
***
Saat siang hari, salah satu karyawan Dewa menelpon. Dewa pun bergegas menerima panggilannya.
"Hallo!" Ucap Dewa.
"Pak, tolong kami. Beberapa orang bersenjata, mengobrak-ngabrik kantor dan beberapa orang menyekap kami." Ucap Saipul salah satu karyawan staf Dewa.
"Apa? Siapa mereka?" Tanya Dewa terkejut.
"Saya nggak tahu, Pak. Tolong kami, Pak!"
"Ok, kamu tenang. Saya akan segera ke sana."
Dewa pun bergegas, memakai pakaiannya yang berserakan dengan tergesa-gesa. Melihat suaminya tergesa-gesa, Maria pun penasaran.
"Ada apa, Mas?" Tanya Maria.
"Di kantor ada masalah, sayang. Mas ke kantor dulu yah." Jawab Dewa sambil terburu-buru mengenakan pakaiannya.
"Saya ikut ya, Mas."
"Jangan, ini bahaya."
"Tapi, Mas. Saya juga berhak tahu,"
"Ya Sudah, tapi disana jangan jauh-jauh dari Mas."
"Iya, Mas."
Setelah selesai, mereka pun bergegas keluar kamar. Lalu berjalan terburu-buru sambil menggandeng Maria.
Namun, Bu Dewi menghentikan lanhkahnya sejenak, karena heran dengan gelagat anak dan menantunya itu.
"Mau kemana?" Tanya Bu Dewi saat berpapasan.
"Kita mau ke kantor, Mi." Ucap Dewa.
"Loh, katanya hari ini kalian libur?"
"Di kantor ada masalah, Mi. Jadi, kita harus segera kesana. Do'akan ya, Mi. Semoga tidak terjadi apa-apa."
"Iya, Sayang. Kalian hati-hati, jangan lupa hubungi polisi."
"Iya,Mi.
Setelah itu, Dewa dan Maria melanjutkan langkahnya dan bergegas menuju mobilnya. Di saat perjalanan, Dewa menghubungi pihak kepolisian untuk membantunya.
"Siapa sebenarnya, yang coba menghancurkanku?" tanya Dewa dalam hatinya.
***
Saat di depan gerbang kantor, Dewa menghentikan mobilnya. Lalu, Dewa memantaunya. Terlihat beberapa orang bertubuh kekar berdiri di depan pintu utama dengan menggunakan penutup wajah serba hitam.
"Mas, kenapa berhenti di sini?" Tanya Maria bingung.
"Kita pantau dulu, mereka terlalu banyak. Bahaya!" Jawab Dewa sambil terus melihat situasi di sekelilingnya.
"Terus, mau sampai kapan kita disini?"
"Kita tunggu pihak kepolisian datang."
Dewa dan Maria cemas, karena mereka khawatir dengan keselamatan para karyawannya. Namun, tiba-tiba Saipul menghubungi Dewa.
__ADS_1
"Hallo!" Ucap Dimas, saat menerima panggilan karyawannya.
"Anda tidak perlu memantau, kalau anda laki-laki hadapi aku."
Telepon pun berakhir.
Dewa bingung, siapa sebenarnya yang telah meneror nya. Dewa pun, bergegas untuk keluar. Namun, Maria menahannya.
"Mas, mau kemana?" Tanya Maria.
"Mas, mau turun. Mas, khawatir." Jawab Dewa cemas.
"Tapi Mas…"
Dewa tidak mengindahkan ucapan Maria, Dewa tetap keluar. Maria pun tak tinggal diam, Maria mengejar Dewa untuk ikut ke dalam.
"Mas, aku ikut." Ucap Maria, lalu menarik tangan Dewa.
Langkah Dewa pun terhenti, saat Maria mengikutinya.
"Sayang, kamu tunggu di mobil saja. Ini bahaya!" Ucap Dewa mengingatkan.
"Nggak, Mas. Aku tetap ingin ikut,"
Maria kekeh tetap ingin ikut dengan Dewa. Karena Maria sangat mengkhawatirkannya.
"Ya sudah, tapi kamu harus janji. Harus hati-hati dan jangan jauh-jauh dari Mas."
"Iya, Mas."
Dewa pun melanjutkan langkah kakinya sambil menggandeng tangan Maria.
Sesampainya di depan kantor, langkah mereka pun terhenti. Karena salah seorang mencoba memukul Dewa, dengan cepat Dewa menangkisnya.
Maria pun segera mengikuti arahan Dewa. Dewa pun berjibaku terlibat perkelahian dengan orang-orang yang tidak di kenalinya.
Maria cemas dengan keadaan suaminya, Maria pun tak hentinya berdo'a memohon keselamatan kepada sang maha pencipta.
Beberapa menit kemudian, Dewa berhasil mengalahkan orang-orang itu. Maria pun segera menghampiri Dewa lalu memeluknya dengan erat.
"Mas, kamu nggak apa-apa kan?" Tanya Maria sambil meraba wajah dan tubuh suaminya itu.
"Nggak apa-apa, sayang. Kamu jangan khawatir," jawab Dewa menenangkan Maria.
Padahal tidak bisa dipungkirinya, badannya pun terasa sakit karena sesekali terkena pukulan. Namun, Dewa tidak ingin memperlihatkannya.
Perkelahian bukanlah hal yang baru bagi Dewa, sejak remaja orangtuanya sudah membekalinya dengan ilmu beladiri.
Setelah itu, mereka pun masuk. Namun, ruangan kantor terlihat sepi.
"Dimana mereka?" Gumam Dewa.
Mereka pun melanjutkan ke sebuah lantai dua. Benar saja, semua karyawan sudah dalam keadaan terikat.
Bugh!!
Tiba-tiba seseorang memukul Dewa dengan keras, sampai Dewa tersungkur jatuh.
"Mas Dewa." Teriak Maria, karena terkejut melihat suaminya terjatuh.
Maria langsung menghampiri Dewa, lalu membantunya bangun. Namun, saat berusaha bangun, Dewa terjatuh kembali. Sontak membuat Maria semakin cemas.
"Mas, bangun." Ucap Maria cemas.
__ADS_1
Maria pun menangis, karena melihat kondisi Dewa yang tidak berdaya.
"Sayang!"
Tiba-tiba seorang laki-laki memanggilnya. Suara panggilan yang tidak asing terdengar di telinga nya.
Maria pun segera menoleh, lalu laki-laki itu pun menghampirinya.
"Siapa kamu?" Tanya Maria.
Laki-laki itu pun tersenyum, lalu membuka penutup wajahnya.
Alangkah terkejutnya Maria, ternyata laki-laki itu adalah Raka.
"Apa kabar, sayang?" Tanya Raka, lalu mendekati Maria.
Wajah Maria mulai ketakutan. Sambil berjalan mundur, Maria berusaha menghindari Raka.
"Mau apa kamu, Mas?" Tanya Maria ketakutan.
Keringat di tubuhnya pun, mulai bercucuran karena sangat ketakutan.
Raka hanya tersenyum melihat wanita pujaan hatinya merasa ketakutan. Dan dia pun menyuruh anak buahnya untuk membawa Maria ke dalam mobilnya.
Maria mencoba untuk menolaknya, namun apa daya tenaganya tak sebanding dengan dua orang anak buah Raka yang memaksanya untuk masuk kedalam mobil.
"Mas Dewa…" teriak Maria, berharap Dewa mendengar ucapannya lalu sadar.
Namun, Dewa sepertinya belum sadar juga. Maria menangis dan meraung, berharap belas kasih kepada Raka.
"Mas Dewa, bangun. Tolong aku, Mas" teriak Maria sambil menangis.
Saat Dewa mulai sadar, Raka malah menendangnya.
Melihat suaminya diperlakukan seperti itu oleh Raka, Maria menangis histeris. Dengan sekuat tenaganya, Maria melawan dengan menggigit tangan dan menendang area sensitif anak buah yang memegangnya.
Sekuat tenaga Maria berlari menghampiri Dewa, dan berusaha untuk membangunkannya.
"Mas Dewa bangun, Mas. Kamu harus bangun, Mas." Ucap Maria sambil memeluk Dewa.
Namun, Raka malah menarik Maria dengan kasar. Sampai membuat Maria kesakitan.
"Aw!" Teriak Maria kesakitan, karena tangannya ditarik paksa oleh Raka.
"Mas Raka, lepaskan saya." Ucap Maria.
Namun, Raka tidak mengindahkan ucapan Maria. Raka terus menarik Maria, sampai lalu membawanya keluar.
"Lepaskan, istriku!" Teriak Dewa.
Senyum terlukis di bibir Maria, melihat suaminya berdiri tak jauh dari hadapannya.
"Habisi dia!" Ucap Raka, memberi perintah kepada anak buahnya.
Saat Dewa berjibaku melawan anak buahnya Raka, Maria dibawa paksa oleh Raka. Dewa pun berusaha mengejar nya, namun lagi-lagi anak buah Raka menghalanginya.
Dengan kecepatan tinggi, Raka membawa Maria entah kemana.
Disaat bersamaan, pihak kepolisian pun tiba di kantor Dewa. Lalu, meringkus para anak buah Raka yang tidak berhasil kabur.
Dengan tergopoh, Dewa berusaha mengejar Maria dengan mobilnya. Dilajukannya dengan kecepatan tinggi, berusaha untuk menyelamatkan Istrinya.
Pihak kepolisian pun mengikuti arah laju mobil Raka.
__ADS_1
Apakah Maria bisa selamat?