
***
Selama perjalanan Naima menangis, dan memohon kepada Raka untuk melepaskannya. Namun, lagi-lagi Raka tidak mengindahkannya.
"Mas, tolong lepasin saya. Saya mohon!" Rengek Maria.
"Saya tidak akan pernah melepaskanmu untuk laki-laki itu." Ucap Raka penuh dengan amarah.
"Jangan seperti ini, Mas. Aku mohon!" Ucap Maria.
Bukannya menjawab, Raka malah menambah kecepatan laju mobilnya.
Namun, Dewa tak mau kalah. Dewa berhasil mengejar Raka.
Tin tin!!
Dewa menekan klakson mobilnya, memberi tanda Raka untuk menghentikan lajunya.
Raka dan Dewa beradu kecepatan. Maria berpegangan erat sambil berdo'a memohon keselamatan kepada sang maha kuasa.
Beberapa menit kemudian, Dewa berhasil menghadang laju mobil Raka.
Mobil yang dikendarai Raka pun terpelanting ke bahu jalan, karena kehilangan keseimbangan. Maria yang berada di dalam mobil Raka pun terluka, karena benturan keras dikepalanya.
"Raka, keluar kamu. Lepaskan istri saya!" Teriak Dewa sambil menggedor jendela mobil Raka.
Namun Raka tidak mau membukanya. Asap yang keluar dari mobil Raka membuat Dewa semakin cemas.
Dewa berusaha membuka pintu mobil dengan alat seadanya.
"Kamu tidak akan memiliki Maria, Dewa. Hahahaha." Ucap Raka setengah sadar, karena Raka pun terluka akibat benturan.
Brakk!!
Dewa menghancurkan jendela mobil, lalu bergegas membuka kuncinya dan membawa Maria keluar.
Percikan api mulai terlihat, dengan segera Dewa menyelamatkan Raka yang sudah tak berdaya.
Duar!!
Mobil yang dikendarai Raka meledak.
Polisi pun tiba, lalu membantu Dewa menyelamatkan Maria dan Raka.
Dewa langsung menggendong Maria ke dalam mobilnya, lalu membawanya kerumah sakit terdekat. Sementara Raka diurus pihak kepolisian.
Dengan rasa cemas, Dewa melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
"Sayang, kamu harus kuat yah." Ucap Dewa lalu mencium tangan Istrinya yang sedang tak berdaya.
Beberapa menit kemudian Dewa pun sampai di rumah sakit. Suster yang melihat kedatangannya, langsung membawa Maria ke ruangan IGD.
Dokter dan para suster sibuk memberikan pertolongan kepada Maria. Dewa yang cemas dengan kondisi Maria, hanya bisa memandangnya dari balik jendela.
Beberapa menit kemudian, dokter keluar.
"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" Tanya Dewa cemas.
"Istri bapak mengalami pendarahan di otak. Jadi, harus segera menjalani operasi." Jawab Dokter.
__ADS_1
"Cepat lakukan yang terbaik, dok. Saya mohon," ucap Dewa.
"Baik Pak, bantu kami dengan doa." ucap dokter meyakinkannya.
Setelah itu dokter pun pergi, diikuti para perawat yang membawa Maria ke ruang operasi. Lau Dewa pun mengikutinya.
Setelah Maria masuk ruang operasi, Dewa menghubungi Bu Dewi.
"Hallo, Mi." Ucap Dewa saat telepon berlangsung.
"Iya, kalian nggak apa-apa?" Tanya Bu Dewi cemas.
"Maria, Mi." Ucap Dewa terisak.
"Maria kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Bu Dewi semakin cemas.
"Maria kecelakaan saat dibawa kabur oleh Raka." jawab Dewa.
Bu Dewi terkejut mendengar ucapan Dewa tentang kondisi Maria. Bu Dewi ikut menangis, merasakan kesedihan yang dialami anaknya.
"Sekarang kalian dimana?" Tanya Bu Dewi.
"Di rumah sakit Husada." Jawab Dewa.
"Mami akan kesana. Kamu harus tenang, ok!" Ucap Bu Dewi menenangkan.
Dewa pun mengakhiri panggilan dengan Bu Dewi.
Dewa sangat terpukul melihat Maria, wanita yang sangat dicintainya tidak sadarkan diri.
Kedua orang tua Dewa dan Maria pun datang. Dengan cemas, mereka menghampiri Raka yang sedang duduk sambil memegangi kepalanya.
"Dewa, mana Maria? Bagaimana keadaanya?"
"Maria sedang di ruang operasi, Bu. Maria mengalami pendarahan di otaknya," jawab Dewa.
Kedua orangtua Maria, syok mendengar jawaban Dewa.
Setelah itu, Dewa pun menangis. Melihat Dewa menangis, Bu Dewi lalu memeluknya. Bu Dewi paham betul apa yang sedang dirasakan Dewa.
"Kita doakan, semoga Maria baik-baik saja." Ucap Bu Dewi menenangkan.
"Dewa gagal menjaga Maria, Mi. Dewa suami tak berguna," ucap Dewa.
Dewa sangat terpukul, karena tidak bisa melindungi Maria yang baru semalam menjadi Istrinya.
"Dewa, ini semua bukan salahmu. Semua ini ujian, Mami yakin jika Maria sadar, dia tak akan pernah menyalahkanmu." Ucap Bu Dewi menenangkan.
Dengan rasa cemas, mereka menunggu kabar dari dokter. Semua hanya terdiam, dan hanya Ibu nya Maria yang masih menangis dipelukan suaminya.
Dua jam berlalu, akhirnya dokter pun keluar. Dengan cepat, mereka menghampirinya, lalu bertanya tentang keadaan Maria.
"Bagaimana kondisi istri saya, dok?" Tanya Dewa.
"Alhamdulillah, operasi berjalan dengan lancar. Kita tinggal menunggu pasien sadarkan diri," jawab dokter.
"Alhamdulillah." Ucap serentak.
Kedua orangtua Maria dan Dewa merasa lega, setelah mendengar penjelasan Dokter.
__ADS_1
"Boleh kami menemuinya?" Tanya Dewa.
"Boleh, tapi setelah pasien dipindahkan ke ruang perawatan. Sebentar lagi perawat akan memindahkannya," jawab dokter.
"Baik dok, terima kasih." Ucap Dewa.
"Sama-sama. Saya permisi dulu," ucap dokter lalu pergi.
Beberapa menit kemudian, para perawat keluar memindahkan Maria ke ruang perawatan.
Semua mengikuti arah langkah perawat.
Beberapa detik kemudian, Maria sudah sampai di ruang perawatan.
"Terimakasih, sus." Ucap Dewa.
"Sama-sama. Kami permisi," ucap salah satu suster yang berada di ruangan itu, lalu pergi.
"Sayang, bangun!" Ucap Dewa sambil menggenggam erat tangan Maria.
"Teteh, bangun. Ibu kangen kamu, Nak." Ucap Ibunya Maria terisak.
Beberapa menit kemudian, jari Marian bergerak dengan nafas tersenggal. Melihat pergerakan Maria, Dewa langsung menekan bel.
Dalam hitungan detik, dokter dan perawat datang. Lalu, memeriksa keadaan Maria.
Setelah dokter dokter menyuntikan obat, nafas Maria kembali normal dan mata Maria mulai terbuka.
"Alhamdulillah, Bu Maria sadar." Ucap dokter.
Mendengar ucapan dokter, wajah Dewa berbinar bahagia. Lalu, mendekati Maria. Begitupun dengan kedua orang tua Dewa dan Maria.
"Sayang, ini Mas." Ucap Dewa.
"Mmm..as." ucap Maria tertatih.
"Kamu istirahat ya, sayang. Jangan banyak bicara dulu,"
"Teteh, ini Ibu, Nak. Kamu harus kuat, teh." Ucap Ibunya Maria.
"Iya, sayang. Kami semua sangat menyayangimu, jadi kamu harus kuat yah." Ucap Bu Dewi.
Maria hanya mengedipkan matanya, memberi tanda jika dia mendengar semua yang dikatakan.
"Kalau begitu, kami permisi dulu." Ucap dokter, lalu pergi.
"Terimakasih." Ucap Pak Bima.
Dewa terus menggenggam erat tangan Maria, seolah tak ingin berpisah sedikitpun dengan istri tercintanya, tanpa menghiraukan kondisinya yang penuh lebam dan terluka.
"Dewa, sebaiknya lukamu diobati dulu. Bajumu juga kotor," ucap Bu Dewi.
"Nggak, Mi. Dewa mau tetap disini menemani Maria," ucap Dewa.
"Biar kami yang menjaga Maria, kamu obati dulu lukamu lalu bersihkan tubuhmu itu." Ucap Bu Dewi.
"Mamimu benar, kami akan menjaga Maria dengan baik. Papi pun telah mengirim beberapa orang di luar rumah sakit dan di depan ruang perawatan untuk ikut menjaganya. Kami semua sayang dengan Maria, kami akan menjaganya dengan baik." Imbuh Pak Bima.
__ADS_1
"Ayo, Mami antar."
Dewa pun bergegas bangun, lalu keluar.