Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Bukan salahku!


__ADS_3

***


"Maria, saya minta maaf atas kejadian kemaren." Ucap Pak Dewa.


"Iya Pak, nggak papa. Oya Pak, ini file yang Bapak minta," ucapku sambil memberikannya.


"Iya, terimakasih."


Raut wajah Pak Dewa sangat tertekan, aku tahu pernikahannya dengan Mbak Raisya sangat tidak sehat. Aku merasa kasihan dengan Pak Dewa, dia memiliki segalanya tapi tidak dengan cintanya.


Tiba-tiba seorang wanita paruh baya masuk kedalam ruangan Pak Dewa dan kulihat ternyata Bu Dewi. Bu Dewi adalah wanita yang telah melahirkan Pak Dewa kedunia ini, wajahnya pun sangat mirip dengan Pak Dewa.


"Dewa, kamu nggak papa sayang?" Tanya Bu Dewi dengan khawatir.


"Entah lah Mi, aku pusing." jawab Pak Dewa.


"Maafin Mami ya sayang, Mami tak bisa mencegahmu menikahi Raisya waktu itu. Mami nyesel," ucapnya terisak.


"Ini bukan salah Mami, Mami tak perlu menyalahkan diri sendiri."


Pak Dewa lalu memeluknya, mencoba menenangkan Bu Dewi yang sedang menangis. Pak Dewa sepertinya sangat menyayangi Bu Dewi, terlihat dari sikapnya yang sangat dekat dengan Ibunya itu. Mereka duduk di sebuah sofa yang tak jauh dari meja kerja Pak Dewa, aku sebenarnya tak enak jika mendengar pembicaraannya, namun aku pun tidak bisa pergi karena pekerjaanku masih banyak. Namun tiba-tiba Pak Dewa memanggilku.


"Maria, tolong kesini sebentar," panggilnya.


"Baik Pak." Akupun bergegas berjalan menghampirinya.


"Ada apa Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanyaku.


"Duduklah," ucapnya. Akupun duduk di sofa berhadapan dengannya.


"Mi, ini Maria. Yang pernah aku ceritakan," ucap Pak Dewa. Akupun mengangguk hormat kepada Bu Dewi.


Namun aku bingung maksud Pak Dewa mengenalkanku kepada Bu Dewi.


"Maria, tante minta maaf atas sikap Raisya kepadamu. Tante tahu kamu wanita baik-baik," ucap Bu Dewi.


"Iya Bu, nggak papa. Saya mengerti," ucapku.


"Maria, panggil saya Tante saja, biar kita lebih akrab."


"Oh, iya Tanten." ucapku gugup.


Akrab? rasanya terdengar aneh ditelingaku, mana mungkin Bu Dewi ingin dekat denganku.


Bu Dewi menatapku dengan senyum, entah aku pun tak mengerti dengan tatapannya itu.

__ADS_1


"Maaf Pak, boleh saya kembali melanjutkan pekerjaanku?" Ucapku pada Pak Dewa.


"Iya silahkan." Ucap Pak Dewa.


Aku pun segera kembali ke mejaku lalu melanjutkan pekerjaanku seperti biasanya. Namun ku lihat mereka masih berbincang-bincang membahas Mbak Raisya, entah lah aku pusing dengan masalahnya.


***


Jam istirahat pun tiba, seperti biasanya aku akan ke kantin dulu untuk makan siang. Aku pun bergegas keluar, sesampainya dikantin aku bertemu dengan Mbak Sintia.


"Hai Mbak,," sapaku.


"Hai Maria, duh yang habis cuti auranya seger." Ucapnya.


"Bisa aja Mbak Sintia ini, yang auranya segar itu Mbak, yang habis cuti bulan madu." Ucapku.


"Makanya buruan nyusul, biar bisa merasakan nikmatnya bulan madu." ledeknya.


"Iya, iya percaya. Mentang-mentang udah nikah, sekarang bisa meledek." Kami pun tertawa bersama.


Mbak Sintia sudah menikah bulan lalu dengan kekasih yang sangat mencintainya, dia beruntung bisa mendapatkan lelaki sebaik suaminya. Tak seperti aku yang selalu kandas karena selalu salah memilih pasangan.


"Oya Maria, kamu tahu nggak tentang gosip Pak Dewa,"


"Pak Dewa menggugat cerai Mbak Raisya." ucapnya berbisik.


"Apa? Kok bisa,"


"Nggak tahu sih kenapa-kenapa nya, cuma yang kudengar seperti itu."


Aku terdiam sejenak, memikirkan penyebabnya. Apa karena pertengakaran kemarin saat dirumah? Pikiranku mulai bertanya-tanya.


"Kamu kenapa Maria?" tanyanya.


"Nggak papa Mbak, cuma agak pusing aja nih kepala." Jawabku berbohong.


Setelah makan siang dan sholat, akupun kembali ke kantor, saat aku masuk ku lihat Pak Dewa sudah berada di dalam.


"Maaf Pak, boleh saya berbicara?" tanyaku kepada Pak Dewa saat berada di meja kerjanya.


"Ada apa?" tanyanya.


"Maaf Pak jika pertanyaan saya lancang, apa benar Pak Dewa menggugat cerai Mbak Raisya?" tanyaku penasaran.


"Iya, emang kenapa?" jawabnya santai.

__ADS_1


"Apa karena salah paham kemarin?"


"Nggak ada hubungannya dengan kamu, semua ini masalah saya dengan Raisya."


"Maaf Pak, saya hanya memastikan. Karena saya tak enak hati jika perceraian terjadi karena saya."


"Jangan khawatir Maria, ini tak ada hubungannya denganmu."


"Ya sudah, kalau begitu saya kembali kerja lagi."


Aku lega setelah mendengar penjelasan dari Pak Dewa, kalau bukan aku penyebab percerainnya.


***


"Maria, jika sudah selesai kamu boleh langsung pulang." Ucap Pak Dewa saat waktu tepat menunjukan pukul 4 sore.


"Iya Pak," ucapku.


Aku segera mematikan komputer dan membereskan kertas-kertas yang berserakan dimejaku. Setelah itu akupun melenggang keluar kantor untuk langsung pulang.


Setibanya didepan saat menunggu Pak Mansur menjemputku, tiba-tiba Raisya mengahmpiriku lalu menamparku.


Plakk.. tamparan keras mendarat dipipiku.


"Dasar kurang ajar kamu yah, gara-gara kamu Dewa menceraikanku." Hardiknya.


"Mbak, apa-apaan sih Mbak ini maen tampar sembarangan. Saya bukan penyebab perceraian kalian, sudah berapa kali saya bilang, saya nggak punya hubungan apapun dengan Pak Dewa." Ucapku emosi, aku sudah tak tahan dengan sikapnya.


"Omong kosong, dasar pelakor ." hardiknya sambil menarik hijabku.


Aku bersusah payah melepaskan cengkramannya, namun tenagaku tak sebanding dengan emosi Mbak Raisya.


"Hentikan, kalian ini seperti anak kecil saja." Ucap Bu Dewi secara tiba-tiba.


"Mami, ngapain mami disini?" tanya Mbak Raisya dengan raut wajah cemas.


"Jadi ini kelakuan kamu Raisya, pantas saja anak saya tidak pernah mencintai kamu. Saya sengaja ada disini, karena ingin melihat sikapmu yang sebenarnya."


"Nggak gitu Mi, Mami hanya salah paham. Wanita ini yang sudah genit selalu menggoda Dewa." Fitnahnya.


"Nggak usah kamu memfitnah Maria, saya sudah tahu semuanya."


"Maaf Tante, saya pergi dulu." Ucapku pada Bu Dewi, karena Pak Mansur sudah datang untuk mengantarkanku pulang.


Bu Dewi hanya menganggukan kepalanya sebagai isyarat, lalu akupun bergegas masuk kedalam mobil lalu pergi meninggalkannya.

__ADS_1


__ADS_2