Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Surat Cinta dari pengadilan


__ADS_3

***


"Neng, tadi Bibi ketemu sama Den Raka." ucap Bi Siti saat sampai dirumah.


"Apa Bi, ketemu Raka?, terus dia tahu kita disini?" Ucap Maria terkejut.


"Sepertinya nggak Neng,"


"Syukurlah!" ucap Maria lega sambil mengusap dadanya.


"Lain kali Bibi hati-hati kalau keluar,"


"Iya Neng, maafin Bibi yah!"


"Iya."


"Ya sudah Neng sarapan dulu," ucap Bi Siti sambil menyodorkan semangkuk bubur ayam.


"Iya Bi, terimaksih." ucap Maria tersenyum.


Saat Maria sarapan, tiba-tiba Ibu Maria menghubunginya lewat telepon.


"Assalamualaikum Bu," salam Maria.


"Wa'alaikumsalam." jawab Ibunya.


"Ibu sehat?"


"Alhamdulillah Teh, Ibu dan Bapak sehat-sehat saja. Oya teh, Ibu dan Bapak nanti besok mau ke jakarta, ke rumahmu."


Maria terdiam, bagaimana harus memberitahu keadaannya sekarang.


"Teh, kamu kenapa?"


"Nggak papa bu, tapi..!" ucap Maria bingung.


"Tapi kenapa Teh?"


"Teteh sekarang sedang sembunyi Bu,"


"Sembunyi gimana maksudnya?"


"Teteh dikejar-kejar terus sama Raka, jadi Teteh sekarang sedang bersembunyi agar Raka nggak bisa bertemu dengan Teteh."


"Ya ampun Teh, terus keadaanmu gimana teh?"


"Teteh baik-baik aja kok Bu, ada Pak Dewa yang selalu melindungi Maria."


"Pak Dewa bos mu itu?"


"Iya Bu,"


"Ibu kesana ya Teh,"


"Nggak usah Bu."


"Tapi Ibu khawatir."


"Tapi Teteh bilang Pak Dewa dulu ya Bu."


"Ya sudah, kabarin Ibu ya."


Panggilan pun berakhir, Mariapun melanjutkan sarapannya yang tertunda. Setelah selesai sarapan, Maria segera mebghubungi Pak Dewa. Namun saat akan memulai panggilan, tiba-tiba Pak Dewa datang.


"Assalamualaikum," Ucap Pak Dewa sambil berjalan masuk.


"Wa'alaikum salam," ucap Maria sambil menghampiri sumber suara Pak Dewa.


"Pak Dewa, selamat pagi Pak." Sapa Maria saat bertemu.


"Pagi. Oya Maria, kata anak buah saya tadi Bi Siti bertemu Raka. Apa itu benar?" Tanya Pak Dewa.


"Iya Pak," jawab Maria.


"Lain kali, kalau mau beli makanan apapun sebaiknya pesan lewat online saja."


"Iya Pak. Oya Pak, silahkan duduk."

__ADS_1


Mereka pun akhirnya duduk bersama.


"Bi, tolong kesini dulu Bi." Panggil Maria.


Bi Sitipun segera menemui Maria yang memanggilnya.


"Selamat pagi Pak Dewa," sapa Bi Siti Ramah saat melihat Pak Dewa.


"Pagi Bi." Ucap Dewa.


"Tolong bikinin Pak Dewa kopi ya Bi, seperti Biasanya." Ucap Maria.


"Iya Neng."


Bi Siti kembali kedapur untuk membuatkan kopi.


"Oya Pak, kebetulan. Sebenarnya ada yang ingin saya bicarakan kepada Bapak."


"Tentang?"


"Tentang saya."


"Maksudnya?"


"Ibu dan Bapak mau kesini, boleh nggak?" Tanya Maria sambil menatap Bosnya.


"Boleh," jawab Dewa sanatai.


"Tapi, gimana kalau Raka melihat Ibu?"


"Biar nanti anak buah saya yang menjemput orangtuamu."


"Baik Pak."


"Sekarang juga saya akan menyuruh anak buah saya menjemputnya. Segera hubungi orangtuamu untuk bersiap-siap."


"Iya Pak."


Maria segera menghubungi Ibunya kembali.


"Bu, kata Pak Dewa, nanti anak buah Pak Dewa saja yang jemput Ibu sama Bapak." ucap Maria saat telepon berlangsung.


"Sekarang Ibu sama Bapak siap-siap yah."


"Iya Teh."


Dewa yang sekarang bukanlah Dewa yang dulu, kehadiran Maria dihidupnya banyak memberikan pengaruh baik kepada Dewa. Sikapnya yang dingin, sekarang muali hangat kepada siapapun, terlebih kepada Maria. Inilah alasan Bu Dewi, berharap Maria menjadi menantunya.


"Maria, tolong kamu siapkan File meeting untuk hari ini." Ucap Pak Dewa setelah Maria menutup teleponnya.


"Bapak nggak ke kantor?" Tanya Maria.


"Nggak, saya mau kerjakan disini. Sambil bisa memantaumu."


"Ok Pak."


Maria memandang Dewa yang sedang sibuk mengotak-ngatik laptopnya dengan senyum manis merekah dibibirnya. Maria mulai merasa nyaman dengan semua perhatian Dewa padanya, dan Dewa pun sebenarnya mulai mencintai Maria, namun Dewa tak menyadarinya.


Satu jam, dua jam berlalu akhirnya Maria menyelesaikan semua yang dibutuhkan Dewa.


"Ini Pak, saya sudah selesaikan semuanya. Tolong di cek kembali." Ucap Maria, sambil memperlihatkannya.


Dewa pun langsung memeriksa hasil pekerjaan Maria.


***


Esok harinya Dewa membuka surat perceraian Dewa dengan Raisya dari pengadilan yang sudah dikirim sejak hari kemarin, namun Dewa baru sempat membukanya. Setelah dibuka dan dibacanya, Dewa lega karena pengadilan mengabulkan keinginannya.


"Surat apa itu?" Tanya Bu Dewi saat duduk disofa ruang tamu rumahnya.


"Ini Mi, surat dari pengadilan." Jawab Dewa.


"Hasilnya?"


"Pengadilan mengabulkan keinginanku, Mi. Jadi Dewa sudah bebas dari Raisya."


"Dan bisa mendekati Maria." Bu Dewi melanjutkan ucapan Raka sambil tersenyum.

__ADS_1


"Mi, mulai deh." ucap Dewa malu.


"Kenapa?, Emang Mami suka kok sama Maria."


"Ya udah Mi, Dewa ke kantor dulu yah." Pamit Dewa lalu menyalami Dewi.


"Hati-hati,"


Setelah itu Dewa bergegas keluar menuju kantor.


***


"Teh, kamu nggak ke kantor?" Tanya Ibunya Maria, saat melihat Maria masih duduk di ruang kerjanya.


"Nggak Bu. Semenjak kejadian waktu itu, Pak Dewa menyuruh Maria untuk kerja dari rumah." Jawab Maria sambil mengotak-ngatik laptopnya.


"Kejadian waktu kapan maksudnya?"


Maria kaget, mendengar pertanyaan Ibunya itu. Maria lupa kalau Dia sengaja merahasiakannya kejadian penyekapan dari orangtuanya.


"Itu, maksudnya kejadian Raka ngejar-ngejar Maria." Maria terpaksa berbohong.


"Baik sekala Pak Dewa itu yah."


Maria hanya tersenyum mendengar ucapan Ibu. Tak lama kemudian, seorang pengawal mengetuk pintu.


Tok, tok, tok!


"Masuk," ucap Maria.


"Maaf Bu, ada Pak Dewa didepan."


"Oh iya, nanti saya kesana."


Maria dan Ibunya bergegas keluar menemui Dewa yang sudah menunggu.


"Selamat Pagi Pak," salam Maria.


"Pagi. Ibu," ucapnya sambil menyalami Ibu Maria.


"Pak Dewa terimakasih kemarin sudah menjemput Ibu sama Bapak," Ucap Ibu Maria.


"Sama-sama Bu, Bapak kemana?" Tanya Dewa.


"Bapak lagi dibelakang," jawab Ibu Maria.


Bi Siti menghampiri kami dengan membawakan minuman, lalu dihidangkan dimeja.


"Silahkan Pak di minum kopinya," ucap Bi Siti.


"Iya Bi terimakasih." Ucap Dewa.


Setelah itu, Bi Sitipun kembali ke dapur.


"Kalau gitu, Ibu kebelakang dulu yah nemenin Bapak," ucap Ibunya Maria.


"Iya Bu, silahkan." Ucap Dewa.


Setelah kepergian Ibunya Maria, Dewa mulai berbincang membicarakan tentang pekerjaan. Maria pun dengan sigap mendengarkan dengan seksama, lalu mencatat ucapan-ucapan penting yang keluar dari bosnya itu.


"Kamu udah ngerti kan," ucap Dewa.


"Mengerti Pak, saya akan kerjakan secepatnya." Ucap Maria "


"Kalau gitu saya ke kantor dulu," ucap Dewa, namun saat berdiri sesuatu jatuh dari dalam tas Dewa.


"Maaf Pak, ini suratnya jatoh." Ucap Maria sambil memungutnya.


Maria terkejut karena tak sengaja membaca tulisan yang berada di amplop itu.


"Surat pengadilan, Bapak jadi bercerai denga Mbak Raisya?" Tanya Maria secara spontan.


"Iya," jawab Dewa singkat sambil meraih amplop dari tangannya Maria.


"Maaf Pak, saya sudah lancang." Ucap Maria tertunduk.


Dewa hanya tersenyum melihat Maria, lalu pergi begitu saja. Setelah kepergian Dewa, Mariapun pergi ke ruang kerjanya.

__ADS_1


Satu jam kemudian, Maria mendengar suara bisik seperti orang bertengakar. Mariapun langsung keluar untuk melihat, namun alangkah terkejutnya ternyata yang datang adalah ...?


__ADS_2