
***
"Permisi mbak, saya Maria. Karyawan baru disini, saya mau bertemu dengan Pak Dewa?" Ucapku pada seorang resepsionis.
"Oh, iya mbak. Tunggu sebentar, saya konfirmasi dulu ke Pak Dewa," Ucapnya.
Resepsionis dihadapanku pun segera menghubungi Pak Dewa.
"Silahkan Mbak, Pak Dewa sudah menunggu di ruangannya. Ruangan Pak Dewa terletak dilantai 7." ucapnya ramah.
"Baik Mbak terimakasih." ucapku.
Kulangkahkan kakiku menuju ruangan Pak Dewa dengan menggunakan lift.
"Permisi," ucapku sambil mengetuk sebuah pintu yang bertuliskan Pak Dewa.
"Masuk." ucapnya dari dalam ruangan.
Akupun segera membuka pintu lalu masuk mengahadap seorang laki-laki yang tengah sibuk dikursi kerjanya. Wajahnya tampak putih bersih, wangi dan menawan.
"Permisi Pak, maaf saya Maria," Ucapku dengan gugup memperkenalkan diri.
"Silahkan duduk." perintahnya.
Akupun segera duduk dikursi yang ada dihadapanku.
"Sata sudah membaca profil dan riwayatmu, saya harap kamu bisa bekerja dengan baik." ucapnya tegas.
"Baik Pak, saya akan berusaha memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini," ucapku.
"Kamu juga harus siap kerja lembur dan harus selalu siap jika saya membutuhkanmu kapanpun."
"Baik Pak."
Yah, aku diterima sebagai sekretaris yang merangkap sebagai asisten. Memang bukan perkerjaan mudah, bukan hanya karena gaji yang ditawarkan cukup fantastis, tapi aku juga merasa tertantang.
"Ya sudah, ruang kerjamu disebalah sana. Kamu sudah bisa mulai kerja sekarang juga. Tolong kamu rekap jadwal saya satu minggu kedepan," ucapnya sambil menunjukkan sebuah ruang kerja yang tak jauh dari mejanya.
"Baik Pak." ucapku, sambil membawa berkas yang diberikannya.
***
"Maria, ini udah waktunya makan siang. Silahkan istirahat saja dulu, nanti kamu lanjutkan siang nanti". ucapnya.
"Baik Pak," ucapku.
Sat hendak keluar, tiba-tiba seorang wanita masuk tanpa permisi. Tentusaja aku terkejut, kulihat wanita itu sangat cantik, rambutnya panjang tergerai indah dengan memakai dres mini yang menonjolkan lekukan tubuhnya.
"Hai Mas," ucapnya menyapa Pak Dewa.
"Ngapain kamu kesini?" Jawab Pak Dewa ketus.
"Sayang, jangan marah dong. Aku minta maaf." ucapnya.
" Maaf Pak saya permisi dulu," ucapku.
Aku pun segera pergi, karena tak enak jika harus menyaksikan mereka berdua.
Akupun bergegas turun, lalu berjalan menuju kantin.
***
"Hai, kamu karyawan baru yah disini?" Ucap seorang wanita berdiri di depan meja ku.
"Iya mbak," ucapku sambil tersenyum.
"Kenalin, saya Sintia. Saya karyawan disini juga," ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
"Saya Maria, sekretarisnya Pak Dewa." ucapku sambil menjabat tangannya.
__ADS_1
"Apa, jadi kamu sekretarisnya Pak Dewa yang baru?" ucapnya terkejut.
"Iya Mbak, emang kenapa?" tanyaku.
"Nggak papa, cuma kagum aja." jawabnya.
"Kagum gimana maksudnya Mbak?" tanyaku penasaran.
"Pak Dewa itukan super-super teliti, kesalahan kecil pun jadi besar dimatanya." jawabnya.
Aku pun hanya menganggukan kepala mendengar ucapannya, karena aku juga belum mengetahui sepenuhnya tentang Bos ku itu. Tapi dilihat dari ruangan dan penampilannya, memang sudah menggambarkan kalau Pak Dewa orang yang sangat teliti dalam hal apapun. Mungkin itulah sebabnya, walau muda dia sudah sukses dari segi materi.
"Kamu hebat Maria, bisa terpilih menjadi sekretarisnya. Walaupun Pak Dewa itu sikapnya kadang nyebelin, sebenarnya beliau orang yang sangat royal, beliau tak sungkan memberikan bonus pada karyawannya jika pekerjaan yang kita lakukan sesuai harapannya." Upanya rinci dengan wajah serius.
"Masa sih Mbak?" Ucapku merasa tak percaya.
"Iya Maria, kamu harus hati-hati sama Pak Dewa. Apalagi kalau sudah ada ulet bulunya datang, ihhh males banget."
"Ulet bulu?? Emang Pak Dewa punya ulet bulu?" tanyaku penasaran.
"Ada, cewek seksi yang sering kegenitan sama Pak Dewa, namanya Raisa."
"Oh iya tadi sebelum saya keluar, emang ada cewek seksi yang masuk keruangan Pak Dewa,"
"Nah itu orangnya."
Tak terasa makan siangku habis tak bersisa.
"Oya Mbak, saya permisi dulu yah mau ke Mushola," ucapku.
"Ngapain?" tanyanya.
"Sholat lah Mbak." jawabku.
"Ohhhh, ya sudah. Tapi, nanti kita ngobrol lagi yah, boleh minta no teleponmu?"
Aku pun mengangguk sambil menunjukkan no teleponku padanya, setelah itu pun aku bergegas menuju mushola.
***
"Hehh, kamu sekretaris baru yah," ucapnya nyolot.
"Iya Mbak." ucapku.
"Awas yah jangan macam-macam sama calon suami saya," ucapnya mengancam.
"Raisya, apa-apaan kamu ini. Pergi dari ruangan saya, jangan ganggu dia. Jangan sampai dia mengundurkan diri gara-gara kamu," bentak Pak Dewa pada wanita yang bernama Raisya itu.
"Mas, aku gak ngapa-ngapain. Aku hanya mengingatkannya," ucap Raisya.
"Sudah, saya malas berdebat denganmu, sekarang kamu keluar. Kalau tidak, saya akan menyuruh satpam untuk menyeredmu keluar." ucap Pak Dewa.
Ku lihat Pak Dewa begitu murka pada Mbak Raisya, akupun merasa takut melihat ekspresinya marah, benar-benar sangat menyeramkan.
Wanita bernama Raisya itupun keluar, sambil berjalan dia menatapku tajam seolah-olah akan menerkamku.
Kuhelakan nafasku dalam-dalam untuk melepaskan rasa sesak didada menyaksikan kejadian tadi.
Aku teringat ucapan Mbak Sintia tadi, mungkin yang dimaksud ulet bulu olehnya itu Raisya, yang mengaku sebagai calon istrinya Pak Dewa.
Tapi, kenapa sikap Pak Dewa tak menunjukkan Kalau Raisya itu calon istrinya. Pak Dewa pun tak menjelaskan apapun, setelah kepergian Raisya.
Tak terasa matahari mulai meredup, jam tanganku menunjukkan tepat jam tiga sore. Saatnya aku pulang, aku pun segera menyerahkan hasil kerjaku hari ini pada Pak Dewa. Mudah-mudahan saja hasil kerjaku sesuai yang diinginkannya.
"Ok, saya suka dengan hasil kerjamu," ucapnya sambil memeriksa file yang aku berikan.
"Ya sudah, sekarang kamu boleh pulang. Saya tidak akan memintamu lembur hari ini, karena hari ini hari pertamamu kerja. Tapi mulai besok dan seterusnya kamu harus siap," ucapnya menekan.
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi!" ucapku.
__ADS_1
Pak Dewa hanya mengangguk, lalu aku pun bergegas keluar untuk pulang.
Namun saat aku berjalan menuju loby, tiba-tiba seseorang memanggilku.
"Mbak Maria," ucapnya. Aku pun segera menoleh, ternyata Mbak Sintia yang memanggilku.
"Iya Mbak ada apa?" tanyaku penasaran.
"Kamu mau pulang kan, bareng aja sama saya. Kamu tinggal di rumah dinas PT. DEWANGGA kan." jawabnya.
"Iya mbak, emang kenapa?" Tanyaku.
"Barenga aja, kebetulan kita satu arah,"
"Emang Mbak Sintia tinggal dirumah dinas juga?"
"Ya nggak lah Mbak Maria, saya kan hanya staf. Yang tinggal disitu khusus sekelas manager, direktur, dan sekretaris Pak Dewa,"
"Loh kok cuma sekretaris Pak Dewa, emang sekretaris lain nggak dapet?"
"Ya nggak lah, Pak Dewa itu kan anak CEO dari perusahaan ini, jadi hanya sekretaris Pak Dewa yang mendapatkan inventaris Rumah. Dan nanti setelah satu bulan kerja akan dapat mobil berikut supirnya."
" Ohhhh gitu,"
"Emang kamu nggak tahu tentang ini?" Akupun hanya menggelengkan kepala.
"Ya sudah, kita pulang yuk. Kebetulan saya ngekos di area rumah dinas, jadi kita searah."
Kamipun akhirnya pulang bersama dengan mengendarai mobil Mbak Sintia.
***
Setelah sampai akupun segera merebahkan tububku ini, namun tiba-tiba ponselku bergetar, Raka menelponku.
"Halo sayang, kamu udah pulang? Ucapnya perhatian.
"Udah Mas, baru saja sampai." ucapku.
"Ohhh... Oya, Mas sudah carikan ART buat kamu. Sekarang dia sedang diperjalanan, mungkin sebentar lagi sampai."
"Iya Mas, terimakasih."
Tiba-tiba sura ketukan pintu terdengar.
"Mas kayaknya ART nya udah dateng deh, saya keluar dulu yah." ucapku.
"Iya.."
Akupun segera berjalan menuju pintu, untuk menastikan siapa yang datang.
"Punten Non, saya Bi Siti yang akan menjadi ART disini." ucapnya.
"Iya Bi, jangan panggil saya Non ya Bi. Panggil saja saya Maria," ucapku.
"Oh iya neng Maria,"
"Silahkan masuk Bi"
Bi Siti pun segera masuk, lalu mengantarkannya ke kamar.
"Ini kamar Bibi yah," ucapku sambil membukakan pintu kamar.
"Iya neng Maria, Bibi suka kamarnya." ucapnya.
"Ya sudah Bibi istirahat saja dulu, pasti capek kan,"
"Nggak kok neng, Bibi mau langsung beres-beres saja neng."
"Nggak usah Bi, besok saja mulai kerjanya."
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu Bibi mau membereskan pakaian Bibi saja."