Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Pemutusan kerja


__ADS_3

***


Pagi-pagi sekali aku berangkat menuju toko untuk menyerahkan surat pengunduran diri yang sudah ku tulis semalam.


"Mbak Titi, ini surat pengunduran diri saya," ucapku sambil menyodorkan.


Mbak Titi pun langsung menerima lalu memeriksanya.


"Ok, semuanya sudah benar. Tinggal Mbak ajukan pada Supervisor area," ucapnya.


"Terimakasih Mbak, kalau begitu saya permisi." ucapku pamit.


***


Setelah satu minggu berlalu, Mbak Titi memberiku kabar bahwa hari ini surat pengunduran diri sudah di ACC, berikut surat pemutusan kerja dan tagihan denda yg harus kubayar. Akupun segera menghubungi Raka lewat telepon.


"Halo Mas," ucapku.


"Iya, kenapa?" tanyanya.


"Nggak papa Mas, saya hanya ingin memberi kabar, kalau pengajua pengunduran diri sudah di ACC, berikut dengan surat pemutusan kerja dan denda yang harus dibayar." jawabku.


"Alhamdulillah, oya sekalian kirimkan surat dendanya biar Mas bisa langsung bayar sekarang." ucapnya.


"Iya Mas." ucapku.


Aku pun segera mengirim foto surat yang Raka pinta, tak lama kemudian Rakapun mengirim bukti transfernya.


"Terimakasih Mas," pesanku.


"Iya sama-sama, lantas kapan kamu mulai berhenti kerja?" tanyanya.


"Hanya beberapa hari saja mas, sampai tutup buku bulan ini, biar bisa terima gaji."


"Ya sudah, maaf Mas hari ini tidak bisa mengantar/menjemputmu. Akhir-akhir ini Mas sangat sibuk,"


"Iya Mas nggak papa."


***

__ADS_1


"Teh gimana, proses pengunduran dirinya?" tanya Ibu menghampiriku.


"Udah bu, tinggal nunggu pengembalian ijazah, paling sekitar beberapa hari lagi," jawabku.


Ibu hanya mengangguk mendengar jawabanku, sepertinya Ibu bimbang. Tapi entah apa yang membuatnya bimbang.


"Ibu bingung teh, baru kali ini ada lelaki yg mendekatimu sejauh ini," ucapnya, sambil menatapku.


"Entahlah bu, teteh pun bingung." ucapku seraya menghelaka nafas dengan kasar.


"Sepertinya Raka benar-benar tulus sama teteh, cobalah membuka hatimu untuk Raka, ibu yakin Raka laki-laki baik," ucap ibu sambil menggenggam tanganku.


Namun aku hanya terdiam, aku tak tahu harus seperti apa. Aku selalu menerima segala kebaikannya, namun hati ini masih ragu. Aku tak mau gegabah dalam urusan hati, aku takut jika aku harus terluka kembali.


***


Maria terus memikirkan tentang perasaannya terhadapa Raka. Maria masih trauma dengan pengkhianatan yg dilakukan mantannya dahulu, Maria adalah sosok wanita setia, jika telah melabuhkan hatinya dia tak kan mudah berpaling. Itulah sebabnya, Maria sangat berhati-hati melabuhkan cintanya.


Namun berbeda dengan Raka, semenjak pertama kali bertemu Maria, Raka langsung jatuh cinta karena sikap Maria yg berbeda dengan wanita lain. Dimatanya, Maria adalah sosok wanita idaman, selain cantik, pintar, namun dia sangat sederhana. Sangat jauh berbeda dengan wanita yg pernah mengisi hatinya yang hanya menginginkan hartanya. Raka selalu berusaha untuk mendapatkan hati Maria walaupun itu sulit, namun dia tak akan pernah menyerah.


****


"Iya mbak, nanti siang saya ke toko." balas pesanku.


Akupun segera bangkit dari tempat tidurku, lalu bersiap-siap untuk pergi ketoko. Setelah sudah siap, akupun segera mengabari raka, kutekan panggilan namun tak ada jawaban.


Tutttt... Tuttt... Tutttt...


Nihil, tak ada jawaban.


"Ya sudah nanti saja, mungkin Mas Raka masih tidur." gumamku dalam hati.


Setahu ku Raka bekerja dimalam hari, bahkan siang malam ia bekerja. Tapi Raka tak pernah memberitahu apa pekerjaannya, aku pun tak pernah bertanya terlalu jauh tentang itu.


"Teh mau kemana, bukannya hari ini libur?" Tanya ibu sambil mengahmpiriku.


"Mau ketoko bu, mau ambil ijazah. Tadi Mbak Titi memberi kabar kalau ijazahnya udah ada ditoko." jawabku, sambil memakai sneackers kesayanganku.


"Berangkat sama siapa?"

__ADS_1


"Sendiri saja bu."


Aku pun segera meraih tangan ibu lalu menyalaminya.


"Hati-hati dijalannya," ucap Ibu.


"Iya bu."


Akupun bergegas keluar rumah, berjalan sebentar sampai sampai tepi jalan raya. Tak lama kemudian sebuah angkot berhenti dihadapanku, akupun segera menaikinya.


Lima belas menit berlalu aku pun sampai, segera ku langkahkan kakiku memasuki toko. Kulihat mbak Titi sedang berdiri di sudut toko, tengah melakukan tugasnya seperti biasa.


"Asaalamualaikum mbak," aku menghampiri mbak Titi.


"Wa'alaikumsalam." Mbak titi menolehku.


"Eh, Maria. Mbak kira siapa, cepet banget sampenya. Mbak kira nanti sore kamu kesini," ucapnya.


Akupun tersenyum mendengar ucapan mbak Titi.


"Iya Mbak, lagian dirumah juga nggak ngapa-ngapain," ucapku.


"Ya sudah, ikut Mbak kebelakang," Ucapnya, lantas aku pun segera mengikuti langkahnya.


"Ini ijazahmu," ucap Mbak Titi sambil menyodorkan.


"Alhamdulillah, terimakasih Mbak. Akhirnya balik juga ni ijazah." ucapku bahagia.


Bagaimana aku tak bahagia, ini bukan lah sekedar perjuanganku tapi juga perjuangan orang tuaku. Masih teringat jelas dibenakku, bagaimana susah payahnya orang tuaku membiayai sekolah ku sampai lulus.


Bapak kerja banting tulang seharian, bahkan sampai malam demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga kami.


"Waktu kerjamu hanya 2 hari lagi," ucap Mbak Titi.


"Iya mbak, ya sudah mbak saya pamit." ucapku.


"Iya, Mbak do'akan semoga kamu meraih cita-citamu." ucapnya seraya memelukku.


Mbak Titi adalah sosok wanita yang penyanyang dan sabar, dia selalu mengayomiku selaku juniornya.

__ADS_1


__ADS_2