Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Dipaksa menikah dengan Raka


__ADS_3

***


Saat sampai didepan rumah, Maria terkejut, karena anak buah Dewa sedang berkelahi dengan beberapa orang yang tidak dia kenali. Tiba-tiba seseorang memanggil namanya dari arah belakang, Mariapun langsung menoleh.


"Hai sayang, apa kabar?" Sapa Raka.


"Raka! Ngapain kamu disini. Pergi sekarang juga atau saya laporkan kamu kepolisi." Ancam Maria.


"Silahkan! Kalau kamu sudah tidak ingin melihat mereka lagi." Ucap Raka.


Maria sangat terkejut, karena ternyata kedua orangtuanya dan Bi Siti sudah terikat.


"Raka, kamu apa-apaan. Lepasin mereka." Teriak Maria.


"Saya akan melepaskan mereka, asal kamu mau menikah dengan saya sekarang juga." Ucap Raka, sambil berjalan mengelilingi Maria.


Maria terdiam sambil berpikir apa yang harus dilakukannya. Maria tidak ingin menikah dengan Raka, tapi dia juga tidak ingin terjadi sesuatu dengan orangtua dan Bi Siti.


"Bagaimana?" Tanya Raka.


"Tolong lepaskan mereka, Raka." Ucap Maria tertekan.


Kedua orangtua dan Bi Siti menggelengkan kepalanya, memberi isyarat kalau mereka tidak menyetujui keputusan Maria.


"Ok, akan saya lepaskan setelah kita sudah syah." Ucap Raka.


"Saya minta kamu lepaskan mereka sekarang, Raka. Saya mohon," ucap Maria lalu berlutut dikaki Raka sambil menangis.


"Saya tidak sebodoh itu Maria."


Namun Raka tidak tersentuh hatinya, Raka malah mengikat Maria dan memerintahkan teman-temannya untuk membawanya kedalam mobil yang sudah Raka persiapkan.


Raka sudah berubah menjadi lelaki yang sangat jahat karena ambisinya pada Maria. Dengan bantuan teman-temannya, Raka berhasil membawa Maria ketempat tersembunyi. Tempat terpencil yang sangat jauh dari permukiman warga.


Setelah sampai teman-teman Raka melepaskan ikatannya, lalu dibawa ke sebuah ruangan.


"Teh, Ibu nggak mau teteh menikah dengan Raka." Ucap Ibunya Maria sambil memeluknya.


"Tapi kita nggak punya pilihan lain Bu, Teteh nggak mau kehilangan Ibu, Bapak, sama Bi siti juga." Ucap Maria.


"Coba Teh kamu hubungi Pak Dewa sekarang, ini pakai ponsel Bapak." Ucap Bapak berbisik.


"Iya Pak, Teteh akan coba." Ucap Maria.


Maria segera mengambil ponsel Bapaknya itu dengan sembunyi-sembunyi.


"Mas, saya mau ke toilet dulu sebentar." Ucap Maria kepada salah satu teman Raka yang menjaganya.


"Ayo saya antarkan."


"Nggak usah Mas, tunjukan saja toiletnya dimana."


Teman Raka pun menunjukan letak toilet yang Maria minta.


Setelah masuk kedalam tolilet dan memastikan keadaan aman, Maria segera mencari kontak Pak Dewa di ponsel Bapaknya.


Yah, waktu itu Bapaknya Maria meminta nomor ponsel hanya untuk jaga-jaga saja dan belum pernah sekalipun menghubungi.


Tutttt! suara sambungan telepon terdengar ditelinga Maria. Namun Dewa tidak menjawab panggilan Maria, Maria terus mencoba lagi. Sampai panggilan kelima, Dewa akhirnya menjawab panggilan Maria.


"Halo Pak," ucap Mari berbisik.


"Halo," ucap Dewa.


"Pak, ini saya Maria. Tolong kami Pak!"


"Maria kamu dimana?" Tanya Dewa cemas.


"Saya nggak tahu Pak, yang pasti tempatnya jauh dari pemukiman dan terpencil."


"Kirim lokasi kamu."


"Cepat kesini ya Pak, saya takut karena Raka memaksa untuk menikah dengannya."


"Saya akan berusaha secepatnya datang."


Setelah panggilan berakhir, Maria mengirimkan lokasinya kepada Dewa. Setelah itu, Mariapun keluar dengan rasa cemas.

__ADS_1


Cklek!


Maria membuka pintu toilet, lalu bergegas kembali ke ruangan tempatnya disekap.


"Bagaimana Teh, kamu udah menghubungi Pak Dewa?" Tanya Bapak berbisik.


"Udah Pak, kita berdo'a saja semoga Pak Dewa datang tepat waktu." Jawab Maria penuh harap.


"Aamiin."


Satu jam kemudian Raka masuk, dengan raut bahagia.


"Sayang, nanti malam kita menikah." Ucap Raka.


Namun Maria hanya terdiam tidak menanggapinya, Maria terus memegang erat kedua tangan orangtuanya untuk saling menguatkan.


"Bapak, Ibu, Raka minta maaf. Raka tidak bermaksud menyakiti kalian, Raka hanya ingin menikah dengan Maria." Ucap Raka tertunduk.


Kedua orangtua Mariapun tidak menanggapi permohonan maaf Raka.


***


Malampun tiba, Maria sudah didandani layaknya seorang pengantin. Namun air mata terus mengalir diwajahnya, dulu memang Maria berharap bisa menikah dengan Raka. Tapi, setelah pengkhianatan yang Raka lakukan, Maria mengubur semua impiannya itu.


Pernikahan akan segera dimulai, tapi tanda-tanda kedatangan Dewa belum ada. Rasa cemas menerpa pikirannya, apa yang harus Maria lakukan untuk terbebas dari pernikahannya dengan Raka.


Pun dengan kedua orangtua Maria, tertunduk lesu tidak berdaya. Mereka pasrahkan semuanya kepada sang kuasa, dan hanya berharap pertolongan itu ada.


Satu persatu orang mulai berdatangan untuk menjadi saksi pernikahan Maria dengan Raka, begitupun dengan Pak Penghulu yang sudah datang dan siap untuk menikahkan Maria dan Raka.


Tidak lama kemudian, seseorang menjemput Maria dari kamar, lalu membawanya ketempat prosesi ijab qobul. Namun tidak dengan kedua orantua dan Bi Siti, mereka masih disekap di sebuah ruangan paling belakang.


"Gimana, apa kalian sudah siap?" Tanya Pak Penghulu.


"Sudah siap Pak." Jawab Raka


Kalau begitu kita mulai acaranya." Ucap Pak Penghulu.


Pak Penghulu langsung menjabat tangan Raka, namun air mata Maria mengalir deras diwajahnya.


"Tetap lanjutkan Pak, dia hanya orang asing." Ucap Raka.


Namun Dewa langsung menghampiri, lalu menghajar Raka secara membabi buta. Diluar rumah pun terdengar jelas, beberapa orang sedang terlibat perkelahian.


Semua orang yang hadir berlarian pergi, begitupun Pak Penghulu. Maria segera berlari keruang belakang untuk membebaskan kedua orangtuanya beserta Bi Siti.


Beruntung, pintu kamar tidak terkunci karena orang yang bertugas menjaga sepertinya keluar untuk membantu temannya. Dengan cepat Maria melepaskan ikatan yang melilit ditubuh orang-orang yang dia sayangi.


"Ayo cepat kita harus keluar." Ajak Maria.


Maria, Bi Siti, dan kedua orangtuanya segera berlari keluar. Saat sampai ruang depan, Maria melihat Raka sudah terkapar tidak berdaya dan Dewa yang masih diselimuti amarah.


"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Dewa.


"Kami semua baik-baik saja Pak." Ucap Maria.


"Cepat kita harus keluar dari sini, sebelum Raka sadarkan diri. Saya pun sudah menghubungi pihak kepolisian, sebentar lagi mereka akan sampai." Ucap Dewa.


Mereka pun segera keluar, lalu menuju mobil Dewa.


"Kalian jaga mereka sampai Polisi datang meringkusnya," ucap Dewa kepada anak buahnya saat hendak masuk kedalam mobil.


"Baik Pak." Ucap anak buahnya.


Dewa pun langsung masuk, lalu melajukan mobilnya membawa Maria, kedua orangtuanya, dan Bi Siti kerumahnya.


"Terimakasih Pak, sudah menyelamatkan kami " ucap Maria saat perjalanan.


"Iya sama-sama. Tapi untuk sementara, kalian tinggal dulu dirumah saya." Ucap Dewa.


"Tapi, saya nggak enak dengan orangtua Pak Dewa." Ucap Maria.


"Tenang saja, Mami dan Papi sudah setuju."


Yah, saat perjalanan hendak menyelamatkan Maria, Bu Dewi menghubungi Dewa.


"Dewa, bagaimana dengan Maria, apa kamu sudah berhasil menemukannya?" Tanya Bu Dewi.

__ADS_1


"Sudah Mi, tadi Maria menghubungi Dewa dan mengirimkan lokasinya saat ini." Jawab Dewa sambil melajukan kendaraannya.


"Alhamdulillah. Kalau Maria sudah ketemu, kamu bawa kerumah saja yah, biar lebih aman."


"Iya Mi, sepertinya tempat yang aman untuk saat ini dirumah kita."


"Ya sudah kamu hati-hati, bawa anak buah kamu sebanyak mungkin dan hubungi pihak kepolisian."


"Iya Mi."


***


Satu jam kemudian, akhirnya mereka pun sampai dikediaman Dewa. Kedua orangtua Maria merasa takjub melihat rumah mewah dan megah seperti istana, matanya terus tertuju pada bangunan dihadapannya.


"Ya Ampun Pak Dewa, ini rumah atau istana? Sebagus ini, subhanallah." Ucap Ibunya Maria.


"Duh si Ibu, wajar dong Pak Dewa rumahnya sebagus ini. Diakan bos," ucap Bapaknya Maria.


Dewapun hanya tersenyum mendengar ucapan kedua orangtua Maria.


"Maaf ya Pak!" Ucap Maria.


"Nggak apa-apa. Ayo masuk!" Ucap Dewa.


Tok, tok, tok, Dewa mengetuk pintu rumahnya. Tak lama kemudian, Bu Dewi membukakan pintunya.


"Assalamualaikum Mi," ucap Dewa.


"Wa'alaikumsalam." Ucap Bu Dewi.


Pandangan Bu Dewi tertuju pada Maria yang sedang berdiri dihadapannya.


"Maria, kamu nggak apa-apa?" Tanya Bu Dewi sambil memeluk Maria.


"Nggak apa-apa Tan, alhamdulillah." Jawab Maria.


"Ini siapa?" Tanya Bu Dewi saat melihat Bi Siti dan kedua orangtuanya Maria.


"Ini kedua orangtuanya Maria Mi, dan ini Bi Siti Asisten Rumah Tangga Maria." Ucap Dewa memperkenalkan.


Bu Dewi pun menyalami mereka satu persatu.


"Oh iya, silahkan masuk." Ajak Bu Dewi.


Mereka semua akhirnya masuk lalu duduk di ruang tamu. Setelah duduk, Bu Dewi memanggil pembantunya untuk menghidangkan minuman dan makanan ringan untuk suguhan.


"Kalian sementara tinggal disini dulu yah, sampai situasinya aman." Ucap Bu Dewi.


"Iya Bu, terimakasih. Maaf kami merepotkan," ucap Ibunya Maria.


"Nggak sama sekali Bu, saya senang bisa membantu kalian. Apalagi Maria, saya sudah menganggapnya seperti anak saya sendiri." Ucap Bu Dewi.


"Terimakasih banyak Bu, sudah menjaga anak kami selama disini." Ucap Bapaknya Maria.


"Iya Pak, saya pun sangat bersyukur bisa kenal dengan Maria."


Tak lama kemudian pembantu Bu Dewi datang dengan membawa nampan yang berisi makanan dan minuman, lalu dihidangkannya dimeja.


"Silahkan diminum dan dimakan." Ucap Bu Dewi.


"Iya Bu, terimakasih." Ucap Ibunya Maria.


Merekapun langsung menyantap hidangan yang telah disediakan, Bu Dewi hanya menatapnya dengan senyuman.


Setelah selesai, Bu Dewi menunjukkan kamar mereka satu persatu.


"Ini kamar untuk Maria," ucap Bu Dewi.


"Nggak perlu Tan, biar Maria tidur bersama Ibu dan Bapak saja." Ucap Maria merasa tak enak.


"Nggak apa-apa Maria, biar kamu bisa istirahat dengan nyaman. Ini kamar khusus Tante siapkan buat kamu, di lemari juga sudah tersedia pakaian ganti untukmu."


"Terimakasih Tante," ucap Maria lalu memeluk Bu Dewi.


"Sama-sama sayang, sekarang kamu mandi lalu istirahat."


Maria hanya mengannguk lalu masuk kedalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2