Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Perhatian Dewa


__ADS_3

***


Setelah dua jam perjalanan lebih, Dewa akhirnya menemukan titik dimana Raka menyekap Maria.


"Sepertinya ini tempatnya!" Ucapnya sendiri saat melihat sebuah bangunan rumah kosong yang sangat sepi.


Dewa langsung turun dari mobilnya lalu mengendap-endap ke arah bangunan yang dia yakini ada Maria didalamnya.


Langkah demi langakah, akhirnya mata Dewa tertuju pada sebuah kamar di area belakang bangunan rumah itu. Semakin dekat, sangat jelas sekali tawa Raka terdengar ditelinganya.


Dewa pun semakin mendekati kamar itu, lalu mengintipnya lewat jendela kamar.


"Mas, tolong lepaskan. Kamu jangan gila Mas!" Suara teriakan Maria terdengar oleh Raka.


"Jangan harap, Maria. Hahahahaha!"


Raka sepertinya sudah sangat tergila-gila, sampai tega menyekap Maria.


Dewa semakim geram melihat kelakuan Raka, diapun berinisiatif untuk menghubungi pihak kepolisian. Namun saat hendak menekan nomor kepolisian, tiba-tiba Winda menarik tangan Dewa.


"Siapa kamu?" Tanya Dewa sambil melepaskan tangannya dari genggaman Winda.


"Husttt! Saya Winda, Istri Raka." Jawab Winda berbisik.


Dewa memperhatikan Winda yang tengah hamil berdiri dihadapnnnya, sambil menatap iba pada Winda.


"Saya akan membantumu melepaskan Maria dari Raka, tapi tolong jangan hubungi polisi." Ucap Winda.


"Ok, tapi kamu harus menjamin Raka untuk tidak mengganggu Maria lagi." Ucap Dewa.


"Ok, saya akan jamin itu. Tapi sekarang kita harus kerja sama melepaskan Maria."


"Rencanamu apa?"


"Saya akan masuk kedalam lalu berpura-pura kesakitan dan meminta Raka untuk mengantarku ke rumah sakit. Setelah Raka keluar kamu langsung menyelinap masuk, ok!"


"Ok."


Winda pun langsung masuk kedalam rumah itu, lalu mengetuk kamar yang menyekap Maria.


"Mas Raka, kamu didalam ya? Tolong buka, saya mau bicara." Teriak Winda sambil menggedor pintu.


Raka menoleh kesal karena kedatangan Winda, namun Raka tetap membukakan pintu.


"Kamu ngapain sih kesini segala?" Tanya Raka kesal.


Winda terdiam lalu pandangan tertuju pada Maria yang terikat, Winda pun merasa kasian melihatnya.


"Kamu ngapain nyekap Maria?" Tanya Winda.


"Bukan urusanmu!" Raka menjawab acuh.


"Lihat, dia sepertinya sedang sakit. Wajahnya pucat dan sepertinya dia sedang menahan sakit."


"Nanti saya akan bawakan dokter kesini."


"Tapi Mas, kamu sudah berlebihan. Bagaimana jika ada orang lain melihatnya, kamu bisa dipenjara."


"Saya sudah pernah dipenjara, saya tidak takut hal itu."


"Tapi anakmu tak rela jika ayahnya harus meringkuk lagi di penjara."


"Saya nggak peduli, yang saya butuhkan sekarang Maria, wanita yang sangat saya cintai sampai kapanpun."


"Tapi kamu telah menyakiti dia Mas, tolong lepaskan dia. Saya mohon,"


"Nggak akan saya lepaskan!"


Raka sepertinya sangat terobsesi pada Maria, dia akan tetap berusaha untuk memiliki Maria seutuhnya apapun caranya.


"Aduh!" Winda memegangi perutnya berpura-pura kesakitan.


"Kamu kenapa Win?" Tanya Raka. Raka memang tidak mencintai Winda, namun dia tetap menjaganya dengan baik.


"Aduhh, perutku keram Mas."


"Kamu sih pake cari saya sampe kesini segala, akhirnya gini kan!" Ucap Raka kesal, karena rencananya terhambat oleh Winda.


"Tolong antarkan saya ke rumah sakit Mas, tolong. Saya nggak kuat,"


"Tapi gimana dengan Maria?"


"Antarkan saja saya dulu Mas, nanti kamu kembali sambil membawa dokter untuknya."


Raka terdiam sejenak, mungkin sedang mempertimbangkan ucapan Winda.


"Ok, tapi setelah saya antar kamu ke rumah sakit, kamu jangan ganggu urusan saya lagi."


"Iya Mas, saya janji."


Raka pun langsung memapah Winda keluar, lalu mengantarkannya ke rumah sakit.


Setelah memastikan Winda membawa Raka pergi jauh, Dewa langsung masuk menolong Maria.


Brakkk!


Pintu didobrak paksa oleh Dewa, lalu dengan cepat melepaskan ikatan yang terlilit pada Maria.


"Pak Dewa!" Ucap Maria melihat kedatangan bosnya itu.


"Kamu nggak papa Maria?" Tanya Dewa cemas saat telah melepaskan tali yang terikat ditubuh Maria.


"Saya nggak papa Pak," jawab Maria dengan suara lemas.


Maria sangat kelelahan, selain karena sedang sakit, Maria pun belum makan apapun sejak pagi.


Dewa langsung menggendong Maria yang sudah lemas tak berdaya, lalu membawanya ke rumah sakit.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, Maria langsung ditangani dokter. Dewa pun masih menunggu Maria didepan pintu IGD, sambil mondar-mandir didepan ruangan karena mencemaskan keadaan Maria.


Dewa sudah tak perduli dengan apapun, bahkan mengabaikan panggilan dari beberapa kliennya demi menyelamatkan sekretarisnya yang sudah menemaninya selama tiga tahun lebih itu.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, dokter selesai memeriksa Maria.


"Bagaimana dok, keadaannya?" Tanya Dewa.


"Maria kelelahan, dia kehilangan banyak cairan yang membuatnya lemas. Lebih jelasnya kita tunggu hasil Laboratoriumnya, semoga tidak ada hal serius." Jawab dokter.


"Baik dok, berikan penanganan yang terbaik untuknya."


"Itu sudah pasti, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menolongnya. Kalau gitu saya pamit dulu,"


"Terimakasih."


Dewa memasuki ruangan IGD untuk melihat keadaan Maria yang sedang terbaring tak berdaya, dengan selang infus di tangannya.


"Pak!" Sapa Maria saat melihat Dewa mengahampirinya.


"Kamu istirahat saja, biar cepat pulih." Dewa menasihati Maria dengan lembut.


"Iya Pak, terimakasih."


"Kamu mau makan apa?"


"Terserah Bapak saja,"


"Saya beliin bubur, mau?"


Maria hanya mengangguk.


"Ya sudah kamu tunggu disini, nanti saya belikan."


"Tapi... Saya takut,"


"Nanti saya panggil suster untuk menemanimu."


Tak lama kemudian, Dewa membawa seorang suster untuk menemani Maria.


"Sus, tolong jaga dia dengan baik. Jangan tinggalkan sebelum saya kembali,"


"Baik Pak."


Dewa melangkahkan kakinya keluar dengan tenang setelah memastikan Maria aman.


Beberapa menit kemudian, Dewa sampai di kantin rumah sakit yang tak terlalu jauh.


"Bu, saya pesan buburnya satu porsi." Pesan Dewa pada seorang pelayan.


"Baik Pak." Ucap pelayan.


Dengan sigap, pelayan itu pun langsung menyiapkan pesanan Dewa. Saat menunggu pesanan, tiba-tiba ponselnya berdering. Dewa pun langsung mengambil ponselnya yang tersimpan disaku celananya. Ternyata Bu Dewi yang meneleponnya, dengan cepat Dewa menerima panggilan telepon dari Mami nya itu.


"Halo Mi," ucap Dewa.


"Saya di rumah sakit Mi,"


"Kamu sakit?"


"Bukan Mi, tapi Maria."


"Kenapa dengan Maria?"


"Nanti Dewa ceritakan ya Mi,"


"Sekarang kamu di rumah sakit mana?"


"Rumah sakit Medika."


"Mami kesana sekarang ya,"


"Mau apa Mi?"


"Mau melihat keadaan sekretarismu itu."


Bu Dewi menutup panggilan dengan anak semata wayangnya itu, lalu bergegas menuju Rumah Sakit Medika.


"Ini Pak pesanannya sudah siap," ucap seorang pelayan.


"Oh iya Bu," ucapnya sambil memberikan uang.


Setelah selesai membayar, Dewa langsung kembali ke tempat Maria.


Tak berselang lama, Dewa pun telah sampai.


"Maria, ini buburnya kamu makan yah," ucap Dewa.


"Iya Pak terimakasih, maaf selalu merepotkan Bapak." Ucap Maria tertunduk.


"Udahlah Maria, saya tidak merasa direpotkan. Makanlah!"


"Karena Pak Dewa sudah sampai, saya permisi," ucap seorang perawat yang telah menjaga Maria.


"Iya sus, terimakasih." Ucap Dewa.


Setelah perawat pergi, Dewa membukakan bubur lalu mulai menyuapi Maria. Namun Maria menolaknya.


"Nggak usah Pak, biar saya makan sendiri saja." Ucap Maria.


"Kamu bisa makan sendiri?"


"Bisa Pak,"


Maria berusaha untuk duduk, namun kepalanya mendadak pusing kembali.


"Aduh!" Ucap Maria sambil memegangi kepalanya.

__ADS_1


"Sini saya bantu," ucap Dewa sambil membantu Maria menyandarkan tubuhnya.


"Terimakasih Pak,"


Dewa hanya mengangguk, lalu menyuapi Maria.


Maria sebenarnya merasa tak enak hati dengan sikap bosnya itu, yang selalu membantunya dan selalu ada disetiap dia membutuhkan pertolongan.


"Sudah cukup Pak, saya ingin berbaring lagi. Kepalaku pusing sekali," ucap Maria setelah menelan makanan beberapa suap.


"Tapi ini makanannya masih banyak, apa kamu mau makanan yang lain?" Tanya Dewa.


"Nggak usah Pak, nanti pelan-pelan saya akan makan lagi."


Dewa pun membantu membaringkan Maria kembali.


"Oya Maria, ini ponselmu. Maaf saya sudah lancang, saya hanya ingin melacak keberadaanmu saja tadi. Cepat hubungi Bi Siti, sejak pagi dia mengkhawatirkan keadaanmu." Ucap Dewa sambil menyerahkan ponsel milik Maria.


"Iya Pak, terimakasih.".


Mariapun langsung menelepon Bi Siti.


"Halo Bi," ucap Maria dengan suara lemas.


"Neng dimana? Neng baik-baik aja kan," tanya Bi Siti.


"Saya baik-baim saja Bi, alhamdulillah Pak Dewa menolong saya Bi." Ucap Maria sambil melirik bosnya yang tampan itu.


"Alhamdulillah, akhirnya Neng selamat. Sekarang Neng dimana?"


"Saya dirumah sakit Bi,"


"Neng kenapa? Bibi kesana yah,"


"Nggak papa Bi, Bibi tunggu saya pulang aja yah."


"Ya sudah kalau mau Neng begitu, kalau ada apa-apa kabarin Bibi ya Neng."


"Iya, ya sudah saya istirahat dulu ya Bi."


"Iya Neng."


Panggilan pun berakhir.


"Maaf Pak, hari ini kan ada jadwal meeting dengan Pak Richard jam dua siang nanti. Apa Bapak nggak ingin menemuinya Pak?" Tanya Maria pada Dewa yang sedang duduk disebelah ranjangnya.


"Nggak usah pikirkan kerjaan dulu, saya sudah mengabari mereka." Jawab Pak Dewa.


"Maaf ya Pak, karena saya pekerjaan Bapak berantakan."


"Sudah lah Maria, urusan kerja bisa nanti. Yang penting keselamatanmu dulu."


Maria terdiam mendengar ucapan bos nya itu, Mari kagum dengan sikapnya yang sangat baik. Maria tak menyangka, bos yang dia kenal bisa berubah lembut dan sangat baik kepadanya.


Tiba-tiba, seseorang masuk kedalam ruangan Maria.


"Assalamualaikum!" Ucap Bu Dewi.


"Wa'alaikumsalam." Dewa dan Maria menjawab salam Bu Dewi secara bersamaan dan menolehnya.


Betapa terkejutnya Maria, ternyata yang datang ialah Bu Dewi.


"Bu Dewi." Ucapnya terkejut.


Bu Dewi tersenyum, lalu mengahmapiri Maria dan Dewa. Maria dan Dewa pun langsung menyalami Bu Dewi.


"Bagaimana keadaanmu Maria?" Tanya Bu Dewi.


"Alhamdulillah, sudah lebih baik." Jawab Maria.


"Ini Tante bawakan buah-buahan," ucap Bu Dewi sambil meletakannya di meja.


"Terimakasih Tante, maaf sudah merepotkan." ucap Maria.


"Nggak Maria, Tante tak merasa direpotkan." Ucap Bu Dewi sambik tersenyum.


"Mi duduk dulu," ucap Dewa.


"Kenapa belum pindah ke ruang perawatan?" Tanya Bu Dewi.


"Kita harus nunggu hasil Laboratoriumnya dulu Mi, jika Maria harus dirawat, baru dipindahkan."


"Apa yang terjadi pada Maria sebenarnya sampai seperti ini?" Tanya Bu Dewi.


"Nanti saya ceritakan Mi, sekarang bukan waktu yang tepat. Biarakan Maria istirahat dulu," ucap Dewa sambil melirik Maria yang mulai terlelap.


"Oh iya Maaf, sepertinya Maria sangat kelelahan. Sampai tartidur seperti itu."


"Mungkin dia merasa nyaman, karena semenjak sadar dari pinsannya tadi dia merasa ketakutan dan tak bisa beristirahat dengan tenang."


"Kasihan sekali kamu Nak, wanita sebaik kamu harus seperti ini." Ucap Bu Dewi sambil mengusap wajah sekretaris anaknya itu.


"Kita bicara diluar saja Mi, biarkan dia beristirahat dulu." Ajak Dewa.


Mereka pun akhirnya keluar, lalu duduk didepan ruangan Maria.


"Kita duduk disini saja ya Mi, saya khawatir dengan Maria." Ucap Dewa sambil mengecek Maria dari balik jendela ruangan.


"Kamu cinta sama Maria?" Tanya Bu Dewi sambil tersenyum.


"Nggak Mi, Dewa hanya khawatir saja. Dia kan sekretaris Dewa," jawab Dewa.


"Kamu belum menyadarinya Dewa, sejak kapan kamu sangat mengkhawatirkan sekretarismu seperti ini. Tapi Mami suka kok sama Maria,"


"Mi, apaan sih Mami ini. Surat cerai dari pengadilan saja belum turun, Mami udah main suka-suka aja."


"Emang kenapa, Mami memang suka kok. Maria itu wanita baik-baik, sopan, pintar, cantik lagi. Jangan sampe kamu nyesel Maria diserobot orang."

__ADS_1


Dewa terdiam mendengar ucapan Maminya itu, Dewa tahu memang selama ini tak sedikit lelaki mapan mengincar Maria. Bahkan kliennya pun banyak yang mengincarnya dengan rela menaruh saham tinggi pada perusahaan Dewa, jika Dewa mau membantunya dekat dengan Maria. Tapi selama ini Dewa selalu menolaknya.


__ADS_2