Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Meminta ijin


__ADS_3

***


Drrtttt.... Ponselku bergetar. Kubuka layar ponselku, ternyata pesan dari Raka.


"Hari ini masuk apa?"


"Masuk siang."


"Tunggu dirumah, mas mau jalan kerumah,"


"Mau ngapain?"


"Mau ngobrol sama ibu tentang kuliahmu."


"Ya udah, aku tunggu."


Terpaksa aku langsung mengiyakannya, karena percuma berdebatpun dia tidak akan merubah keinginannya. Aku pun langsung bersiap-siap menunggu, akupun berhias tipis-tipis. Setelah selesai, akupun bergegas mengahampiri ibu.


"Bu, Mas Raka mau kesini, katanya ada yg mau dia obrolin sama ibu."


"Nak Raka mau melamar kamu teh?" Aku terkejut mendengan ucapan ibu.


"Ih ibu apaan sih, bukan lah, belum juga lama kenal masa iya langsung melamar."


"Terus mau ngomongin apa, kalau bukan mau melamar?"


"Ini loh bu, kemarin mas Raka ngomong sama teteh, Mas Raka meminta teteh berhenti kerja untuk melanjutkan kuliah. Mas Raka bilang, dia mau mebiayai kuliahnya."


"Lalu teteh jawab apa?"


"Entah bu binggung , sebenarnya teteh ingin kuliah. Tapi nggak enak juga kalau harus nerima tawaran mas Raka," ucapku bimbang.


Tok-tok-tok....


Tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu, akupun langsung bergegas membukakan pintu, yang ternyata Raka.


"Assalamualaikum," ucapnya.


"Wa'alaikumsalam, masuk Mas kebetulan ada ibu didalam." ucapku.


Raka pun masuk, kemudian duduk. Tak lama kemudian ibu pun menghampiri kami.


"Eh ada nak Raka," sapa ibu, Rakapun langsung berdiri lalu menyalami ibu.


"Maaf bu, pagi-pagi begini saya bertamu," ucap Raka.


Yah, memang saat ini waktu menunjukkan jam sembilan siang. Entah mengapa dia bisa datang sepagi ini, apa mungkin dia tak bisa tidur memikirkanku?

__ADS_1


Aduh Maria, otak mu mulai nge-lagh.


"Nggak papa, ibu seneng kok kalau nak Raka mau main kerumah ibu yg sederhana ini." ucap Ibu.


Raka pun hanya tersenyum, menanggapi omongan ibu. Aku bergegas kedapur untuk membuatkan kopi untuk mas Raka, setelah selesai akupun kembali menemui mereka dan menyuguhkannya.


"Diminum mas, maaf hanya ada kopi," ucapku sambil menghidangkan kopi.


"Nggak papa, ini aja udah cukup." ucap Raka.


Akupun segera duduk disebelah Ibu, tentu saja kaena ingin mengetahui pembicaraan mereka.


"Maaf bu sebelumnya, ada sesuatu yg ingin saya bicarakan, tentang Maria anak ibu." ucapnya dengan serius.


"Iya, emang ada apa dengan Maria?"


"Nggak ada apa-apa sebenarnya, cuma ini saya ada maksud ingin membiayai kuliahnya Maria. Saya tak tega melihat dia bekerja, tapi maaf ya bu jangan tersinggung. Maksud saya baik, kan kalau Maria bergelar sarjana, siapa tahu nanti Maria dapat pekerjaan yg lebih baik." ucap Raka.


Ibu seketika melirikku, mungkin Ibu bingung untuk menjawabnya.


"Iya ibu sih setuju saja, tapi ibu keberatan jika harus merepotkan nak Raka."


"Saya merasa tidak direpotkan bu, saya malah senang jika bisa membantu Maria."


"Tapi nak Raka, Maria kan lagi kerja, rasanya sulit jika membagi waktu kuliah sambil bekerja,"


"Tapi Mas, aku kan masih terikat kontrak, aku bisa di denda." aku menimpali pembicaraan mereka.


"Mas yg akan membayar denda itu,"


"Tapi mass.." rengekku, namun dia tak menghiraukan aku sama sekali. Dia malah melanjutkan pembicaraanya dengan ibu.


"Gimana bu, apa ibu mengijinkan?"


"Tapi nak Raka apa tak berlebihan?"


"Tidak sama sekali, saya sangat mencintai Maria. Saya ingin memberikan yg terbaik untuknya,"


Seketika aku terkejut mendengar ucapannya, aku tak menyangka dia akan berbicara itu pada ibu.


"Apa?? Jadi kalian udah sejauh itu?" Ibu terkejut tak percaya, karena memang selama ini aku hanya berteman.


"Untuk sekarang kami hanya berteman bu, karena Maria belum menjawab cinta saya. Tapi saya tidak akan menyerah untuk mendapatkan cintanya," ucapnya optimis.


"Teh, gimana? Ibu sih terserah teteh saja, karena teteh yang menjalani." ucap ibu membuatku bingung.


Aku hanya terdiam karena bingung harus menjawab apa, aku menolak dia pun tetap memaksa.

__ADS_1


"Kalau diam berarti setuju," Aku langsung terkejut mendengar ucapannya.


"Ya sudah lah mas terserah Mas, menolakpun percuma, Mas akan tetap memaksa." ucapku kesal.


"Itu, kamu tahu," ucapnya sambil tersenyum.


"Ya sudah kalau keinginan kalian seperti itu ibu hanya mendo'akan." ibu menimpali pembicaraan kami.


"Ya sudah ibu kewarung dulu yah, mau belanja sayur." ibupun bergegas keluar.


Kulihat Raka senyum-senyum sambil mentapku, akupun segera buang muka karena masih kesal.


"Kenapa, manyun begitu?" ucapnya sambil meledek.


"Nggak papa,"


"Walaupun manyun tetep cantik kok," jurus gombalnya muncul.


"Lebay.." ketusku.


"Ya udah, sekarang kita bikin surat pengunduran diri. Nanti kalau udah selasai, biar Mas yg menyerahkannya langsung ke kepala tokomu "


"Nggak usah Mas, biar saya saja yg nyerahin."


"Ya sudah, tapi jangan lama-lama yah. Saya akan mengurus pendaftaran kuliahmu, oya ngomong-ngomong mau ambil jurusan apa?"


"Bisnis manajemen aja mas,"


"Ya sudah nanti Mas cari kampus terbaik untukmu."


"TER-SE-RAH." jawabku menyolot.


"Ya udah sana bikin surat nya,"


"Nggak usah bikin Mas, ditoko ada form ya kok tinggal diisi, nanti siang sambil kerja saya akam berbicara pada mbak Titi."


"Oh begitu." ucapnya lalu menyeruput kopi buatanku.


"Ya sudah kalau gitu mas pamit, kalau udah selesai pengunduran dirinya kabarin Mas, biar secepatnya bisa mendaftarkan ke kampus." ucapnya sambil berdiri.


Aku pub hanya mengangguk, lalu mengantarnya keluar.


"Salam sama ibu,"


"Iya mas."


Setelah itupun dia pergi mengendarai mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2