Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Apa mungkin?


__ADS_3

***


Dua bulan kemudian, Raka terpaksa menikahi Winda. Raka pun meneteskan air matanya, saat Penghulu dan para saksi berkata "Syah". Batinnya tersiksa, karena harus menikahi wanita yang sama sekali tak dia cintai. Terlebih suatu saat dia pun harus siap kehilangan Maria yang sangat dicintainya.


"Yang sabar ya Nak, Mama yakin ini sudah takdirmu. Sekarang, Winda sudah menjadi Istrimu." ucap seorang Ibu yang telah melahirkannya.


"Tapi Ma, Raka nggak siap untuk kehilangan Maria. Raka mohon, jangan beritahu Maria tentang Raka dan Winda. Raka mohon Ma, Raka tak tega melihatnya terluka." ucap Raka memohon disertai tangisannya.


***


"Mas, kamu dimana?" Pesan kukirim pada Raka.


"Mas lagi mengantar Winda ke rumah sakit. Maaf sepertinya Mas tidak bisa menemuimu," Raka membalas pesanku.


Winda lagi Winda lagi...


Aku kecewa, bukan pertama kalinya Raka tak menepati janjinya. Semenjak Winda keluar dari rumah sakit Raka selalu sibuk mengurusnya, bahkan aku merasa diabaikan olehnya.


"Ya sudah, sepertinya Winda lebih butuh kamu," kubalas pesannya. Namun tak lama kemudian, Raka menelponku.


"Sayang, tolong jangan marah. Mas tak bermaksud membuatmu kecewa, tolong lah kamu mengerti dengan posisi Mas sekarang," ucapnya.


"Maaf mas, saya rasa kamu sudah berlebihan. Kamu tak perlu bolak balik mengurusnya, kamu tinggal kirim suster untuk merawatnya." ucapku lalu kuakhiri panggilannya.


Aku kecewa dengan sikapnya sekarang. Entahlah aku pusing dibuatnya...


"Hai, kamu kenapa Mbak?" tanya Mbak Sintia.


"Ngak papa mbak," jawabku.


"Nggak papa gimana, mukamu bete begitu." ucapnya.


"Beneran, nggak papa Mbak." ucapku tersenyum, agar Mbak Sintia tak banyak bertanya.


"Kalau ada apa-apa, cerita sama saya," ucapnya sambil menyentuh pundakku, sepertinya Mbak Sintia mengetahui jika aku sedang tidak baik-baik saja.


" Iya mbak, oya mbak maaf yah saya harus kembali kekantor." ucapku.

__ADS_1


Mbak Sintia hanya mengangguk menanggapi ucapanku. Akupun bergegas melangkahkan kaki kembali ke kantor. Aku lebih baik menyibukkan diri bekerja, agar tak memikirkan Raka terus.


***


"Maria, siang ini kita ada meeting di Restoran Bintang. Tolong kamu siapkan berkasnya," perintah Pak Dewa.


"Baik Pak, akan saya siapkan." ucapku menimpali perintahnya.


"Tunggu, mukamu kenapa murung seperti itu? Kalau ada masalah jangan dibawa ke kantor, kamu harus profesional Maria." ucap Pak Dewa.


"Iya pak, Maaf."


Tiga puluh menit berlalu aku dan Pak Dewa sudah sampai di tempat Restoran yang sudah ditentukan. Tak lama kemudian clien kamipun datang, kami pun segera memulai meeting.


Satu jam berlalu, meeting pun telah selesai, kami pun segera kembali kekantor. Seperti biasanya hari ini aku harus lembur. Yah, ku akui bekerja dengan Pak Dewa memang sangat melelahkan, selain siap otak akupun dituntut siap fisik.


Tepat jam 10 malam, akhirnya kerjaan ku selesai, namun tidak dengan bos ku. Kulihat Pak Dewa masih saja sibuk bergelut dengan laptop nya.


"Ini Pak, semuanya sudah beres," ucapku sambil memberikan File yang sudah ku kerjakan.


"Ok, letakkan saja diatas meja." ucap Pak dewa.


"Silahkan." ucapnya singkat.


Aku pun segera merapihkan mejaku seperti biasa, lalu bergegas keluar kantor. Kulangkahkan kakiku berjalan sendiri menuju keluar dengan sedikit cemas, takut jika ada makhluk astral mengangguku. Suasana yang sepi dan sunyi, membuatku berjalan cepat ingin segera sampai keluar.


Kupesan taksi online namun tak juga dapat, akupun kesal. Setah hampir tiga puluh menit menunggu taksi, tiba-tiba mobil Pak Dewa berhenti dihadapanku.


"Maria, masuklah. Saya akan mengantarkanmu pulang, ini sudah terlalu larut malam, kamu tidak akan mudah mendapatkan taksi." ucap pak Dewa, dari dalam mobilnya.


Akupun bergegas masuk lalu duduk disebelahnya. Saat perjalanan tiba-tiba Pak Dewa menghentikan mobilnya.


"Ada apa Pak?" Tanyaku pada Pak Dewa.


"Didepan kayaknya ada penggerebegan," jawabnya.


"Penggerebegan?"

__ADS_1


Yah, setelah kulihat memang banyak Polisi yang berjaga di sebuah kantor yang hanya berlantai dua.


"Sepertinya, penjahat kelas kakap. Lihat saja Polisinya sebanyak itu lengkap dengan senjatanya." jelas Pak Dewa.


Akupun hanya bengong, karena baru kali ini aku melihat kejadian seperti itu. Suara tembakan silih berganti bersautan, sepertinya didalam sedang baku tembak. Tak lama kemudian, terlihat para Polisi berhasil menangkap para penjahat itu. Namun mataku tiba-tiba terfokus pada salah satu sosok penjahat yang tertangkap. Sepertinya tak asing melihat postur tubuhnya, namun wajahnya tidak jelas karena penjahat itu tertunduk.


Deg, jantungku seakan berhenti. Saat ku ingat-ingat postur tubuhnya mirip sekali dengan tubuh Raka, lelaki yang sangat aku cintai. Tapi apa mungkin itu mas Raka? Ah, tidak mungkin Raka seorang penjahat.


Kulihat para Polisi sudah membawa penjahat tadi, Pak Dewa pun melajukan kendaraannya lalu mengantarkanku pulang ke rumah.


"Besok, mobilmu akan dikirim," ucap pak Dewa.


"Mobil?" Ucapku terkejut.


"Yah, mobil untukmu. Untuk memudahkanmu kerja, kamu jangan khawatir sudah ku siapkan pula supir untukmu." jawabnya.


"Iya Pak, terimakasih. Saya turun Pak, terimakasih Sudah mengantarkanku pulang."


Akupun bergegas masuk, setelah Pak Dewa pergi melajukan kendaraanya.


"Assalamualaikum Bi," panggilku pada bi Siti. Tak lama kemudian bibi membukakan pintunya.


"Wa'alaikumsalam, baru pulang Neng?" tanya bibi.


"Iya Bi, saya langsung ke kamar ya Bi mau istirahat." jawabku.


"Makan dulu Neng, Bibi sudah siapkan."


"Iya Bi, saya makan dulu deh."


Akupun segera makan, setelah selesai akupun langsung ke kamar, lalu membersihkan diri.


Didalam kamar aku masih kepikiran kejadian tadi, penjahat yang tertangkap mirip Raka. Apa sebaiknya aku menelpon Raka saja yah, untuk memastikan.


Tut... Tut... Tut...


Raka tak menjawab panggilanku, berulang kali ku hubungi namun tak ada jawaban sama sekali.

__ADS_1


Apa mungkin Raka penjahat itu?


__ADS_2