Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Baku hantam!


__ADS_3

Apakah itu Maria?


***


Raka memberanikan diri untuk masuk kedalam ruang perawatan Maria dengan menyamar sebagai perawat laki-laki.


"Permisi Bu! Saya harus membawa Ibu untuk memastikan keadaannya, saya akan mengecek ulang di Laboratorium."Ucap Raka.


Saat Raka hendak membawa Maria, Dewa mencegahnya.


"Tunggu, sepertinya saya tidak asing dengan suaramu." Ucap Dewa, kemudian membuka paksa masker yang dikenakan Raka.


"Raka!" Maria terkejut.


Dewa dan Raka akhirnya baku hantam, Maria sangat panik.


"Bi, tolong minta bantuan." Ucap Maria.


Bi Siti langsung berlari keluar mencari pertolongan, beberapa perawat dan security akhirnya masuk membantu Dewa menangkap Raka. Namun karena Raka jago dalam berkelahi, akhirnya Raka bisa lolos. Para security langsung berkordinasi untuk menangkap Raka yang telah berhasil kabur.


Maria langsung turun dari ranjang rawatnya, karena melihat Dewa terluka dan tak sadarkan diri.


"Pak Dewa, sadar Pak!" Ucap Maria sambil memegangi kepala bos nya itu.


Bebeberapa perawat pun dengan sigap membantu Dewa. Maria memangis melihat keadaan Dewa, sampai tak peduli dengan kondisinya yang masih lemah. Dengan bantuan Bi Siti, Maria mengikuti perawat membawa Dewa ke IGD.


"Tolong selamatkan Pak Dewa ya Allah, hamba mohon." Maria berdo'a sambil terisak memandang Dewa yang terkulai tak berdaya.


"Tenang Neng, Pak Dewa pasti selamat. Bibi yakin," ucap Bi Siti menenangkan Maria.


Beberapa menit kemudian, seorang perawat keluar ruangan Dewa.


"Sus, bagaimana keadaan Pak Dewa?" Tanya Maria.


"Pak Dewa tidak papa, tapi untuk memastikannya kami harus merontgent kepala Pak Dewa akibat benturan." Ucap perawat.

__ADS_1


"Tolong Pak Dewa sus, saya mohon."


"Pasti Bu, ini sudah tugas kami."


***


"Neng, kita kembali keruang perawatan dulu yah." Ucap Bi Siti, saat waktu sudah tengah malam.


"Nggak Bi, saya mau disini. Menunggu Pak Dewa sadar." Ucap Maria terisak.


"Tapi Neng harus istirahat,"


"Nggak Bi, saya mau disini."


Bi Siti tak bisa berkata apa-apa, dia mengerti dengan keadaan Maria.


Beberapa menit kemudian, Dewa sadar.


"Pak Dewa!" Ucap Maria, lalu langsung berdiri memeluk Dewa yang masih terbaring.


Dewa hanya terdiam, saat tubuh Maria refleks memeluknya, ada getaran tak biasa yang Dewa rasakan.


"Saya nggak papa Maria, kamu tak perlu khawatir."


"Syukurlah, saya lega mendengarnya."


Tak lama kemudian Dokter dan perawat masuk.


"Bagaimana Pak Dewa?" Tanya Dokter.


"Sudah lebih baik Dok, hanya saja kepala saya sedikit pusing." Jawab Dewa.


"Sesuai hasil rontgent, kepala Pak Dewa baik-baik saja."


"Terimakasih Dok,"

__ADS_1


Namun tiba-tiba perhatian Dokter mengarah kepada Maria.


"Bu Maria kok belum istirahat?" Tanya Dokter.


"Iya maaf Dok, saya mengkhawatirkan Pak Dewa." Jawab Maria.


"Kalian ini memang pasangan serasi, selalu setia disetiap keadaan." Ucap Dokter sambil tersenyum.


Maria dan Dewa hanya saling menatap mendengar perkataan Dokter tadi.


"Yasudah kalau begitu saya permisi, Bu Maria segera kembali untuk istirahat ya. Pak Dewa tidak apa-apa."


"Iya Dok."


Dokter dan perawat itu pun pergi, namun Bi Siti terlihat senyum-senyum sendiri.


"Bibi kenapa, kok senyum-senyum sendiri gitu?" Tanya Maria karena aneh melihat ART nya itu.


"Nggak papa Neng, cuma Bibi tuh baper sama kalian." Jawab Bi Siti sambil malu-malu.


"Baper gimana sih, Bibi ini kaya ABG aja." Ucap Maria sambil tertawa kecil.


"Aduh Bibi ini bisa aja." Ucap Dewa menimpali."


Mereka pun tertawa bersama.


"Maria, kamu kembali ke ruangan yah. Istirahat, nanti saya menyusul." ucap Raka.


"Apa bapak nggak sebaiknya pulang dulu Pak," ucap Maria.


"Nggak perlu, saya akan beristirahat disini saja."


"Ya sudah kalau itu mau Bapak."


"Kalian duluan saja, saya mau menghubungi seseorang dulu."

__ADS_1


"Baik Pak."


Maria dan Bi Siti segera kembali keruang perawatan.


__ADS_2