Tentang Fany

Tentang Fany
Part 20 : Pacar Calon Suami


__ADS_3

"Ssshh... Ugh..."


Fany mendesis kecil di depan cermin kamar mandi. Tangannya sudah mulai pegal karena hampir satu jam ia membersihkan make up. Ia harus membersihkan wajah dengan pelan mengingat masih ada luka di wajahnya.


Ting!


Terdengar suara yang menandakan pesan masuk. Fany langsung melihat ponsel yang ia letakkan di sebelahnya.


Juna


/Besok pulang sekolah, aku yang jemput.


Dahi Fany mengernyit setelah membaca pesan itu.


'Pasti disuruh papanya lagi,' cibirnya dalam hati.


Ia meletakkan kembali ponselnya tanpa berniat untuk membalas pesan dari Juna. Lalu, melanjutkan untuk membersihkan wajah serta memberi obat pada lukanya.


...----------------...


Rangga dan Berly hanya menatap Fany yang sedang memakan makanannya di kantin. Gadis itu baru saja menceritakan perihal waktu pernikahannya yang bisa dibilang terlalu cepat, yaitu satu bulan setelah ujian kelulusan.


"Jadi, lo mau nikah abis ujian? Artinya lo cuma punya sisa waktu lajang kurang dari 3 bulan."


Perkataan Rangga membuatnya menoleh. Ia baru menyadari bahwa kedua sahabatnya itu hanya menatapnya sedari tadi, bahkan makanan di hadapan mereka sama sekali belum tersentuh.


"Dan lo masih bisa makan dengan santai," imbuh Berly dengan nada kesal.


Fany menghela napas panjang, "terus gue harus gimana? Mogok makan? Depresi? Sorry ya, gue bukan tipe kayak gitu."


"Minimal bantah ayah lo kek. Di mana Fany yang biasanya mencak-mencak?!" sungut Berly.


"Udah lah, santai aja. Gak bakal ada yang berubah kok. Gue masih bisa kuliah dan main sama kalian meskipun gue udah nikah nanti," kata Fany.


"Heran gue sama lo," cibir Rangga.


Fany hanya diam tidak membalas perkataan Rangga dan melanjutkan acara makannya. Ia memang tidak peduli dengan pernikahannya sendiri. Lagipula menurut Fany, pernikahan itu sangat menguntungkan bagi dirinya dan keluarganya, mengingat calon suaminya itu berasal dari keluarga konglomerat. Ia hanya perlu memanfaatkan keadaan sebaik mungkin, tanpa melibatkan perasaan.


...----------------...


Setelah jam bimbel selesai, Fany langsung pergi menuju gerbang sekolah. Matanya bisa menangkap mobil putih yang beberapa hari lalu juga menjemputnya sedang terparkir di seberang. Ia pun langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.


"Udah nunggu lama?" tanya Fany sambil memasang sabuk pengaman.


"Sangat lama, aku udah nunggu di sini setengah jam," jawab Juna.

__ADS_1


"Oh, salah lo sendiri lah. Gue udah ngasih tahu jadwal pulang gue, lo nya aja yang gak bisa ngira," balas Fany acuh.


Tak ingin beradu mulut lebih lama, Juna pun segera melajukan mobil meninggalkan area sekolah. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang berinisiatif membuka obrolan. Hingga akhirnya mobil Juna berbelok menuju ke sebuah kafe.


"Loh, ngapain kesini? Lo mau ngajak kencan ya?" tanya Fany.


"Kencan apa sih?! Ayo cepat turun, ada yang mau ketemu sama kamu."


Mereka berdua pun keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam kafe. Fany hanya diam mengikuti di belakang Juna.


'Loh, itu kan pacar kak Juna,' batin Fany saat melihat seorang wanita cantik duduk sendirian di sudut kafe, 'wah, jangan-jangan gue mau dilabrak nih.'


"Hai, Sayang," sapa Juna kepada kekasihnya.


"Oh, Hai!" balas wanita itu



Lalu, pandangannya beralih kepada Fany, "ini Fany ya? Ayo duduk dulu."


Tidak seperti dugaannya, wanita itu ternyata cukup ramah kepadanya. Fany menjadi agak insecure karena wanita di hadapannya ini memiliki paras yang cantik dan style yang elegan, memang seperti wanita kelas atas.


"Kamu mau pesan apa?" tanya wanita itu.


"Eh, gak usah, Kak. Aku udah banyak jajan di sekolah tadi," jawab Fany canggung.


"Permisi," panggilnya kepada pelayan kafe, "saya mau nambah pesanan ya, satu es americano dan satu matcha latte."


'Main pesan-pesan aja nih orang, mana gue gak suka matcha,' keluh Fany dalam hati.


Kalau sudah begini, ia tidak bisa menolak lagi.


"Eumm... Kita belum kenalan ya, namaku Aliesha," ucap kekasih Juna sambil mengulurkan tangan.


Fany menjabat uluran tangan itu sambil tersenyum, "Fany."


"Kamu sekarang udah kelas 12 ya, mau lanjut kemana?" tanya Aliesha basa-basi.


'Baru mulai udah bikin badmood aja,' batin Fany.


Ayolah, tidak ada siswa kelas 12 SMA yang tidak sensitif dengan pertanyaan seperti itu.


"Mau ke Universitas Garuda Emas sih, kak," jawab Fany.


"Wah, kampus elit loh itu, kenapa harus di sana?"

__ADS_1


Fany mengernyitkan dahi, "kenapa enggak? Emang dari dulu pengen ke sana."


Jawaban Fany membuat Aliesha terdiam sebentar. Wanita itu bisa menangkap nada bicara Fany yang terdengar tidak nyaman.


"Bukan apa-apa sih, Fany. Kakak kan cuma tanya aja. Lagian susah banget kalau mau masuk kampus itu," kata Aliesha.


"Oh, kakak dulu gak diterima di sana ya."


Tepat sasaran. Fany tertawa dalam hati saat melihat raut wajah tersinggung Aliesha. Sedetik kemudian, wanita itu mencoba tersenyum kembali.


"Hehe... Mungkin emang kakak dulu belum beruntung. Tapi ada untungnya juga sih kakak gak diterima di sana, jadi kakak bisa fokus sekolah model dan sukses jadi supermodel sekarang," balas Aliesha dengan nada sombong.


Fany hanya manggut-manggut.


'Pantes orang tua Kak Juna gak suka sama cewek ini, sombongnya gak kira-kira, cuma ketutup aja sama muka cantiknya,' cibir Fany dalam hati.


"Eh, pesanannya udah datang," ucap Juna mencoba menengahi pembicaraan.


Fany menerima matcha latte itu dan meminumnya sedikit. Ugh... Ia benar-benar tidak suka rasa matcha.


"Eumm... Fany," panggil Aliesha.


Fany hanya menoleh menunggu wanita itu melanjutkan ucapannya, "tentang perjodohan kamu sama Juna..."


"... Bisa gak kamu batalin?"


Fany terdiam sambil melirik ke arah Juna yang duduk di sebelah Aliesha. Sedangkan pria itu juga menatap ke arahnya seolah meminta persetujuan darinya.


Fany tertawa kecil, "aku sih terserah Kak Juna aja ya, kalau dia mau batalin ya silahkan. Biar dia yang ngomong langsung ke orang tuaku, aku gak bakal nyegah."


"Tapi, Juna gak bisa ngelakuin itu, Fany. Kamu tahu sendiri kan ancaman papa Alex kalau sampai Juna batalin perjodohan kalian," sahut Aliesha, "kalau kamu yang ngomong sama orang tua kamu, pasti akan lebih mudah."


"Cih, gue kira kita udah beres ngomongin masalah ini," Fany berbicara sambil menatap tajam Juna, "jangan seenaknya nyuruh gue dong. Lo yang butuh, ya lo yang harus bertindak, gimana sih?!"


"Fany, kamu itu kenapa keras kepala banget sih?" kata Aliesha, nada bicaranya santai tapi sangat menuntut, "kamu itu masih kecil. Orang tua kamu pasti bisa maklum kalau kamu yang batalin. Kenapa kamu gak bisa paham sih?"


Alis Fany menukik tajam, "kalian apa-apaan sih?! Kalau kalian emang gak mau putus, ya usaha dong! Katanya berjuang demi cinta, giliran diancam cabut aset aja udah ciut. Udah dewasa kalian tuh, gak malu apa sama anak kecil?!" sungut Fany.


Juna dan Aliesha tidak bisa membalas ucapan pedas Fany lagi. Suasana berubah menjadi suram karena mereka sama-sama marah sekarang. Akhirnya, mereka pulang dengan Juna yang mengantar Aliesha dan Fany yang dijemput oleh sopir. Sebenarnya Juna sudah meminta Fany untuk ikut di mobilnya, tetapi Fany sudah terlanjur muak dan tidak ingin semobil dengan mereka.


...----------------...


Tolong ya teman-teman pembacaku yang baik hati


Tinggalin jejak kalian dong

__ADS_1


Aku sedih banget kalau gak ada yang like dan komen (╥﹏╥)


Tolong kasih komentar yaaa, kalau mau ngasih saran dan kritik juga boleh kok ♥♥


__ADS_2