
***
"Mami, Papi, Bapak dan Ibu, sebaiknya pulang aja, biar Dewa saja yang menjaga Maria." Ucap Dewa saat malam sudah mulai larut.
"Nggak, Ibu akan tetap disini." Tolak Ibu.
"Tapi Bu, Ibu perlu istirahat. Besok pagi, baru Ibu kesini lagi." Ucap Dewa.
"Iya, Bu. Sebaiknya kita pulang dulu, saya yakin Maria akan baik-baik saja." Imbuh Bu Dewi.
"Iya, Bu. Bapak juga setuju." Ucap Bapak.
"Ya sudah kalau gitu Ibu mau pulang, tapi cepat kabari Ibu ya kalau ada apa-apa." Ucap Ibu.
"Iya, Bu." Ucap Dewa.
Kedua orangtua Dewa dan Maria pun pergi. Dimas yang hanya sendiri menjaga Maria, selalu berada disampingnya.
Air mata Dewa kembali menetes, saat mengingat Raka menyakiti Maria. Hatinya hancur, sedih, dan marah.
"Kamu harus sehat kembali sayang, agar kita bisa membalas semua kejahatan Raka. Kamu wanita baik, saya tidak akan pernah rela satu orang pun menyakitimu." Ucap Dewa dengan mengencangkan rahangnya.
Tiba-tiba, Maria sadar.
"Mas Dewa!" Panggil Maria dengan suara serak.
Sontak, Dewa terkejut bahagia mendengar istrinya memanggil namanya.
"Iya, sayang. Mas disini," ucap Dewa lalu mengecup kening Maria.
"Mas, aku haus."
Dewa segera mengambilkan air minum yang berada meja, lalu langsung membantu Maria untuk meminumnya dengan menggunakan pipet.
"Mas, aku takut!" Ucap Maria sambil meneteskan air matanya.
"Jangan takut, sayang. Ada Mas disini, Mas tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu." Ucap Dewa menyakinkan Maria.
Dewa menghapus air mata Maria, lalu memeluknya.
"Jangan takut ya, sayang." Ucap Dewa menyakinkan kembali Maria.
"Iya, Mas." Ucap Maria, menimpali Dewa.
***
Di Tempat lain, Raka telah berhasil ditangkap. Raka dirawat dengan tangan diborgol, dan diawasi pihak kepolisian.
"Lepaskan saya!" Teriak Raka saat sadar.
"Diam, kamu." Bentak Pak polisi yang sedang mengawasinya.
Raka pun terdiam, karena sadar kalau dirinya sudah tertangkap.
"Awas kamu, Dewa." Gumam Raka.
Beberapa menit kemudian, Winda dan Bu Fitri datang.
__ADS_1
"Mas, kamu nggak apa-apa kan?" Tanya Winda cemas.
"Raka, Mama kan sudah peringatkan. Jangan lagi mengejar Maria, tapi kenapa kamu masih kekeh. Lihat, sekarang kamu begini. Lihat juga Winda, yang sebentar lagi melahirkan anakmu." Ucap Bu Fitri kesal.
"Sebaiknya kalian pergi, jika hanya membuatku pusing." Bentak Raka.
"Mama nggak nyangka, karena cinta kamu telah sangat berubah. Ayo winda, sebaiknya kita pergi. Tak perlu lagu mengkhawatirkan manusia seperti dia, biar dia urus sendiri hidupnya." Ucap Bu Fitri sambil menarik tangan Winda.
"Tapi, Ma. Mas Raka sedang terluka," ucap Winda yang kasihan melihat suaminya.
"Ikut Mama." Paksa Bu Fitri.
Bu Fitri memaksa Winda, lalu membawanya pulang kembali. Bu Fitri sangat kesal dan geram melihat kelakuan anaknya itu, yang sudah dibutakan oleh cintanya pada Maria yang sudah jelas milik orang lain.
***
Di rumah sakit, Dewa selalu setia merawat dan menemani Maria. Sampai pada akhirnya kondisi Maria membaik, dan dokter mengijinkan Maria pulang.
Siang itu, Maria bersiap-siap untuk pulang. Dengan ditemani Dewa, kedua orang tua dan Ibu mertuanya.
Dengan menggunakan kursi roda, Dewa membawa keluar Maria dari ruang perawatannya. Raut bahagia terpancar di wajah Maria, karena sudah terbebas dari jarum suntik yang beberapa hari ini menusuk tangannya.
Sampai di lobi, Maria dibantu Dewa masuk ke dalam mobil. Dengan sangat hati-hati, Dewa menempatkan Maria senyaman mungkin.
Setelah itu, Dewa pun melajukan kendaraannya dengan diikuti beberapa pengawal.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka pun sampai.
Dewa turun, lalu menggendong Maria.
"Mas, turun disini aja." Ucap Maria saat tiba di depan pintu rumah.
"Aku malu, Mas." Ucap Maria berbisik.
"Biarin. Lagian malu sama siapa sih?"
Dewa tersenyum melihat Maria yang tampak malu saat digendongnya.
Bibi dan Bi Siti, menyambut kepulangan Maria dan Dewa dengan penuh sika cita.
"Alhamdulillah, akhirnya Non Maria pulang juga. Selamat datang ya, Non." Ucap Bibi saat Maria sudah duduk.
"Iya, Bi terimakasih." Ucap Maria.
"Iya, Neng. Bibi pun ikut senang, melihat kondisi Neng Maria sehat." Ucap Bi Siti.
"Terima Kasih ya, Bi. Ini semua berkat doa kalian semua."
Maria tersenyum bahagia, karena bisa kembali berkumpul dengan orang yang dia sayangi.
"Bi, tolong buatkan jus alpukat untuk Maria." Ucap Dewa.
"Iya, Den. Bibi bikinin sekarang," ucap Bibi, lalu pergi ke dapur.
Dewa duduk di sebelah Maria, lalu menggenggam erat tangan istrinya itu.
"Mas, kita kan udah dirumah. Masa pegangan terus kayak gini, malu tahu." Ucap Maria sambil tersenyum malu.
__ADS_1
"Biarin, Mas nggak peduli." Ucap Dewa.
Kedua orangtua Maria dan Bu Dewi hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan anak dan menantunya itu yang sedang dimabuk cinta.
"Kalian ini, bener-bener yah. Di dalam rumah aja, masih genggaman tangan." Ucap Bu Dewi, yang diikuti tertawa kecil kedua orangtua Maria.
"Biarin, Bu. Namanya juga pengantin baru," Ucap Ibu.
"Iya nih, Mami. Kaya nggak pernah muda aja," ucap Dewa.
"Ya sudah, suka-suka kalian. Tapi inget, Maria baru pulih jangan macem-macem." Ucap Bu Dewi.
"Ih, Mami ini. Bawel banget," protes Dewa.
Maria yang melihat suami dan mertuanya, hanya tersenyum malu.
Bukan tanpa alasan Dewa selalu menggenggam erat tangan Maria, kejadian kemarin membuat nya merasa takut kehilangan Maria.
"Kita ke kamar aja yuk, sayang. Disini banyak nyamuk," ucap Dewa.
"Eh, kamu itu yah. Masa Mami dan mertuamu dianggap nyamuk," Protes Bu Dewi.
Kedua orangtua Maria hanya tertawa, tanpa menimpali apapun.
"Mas, jangan gitu." Maria mengingatkan.
"Nggak sayang, Mas bercanda." Ucap Dewa.
Setelah itu, Maria dan Dewa berjalan menuju kamar. Namun, Bibi memanggilnya.
"Den!" Panggil Bibi. Lalu mengahmpirinya sambil membawa segelas jus alpukat.
Dewa dan Maria pun menoleh.
"Ini jus nya, udah siap." Ucap Bibi.
"Terimakasih ya, Bi." Ucap Maria, lalu mengambilnya.
"Nggak usah sayang, sini biar mas bawain." Ucap Dewa lalu merebut gelas yang sedang dipegang Maria.
Dewa hanya tersenyum, lalu melanjutkan langkahnya. Maria sangat bahagia, karena tuhan telah mengirimkan lelaki yang sangat baik seperti Dewa.
Sesamlainya di kamar, Dewa dan Maria duduk bersama di balkon kamarnya.
"Sayang, ini minum dulu." Ucap Dewa lalu memberikan segelas jus alpukat kepada Maria.
"Terimaksaih ya, Mas." Ucap Maria sambil tersenyum.
"Iya, Sayang." Ucap Dewa.
Setelah Maria meminum beberapa teguk, Maria menaruh gelas dimeja. Lalu menyandarkan kepalanya di bahu Dewa, sambil memandang jalanan kota yang terlihat dari tempat duduknya.
"Sayang, maafin Mas yah." Ucap Dewa.
"Untuk apa?" Tanya Maria.
"Karena keteledoran Mas, kamu menjadi korban." Jawab Dimas.
__ADS_1
"Nggak, Mas. Semua ini bukan salahmu, aku malah bahagia sekali, bisa memiliki suami baik sepertimu." ucap maria, lalu mengelus wajah Dewa.
Dewa tersenyum, mendengar penuturan Istrinya itu, dan mereka pun menikmati kebersamaannya dengan rasa sukacita.