
Kita intip Raka dulu yuk Reader, hehehehe.
***
Malam itu Raka duduk termenung dibalkon kamarnya, Raka masih belum bisa melupakan Maria, wanita yang sangat dicintainya. Namun takdir berkata lain, saat Winda masuk ditengah-tengah hubungannya. Dia harus kehilangan Maria, karena harus menikahi Winda. Masih teringat dengan jelas, masa-masa indah yang dia habiskan dengan Maria. Sesekali dia masih sering memandangi foto Maria, yang masih tersimpan dengan baik.
Tiba-tiba, Winda menghampirinya dengan membawakan segelas kopi untuk Raka. Lalu Winda pun duduk disebelah suaminya itu.
"Mas, mau sampai kapan kamu begini?" Tanya Winda, istri yang telah menemaninya selama tiga tahun lebih.
"Maksud kamu?" Tanya Raka yang masih termenung.
"Kamu harus melupakannya Mas dan menerimaku sebagai istrimu." ucap winda tertekan.
"Selama ini, saya sudah berusaha menerimamu Win. Tapi maaf jika harus melupakan Maria, saya masih belum sanggup." Ucap Raka sambil menghelakan nafasnya dalam.
"Sampai kapan Mas?" Tanya Winda dengan matanya yang mulai memerah karena memendam perih dihatinya.
"Maafkan saya Winda, saya pun tak tahu sampai kapan. Kamu tahu kan, kalau saya sangat mencintainya." Ucapnya lirih.
"Tapi Mas, dia bukan takdirmu. Kamu harus sadar dong, dia bukan jodohmu!"
"Sudah lah Winda, kamu tak perlu berbicara seperti itu. Saya masih butuh waktu untuk menerima takdir ini." Ucapnya, lalu pergi meninggalkan Winda yang mulai menitikan air matanya.
Rumah tangga Raka dengan Winda sejak awal memang tidak sehat, Raka menikahinya karena wasiat suami Winda yang tak lain adalah sahabat dekatnya Raka. Jelas, tak ada cinta dihati Raka, walaupun Winda sudah mencintainya. Raka masih saja memikirkan Maria dan berharap suatu saat nanti bisa bersama kembali dengan Maria. Walaupun dia tahu, bukanlah hal mudah untuk mewujudkannya.
***
Paginya, Winda memutuskan untuk menemui Maria di rumahnya tanpa sepengetahuan Raka.
"Assalamualaikum," ucap winda saat tiba didepan pintu Rumah Maria.
"Wa'alaikumsalam," ucap Bi Siti sambil membuka pintu.
"Maaf, cari siapa ya Mbak?" Tanya Bi Siti.
__ADS_1
"Saya ingin bertemu dengan Maria," ucap Winda.
"Ada siapa Bi?" Tanya Maria setengah berteriak, yang berjalan menghampirinya.
Sesampainya didepan, Maria terkejut melihat Winda.
"Winda!"
"Iya Maria, saya Winda."
"Silahkan masuk," ajak Maria pada winda.
Setelah itupun mereka duduk bersama diruang tamu, untuk membahas perihal kedatangan Winda. Yah, Maria selalu baik kepada siapapun walaupun dia tahu bahwa Winda yang telah menghancurkan kisah cintanya denga Raka, lelaki yang sangat dia cintai.
"Ada apa kamu kesini?" Tanya Maria.
"Maaf saya mengganggu waktu mu Maria," ucap Winda.
"Langsung aja Win, kepokok masalahnya. Saya nggak punya banyak waktu, satu jam lagi saya harus ke kantor." Ucap Maria.
Maria tertegun mendengar ucapannya.
"Winda! Semenjak Raka menikahimu, saya sudah menjauhi dia. Harusnya kamu nasihati suamimu itu, untuk tidak mengganggu hidupku lagi." ucap Maria dengan kesal.
"Tapi Raka selalu memikirkanmu Maria, dia masih saja belum bisa mencintaiku."
"Apa urusannya dengan saya, itu urusan kalian. Kalian yang memutuskan untuk menikah, kenapa sekarang malah menyalahkan saya?" ucap Maria kesal.
"Bantu saya Maria," ucap Winda memohon.
"Maaf Win, itu semua bukan urusan saya. Maaf saya harus pergi ke kantor." Ucap Maria, lalu berjalan meninggalkan Winda yang masih terduduk.
Bi Siti menghampiri Winda yang masih terduduk diam, dengan membawakan segelas minuman.
"Diminum dulu Mbak, ini Bibi sudah buatkan." Ucap Bi Siti.
__ADS_1
"Iya Bi terimakasih," ucap Winda sambil menerima lalu meneguknya.
"Ya sudah Bi, saya pamit."
"Iya, hati-hati Mbak."
Bi Siti pun mengantarkan Winda sampai kepintu depan.
Winda berjalan dengan wajah muram, dia memikirkan nasib hubungannya dengan Raka. Dia bingung harus seperti apa, terlebih saat ini dia tengah mengandung buah cintanya dengan Raka.
Sesampainya di rumah, Raka menghampiri Winda yang tengah berdiri didapur.
"Kamu darimana pagi-pagi begini?" Tanya Raka.
"Habis menemui Maria," jawabnya santai sambil menuangkan air kedalam gelas yang dipegangnya.
"Apa? Jangan macam-macam kamu Winda. Untuk apa kamu menemui dia?" Tanya Raka dengan nada marah.
Winda meneguk air minum yang sudah dituangnya.
"Hanya ngobrol biasa," jawab Winda dengan santainya, lalu berjalan meninggalkan Raka yang masih berdiri kebingungan.
"Winda! Saya belum selesai bicara." Teriak Raka kesal.
Namun Winda tak menggubrisnya, Winda langsung masuk ke dalam kamarnya lalu menangis. Raka tak tinggal diam, dia pun mengikuti Winda lalu mengahampirinya lagi. Raka memeluk Winda yang sedang menangis karena sikapnya selama ini yang selalu acuh tak perduli dengan perasaan Winda.
"Maafkan saya Winda," ucapnya sambil mengelus rambut Winda.
Namun Winda hanya menangis mendengarkan ucapan Raka, kata maaf yang sudah sering kali ia dengar dari mulut suaminya itu.
"Winda, saya mohon kamu jangan begini. Ingat, dirahim mu ada janin anak kita. Saya nggak mau terjadi apa-apa dengannya." Ucap Raka.
"Jika kamu sudah tahu ada janin anakmu dirahimku, tapi kenapa kamu masih memikirkan wanita lain yang justru sangat menyakitiku." Ucap Winda terisak.
Raka hanya terdiam, mendengar ucapan yang keluar dari mulut Winda. Raka sadar selama ini dia salah, tapi diapun bingung harus seperti apa. Dia sudah berusaha untuk mencintai Winda, namun tetap hanya Maria yang terlukis indah dihatinya.
__ADS_1