Tentang Fany

Tentang Fany
Part 31 : Skill Fany


__ADS_3

David dan Radit saat ini sedang berdiri di belakang Fany, mereka berdua hanya saling memandang bingung. Mereka saling melempar isyarat untuk memulai pembicaraan dan menenangkan Fany yang sedang merajuk. Saat ini, mereka masih berada di dalam lift yang sedang naik dari lantai bawah tanah menuju ke lantai 24.


"Emm..., Fany sayang..., anaknya ayah," panggil David.


Fany hanya melirik tanpa mau melihat ayahnya.


"Ngambeknya udahan dong, Nak. Ya?" pinta David.


Fany hanya mendengus kesal sambil bersidekap dada. Ia masih merajuk karena ayah dan kakaknya tadi secara terang-terangan melarangnya untuk sering berlatih di ruang bawah tanah.


"Dek, jangan marah dong. Kita sekarang udah jarang ketemu loh. Masa sekalinya ketemu, kamu malah gak mau ngobrol kayak gini," ucap Radit dengan hati-hati.


"Tck, salah siapa tadi, main larang-larang aku buat latihan di sana," kesal Fany.


David menghela napas lelah, "ya udah, kamu boleh deh latihan di sana."


Perkataan David membuat Fany menoleh.


"Tapi gak boleh sering-sering loh, ya. Jangan sampai ganggu kuliah kamu nanti," imbuh David.


Fany menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Gadis itu sudah tidak merajuk setelah rencananya agar David mengizinkannya untuk sering datang ke ruang bawah tanah berhasil.


Ting!


Pintu lift terbuka. Fany bisa melihat suasana di lantai 24 berbeda dengan lantai-lantai yang di bawahnya. Di lantai ini, ada ruang pribadi milik David, serta beberapa ruang bersantai untuk keluarga. Mereka bertiga pun berjalan memasuki ruangan David.


"Woah...," Fany berdecak kagum saat melihat ruangan David yang begitu luas. Di dalamnya ada berbagai perabotan mahal.


"Ruangan bos besar emang beda, ya," gumam Fany sambil melihat-lihat seisi ruangan.


David dan Radit yang melihatnya hanya tersenyum kecil.


"Di lantai ini juga ada ruangan buat tim inti cyber security Permana Group, loh," kata Radit.


Fany langsung menoleh, "oh ya? Dimana? Mau kesana dong."


Radit bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju ke sebuah pintu yang ada di sisi kiri ruangan itu. Sementara itu, David tetap duduk di sofa.

__ADS_1


"Pintu ini adalah akses ke ruang pengawasan tim cyber, cuma bisa dibuka pakai sensor wajah. Untuk sekarang, masih ada wajahku, ayah, sama bunda yang terdaftar di sini," ucap Radit.


Kemudian, ia menempatkan wajahnya di depan sensor pengenal wajah yang ada di pintu itu.


Pintu itu pun terbuka, lalu mereka berdua masuk ke sana. Fany terpana dengan apa yang ia lihat sekarang. Di ruangan itu ada beberapa kursi yang tersusun seperti di tribun. Di depan sana, ada beberapa orang yang sedang bekerja seperti hacker profesional, dilengkapi dengan berbagai teknologi canggih.


"Mereka tim hacker utama di perusahaan kita. Sama kayak pasukan khusus di markas bawah tanah, para hacker di sini bertugas untuk menyelesaikan kasus darurat," jelas Radit.


Ruang pengawas dan area tim hacker sebenarnya menjadi satu, hanya saja dipisahkan oleh tangga. Ruang pengawas dibuat lebih tinggi dari tempat bekerja para hacker.


"Monitor itu buat apa?" tanya Fany sambil menunjuk ke arah monitor besar di tempat tim hacker yang berhadapan langsung dengan ruang pengawas.


"Itu dipakai kalau lagi ada misi darurat. Kayak dulu waktu perusahaan kita menyelamatkan kasus penyanderaan keluarga perusahaan partner. Pasukan khusus dan tim hacker biasanya bekerja sama. Monitor itu dipakai untuk mengintai kondisi di lokasi lapangan, jadi kita bisa ngasih instruksi jarak jauh dari sini," jelas Radit.


Fany hanya menganggukkan kepalanya paham. Ia tidak mengira bahwa perusahaan milik ayahnya ternyata secanggih ini.


"Gue boleh ke sana gak?" tanya Fany.


"Ya boleh dong," jawab Radit.


Kemudian, mereka berdua menuruni tangga untuk pergi ke tempat tim hacker. Semua yang ada di sana langsung memberikan hormat kepada Radit.


Anggota tim hacker yang berjumlah 6 orang itu langsung memberikan hormat kepada Fany. Fany juga membungkuk sedikit sambil tersenyum.


"Halo semuanya, namaku Fany," kata Fany sambil tersenyum manis.


"Selamat datang di tim Alpha, tim hacker khusus di Permana Group," ucap seorang pria muda yang terlihat seumuran dengan Radit, "perkenalkan saya Jevo, ketua tim Alpha."


Fany hanya tersenyum, lalu kembali melihat-lihat isi tempat ini. Gadis itu sangat memahami bahwa semua teknologi yang ada di sini adalah peralatan yang sangat dibutuhkan oleh para hacker.


'Gue juga bisa kalau cuma gitu,' batin Fany saat melihat layar komputer seorang anggota tim yang sedang meretas CCTV.


"Kak Jevo," ucap seorang perempuan anggota tim yang menyita perhatian, "keamanan perusahaan Emerald tetap gak bisa ditembus."


Jevo menghampiri perempuan tersebut dan mencoba mengetikkan sesuatu pada komputernya. Fany melangkah untuk melihat pekerjaan mereka. Kemudian, dahi Fany mengernyit saat melihat apa yang dilakukan oleh mereka.


"Kalian ambil data perusahaan lain?" tanya Fany.

__ADS_1


Jevo menoleh, lalu tersenyum, "oh, ini? Kami tidak sembarangan mengambil data dari perusahaan lain, Nona Fany. Kami berusaha meretas perusahaan Emerald karena mereka sudah berkali-kali mencoba meretas perusahaan Permana. Bisa dibilang, Emerald group adalah rival utama dari Permana Group."


Fany mengangguk paham. 'Oh, serangan balik ternyata,' batinnya.


Jevo dan perempuan itu masih sibuk meretas, tapi sepertinya belum berhasil juga. Fany yang melihatnya merasa gemas.


"Aku boleh nyoba nggak?" celetuk Fany.


Semua orang menoleh ke arahnya dengan penuh tanda tanya.


"Dek, biarin mereka kerja, jangan diganggu," ucap Radit pelan.


"Gak ganggu kok, aku juga tau beberapa hal tentang hacking, kali aja bisa," ucap Fany acuh.


Radit yang tidak ingin adiknya ngambek lagi karena keinginannya tidak dituruti langsung memberi isyarat kepada Jevo dan anggota perempuan itu untuk membiarkan Fany. Kemudian, perempuan itu bangkit dari tempat duduknya dan mempersilahkan Fany.


Fany langsung duduk dan memandang komputer itu sambil menilai situasi. Lalu, tangannya mulai bergerak mengetikkan sesuatu dengan cepat. Jevo yang awalnya memandang tidak yakin kepada Fany, sekarang cukup terkejut dengan kemampuan anak perempuan bosnya itu.


"Ini kayaknya pakai sistem keamanan ganda, ya? Kodenya juga gak biasa, sedikit lebih rumit," gumam Fany.


"Emm... Nona Fany, biar kami saja yang mengerjakannya," lirih anggota perempuan tadi yang merasa bahwa Fany tidak akan bisa menembus sistem keamanan itu.


"Ssst...," Fany mengisyaratkan agar semuanya diam dan tidak mengganggunya. Pandangannya masih terfokus pada layar komputer dengan jari-jarinya yang bergerak lincah pada keyboard.


Radit hanya menghela napas lelah dan memberi isyarat kepada anggota perempuan itu untuk diam, daripada nanti kena semprot oleh Fany.


[Transfering file on process : 2%]


Semua orang melotot melihat Fany yang berhasil menembus keamanan perusahaan Emerald, di saat tim Alpha telah berusaha seharian dan masih saja gagal.


"Dek?" panggil Radit dengan ekspresi masih terkejut.


Fany menoleh ke arah kakaknya dengan senyum puas, "kenapa? Kaget?"


"Kok lo bisa nge-hack sistem mereka sih?" tanya Radit.


"Ya bisa lah, Fany gitu loh," ucap Fany dengan nada sombong.

__ADS_1


Kemudian, ia menoleh ke arah anggota perempuan tadi, "semua data perusahaan Emerald udah aku kirim ke perangkat ini. Tapi, nanti tolong diperkuat lagi sistem keamanan punya kita, ya. Soalnya buat ambil data tadi, aku sedikit lemahin sistemnya."


Perempuan itu hanya menganggukkan kepalanya dengan kaku. Setelah itu, Fany langsung bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan ruangan itu.


__ADS_2