Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Tolong lepaskan?


__ADS_3

***


Setelah dua hari berisitirahat dirumah, badanku sudah lebih baik. Akupun segera bersiap-siap untuk bekerja kembali, kuraih tas ku lalu bergegas keluar menuju meja makan.


"Neng, udah sehat?" tanya Bi Siti.


"Udah Bi, saya sudah lebih baik." Jawabku.


"Ya sudah, Neng sarapan dulu,"


"Iya bi."


***


"Maria, hai apa kabarmu?" tanyanya.


"Alhamdulillah, sudah lebih baik." ucapku.


"Kita ngobrol dulu yuk dikantin, masih ada waktu 30 menit lagi sebelum masuk." ucapnya, akupun hanya mengangguk lalu mengikutinya.


Setelah sampai akupun memesan secangkir kopi susu, semoga saja pikiranku tenang sebelum mulai bekerja.


"Maria, waktu itu kamu kenapa?" tanyanya.


"Nggak papa mbak, saya hanya kecapean." jawabku singkat.


"Asal kamu tahu Maria, Pak Dewa sangat panik. Pak Dewa sampai menggendongmu Maria, kami semua yang melihat serasa tak percaya." Ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa? Pak Dewa yang menggendongku?" tanyaku terkejut.


"Iya, sungguh kejadian langka. Baru kali ini saya melihat Pak Dewa perhatian dengan bawahannya."


"Oya!" ucapku singkat.


"Kayak nya Pak Dewa suka deh sama kamu,"


"Hust.. jangan bikin gosip, nggak enak tahu. Lagian mana mungkin Pak Dewa suka sama saya, Pak Dewa itu calon suami Mbak Raisya."


"Duh Maria, emang kamu belum tahu yah. Kalau Pak Dewa sama mbak Raisya itu dijodohkan, Pak Dewa sama sekali tidak menyukainya."


"Masa sih, Pak Dewa tidak menyukai wanita secantik Mbak Raisya?" tanyaku heran.


"Hemmm,, kamu nggak tau Mbak Raisya itu bukan tipenya Pak Dewa. Emang sih cantik tapi dia itu sombong."


"Udah ah, pagi-pagi kok gosip"


"Iya maaf, nggak sengaja keceplosan."

__ADS_1


"Balik kantor yuk, bentar lagi udah masuk waktu kerja."


***


"Maaf Pak, ini berkas-berkas untuk meeting nanti siang," Ucapku sambil meletakan diatas meja Pak Dewa.


"Iya, terimakasih. Oya kamu kalau masih kurang sehat, lebih baik tidak usah ikut." Ucap pak Dewa.


"Saya sudah jauh lebih baik Pak, saya akan menemani bapak siang nanti,"


"Ya sudah kalau kamu sudah merasa baik."


Akupun bergegas kembali ke mejaku. Namun ketika aku baru saja duduk, Mbak Raisya tiba-tiba masuk lalu langsung menarik hijabku.


"Dasar wanita ganjen, pelakor nggak tahu malu," hardiknya.


Entah setan apa yang merasuki Mbak Raisya sampai bar-bar begini.


"Tolong Mbak lepasin, salah saya apa?" tanyaku, sambil berusaha melepaskan cengkramannya.


"Raisya, lepaskan Maria." Bentak pak Dewa, namun Mbak Raisya tak mau melepaskanku.


Dengan bantuan Pak Dewa, akhirnya cengkramannya terlepas juga.


"Apa-apaan kamu Raisya, bisa-bisanya kamu menyakiti Maria tanpa sebab," bentak pak Dewa.


"Mbak, maaf. Mbak hanya salah paham," ucapku coba menjelaskan.


"Diam kamu wanita murahan, saya tidak sebodoh itu." ucap Raisya.


"Cukup Raisya, jangan menghina Maria seperti itu. Kenapa kamu tidak mendengar penjelasannya dulu? Inilah alasanku menolak perjodohan kita, karena sikapmu yang seperti ini membuatku muak. Ingat Raisya, sampai kapanpun saya tidak akan mau menikahi wanita sepertimu." ucap Pak Dewa dengan emosinya.


"Ohh.. jadi gara-gara wanita ini kamu berani membentak-bentak saya, hah? Ingat Dewa akan saya adukan pada orang tuamu," ucap Raisya mengancam.


"Pergi dari ruangan saya sekarang juga." usir Pak Dewa.


Brakkk... Mbak Raisya membantingkan pintu, lalu pergi meninggalkan kami.


"Maria, saya minta maaf. Karena kamu harus jadi korban hubunganku denga Raisya," Ucapnya.


"Iya Pak, saya mengerti. Mbak Raisya sangat mencintai bapak, makanya sikapnya seperti itu." Ucapku.


"Tidak Maria, dia tidak tulus mencintaiku. Dia hanya ingin hartaku saja, tidak lebih."


Aku hanya terdiam mendengar ucapan pak Dewa, aku bingung harus berkata apa.


"Maaf Pak, saya permisi dulu ke toilet, ingin merapihkan hijab dan pakaianku,"

__ADS_1


"Silahkan".


Pakaian dan hijabku hancur berantakan, Mbak Raisya benar-benar keterlaluan. Andai saja dia bukan calon istrinya Pak Dewa, pasti sudah habis ku jambak rambut indahnya itu.


***


" Maaf Neng, ada tamu didepan. Katanya ingin bertemu dengan Neng Maria." Ucap Bi Siti.


"Siapa Bi?" tanyaku.


"Bibi nggak tahu, tapi katanya kenal sama Neng Maria."


Siapa? Setahuku hanya Raka yang mengetahui tempat tinggalku. Tapi tak mungkin Raka, karena saat ini dia tengah mendekam dijeruji besi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.


" Ya sudah nanti saya temui," ucapku, lalu abergegas menemuinya.


" Fani.." aku terkejut karena ternyata Fani yang datang.


" Iya Maria, saya Fani." ucapnya.


"Silahkan duduk, oya dari mana kamu tahu kalau saya tinggal disini?" tanyaku.


"Saya diberi tahu kak Raka." jawabnya.


"Ada apa Fan, bagaimana keadaan Mas Raka?"


"Kak Raka sakit, dia ingin bertemu denga mu Maria," ucapnya terisak.


Namun, aku tak menanggapi ucapannya. Rasanya malas sekali jika harus menemuinya, aku masih kecewa dengannya.


"Temui kak Raka, saya mohon," ucapnya memohon.


"Saya bingung Fan, saya masih kecewa dengan Mas Raka." Ucapku.


"Saya mohon, temui kak Raka, saya sangat paham dengan perasaanmu. Namun, kedaannya saat ini kak Raka butuh kakak."


Aku terdiam sejenak, entah lah... Akupun bingung.


"Ya sudah, saya usahakan besok siang menemuinya."


"Terimakasih, kak Raka pasti senang."


"Oya, kamu kesini diantar siapa?" tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan.


"Sendiri, Maria." jawabnya.


"Kamu menginap saja disini, ini udah larut malam tak baik jika berkeliaran sendiri".

__ADS_1


_________


__ADS_2