Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Penawaran Raka


__ADS_3

***


"Mas, maaf yah menunggu lama." ucapku.


Kulihat Nana terkejut melihatku, matanya mendelik kesal seakan ingin menerkamku.


" Iya nggak papa, ayo Mas antar pulang." ajak Raka sambil berdiri menggandeng tanganku.


"Mbak Nana, aku pulang duluan yah," ucapku namun tidak dia jawab.


Akupun langsung bergegas masuk kedalam mobil Raka.


" Tadi tuh siapa?" tanya Raka.


" Yang mana?" Aku berbalik nanya.


" Itu tadi cewek yg deketin mas,"


"Oh itu mbak Nana, emang kenapa mas?''


" Nggak papa, cuma agak risih aja dengan sikapnya." ucapnya.


Sepertinya Raka tak suka dengan sikap genitnya Nana, terlihat jelas dari raut wajahnya yang masam sejak Nana mendekatinya.


Yah, sepertinya Raka tipe lelaki yang tak mudah tergoda.


***


Tak lama kemudian, Raka berhenti depan sebuah kafe.


"Mampir dulu yuk, ngopi sambil ngobrol-ngobrol santai," ucapnya.


" Ok, tapi jangan lama-lama yah saya takut ibu khawatir." ucapku.

__ADS_1


Kamipun bergegas turun memasuki kafe, lalu memesan secangkir minuman.


"Haus mbak," tanya Raka meledek.


"Iya lah haus masa laper, kalau laper makan bukan minum." jawabku ketus.


Namun Raka malah tertawa mendengar jawabanku.


"Oya, kenapa kamu gak kuliah saja?" ucapnya.


"Mau kuliah gimana Mas, bapak kerja hanya buruh biasa, kadang kerja kadang nggak, bahkan kebanyakan nggak nya." ucapku.


Bukan aku tak mau, memang keadaan yang tidak memungkinkan. Aku sadar diri, siapa aku, bisa bersekolah sampai SMK aja udah luar biasa.


"Apa kamu sama sekali nggak mau untuk kuliah?" ucapnya.


"Mau lah mas, tapi keadaan yg tak memungkinkan." ucapku.


Bukan tak ada kesempatan sebetulnya, dulu aku sempat lulus beasiswa di sebuah Fakultas di luar negeri. Namu, Ibu tak mengijinkanku, dengan alasan tak tega jika aku hidup sendiri disana.


"Gimana kalau Mas yang membiayai kuliahmu," ucapnya.


Akupun tersedak mendengar tawaran Raka.


"Uhuk... Nggak usah mas. Lagian saya juga masih terikat kontrak kerja, bisa berabe urusannya." ucapku.


"Berabe gimana?" tanya nya.


"Udah lah Mas nggak usah dibahas." jawabku.


Sebenarnya aku senang dengan tawaran Raka, namun masa iya harus langsung menerima saja.


"Maria, saya nggak tega melihatmu kerja di tempat itu," ucapnya.

__ADS_1


"Nggak tega kenapa? Saya senang kok dengan kerjaan sekarang." ucapku.


"Mas ingin kamu dapat kerjaan yang lebih baik, jadi tolong kamu jangan menolak yah,"


Aku masih terdiam membisu, sambil mengaduk-aduk minuman yang sedang ku nikmati.


"Tapi Mas, jika saya keluar sebelum habis kontrak, saya akan didenda." ucapku tegas.


"Mas yang akan membayar dendanya."


"Tapi Mas...," rengekku.


Sepertinya Raka keberatan dengan penolakanku, dia pun tak menggubris apapun yang keluar dari mulutku.


Tak lama kemudian, Raka memanggil seorang pelayan.


"Tolong buatkan 2 minuman yang tadi saya pesan, juga 2 burger yah," ucapnya.


"Baik Pak, mohon ditunggu." ucap pelayan.


Kulihat Raka sibuk memainkan ponselnya, entah apa yang sedang dia lakukan dengan ponsel pintarnya itu.


Tak lama kemudian pesanan pun sudah siap, Raka pun segera membayar semuanya.


Raka pun mengajakku keluar,alu mengantarkanku pulang.


"Mas gak mampir dulu?" tanyaku basa-basi.


"Nggak, Mas mau istirahat. Nanti malam Mas harus kerja. Oya, ini bawa untuk Ibu dan ade. Sampaikan salam Mas ke ibu yah." ucapnya sambil menyodorkan bungkusan yang baru ia beli dari kafe.


Aku hanya mengangguk dan tersenyum, setelah itu Raka pun bergegas memutarkan kendaraannya lalu pergi.


Raka sepertinya benar-benar kecewa dengan penolakanku, sikapnya berubah dingin setelah membahas masalah kuliah tadi.

__ADS_1


__ADS_2