Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Cemburu?


__ADS_3

***


Tiga bulan berlalu, akhirnya Raka disidang. Raka divonis 3 tahun penjara, Raka mendapatkan keringanan hukuman karena sudah kooperatif dan mengakui kesalahannya. Bahkan Raka membongkar semua praktik kejahatan sampai ke akar-akarnya, oleh sebab itulah Raka mendapatkan keringanan, terlebih campur tangan pengacaranya yang handal.


Aku lega, akhirnya Raka sudah mendapatkan kepastian hukumannya.


Hari ini kuputuskan untuk menjenguk Raka, kebetulan weekend ini tak ada jadwal lembur. Yah, biasanya walaupun weekend aku harus bekerja, ada saja pekerjaan yang harus cepat diselesaikan.


***


Aku sangat senang akan bertemu Raka, walaupun harus bertemu di Rutan. Dengan semangat kulangkahkan kaki ku dengan membawa makanan kesukaan Raka, Raka pasti akan senang dengan kedatanganku.


Setelah selesai melewati pemeriksaan oleh petugas, akupun segera menuju tempat yang ditunjukkan petugas. Namun alangkah terkejutnya aku, ternyata ada seorang wanita tengah berbincang dengan Raka. Kuperhatikan seperti nya aku mengenalinya, sepertinya itu winda, istri dari sahabat Raka yang telah menjadi janda semenjak mengandung 4 bulan.


"Mas Raka.." sapaku.


Benar saja ternyata wanita itu Winda, dia menolehku dengan wajah masam.


"Hai sayang, duduklah," ucap Raka lalu menghampiriku dan duduk disebelahku.


"Mas seneng deh kamu datang," ucapnya sambil tersenyum hangat.


"Oya Mas, aku bawakan makanan kesukaanmu," Ucapku.


"Wah... Jadi gak sabar pengen langsung hap." Ucapnya dengan wajah berbinar.


"Oya sayang, kenalin ini Winda." ucapnya. sambil menunjukkan Wanita yang tengah duduk dihadapanku.


"Hai, Winda. Saya Maria, calon istrinya Raka." Ucapku sambil mengulurkan tangan. Winda pun menyambut tangan lembutku.


"Winda.." ucapnya, padahal aku sudah tau tanpa dia sebutkan. Ah nggak penting juga jika harus membahas dia.


"Oya, aku kangen makan bareng kamu Mas," Ucapku manja.

__ADS_1


"Tumben kamu ngajak makan bareng, biasanya kamu menyuruh Mas untuk menghabiskan makanannya sendiri." ucapnya sambil menarik hidungku yang lumayan mancung.


"Lagi pengen aja Mas," ucapku berbohong, padahal aku hanya ingin memanasi Winda saja yang sepertinya sudah mulai panas melihat kebersamaan kami.


Akupun segera membuka makanan yang aku bawa, namun kulihat Winda menatap kami dengan tatapan tajam, jelas sekali Winda cemburu.


"Oya Winda makanannya kan cuma ada satu, nggak mungkin kan harus dibagi 3. Maaf yahh," Ucapku, sambil tersenyum lebar.


"Iya nggak papa, lagian saya jugs nggak lapar." Ucapnya menimpali.


"Mas, suapin," Ucapku manja sambil menyenderkan kepalaku pada Raka.


"Tumben amat sih, Sayangku ini manja banget." Ucapnya tersenyum.


"Emang kenapa nggak boleh?"


"Ya nggak papa, malah Mas senang."


Aku berhasil mengalihkan perhatian Raka dari Winda, kami berdua seolah tak menganggap keberadaan Winda.


Kami berdua pun asik saling suap-suapan, Raka pun terlihat bahagia. Semenjak kedatanganku senyum Raka tak henti-henti menghiasi bibirnya.


"Mas Raka, saya pamit yah, aku khawatir meninggalkan anakku terlalu lama." Ucap Winda memecahkan kehangantan kami.


"Ohh iya, silahkan. Terimakasih yah udah berkunjung," Ucap Raka basa-basi.


"Iya, sama-sama." Winda pun pergi dari hadapan kami.


"Mau ngapain sih Mas dia kesini?" Ucapku kesal.


"Nggak ngapa-ngapain, cuma berkunjung aja. Kenapa? Kamu cemburu??" tanyanya sambil tersenyum.


"Apaan sih, ge_er banget." jawabku.

__ADS_1


"Hahahahaha," Raka tertawa terbahak-bahak.


"Ihhh... Mas Raka apaan sih kok malah ngetawain," ucapku sambil memukuli lengannya.


"Iya, iya maaf. Habisnya kamu lucu sih, mengakui cemburu aja gengsi."


"Oya mas, semenjak Mas disini, siapa yang menafkahi dia?" tanyaku penasaran.


"Winda kerja, jadi dia bisa menfkahi dirinya sendiri dan anaknya."


Akupun hanya mengangguk mendengar ucapan Raka.


Setelah makanan habis, akupun berpamitan pulang.


"Mas aku pulang yah, nggak enak kalau terlalu lama," ucapku.


"Iya, kamu hati-hati yah. Hari ini Mas sangat bahagia dengan kedatanganmu," ucapnya.


"Iya Mas, sama-sama. Akupun bahagia."


Akupun bergegas pergi, namun saat hendak memaski mobil, Winda memanggilku.


"Maria..." Akupun menoleh.


"Yahhh.. ada apa?" tanyaku.


"Kamu sengaja yah manasin saya tadi didalam." Ucapnya kesal.


"Manasin kamu? Emang kamu kedinginan sampai aku harus manasin kamu!" Ucapku sambil tertawa kecil.


"Kurang ajar ya kamu," ucapnya sambil mengayunkan tangannya untuk menamparku, namun aku segera menangkap tangannya saat hendak mendarat pipiku.


"Jangan pernah kau sentuhkan tangan kotormu itu pada wajahku." Ucapku mengancam, lalu menghempaskan tangannya.

__ADS_1


Akupun segera memasuki mobil, lalu meninggalkannya yang masih berdiri mentap kepergianku.


__ADS_2