
***
"Maria, tante tahu gimana Raka. Cuma kamu yang dicintai Raka, bahkan kamarnya pun penuh dengan fotomu nak, dinding kamarnya pun terukir namamu. Kalau kamu tidak percaya, silahkan cek kamarnya sekarang." ucap Mama Raka.
"Ma, kok dikasih tau sih. Aku kan jadi malu ma," ucap raka dengan muka memerah, sepertinya dia benar-benar malu.
"Iya tante, Maria percaya." ucapku.
"Ya sudah kita makan malam dulu, bi Imah pasti sudah menyiapkannya."
Aku pun bergegas berjalan menuju meja makan, tak kupungkiri aku merasa tegang saat berhadapan dengan Mamanya Raka.
Setelah selesai makan, akupun segera pamit.
"Tante, Maria pamit dulu. Maaf sudah merepotkan," ucapku.
"Nggak sama sekali sayang, tante tak merasa direpotkan. Tante senang bertemu kamu, sering-seringlah main kesini yah." ucapnya.
" Iya tante, insha_Allah." ucapku lalu menyalaminya.
"Bi aku pamit yahh," ucapku pada Bi Imah.
"Iya Non, hati-hati dijalan." ucap Bi imah.
__ADS_1
"Iya Bi." ucapku tersenyum.
***
"Mas, saya minta maaf ya," ucapku terisak.
"Sudahlah sayang, tak perlu dibahas lagi. Mas juga salah tak memberitahumu. Tapi mas seneng kok liat kamu cemburu," ucapnya tersenyum.
"Kok jahat banget sih Mas, seneng gitu lihat saya nangis," ucapku sambil mencubitnya.
"Aww, sakit sayang." ucapnya kesakitan.
Namun tiba-tiba Raka menepikan mobilnya.
Raka mengahapus air mataku yang sejak sore mengalir dengan tangan lembutnya.
Kulihat ketulusan dan keseriusan diwajahnya. Kami saling bertatap, sekian detik kami bertatap, Raka mulai mendekatkan wajahnya. Akupun segera mengelak, karena aku sadar ini tidak baik, kami belum muhrim.
"Maaf Mas, saya nggak bisa. Saat ini kita bukan siapa-siapa, kita belum menikah Mas." ucapku tegas.
"Maaf sayang, Mas khilaf. Mas tak bermaksud apapun. Mas janji secepatnya Mas akan menikahimu sayang," ucapnya dengan raut wajah merasa bersalah.
"Iya Mas." ucapku.
__ADS_1
Raka pun kembali melajukan kendaraannya, lalu mengantarkanku pulang. Tak lama kemudian kami pun sampai, lelah rasanya untuk hari ini, kejadian hari ini terlalu banyak menguras emosiku.
"Mas saya turun yah, terimakasih untuk semuanya." ucapku.
"Iya, sama-sama. Besok Mas akan carikan ART untuk mu yah, biar kamu nggak kecapean," ucapnya.
"Iya Mas."
"Ya sudah sana istirahat."
"Iya mas," aku pun turun dari mobilnya lalu bergegas masuk.
Ku baringakan tubuhku diatas ranjang, namun seketika aku teringat perkataan mama Raka bahwa dikamarnya dipenuhi fotoku dan dindingnya terukir namaku. Aku jadi penasaran, apa iya dia segila itu? Akupun tersenyum membayangkannya.
Aku pun teringat jika besok adalah hari pertama ku kerja, akupun segera bangkit lalu membuka koper yang berisi pakaian dan kebutuhan lainnya. Kutata pakaianku dilemari, setelah selesai aku segera membersihkan diri lalu mengganti pakaian. Aku harus cukup tidur malam ini, agar besok datang tepat waktu dikantor.
***
Dirumahnya, Raka merasa bingung. Dia termenung memikirkan nasib cintanya, Raka terlanjur berjanji pada sahabatnya jika akan menikahi Winda jika sudah melahirkan nanti. Tapi dia juga sangat mencintai Maria, Maria adalah segala-galanya baginya. Dia tak akan sanggup jika harus kehilangan Maria.
"Raka, kamu kenapa tidak terus terang saja pada Maria, jika kamu akan menikahi Winda jika winda sudah melahirkan." ucap Ibu Raka.
"Ma, mana mungkin Raka memberutahunya ma. Raka bisa-bisa kehilangan Maria, Mama tahukan betapa cintanya Raka sama Maria!" ucap Raka tertekan.
__ADS_1
"Lantas, sampai kapan kita harus membohongi Maria? Mama nggak tega,"
"Entahlah Ma, sementara kita seperti ini saja dulu. Sampai Raka benar-benar siap untuk memberitahunya.