
Pagi ini, Juna dan Fany sarapan bersama. Meskipun begitu, suasana di antara mereka masih canggung akibat perdebatan kemarin. Mereka makan dalam diam, tidak ada pembicaraan sama sekali.
Setelah selesai makan, Fany berniat untuk membawa piring-piring kotor untuk dicuci. Tetapi tiba-tiba saja, Juna langsung membawa semua piring kotor dan mencucinya sendiri.
Fany hanya diam dan memandangi punggung Juna yang sedang mencuci piring. Ia bingung atas perlakuan suaminya itu yang tiba-tiba mau membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangganya.
"Ekhmm..., makasih loh udah dibantu," kata Fany memulai pembicaraan.
Juna melirik sebentar, "sama-sama. Makasih juga udah masakin sarapan."
Fany mengulum senyumnya. Pipinya bersemu saat Juna mengatakan 'terima kasih' hanya untuk memasak makanan yang menurutnya sudah menjadi kewajiban seorang ibu rumah tangga.
'Suami gue gak buruk juga ternyata,' batin Fany.
Juna yang sudah selesai mencuci piring, kemudian berbalik dan menemukan Fany masih berdiri di tempat yang sama. Gadis itu terlihat memikirkan sesuatu sambil senyum-senyum sendiri.
"Kenapa?" tanya Juna.
"Hah?" Fany tersadar dari pikirannya, "kenapa apanya?"
"Kok diem aja?" kata Juna.
Fany menggeleng sambil tersenyum canggung, "eh, nggak apa-apa kok."
"Hari ini kamu mau pergi kemana?" tanya Juna.
Dahi Fany mengernyit bingung, "hah? Nggak kemana-mana. Kenapa emang?"
"Aku mau ngajak kamu ke mall buat nemenin beli baju," ajak Juna.
Fany terlihat berpikir sebentar, "emm... Boleh."
"Ya udah, siap-siap sekarang, abis ini kita langsung berangkat," kata Juna.
Fany hanya mengangguk, lalu berlari menuju kamarnya untuk bersiap. Entah mengapa gadis itu tidak bisa berhenti tersenyum. Ia menganggap bahwa ini adalah kencan pertama mereka.
...----------------...
Fany dan Juna sudah berada di mall, lebih tepatnya di sebuah toko yang menjual pakaian formal. Juna ingin membeli setelan jas untuk dipakai ke kantor.
Juna sedang memilih-milih setelan yang diletakkan di display dibantu oleh staff toko. Sedangkan, Fany hanya mengekorinya dari belakang.
Staff itu menunjukkan setelan berwarna navy, "sepertinya ini sangat cocok untuk anda, Tuan."
Juna mengangguk setuju, "tolong bawakan yang ini sama dua setelan yang lain dengan bahan sama, warna hitam dan abu-abu. Saya mau mencobanya dulu."
Kemudian, mereka pergi menuju fitting room. Fany duduk di sofa, sementara Juna sedang mencoba pakaian. Gadis itu mengambil katalog yang ada di meja, lalu melihat-lihat isinya.
"Uh... Ganteng banget pria tadi."
"Iya, dia itu pewaris tunggal Bagaskara group."
Mendengar marga suaminya disebut, membuat Fany langsung melihat asal suara. Ternyata ada 2 orang staff perempuan yang sedang berbisik-bisik di dekatnya.
"Astaga, pengen banget jadi istrinya, bisa kaya tujuh turunan gue," kata staff itu.
'Apa-apaan anjir?! Mereka gak lihat gue di sini apa gimana? Gak tau apa mereka, kalau Juna udah nikah sama gue?' cibir Fany dalam hati.
__ADS_1
"Jangan mimpi lo, pacarnya aja supermodel," balas teman staff itu.
'Cih, beneran gak tau ternyata kalau Juna udah nikah.'
"Cuma pacar, kan? Belum jadi istri. Gue pelet aja ntar biar nikahnya sama gue," kata staff itu.
Fany meletakkan katalog itu dengan kasar ke meja membuat 2 staff itu menoleh ke arahnya. Namun, pandangan mereka seketika tertuju kepada Juna yang keluar dari fitting room mengenakan setelan berwarna navy.
"Menurut kamu yang ini bagus gak?" tanya Juna kepada Fany.
"Bagus kok," ucap Fany dengan senyum manisnya, "jadi tambah ganteng, hehe."
Juna bingung dengan sikap Fany yang seperti itu, tumben sekali istrinya ini memujinya. Lalu, ia pun masuk ke dalam fitting room lagi untuk mencoba setelan yang lain.
Fany melirik ke arah 2 staff tadi dan tersenyum puas melihat mereka kebingungan.
"Siapa tuh cewek?" bisik staff yang satunya.
"Gak tau, paling juga jalangnya, orang kaya kan emang suka main perempuan," cibir staff yang ingin menikahi Juna tadi.
Fany sangat marah saat staff itu mengatainya '******'. Hampir saja dia melabrak staff itu, tapi tiba-tiba Juna sudah keluar dari fitting room memakai setelan berwarna hitam.
"Kalau yang ini gimana?" tanya Juna kepada Fany.
Fany menjawab dengan nada kesal, "bagus!"
Juna kembali bingung dengan perubahan sikap Fany. Tadi gadis itu masih bersikap manis, tetapi sekarang sudah terlihat emosi.
'Dia gak bipolar, kan?' batin Juna.
"Beli aja yang ini cepetan, gue gak mau lama-lama di sini," ketus Fany.
Fany melirik tajam 2 staff itu yang hanya terdiam melihat drama di depan mereka, lalu pandangannya terarah menuju staff perempuan yang sedari tadi membantu Juna memilih pakaian.
"Kak, suami saya jadi ambil yang warna hitam, ya" kata Fany dengan menekankan kata 'suami' agar 2 staff yang menghinanya tadi mendengar.
Juna dan staff di belakangnya hanya saling berpandangan karena bingung. Staff itu juga merasa canggung karena Fany yang tiba-tiba terlihat emosi.
"Ehm... Saya ambil yang ini sama yang navy ya, kak," kata Juna.
"B-baik, Tuan."
Setelah membayar belanjaan, Fany langsung berjalan mendahului Juna dengan wajah yang masih terlihat kesal.
Grepp
Juna mencekal tangan Fany membuat gadis itu menoleh ke arahnya.
"Kamu kenapa, sih?" tanya Juna, "gak enak tau sama orang-orang di toko tadi."
Fany menghempas tangan Juna, "lo lebih mikirin perasaan orang-orang tadi? Lo gak mikirin perasaan gue, ya?"
Juna mendengus kesal, "ya udah, kamu bilang dong, ada apa sih?"
Fany hanya diam sambil menundukkan kepala. Jujur saja perkataan staff tadi membuatnya sakit hati.
Juna mengulurkan tangan untuk mengangkat dagu Fany agar menatap matanya.
__ADS_1
"Kamu kenapa?"
"Tadi staff di sana ngatain gue '******' lo," cicit Fany.
Juna terkejut mendengarnya, "******? Mereka bilang gitu sama kamu?! Wah, gak bisa dibiarin."
Juna sudah ingin kembali ke toko tadi, tapi langsung dicegah oleh Fany.
"Udah, gak usah diperpanjang," pinta Fany.
"Tapi mereka udah gak sopan sama kamu!" seru Juna.
"Udah deh, gak usah," ucap Fany dengan tatapan memelas, "gue gak mau dicap buruk sebagai tukang ngadu."
Juna menghela napas panjang, "ya udah. Hmm.. Kita makan es krim aja gimana?"
Fany mengangguk pelan sambil tersenyum. Kemudian, mereka berdua pergi ke kedai es krim.
"Kamu mau yang rasa apa?" tanya Juna.
"Eum..., aku mau yang..." Fany melihat-lihat papan menu, "coklat!!"
Juna tersenyum kecil melihat Fany yang kembali ceria, "Kak, pesan es krim coklat 1 sama vanila 1, ya."
Setelah itu, mereka berdua jalan-jalan mengitari mall sambil memakan es krim masing-masing.
"Emm... Fany," panggil Juna.
Fany yang masih memakan es krimnya langsung menoleh ke arah Juna. Pria itu tertawa pelan saat melihat ada es krim di sudut bibir Fany.
"Haha... Kamu kalau makan es krim kayak anak kecil aja."
Sedetik kemudian, jantung Fany dibuat berdegup kencang saat Juna mengusap sisa es krim yang ada di bibirnya. Juna yang akan melangkahkan kakinya, mengernyit melihat Fany yang masih diam membatu.
"Hei," panggil Juna, tetapi gadis itu masih terdiam, "Fany!"
Fany pun tersentak, "eh?"
Juna tersenyum kecil, "ayo lanjut jalan."
Fany pun hanya mengangguk, lalu mereka berdua kembali berjalan. Tanpa Juna ketahui, jantung Fany masih berdetak tidak beraturan.
"Oh iya," kata Juna membuat Fany menoleh ke arah suaminya itu, "aku mau minta maaf sama kamu tentang yang kemarin."
Fany tersenyum, "udah gak apa-apa, gue juga salah kok."
Juna menghentikan langkahnya, membuat langkah kaki Fany ikut berhenti. Mereka berdua saling bertatapan.
"Aku beneran minta maaf atas perlakuan aku ke kamu. Gak seharusnya aku bentak kamu kayak kemarin. Aku seharusnya membimbing kamu dan menjaga kamu," jelas Juna.
Perkataan Juna yang lembut dan tulus seperti ini sungguh tidak aman untuk jantung Fany.
Fany tersenyum manis sebelum membalas perkataan Juna, "gak apa-apa kok, Kak. Gue juga minta maaf karena udah bentak balik ke lo."
Juna tersenyum mendengar perkataan Fany, "mulai sekarang gue akan lebih perhatian sama lo. Gue bakal anggap lo kayak adik gue sendiri."
Oh tidak! Senyum Fany seketika memudar.
__ADS_1
'Adik, ya?' batin Fany miris.
Hari ini, Fany menyadari bahwa ia telah jatuh hati kepada Juna, entah sejak kapan. Juna adalah orang pertama yang bisa membuat jantung Fany berdetak tak karuan karena perasaan cinta. Namun, dalam waktu yang sama, ia juga merasakan patah hati saat Juna hanya menganggapnya sebagai seorang adik.