Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Rencana Pernikahan


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian, keluarga Maria dan Dewa menyiapkan acara pertunangan. Dan pihak keluarga Dewa, sudah memesan sebuah gedung mewah untuk acara nanti.


Malam itu, semua berkumpul di ruang tamu, membahas rencana yang mereka sudah disepakati. Namun, Dewa dan Maria tidak mengetahui akan hal itu.


"Mama dan Papa sudah menyiapkan acara pertunangan untuk kalian," ucap Bu Dewi.


"Pertunangan?" Ucap Dewa terkejut.


"Iya, minggu depan kalian akan bertunangan."


"Tapi kenapa harus tunangan segala, Mi? kenapa nggak sekalian nikah saja." tanya Dewa.


"Pernikahan itu kan, nggak mudah sayang. Harus menyiapkan ini itu. Kalian tunangan aja dulu," jelas Bu Dewi.


"Iya Dewa, Mami mu benar. Setelah kalian bertunangan, baru kita urus pernikahannya." Ucap Pak Bima.


"Gimana Maria, kamu setujukan?" Tanya Bu Dewi pada Maria.


"Kalau saya gimana baiknya aja, Tan. Yang penting semuanya senang," jawab Maria.


"Iya Bu Dewi, kami tergantung Bu Dewi dan Pak Bima saja." Ucap Pak Rudi menimpali.


"Ok, jadi semua sepakat yah, kalau hari minggu nanti acara pertunangannya." Ucap Bu Dewi.


Semuanya hanya mengangguk dan tersenyum, sebagai tanda kesepakatan.


Keesokan harinya mereka mulai sibuk mempersiapkannya, mulai dari fitting busana, menyebar undangan dan lainnya.


Hari itu, Bu Dewi berkunjung ke kantor Dewa untuk mengajak Maria ke sebuah butik ternama untuk fitting baju kebaya yang akan dipakainya nanti.


Tok, tok, tok!!


Bu Dewi mengetuk pintu didepan ruang kerja Dewa dan Maria. Dewa pun menyuruhnya masuk, karena Dewa sudah tahu jika Maminya yang datang.


"Assalamualaikum!" Ucap salam Bu Dewi.


"Wa'alaikumsalam." Ucap Maria menjawab salam calon mertuanya itu, lalu menyalaminya.


"Silahkan duduk, Tan."


Bu Dewi dan Maria pun duduk, lalu tidak lama kemudian Dewa menghampirinya.


"Mami, tumben kesini. Ada apa?" Tanya Dewa.


"Mami mau ajak Maria ke butik," jawab Bu Dewi.


"Sekarang?" Tanya Dewa lagi.


"Iya. Kamu mau kan Maria?" Tanya Bu Dewi kepada Maria yang duduk disebelahnya.


"Tapi Tan, kerjaan Maria masih belum selesai." Ucap Maria.


"Udah, urusan kerja bisa dilanjutkan nanti. Cuma sebentar aja kok," ucap Bu Dewi.


"Gimana Pak, boleh?" Tanya Maria pada Dewa.


"Iya, boleh." Jawab Dewa.


"Eh, kok kamu panggil Dewa Pak sih, kaliankan mau tunangan bahkan berencana menikah. Harusnya dibiasakan manggilnya, Mas. Biar kalian nggak kaku," ucap Bu Dewi.

__ADS_1


"Iya Tan,"


Bu Dewi dan Mariapun bergegas keluar kantor, lalu pergi kesebuah butik yang ditunjukkan Bu Dewi.


Beberapa menit kemudian mereka pun sampai, mereka langsung masuk kedalam butik lalu melihat-lihat kebaya yang terpajang.


Semua kebaya yang tersedia terlihat indah dan mewah. Sampai membuat Maria kebingungan untuk memilihnya, Maria pun mencoba beberapa kebaya dengan bantuan Bu Dewi. Setelah mencoba beberapa kebaya, mereka pun memutuskan memilih kebaya berwarna merah muda yang sangat indah.


"Ini aja ya Tan," ucap Maria sambil menunjukan kebaya pilihannya yang masih melekat ditubuhnya.


"Iya boleh, kebayanya sangat cocok untukmu." Ucap Bu Dewi.


"Ya udah, Maria lepas dulu ya."


Mariapun kembali keruangan ganti untuk melepaskan kebaya yang dicobanya. Setelah selesai melepaskannya, Bu Dewi langsung membayarnya.


"Ya sudah kita kembali ke kantor lagi yah, maaf Tante udah ganggu waktu kerja kamu."


"Nggak kok, Tan. Maria malah seneng,"


Bu Dewi pun hanya tersenyum, lalu bergegas masuk kedalam mobil untuk mengantarkan Maria kembali ke kantor.


Sesampainya didepan kantor, Mariapun turun.


Namun saat masuk, para karyawan berkerumun dan terdengar suara wanita yang sedang marah-marah. Maria segera menghampirinya untuk mencari tahu tentang apa yang sedang terjadi.


"Mbak Raisya," panggil Maria dan Raisya pun menoleh.


Namun saat melihat kedatangan Maria, Raisya langsung menghampirinya dan menyerangnya. Namun, tiba-tiba Dewa menahan tangan Raisya.


"Jangan macam-macam dengan Maria!" Ancam Dewa, lalu mengempaskan tangan Raisya.


"Waw, hebat sekali yah. Seorang Dewa membela Sekretarisnya yang merangkap sebagai selingkuhannya itu didepan para karyawannya sendiri." Ucap Raisya untuk memepermalukan Dewa dan Maria.


"Cukup, Raisya. Kamu jangan fitnah," bentak Dewa.


"Fitnah? Apa aku nggak salah denger. Buktinya kalian akan bertunangan kan minggu depan," ucap Raisya.


"Saya memang akan bertunangan dengan Maria, tapi kami tidak berselingkuh saat kamu masih menjadi istriku. Sekarang kamu pergi dari sini, jangan memepermalukan diri kamu sendiri." Ucap Dewa.


"Harusnya kalian yang malu, bukan saya."


Karena Raisya semakin menjadi-jadi, Dewa pun meminta security untuk mengusirnya, dan memerintahkan agar tidak mengijinkannya masuk kembali.


Setelah Raisya keluar, semua karyawan kembali melanjutkan pekerjaannya. Begitupun dengan Maria dan Dewa, yang kembali keruang kerjanya.


"Maria, kamu nggak apa-apa?" Tanya Dewa khawatir.


"Nggak apa-apa, Mas." Jawab Maria.


"Minum dulu," ucap Dewa, lalu memberikan segelas air mineral kepada Maria.


"Terimakasih, Mas." Ucap Maria setela


"Sepertinya kita tidak perlu mengadakan acara pertunangan, karena Raisya pasti akan berusaha untuk menghancurkannya. Apalagi Raka, yang sampai saat ini belum diketahui keberadaanya. Bisa saja kan, Raka sebenarnya sedang mengintai kita." Ucap Dewa.


"Terus, kita harus bagaimana?" Tanya Maria.


"Kita harus segera menikah, tapi tanpa perayaan." jawab Dewa.

__ADS_1


"Kalau saya sih setuju, tapi bagaimana dengan orangtua kita?"


"Nanti, kita bicarakan dirumah aja yah."


Setelah itu, mereka pun melanjutkan pekerjaannya.


***


Malam itu, Dewa mengajak kedua orantuanya dan orangtua Maria untuk membahas masalah pertunangannya dengan Maria.


Saat Dewa keluar dari kamarnya, semua sudah berkumpul diruang tamu. Dewa pun bergegas mulai mengutarakan maksudnya.


"Sepertinya kita tidak perlu mengadakan perayaan pesta untuk pertunangan minggu depan," ucap Dewa yang membuat semua terkejut.


"Kenapa, Dewa? Ada masalah apa?" Tany Bu Dewi.


"Raisya, Mi. Tadi siang dia mengamuk di kantor, dia mengancam akan merusak acara pertunangan nanti." Jawab Dewa.


"Raisya! Siapa itu?" Tanya Bu Susi.


"Raisya itu mantan istri Dewa," jawab Bu Dewi.


"Terus apa rencana kalian?" Tanya Pak Bima.


"Rencananya, kita tidak akan menggelar acara pertunangan lagi, tapi langsung menikah saja. Tapi itu pun tanpa perayaan apapun, cukup keluarga kita saja yang tahu." Jawab Dewa.


"Nggak bisa gitu dong, sayang. Kalau pertunangan dibatalkan, Mami sih tidak keberatan. Tapi kalau untuk pernikahan, Mami ingin ada perayaan." Ucap Bu Dewi.


"Masalahnya kalau kita bikin acara dan banyak mengundang orang, Dewa khawatir Raisya akan merusaknya. Apalagi Raka, yg sampai saat ini belum tertangkap. Bisa saja kan, Raka sebenarnya sedang bersembunyi dan mengintai kita." Ucap Dewa menjelaskan.


"Iya, Tante. Maria setuju dengan Mas Dewa, Raisya dan Raka tidak akan tinggal diam jika tahu Maria dan Mas Dewa akan menikah." Ucap Maria.


"Maksud Dewa, sementara kita tunda dulu sampai kondisi sudah benar-benar aman." Ucap Dewa.


"Kalau Bapak sama Ibu setuju-setuju aja, gimana baiknya." Ucap Pak Rudi.


"Ok, Papi juga setuju kalau itu alasannya." Ucap Pak Bima.


"Terus Mami, gimana?" Tanya Dewa pada Bu Dewi.


"Ya sudah lah, Mami ikut aja. Yang penting kalian senang dan bahagia." Jawab Bu Dewi yang sebenarnya tidak setuju, tapi apa boleh buat semua demi kebaikan anak dan menantunya.


"Lantas kapan, rencananya?" Tanya Pak Bima.


"Besok lusa." Jawab Bu Dewi.


"Apa tidak terlalu cepat, Mi?" Tanya Dewa.


"Lebih cepat, lebih baik." Jawab Bu Dewi.


"Tapi kan, Dewa harus mengurus surat-suratnya, Mi."


"Biar Mami yang urus semuanya, kamu fokus kerja saja biar tidak ada yang curiga. Kita nggak tahu kan, siapa tahu diantara karyawan kamu salah satunya mata-mata Raisya atau pun Raka."


"Iya, Mi."


Kedua orangtua Mariapun menyepakati, jika pernikahan akan digelar besok lusa.


Akankah Maria dan Dewa akan benar-benar menikah?

__ADS_1


__ADS_2