Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Siapa wanita itu?


__ADS_3

***


"Rumahnya nyaman juga ya mas," ucapku saat berada di dalam rumah yang akan ku tempati.


"Iya, Mas juga suka. Kayaknya betah kalau tinggal disini." ucapnya sambil melihat sekeliling rumah.


Kami pun berjalan memeriksa satu persatu ruangan. Rumah yang sangat nyaman dengan warna dinding bernuansa serba Nude, sesuai dengan warna kesukaanku. Sederhana, namun terlihat elegant.


"Mas, saya laper," ucapku.


"Mau makan apa?" tanyanya.


"Enak nya makan apa yah?" tanyaku balik.


"Mas sih makan apa aja pasti enak, apalagi kalau ditemani wanita secantik calon istri Mas." jawabnya gombal, sambil tersenyum.


"Kumat gombalnya! Saya serius Mas,"


"Ya udah, kita keluar yuk cari restora,"


"Nggak mau keluar, pengen makan disini aja Mas. Aku cape." ucapku sambil merebahkan tubuh diatas sofa.


"Ya sudah Mas pesan online aja kalau gitu," ucapnya lalu mengambil ponselnya.


Aku sangat bahagia bisa dicintai Raka, dia selalu berusaha memberikan yang terbaik dan selalu memanjakanku. Aku bak ratu jika sudah disampingnya, aku semakin yakin, jika Raka pilihan yg tepat untukku.


Kupandangi Raka yang tengah sibuk memilih makanan yang tertera diponselnya, aku pun hanya tersenyum melihatnya.


"Mas udah pesan, paling sekitar 15 menit lagi sampai," ucapnya.

__ADS_1


"Iya Mas." ucapku.


"Kamu capek?" ucapnya lalu mengahampiriku yang sedari tadi masih terbaring di atas sofa.


"Iya Mas, mungkin karena semalam kurang tidur juga."


"Sini Mas pijitin," ucapnya lalu memijit kakiku.


"Nggak usah Mas, nanti juga sembuh sendiri kalau udah istirahat."


"Nggak papa."


***


Tok.. tok.. tok.. Seseorang mengetuk pintu.


Sepertinya pesanan makanan sudah sampai, Raka pun menghentikan pijitannya, lalu bergegas keluar mengambilnya.


Aku pun bergegas bangun, lalu berjalan menuju meja makan. Kami berdua pun menyantapnya sampai habis.


"Mas, kantor Mas didaerah mana? Mas bilang, kantornya dijakarta?" tanyaku menyelidik.


"Iya, tapi bukan daerah sini sekitar 1 jam lagi." jawabnya.


Aku pun hanya mengangguk mendengar jawabannya. Sebenarnya aku penasaran dengan pekerjaan Raka, setiap kali aku bertanya dia selalu bilang ada. Namun, tak pernah sekalipun membawaku ke kantornya.


Ting..


Ponsel Raka berbunyi, kulihat ternyata sebuah notifikasi pesan dari Angga. Aku tak mengenal siapa itu angga, mungkin rekan kerja atau anak buahnya. Segera ku buka pesannya, kebetulan Raka sedang di toilet.

__ADS_1


_"Pak Raka, mbak Winda sepertinya akan melahirkan. Sekarang mbak winda sedang dirumah sakit, segeralah bapak kesini, karena pihak dokter butuh persetujuan bapak untuk melakukan tindakan operasi"_ isi pesan dari seseorang bernama Angga.


Degh, seketika hatiku bertanya-tanya siapa winda? Kenapa dokter harus meminta persetujuan Raka? Apa...?? Aku langsung membekap mulutku, mataku seketika panas, kakiku terasa lemas tak bertenaga. Tak kusangka Raka yang aku cintai bisa mengkhianatiku, pikiranku mulai tak karuan.


Tiba-tiba kudengar suara langkah kaki, ternyata Raka yang tengah berjalan menghampiriku. Dengan segera kuletakkan ponselnya diatas meja, persis saat Raka meletakannya tadi. Aku pun segera bersikap biasa saja, pura-pura tak mengetahui apapun didepannya. Ku tahan air mata dan emosiku, sebelum aku mengetahui kebenarannya.


"Kamu kenapa sayang, kok matanya merah seperti habis menangis?" tanyanya sambil menatapku aneh.


"Ngak papa Mas, mungkin kelilipan," jawabku berbohong.


"Kelilipan?? Sini mas tiup,"


"Nggak usah Mas, udah nggak papa kok."


Ponsel Raka berdering, mungkin Angga menelponnya. Dia pun segera menjauh, lalu mengangkat panggilan itu.


Aku pun penasaran, aku berjalan mengikutinya lalu mencoba mendekat untuk menguping pembicaraannya. Nihil, saat aku mulai mendekat, ternyata Raka sudah menutup panggilannya. Akupun segera kembali ke sofa seperti semula.


"Sayang, Mas pergi dulu yah, ada kerjaan mendadak nih, kamu baik-baik saja yah. Nanti Mas kesini lagi," ucapnya.


"Iya Mas." ucapku.


Raka berjalan keluar lalu melajukan kendaraanya, akupun bergegas mengambil tas lalu mengunci pintu rumah. Untung saja saat Raka menelpon tadi aku langsung memesan taksi online untuk membututinya. Saat taksi sudah sampai aku bergegas masuk lalu menyuruhnya untuk membututi mobil Raka.


30 menit berlalu akhirnya Raka berhenti disebuah parkiran rumah sakit besar, akupun segera mengikutinya. Kulihat dia berjalan menuju ruang IGD, lalu dia berbicara dengan seseorang, mungki itu Angga.


Raka langsung bergegas masuk ruangan ke IGD itu, akupun tak tingggal diam, dengan menggunakan masker dan kaca mata, ku beranikan diri menyelinap masuk ke dalam IGD, kulihat raka sedang berbicara dengan dokter, namun pandanganku beralih ke wanita yang tengah berbaring kesakitan.


Aku masih berdiri mengintipnya, namun aku tak mendengar apa yg Raka bicarakan dengan dokter itu.

__ADS_1


Kulihat Raka menggenggam erat tangan wanita itu, perlakuannya membuat hatiku terbakar cemburu, hati ini panas tak karuan melihatnya. Namun aku harus tahan, agar aku mengetahui semuanya. Ku potret mereka lewat ponselku lalu kusimpan.


Tiba-tiba dokter dan suster membawa wanita itu berjalan ke ruang operasi, kulihat Rakapun ikut mendampinginya dengan raut cemas. Siapa sebenarnya wanita itu?? Kepalaku penuh dengan tanda tanya.


__ADS_2