Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Ternyata?


__ADS_3

***


Pagi hari saat setelah selesai sarapan, aku mengecek ponselku. Namun ternyata Raka belum menghubungiku, tidak seperti biasanya. Padahal biasanya dia akan langsung menelponku balik jika tahu aku menelponnya, namun sampai pagi ini dia belum menghubungiku lagi. Ada apa dengan Raka?


Kuputuskan untuk menghubunginya lagi, namun kali ini ponsel Raka malah tak bisa dihubungi. Kemana Raka? apa dia menemui Winda atau...?? Ah, tidak mungkin. Aku segera membuang pikiran negatif ku.


Suara deru mobil berhenti didepan rumah, sepertinya jemputanku sudah sampai.


"Pagi non Maria, saya Mansur yang akan mengantar non Maria kemanapun," ucapnya.


"Iya Pak, tapi jangan panggil saya Non, panggil saja saya Neng atau panggil nama saja." ucapku.


"Oh iya neng, silahkan masuk." Pak Mansur membukakan pintu mobil lalu mengantarkanku ke kantor.


***


Satu minggu berlalu, Raka belum bisa dihubungi. Kemana dia? Hari ini aku libur, sepertinya lebih baik aku ke rumahnya.


Pak mansur mengantarkanku ke rumah Raka, namun saat sampai, rumahnya sepi tak berpenghuni. Kucoba bertanya pada orang yang berlalu lalang lewat, namun tak ada satupun yang tahu keberadaannya. Akupun bingung, harus kemana mencari Raka, apa kerumah Winda? Tapi aku tak tau rumahnya.


Saat aku akan memasuki mobil, tiba-tiba seseorang memanggilku.


"Non Maria..." Teriaknya memanggil namaku, saat ku menoleh ternyata Bi Imah. Dia pun menghampiriku sambil menangis.


"Bi, bibi kenapa menangis?" tanyaku, namun Bi Imah malah memelukku.


"Non, den Raka non..." Ucapnya terbata-bata.

__ADS_1


"Kenapa Mas Raka Bi? Aku kesini mencarinya Bi. Sudah seminggu Mas Raka tidak bisa dihubungi." tanyaku.


Namun Bi Imah malah semakin menangis, membuatku bingung. Apa yang sebenarnya terjadi??


"Bi, tolong jawab Bi. Bibi pasti tahu kan Mas Raka dimana?" Aku memaksa Bi Imah untuk menjawab pertanyaanku.


" Non, den Raka tertangkap Non," ucapnya sambil menangis.


"Apa? Tertangkap..." Aku terkejut bukan main mendengar jawaban Bi Imah.


"Tertangkap kenapa Bi, apa sebenarnya yang dilakukan Mas Raka?" tanyaku penasaran.


"Bibi nggak tau Non, seminggu lalu Den Raka tertangkap saat bekerja." jawabnya.


Aku semakin bingung, sebenarnya apa pekerjaan Raka sampai-sampai harus tertangkap.


"Den Raka di POLRES Non" jawabny terisak.


"Ya sudah, saya pamit dulu ya Bi,"


"Iya Non, hati-hati."


"Iya Bi."


Aku segera masuk ke dalam mobil, lalu meminta Pak Mansur mengantarkanku ke POLRES.


Tak lama kemudian akupun sampai, aku pun segera masuk, lalu mengahampiri petugas kepolisian untuk menanyakan keberadaan Raka.

__ADS_1


Polisi mengantarkanku ke tempat Raka, ruangan yang penuh jeruji besi. Miris, orang yang sangat kucintai bisa merasakan kejadian seperti ini.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Raka menghampiriku dengan ditemani petugas kepolisian, wajahnya lusuh tak bergairah sama sekali.


"Mas, apa yang terjadi padamu Mas, kenapa kamu bisa ditahan seperti ini?" tanyaku.


Namun Raka tak menjawab pertanyaanku, dia hanya tertunduk tanpa mau menatapku.


"Mas, tatap aku Mas. Kenapa kamu seperti ini? Coba ceritakan apa yang terjadi padamu. Tolong Mas, saya berhak tahu." ucapku menekan.


"Maaf kan Mas sayang, Mas sebenarnya melakukan pekerjaan yang melanggar hukum," ucapnya terisak.


"Melanggar hukum bagaimana Mas? Apa beberapa hari yang lalu penggerebegan di kantor malam-malam itu kamu Mas?" tanyaku .


"Iya, maafkan Mas." ucapnya lirih menahan tangis.


Tak terasa air mataku pun tumpah, tak percaya dengan pengakuan Raka, laki-laki yang aku cintai ternyata seorang penjahat.


"Apa yang kamu lakukan Mas?" tanyaku memaksa karena ingin mendapat kejelasan. Namun Raka terdiam kembali, Apa yang sebenarnya terjadi?


"Baiklah, kalau Mas tak mau memberitahuku, aku akan cari tahu sendiri. Permisi," ucapku marah, lalu meninggalkan Raka.


Akupun segera menghampiri petugas kepolisian untuk menanyakan apa yang terjadi dengan Raka.


Setelah mendengar penjelasannya, aku pun segera berlalu keluar. Air mataku tak henti-hentinya menetes, hatiku hancur sehancur-hancurnya. Aku masih tak percaya, ternyata Raka terlibat aksi perampokan, penjualan obat terlarang dan senjata ilegal.


Sakit rasanya menerima kenyataan ini, aku harus bagaimana? Apa yang harus ku katakan jika Ibu dan Bapak mengetahui kenyataan ini.

__ADS_1


Akupun segera masuk kedalam mobil, lalu meminta Pak Mansur untuk mengantarkanku pulang.


__ADS_2