
***
Drrrrtttt.... Tiba tiba ponselku bergetar, ku buka tas lalu mengambilnya, kulihat ternyata Raka menelponku. Aku pun segera menerima panggilannya.
"Halo, mas"
"Tadi kamu telpon Mas, ada apa?" tanyanya dengan suara Raka sedikit serak, mungkin saja dia baru bangun.
"Oh iya Mas, tadi mau kasih tahu kalau ijazahnya udah dikembalikan," jawabku.
"Syukurlah. Oya kamu sedang dimana? kok bising sekali,?"
"Saya lagi dipinggir jalan sedang menunggu angkot."
"Darimana?"
"Dari toko, baru aja keluar."
"Tunggu Mas yah, Mas jemput kamu. Tunggu Mas yah,"
"Nggak usah Mas, sebentar lagi juga saya mau jalan."
" Pokoknya tunggu." ucapnya memaksa.
Dasar Raka, si kepala batu. Akupun bergegas kembali ke halaman toko, untuk sekedar duduk menunggu Raka menjemputku.
Lima belas menit berlalu, kulihat sebuah mobil berhenti didepanku. Setelah kulihat ternyata Raka, namun jantungku berdebar kencang saat melihatnya berjalan menghampiriku. Entah mengapa, hari ini sepertinya Raka terlihat berbeda, lebih tepatnya terlihat sangat menawan, hingga membuat mataku enggan berkedip melihatnya.
"Hai..." Sapanya sambil tersenyum.
Ya tuhan kenapa dadaku masih berdebar, jangan sampai Raka mendengar debaran jantungku. Betapa malunya aku... Entah mengapa aku bahagia dan rasanya ingin sekali jingkrak-jingkrak jungkir balik, bahkan kalau bisa salto sekalian didepannya.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Ucapnya, membuyarkan pandanganku. Aku pun segera memalingkan mataku yang dari tadi menatapnya kagum.
"Nggak papa," jawabku salah tingkah.
"Terpesona yahhhhhh," ledeknya percaya diri sambil mendekatkan wajahnya. Mungkin dia menyadari jika aku terpesona dengannya.
__ADS_1
Ya tuhan rasanya nano-nano, jantungku benar-benar terguncang melihat tatapannya. Entah apa yg kurasakan, setelah sekian lama aku tak merasakan perasaan seperti ini.
"Ge-er banget, manusia satu ini," aku berbohong, karena merasa gengsi mengakui bahwa aku mulai terpesona.
"Hahhahaha.." dia tertawa sambil menarik wajahnya.
Aku benar-benar dibuat salah tingkah olehnya, sampai-sampai aku bingung mau memulai percakapan dari mana.
"Oya, coba aku lihat ijazahmu," ucapnya.
Kubuka tasku lalu ku berikan ke pada Raka. Dia pun segera menerimanya lalu mulai melihat-lihat ijazahku itu.
"Wah gila, nilai kamu hampir sempurna yah," ucapnya takjub melihat nilai yg tertera di ijazah itu.
Yah memang nilaiku rata-rata 9,5 bahkan ada satu pelajaran yg mendapatkan nilai 9,8 dan yg paling kecil hanya pelajaran olahraga yang hanya mendapatkan nilai 8. Semasa sekolah memang aku selalu berusaha untuk memberikan yg terbaik, agar orang tuaku bangga dan tak menyia-nyiakan pengorbanannya untukku.
"Nggak salah keputusanku untuk mebiayai kuliahmu," ucapnya sambil menggelengkan kepalanya, serasa tak percaya dengan apa yg dilihatnya.
"Kamu benar-benar pintar Maria, nggak nyesel aku mencintaimu,"
"Biasa aja Mas, itu tak sebanding dengan pengorbanan orang tuaku,"
"Ya sudah ini kamu simpan, secepatnya akan ku urus pendaftaranmu," ucapnya sambil mengembalikan ijazah itu padaku.
Ketika kami berbincang-bincang, tiba-tiba Nana menghampiri kami. Lalu menyapa Raka dengan manja.
"Hai mas," Ucapnya lembut tebar pesona.
Namun Raka hanya tersenyum, entah kenapa aku merasa jijk melihat sikapnya pada Raka seperti ulat bulu kepanasan.
"Ngapain Mas disini?" Ucapnya sambil duduk disebelah Raka.
"Nemenin seorang wanita yang spesial dihatiku." ucap Raka sambil melirikku.
"Hati-hati loh mas dengan wanita sebelahmu itu, tampangnya aja lugu. Biasanya yg lugu itu lebih ganas dari yg genit." ucapnya sambil melirik sinis ke padaku.
Namun tiba-tiba, Raka menarik tanganku lalu mengajakku pergi. Kulihat Nana ternganga melihat kami berjalan bersama.
__ADS_1
"Kenapa Mas tiba-tiba menarikku?" tanyaku saat didalam mobilnya.
"Mas nggak suka aja dengan sikap Nana, apalagi dia tadi menghinamu. Mas nggak bisa melihatmu dihina oleh siapapun, apalagi dihana oleh wanita seperti Nana." ucapnya, seraya menghelakan nafas nya dengan kasar.
Aku merasa terharu dengan ketulusannya, ternyata dia benar-benar mencintaiku sejauh itu. Aku benar-benar dibuatnya ter..Raka-Raka.
Raka melajukan kendaraannya, lalu membawaku ke sebuah kafe.
Kami pun pergi dari toko itu, Raka membawaku ke sebuah kafe. Sesampainya di kafe, kami pun hanya berbincang- bincang biasa sambil menikmati minuman dan makanan yang terhidang di meja.
"Maria, ini ada beberapa kampus terbaik. Kamu mau pilih yg mana?" ucapnya, lalu menyodorkan ponselnya.
Akupun melihat-lihatnya, semua yang Raka tunjukkan adalah kampus populer di kotaku.
"Jangan yang ini deh Mas," ucapku sambil menunjukkan gambar yang tertera diponselnya.
"Yg ini aja nih, kampusnya Fani," ucapnya, sambil menunjukkan kampus yang terkenal mahal.
"Jangan Mas, itu terlalu mahal. Cari kampus yang biasa aja Mas, yang agak lebih murah."
"Udah nggak papa, dikampus Fani aja yah. Biar sekalian sekalian nanti dia bisa bantu untuk proses pendaftarannya."
Itulah Raka, dia meminta pendapatku, namun tetap saja tak menjadi pertimbangannya.
"Terserahlah Mas," ucapku pasrah, karena percuma juga jika harus berdebat, tetap saja jika inginnya itu tak ada satupun yang mampu menggugatnya, termasuk aku.
"Kamu tuh yah kalau diminta pendapat pasti jawabnya terserah,"
"Emang kalau saya memilih, Mas mau menuruti?" tanyaku menyindir.
"Gimana Mas mau menuruti, pilihanmu nggak sesuai." ucapnya santai.
"Pulang yuk, Mas." ajakku.
"Buru-buru amat, bentar lagi deh." ucapnya menolak.
"Ya udah, kalau gitu saya mau pulang duluan," ucapku sambil berdiri, lalu berjalan ke arah keluar kafe.
__ADS_1
"Tunggu, saya antar." ucapnya terburu-buru.
Kulihat dia segera membayar pesanan kami, lalu berlari mengejarku. Aku tersenyum melihat ekspresinya seperti anak kecil yang akan ditinggal Ibunya pergi.