
***
"Sayang, aku menunggumu di hotel Bintang kamar no. 015 jam 9 malam." Pesan dari Raka.
Hotel? Untuk apa Raka mengajakku ke hotel.
Aku mulai cemas, aku takut dia berbuat macam-macam. Aku pun langsung menghubungi Pak Dewa untuk memberitahunya.
"Hallo Pak, Raka mengajakku bertemu dihotel Bintang," ucapku.
"Apa, hotel? Ini nggak bener Maria, kamu harus hati-hati." Ucapnya.
"Saya harus apa Pak, saya juga takut kalau harus menemuinya dihotel,"
"Saya akan menjemputmu sekarang, kita harus menyusun strategi."
"Strategi apa maksudnya?"
"Nanti saya jelaskan, sekarang kamu tunggu di lobi hotel. Saya akan segera kesana,"
"Baik Pak."
Kulihat jam sudah menunjukkan jam delapan malam, aku masih punya waktu untuk menyusun rencana dengan Pak Dewa.
Akupun segera keluar untuk menunggu Pak Dewa di lobi hotel.
"Bi, saya keluar dulu yah. Bibi tak usah menunggu, nanti pintunya saya kunci dari luar. Saya ada keperluan, sepertinya akan pulang larut malam." Ucapku pada Bi Siti yang sedang menonton televisi.
"Iya Neng, hati-hati ya Neng." Ucap Bi Siti.
"Iya Bi, tolong do'akan saya ya Bi."
"Pasti Neng, semoga Allah selalu melindungi Neng."
"Aamiin, terimakasih ya Bi."
Bi Siti sepertinya mengerti dengan situasiku saat ini, namun dia enggan bertanya banyak.
Beberapa menit kemudian akupun sampai dilobi, lalu duduk di kursi yang sudah disediakan.
Ku tengok arah kanan kiri namun belum ada tanda-tanda kedatangan Pak Dewa.
Lima belas menit kemudian, akhirnya Pak Dewa sampai.
"Maria, maaf saya telat. Tadi macet dijalan," ucapnya.
"Iya Pak nggak papa." Ucapku.
Pak Dewa pun duduk di sampingku, namun berjarak agak jauh.
"Kita harus menyusun rencana Maria, sepertinya dia merencanakan yang tidak-tidak padamu.
"Iya Pak, saya rasapun begitu."
Pak Dewa menjelaskan rencananya padaku, akupun menyimaknya dengan baik.
"Baik Pak, akan saya lakukan sesuai instruksi Bapak." Ucapku setelah menyimak semua rencananya.
"Ini kamu bawa, simpan baik-baik. Semoga rencana kita berhasil."
Kuraih bungkusan kecil yang Pak Dewa berikan, lalu ku masukkan dalam tas jinjing yang akan ku pakai untuk menemui Raka.
"Satu lagi, ini kamera pengintai. Saya akan mengawasimu lewat kamera ini." ucapnya sambil mengaitkankannya pada tasku.
"Kamu harus hati-hati, jangan sampai dia curiga apalagi sampai ketahuan. Saya akan memantaumu, jangan khawatir." Ucapnya menyakinkan.
Aku mulai kagum dengan sikap Pak Dewa, sebegitu cemasnya dia denganku. Pak Dewa sebenarnya lelaki sempuran, selain mapan, dermawan, wajahnyapun tampan membuat wanita manapun akan terpesona melihatnya.
"Ayo!" Ajaknya.
__ADS_1
"Kemana?"
"Ke hotel,"
"Apa?"
"Kok apa, kamu kan mau menemui Raka!"
Ya tuhan, aku sampai lupa karena memikirkannya.
Jangan bodoh kamu Maria, jangan berharap apapun padanya, dia itu masih suami orang walaupun sebentar lagi dia Duda.
"Maaf Pak,"
"Kamu masih inget kan rencana kita?" Tanyanya menyakinkan.
"Masih Pak."
Aku pun bergegas mengikuti langkah Pak Dewa keluar, lalu masuk kedalam mobilnya. Dengan cepat Pak Dewa melajukan mobilnya.
Beberapa menit kemudian Pak Dewa menghentikan laju mobilnya yang tak jauh dari hotel Bintang, jantungku mulai dag dig dug, merasa cemas dan takut.
"Kamu turun disini, karena jika saya mengantarmu sampai depan pintu hotel, khawatir Raka melihat saya."
"Baik Pak,"
"Jangan takut, saya akan memantaumu. Jalankan sesuai rencana tadi," ucapnya menyakinkanku lagi.
Akupun hanya mengangguk, lalu berjalan masuk kedalam hotel. Aku mulai mencari pintu 015, setelah beberapa menit kemudian akupun menemukannya.
Aku semakin cemas saat berdiri tepat di depan pintunya, kutarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan hati.
Kuberanikan diri untuk menekan bel yang terdapat dipintu, tak lama kemudian Raka membukanya.
"Assalamualaikum," ucapku.
"Wa'alaikumsalam, mari masuk." Ucapnya.
"Kok diem, ayo masuk. Jangan takut, saya tak akan berbuat aneh-aneh. Saya hanya ingin berbicara denganmu dari hati kehati."
Dengan terpaksa akupun masuk, lalu duduk di sofa yeng berada didalam kamar. Kulihat raut wajah Raka sangat bahagia, tapi tidak denganku, aku sangat cemas dan takut.
Raka mulai membuatkan minuman, akupun bergegas menghampirinya.
"Mas, boleh saya aja yang buat minumannya. Aku kangen membuatkan minuman untukmu," ucapku sambil tersenyum.
Aku terpaksa bersikap manis agar Raka tak mencurigaiku.
Raka menatapku heran seperti tak percaya, namun dia tetap memberikan cangkir yang dia pegang.
"Mas tunggu saja di sofa, ok!" Ucapku menyakinkan.
"Tapi kamu nggak ada niat untuk meracuni saya kan?"
"Emang selama ini saya sejahat itu, Mas?"
"Ya udah, maafkan Mas sudah berfikiran buruk tentangmu. Mas tunggu yah,"
Akhirnya Raka pun percaya, dia pergi lalu duduk di sofa sambil memperhatikanku membuatkan minuman. Aku harus mencari akal, agar Raka tidak melihatku mencampur minumannya denga obat tidur pemeberian Pak Dewa.
"Aww!" Kutumpahkan sedikit air panas ditanganku.
"Kamu kenapa?" Tanyanya dengan cemas saat menghampiriku.
"Nggak papa Mas, hanya kesiram air panas sedikit."
Aku terpaksa mengorbankan tanganku, tak apalah dari pada aku harus menemaninya semalaman dihotel.
Raka, meniup-niup tanganku yang memerah, berusaha untuk menghilangkan rasa perih ditanganku.
__ADS_1
"Oya Mas, saya boleh minta tolong nggak?"
"Minta tolong apa?"
"Mas bisa nggak belikan obat, saya nggak tahan." ucapku sambil meringis kesakitan.
"Ya sudah, Mas keluar dulu sebentar. Sepertinya disebrang hotel ada apotek,"
"Maaf ya Mas, udah ngerepotin kamu?"
"Nggak papa, kamu tunggu disini yah jangan kemana-mana."
Rakapun pergi, ini kesempatanku untuk mencampurkan obat tidur kedalam minumannya.
Setelah memastikan Raka keluar, aku segera mengambil obat tidur didalam tas ku lalu mencampurkannya sedikit. Ku aduk secara perlahan, sambil sesekali melihat arah pintu.
Beberapa menit kemudian akhirnya Raka kembali dengan membawa obat yang kuminta.
"Maria, ini obatnya." Ucapnya sambil menyodorkan.
"Oh iya maksih Mas. Ini Mas kopinya,"
"Harusnya kamu nggak perlu membuatkan minuman untuk Mas, akhirnya begini kan, tanganmu terluka."
"Nggak papa Mas, nanti juga kalau udah pake obatnya cepet sembuh. Ya udah minum dong,"
"Ya udah Mas minum yah,"
Rakapun meminum kopi buatanku yang sudah ku campur dengan obat tidur. Namun tiba-tiba, Raka memperhatikan kamera pengintai yang terpasang di tasku.
"Ini apa, kok seperti..."
"Oh bukan apa-apa Mas, ini hanya hiasan saja. Memang bentuknya seperti ini." Aku langsung memotong ucapnya yang mulai curiga.
"Oya Mas katanya kamu mau berbicara, bicara apa?" Ucapku lagi untuk berusaha mengalihkannya.
"Maria, Mas ingin kembali padamu. Kamu mau kan?" ucapnya serius.
"Tapi Mas, kamu kan sudah menjadi milik Winda. Saya tidak mau merebut yang bukan hakku, saya nggak mau Mas."
"Tapi Mas tidak mencintainya."
"Tapi Mas sudah menikahinya, bahkan sudah menghamilinya."
"Mas akan menceraikannya, jika Winda sudah melahirkan."
"Jangan gila Mas, kasihan Winda. Kamu harus pikirkan anakmu juga, jangan egois!"
"Tapi..." Ucapnya terhenti, dia mulai merasakan pusing. Sepertinya obat yang kumasukan mulai bekerja.
Yes, berhasil.
"Kamu campurkan apa diminumanku?" Ucapnya sambil menarik tanganku.
"Saya tidak mencampur apapun kok Mas, mungkin Mas kecapean. Mas istirahat saja dulu,"
"Kamu bohong," ucapnya sambil berusaha membuka matanya yang sudah mulai terpejam.
Aku mulai panik, seketika aku langsung menarik tanganku dari genggamannya. Namun genggamannya terlalu kuat, sampai tenagaku tak mampu melawannya.
"Jangan harap kamu bisa lepas dari saya, Maria." Ucapnya membuatku ketakutan.
"Tolong lepaskan saya Mas,"
Kutarik kembali tanganku dengan keras tanganku, lalu berlari ke arah pintu. Namun saat hendak membukanya, Raka mengejarku lalu terjatuh tak sadarkan diri. Sepertinya Raka sudah tak mampu melawan kantuk akibat obat yang aku berikan.
"Maria, cepat keluar." Teriak Pak Dewa dari luar pintu kamar.
Aku segera keluar, dan disambut dengan Pak Dewa yang sudah berdiri didepan pintu menungguku. Dengan cepat Pak Dewa menarik tanganku mengajakku lari.
__ADS_1
"Ayo cepat," ucapnya cemas.
Akupun hanya mengangguk lalu bergegas mengikutinya.