
***
"Teh, makan dulu sebelum berangkat, ini ibu sudah siapkan." ucap Ibu.
"Iya bu." ucapku, lalu bergegas mengahampiri ibu.
Yah, setiap hari Ibu selalu sibuk menyiapkan sarapan, makanan dan semua keperluan aku, bapak, dan adikku.
Aku sangat beruntung, mempunyai Ibu sepertinya, selalu sabar dan tabah dalam situasi apapun.
"Bu, teteh berangkat dulu yah," ucapku, setelah menyantap makanan yang dibuatkan Ibu.
"Iya hati-hati." ucapnya, sambil tersenyum hangat.
***
"Mbak, maaf apa saya mengganggu?" tanyaku pada Mbak Titi.
"Nggak, ada apa Maria." jawabnya.
"Ini Mbak, saya mau minta form pengunduran diri," ucapku.
Mbak Titi menatapku heran setelah mendengar ucapanku, dia pun segera menarikku kebelakang lalu mengajakku duduk.
"Maria, ada apa? kenapa tiba-tiba mengundurkan diri, apa disini ada yg jahatin kamu?" tanyanya.
"Nggak Mbak, saya nyaman kerja disini. Hanya saja, saya akan kuliah Mbak. Rasanya tidak mungkin jika harus kuliah sambil kerja," jawabku.
Namun tiba-tiba Nana menghampiri kami, dengan wajah masam yang membuatku ingin sekali menjitak jidatnya yang lebar itu.
"Sok-sok'an mau kuliah, emang udah punya duit banyak? Paling-paling baru 1 semester udah mogok." ucapnya.
"Kamu apa-apaan Nana, gak sopan." Mbak Titi memarahinya.
"Syukurin!" gumamku dalam hati.
__ADS_1
Dia pun segera pergi meninggalkan kami.
Entah kenapa sepertinya nana tak menyukaiku semenjak aku disini, padahal selama ini aku tak pernah mengganggunya.
"Maaf ya Maria, memang Nana seperti itu, mohon dimaklumi saja." ucap Mbak Titi.
"Iya mbak, nggak papa." ucapku.
"Ya sudah, kalau itu sudah keputusanmu, Mbak harap itu pilihan yang terbaik. Tapi kamu sudah tahu kan konsekuensinya, jika berhenti sebelum kontrak habis?"
"Iya Mbak saya tahu, saya sudah siap dengan itu." ucapku menyakinkan.
"Oke, nanti mbak ambilkan."
"Terima kasih mbak,"
"Iya sama-sama."
Aku pun segera kembali melaksanakan pekerjaanku, kulihat pelanggan sudah mulai mengantri.
"Iya Mbak, terimakasih." ucapku.
Akupun segera menyimpan form tersebut kedalam tasku.
***
Tak terasa waktupun mulai gelap, kulihat jam menunjukkan pukul 10 malam. Aku pun bergegas membereskan semuanya, setelah selesai kami pun menutup toko lalu pulang ke rumah masing-masing.
Saat keluar toko kulihat bapak sedang menungguku, akupun bergegas menghampiri bapak. Kuucapkan salam, lalu menyalaminya.
Bapak pun segera memutar motor tuanya, lalu memboncengku pulang kerumah.
Tak lama kemudian akhirnya sampai rumah, aku dan Bapak langsung bergegas masuk. Karena kelelahan, akupun segera menuju kamar lalu merebahkan tubuh diatas ranjang.
Drrrrttttt...
__ADS_1
ponselku bergetar.
Kulihat ternyata Raka menelponku, walaupun lelah akupun segera menerima panggilannya.
"Iya hallo, ada apa mas," ucapku.
"Nggak ada apa-apa, hanya ingin mendengar suaramu saja." ucapnya.
" Kirain ada apa?"
"Oya gimana, apa udah dapet form nya?" tanyanya.
"Udah, tapi... Mas apa kamu benar-benar yakin?" tanyaku balik.
"Yakin, emang kenapa, kamu nggak percaya??"
"Percaya sih, tapi nggak enak aja. Takut orang tua mas gak setuju," ucapku.
"Tidak ada yg mampu menghalangi keinginanku, termasuk orang tuaku," ucapnya tegas.
"Kok gitu sih mas"
"Tenang aja, mereka pasti setuju."
"Ya sudah Mas, saya hanya berharap semoga keputusanmu tidak akan menimbulkan masalah."
"Ya sudah, kamu istirahat. Mas mau melanjutkan pekerjaan Mas dulu,"
"Iya mas."
Kuakhiri panggilan dengan Raka, kuletakan ponselku disebelah tubuhku, namun aku belum bisa tidur.
Entahlah pikiranku masih terganggu dengan sikap Raka yang menurutku terlalu baik, bahkan sangat baik. Walaupun dia egois, namun ke egoisannya itu dia pakai untuk sesuatu yang tepat.
Aku berusaha menyakinkan tentang keputusanku, walau sebenarnya aku masih ragu, karena menolak pun percuma, dia akan tetap memaksa.
__ADS_1