknya.


"Plis lah, minimal otaknya jangan kosong kosong banget," jawab Fany, "emang lo mau gak punya orang tua? Tiap buka pintu gak ada yang nyambut dari dalam rumah."


Rangga menggeleng pelan, "gak juga sih, gini-gini gue juga masih sayang sama papa mama gue."


Fany tertawa kecil, "kayaknya lo udah gak pernah buat onar lagi ya sekarang."


"Gue gak sesering itu juga kali bikin ulah," Rangga berjalan menuju ke arah bangku tua di dekat tangga dan duduk di sana, "jailin orang juga bisa capek."


"Masa sih?~" kata Fany dengan nada yang dibuat-buat untuk mengejek Rangga.


Samar-samar terdengar bel masuk berbunyi, mereka harus segera kembali ke kelas.


"Eh, udah masuk tuh, ayo cepetan balik ke kelas," ujar Fany tergesa-gesa menuju tangga.


"Lo aja sana, gue mau di sini," balas Rangga acuh.


"Dasar berandalan, baru aja tobat udah mau bolos lagi," cibir Fany sambil terus melangkah pergi dari rooftop.


Rangga tidak membalas ucapan Fany, ia malah menyamankan diri di kursi sambil mengeluarkan bungkus rokok dan menyesapnya. Berbicara dengan Fany membuatnya terus merenung mengenai masa depannya. Rangga termasuk anak yang cerdas, sejak kecil ia senang membaca. Namun, itu semua berubah saat orang tuanya mulai mengatur kehidupan akademisnya.


Selama ini ia terus menghindar dari tuntutan orang tuanya yang ingin agar ia masuk sekolah kedokteran dengan cara berbuat kenakalan remaja. Ia ingin membuat orang tuanya tahu bahwa ia bukan anak penurut yang bisa diatur sesuka hati mereka.

__ADS_1


Namun, hari ini Rangga sadar bahwa ia tidak bisa terus menghindar dari orang tuanya. Ia tidak akan selamanya menjadi seorang remaja labil. Suatu saat, ia akan menjadi pria dewasa. Sekalipun ia tidak ingin menjadi dokter, ia tetap harus memiliki karier. Hal itu yang belum pernah dipikirkan oleh Rangga selama ini. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan.


__ADS_2