
***
"Selamat Pak anak anda perempuan," ucap seorang dokter pada Raka.
" Syukurlah, terus gimana keadaan ibunya dok?" Tanya Raka dengan rasa khawatir.
"Alhamdulillah ibunya pun selamat." jawab dokter itu.
Anak? jadi Raka telah....??
Hatiku benar-benar hancur menyaksikan kenyataan ini, entah apa yang harus kuperbuat. Aku sudah terlanjur mencintainya, bahkan sangat mencintainya. Tak terasa air mataku tumpah seketika, sakit rasanya.
Kulihat Raka memasuki ruang perawatan wanita itu, akupun segera mengikutinya. Aku tak sabar untuk meminta penjelasannya tentang wanita dan anak yang terlahir dari wanita itu.
Kubuka pintu tanpa permisi, seketika Raka dan wanita itu menolehku, mereka pun terkejut melihat kedatanganku.
"Mas.." sapaku sambil mendekati mereka.
"Maria, kamu ngapain disini?" Ucapnya gugup.
"Harusnya saya yang tanya, Mas ngapain disini, siapa dia?" tanyaku sambil melirik wanita yang terbaring disebelah Raka.
"Maria, ini tak seperti yang kamu lihat, kamu hanya salah paham," ucapnya tertekan.
"Saya tak butuh pembelaanmu, yang saya butuhkan saat ini kejelasan tanpa ada yang ditutup-tutupi. Siapa dia mas?" tanyaku kekeh.
Raka menghampiriku, lalu mencoba menyentuh tanganku, namun seketika aku segera menepisnya.
"Nghak usah sentuh-sentuh, sebelum kamu menjelaskannya. Jawab Mas, kenapa kamu hanya diam seperti ini?" tanyaku dengan emosi yang sudah tak tertahan lagi.
Namun Raka hanya terdiam tak menjawab pertanyaanku, aku benar-benar kesal dibuatnya. Akhirnya aku pun keluar dari ruangan itu, lalu berjalan setengah berlari dengan membawa luka teramat pedih dalam dihati.
Aku berhenti di sebuah taman rumah sakit, kuputuskan untuk uduk sejenak. Kakiku terasa sudah tak kuat melangkah, ku ratapi nasibku sendiri. Ku tumpahkan semua kekecewaan dengan air mataku, akupun menangis sejadi-jadinya.
Saat merasa sudah cukup kuat, aku pun segera memesan taksi online untuk mengantarkanku pulang.
***
__ADS_1
Dering ponsel berbunyi tak henti-henti, Raka terus menelponku. Namun aku tak menghiraukannya. Hatiku masih terlalu sakit, hancur, kecewa berkecamuk didalam hati. Aku tak pernah menyangka jika aku harus terjatuh dalam kekecewaan yang begitu dalam.
Satu jam kemudian Raka datang, dengan terpaksa akupun membukakan pintu untuknya. Aku tak enak dengan tetangga yg lain karena Raka terus mengetuk dan memanggil-manggilku.
"Sayang, jangan begini. Dengarkan dulu penjelasan Mas," ucapnya, lalu mencoba meraih tanganku, namun aku segera menepisnya.
"Dia itu winda, istri sahabat Mas. Mas terpaksa mengaku sebagai suaminya, karena winda tak mempunyai keluarga disini, dia hanya sendiri. Suaminya sudah meninggal, orang tuanya pun sudah tak ada. Dia hanya sebatang kara, Mas hanya membantunya, nggak lebih." ucapnya menjelaskan.
"Apa buktinya jika perkataanmu benar mas, bisa saja Mas hanya sedang menutupi yang sebenarnya." ucapku ketus.
"Sekarang ikut Mas kerumah mama, biar mama menjelaskan semuanya." ucapnya.
"Kenapa harus mama yang menjadi bukti, apa hubungannya?" tanyaku.
"Mama yang menjadi saksi saat suami winda menghembuskan nafasnya." jawabnya.
***
Empat puluh lima menit kemudian kamipun sampai, kulihat ternyata rumahnya sangat mewah dan megah. Raka memang mempunyai dua rumah, dikotaku dan di jakarta.
"Wa'alaikumsalam, oh den Raka. Silahkan masuk den," ucapnya sambil mempersilahkan masuk.
" Mah.." Raka menyapa lalu menyalami wanita yang tengah terduduk di sofa. Sepertinya itu Ibu yang telah melahirkannya.
"Raka, tumben malam-malam kerumah. Kamu nggak kerja?" tanyanya.
"Nggak ma, malam ini Raka libur dulu. Oya ma kenalin, ini Maria." ucap Raka mengenalkanku.
Akupun tersenyum lalu menyalami mamanya Raka.
"Maria, ternyata aslinya lebih cantik," ucapnya, sambil mengusap wajahku dengan lembut.
"Ini Maria yang pernah Raka ceritakan,"
"Ya sudah silahkan duduk."
Akupun segera duduk disamping Raka.
__ADS_1
"Pantas saja Raka tergila-gila padamu. Setiap kali pulang dia hanya membahasmu."
Akupun hanya tersenyum mendengar ucapan Mamanya Raka.
"Sebenarnya Raka dan Maria sedang ada masalah Ma," ucap Raka.
"Masalah apa?" tanya Mamanya.
"Masalan Winda mah, tadi siang Winda melahirkan secara operasi. Nah dirumah sakit Raka mengaku sebagai suaminya. Tak ada maksud lain, Raka sengaja mengaku agar proses persalinannya cepat dilakukan. Namun ternyata Maria mengikuti Raka, jelas Maria salah paham." ucapnya menceritakan.
Tiba-tiba seorang wanita yang tadi membukakan pintu datang dengan membawa minuman, lalu menghidangkannya untuk kami.
"Kenalkan non, saya bi imah. Art dirumah ini," ucapnya ramah padaku.
"Saya Maria bi." ucapku sambil mengulurkan tangan lalu menyalaminya.
"Ya ampun non nggak usah sampai dicium tangan bibinya, bibi nggak enak." ucap bi imah sambil menarik tangannya namun kutahan.
"Nggak papa bi," ucapku.
"Ya ampun, Den Raka emang pinter kalau cari calon." ucapnya tersenyum.
"Iya dong bi, Raka gitu loh." ucap Raka menimpali ucapan Bi Imah.
"Ya sudah bibi pamit dulu yah, silahkan diminum." ucap Bi Imah.
Aku masih bingung mendengar penuturan Mama Raka dan Bi Imah, apa iya cuma aku yang dicintai Raka?
"Maria, Winda itu istri temannya Raka. Teman Raka meninggal dunia, ketika winda tengah mengandung 4 bulan," ucap Mama Raka menjelaskan.
"Tapi kenapa Mas Raka tak pernah berbicara soal ini?" tanyaku.
"Mas lupa sayang, maafkan Mas yah," ucap Raka sambil meraih tanganku.
"Iya Mas, saya juga minta maaf udah salah paham." ucapku.
Aku merasa lega dan tenang karena telah mengetahui sebenarnya, ternyata aku hanya salah paham.
__ADS_1