Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Siapa dia?


__ADS_3

"Bibi jangan keluar ya Bi, tetap didalam. Saya akan segera pulang," panggilan ku akhiri.


Yah, aku sebaiknya segera pulang, aku khawatir dengan keadaan Bibi.


Akupun segera menghampiri Pak Dewa, untuk meminta ijin.


"Maaf Pak, saya harus segera pulang sekarang." Ucapku cemas.


"Ada apa?"


"Entah Pak, tapi Bi Siti baru saja menelponku. Katanya ada seorang wanita marah-marah dan mencoret-coret dinding rumah Pak, saya khawatir dengan keadaan Bibi."


"Apa?" Pak Dewa terkejut.


"Saya permisi Pak," aku langsung bergegas mengambil tasku, lalu berjalan keluar.


Namun ketika beberapa langkah berjalan, Pak Dewa mengikutiku.


"Bapak mau kemana?" Langkahku terhenti.


"Kerumahmu,"


Aku terdiam berpikir sejenak, untuk apa Pak Dewa ikut bersamaku.


"Ya sudah, kenapa melamun. Kita harus segera ke rumahmu."


Kami pun berjalan beriringan, lalu sesampainya didepan kantor, kami langsung menaiki mobil Pak Dewa menuju rumahku, tapi lebih tepatnya rumah dinasku.


Beberapa menit kemudian kami pun sampai, kulihat didepan rumah sudah banyak orang berkumpul, seperti sedang menyaksikan konser artis terkenal. Rumah dinasku sudah berantakan, pecahan kaca berserakan dimana-mana, dinding pun sudah penuh dengan coretan bertuliskan "Rumah Pelakor".


Kamipun segera turun, lalu menghampiri wanitu itu.


"Raisya!" Teriak Pak Dewa, lalu berlari menghampirinya.


"Apa-apaan kamu ini Raisya!"


"Akhirnya si Pelakor datang juga," ucap Mbak Raisya sambil mendelikkan matanya yang sudah dikuasai amarah saat melihat kedatanganku.


Namun seketika Mbak Raisya langsung menyerangku, menarik hijabku dengan sekuat tenaganya.

__ADS_1


"Awwww...!" Teriakku kesakitan.


"Sebaiknya kau lepas hijabmu, pelakor." Hardiknya.


Aku pun melawan dengan sekuat tenaga pula, ku tarik dan kuhempaskan tangannya dari hijabku.


"Jangan pernah kau mencoba melepas hijabku, Mbak Raisya yang terhormat. Kamu tak berhak untuk itu." Ucapku dengan emosi.


"Cuih! Wanita sok suci, hijab itu tak pantas kau pakai pelakor."


Plakkkk,,,,


Kutampar wajah mulusnya itu, aku sudah tak tahan mendengar caciannya yang membahas hijabku.


"Waw, rupanya sekarang kamu sudah berani dengan saya, sampai lancang menampar istri dari Bos mu sendiri," ucapnya lalu berusaha untuk menamparku balik, namun aku pun langsung menahannya.


"Saya tidak takut dengan siapapun, jika sudah menyangkut harga diri dan agamaku. Apalagi hanya menghadapi seorang Raisya Atmadja," ucapku sambil menghempaskan tangannya.


"Raisya, hentikan ulahmu itu. Maria tak seperti yang kau tuduhkan," ucap Pak Dewa.


"Omong kosong, kalau kamu tidak punya hubungan dengannya, kenapa kamu harus menceraikanku?"


Aku muak melihat pertengkaran mereka, aku bosan selalu dituduh Mbak Raisya yang tidak-tidak. Bahkan aku dipermalukan olehnya didepan banyak orang, sungguh miris nasibku ini.


"Pak Dewa, tolong bawa calon mantan istri Bapak ini, sebelum membuat kekacauan lagi." Ucapku kesal.


"Kurang ajar kamu pelakor ******!" Hardik Mbak Raisya kembali.


"Cukup, hentikan cacianmu itu Raisya, atau saya laporkan kamu ke polisi. Sekarang ikut saya," ucap Pak Dewa sambil menarik tangan Mbak Raisya lalu membawanya masuk kedalam mobilnya.


Pak Dewa akhirnya membawa Mbak Raisya pergi, lalu aku pun segera berlari masuk kedalam rumah untuk memastikan keadaan Bi Siti.


"Bi, Bibi nggak papa?" Tanyaku sambil memeluknya yang tengah berdiri di dapur dengan wajah ketakutan.


"Nggak papa Neng," jawabnya.


"Syukurlah kalau Bibi nggak papa." Ucapku lega.


Setelah itu aku dan Bi Siti membersihkan pecahan-pecahan kaca yang berserakan dilantai, menyapunya dengan hati-hati agar tak terinjak.

__ADS_1


Tak terasa langit mulai gelap, aku pun bergegas masuk untuk membersihkan diri. Setelah itu aku menemui Bibi yang masih sibuk membersihkan rumah.


"Bi, malam ini kita menginap dihotel ya,"


"Kenapa Neng?"


"Saya ngerasa nggak tenang aja kalau keadaan rumah masih berantakan begini, apalagi jendela hampir semuanya rusak. Sementara kita tinggal di hotel dulu, sampai rumah ini sudah diperbaiki."


"Iya Neng, kalau gitu Bibi berkemas dulu ya,"


"Iya Bi."


Akupun berjalan menuju kamar, lalu mengambil beberapa pakaian lalu kumasukan kedalam koper. Setelah selesai akupun menyered koperku keluar, lalu memasukannya kedalam bagasi mobil. Tak lama kemudian Bi Siti pun keluar dengan membawa tas berisi pakaiannnya, lalu mengunci pintu rumah.


"Neng bawa mobil sendiri?" Tanya Bi Siti.


"Iya Bi, kenapa?"


"Kenapa nggak minta tolong Pak Mansur saja Neng?"


"Nggak papa Bi, lagian kalau minta tolong Pak Mansur mobil saya siapa yang bawa?"


"Iya juga ya Neng,"


"Ya sudah Bi, masuk."


Aku dan Bi Siti masuk kedalam mobil, lalu pergi menuju hotel yang tak jauh dari kantorku.


Sesampainya dihotel, aku langsung memesan kamar untuk beberapa hari ke depan. Kunci hotel sudah kudapatkan, aku dan Bi Siti langsung berjalan menuju kamar hotel yang sudah ku pesan.


Namun saat ku jalan disebuah lorong hotel, aku merasa ada seseorang yang mengikutiku. Aku pun menghentikan langkahku, lalu menoleh ke belakang, namun anehnya tak ada satu orang pun yang kulihat.


Apa hanya halusinasiku saja? Secara hari ini banyak sekali kejadian yang sangat tidak menyenangkan.


"Ada apa Neng?" Tanya Bi Siti terheran melihatku.


"Nggak papa Bi,"


Akupun melanjutkan langkah kakiku menuju kamar hotel, sesampainya dikamar, akupun langsung merebahkan tubuhku yang teramat lelah. Tapi aku masih kepikiran seseorang yang mengikutiku tadi, rasanya seperti nyata tapi aku tak melihatnya.

__ADS_1


Siapa dia?


__ADS_2